Itulah salah satu tembang yang sering dinyanyikan oleh Simbah Yakub Yosodiharjo. Banyak sekali yang disampaikan saat saya bertemu sejak kecil, sampai berumah tangga. Tetapi tembang di atas yang sering diulang-ulang.
Bahkan ketika mengunjungi kami sekeluarga, isteri Restu Lanjari, dan Lintang Ratri Rahmiaji anak pertama yang masih bayi, di rumah kontrakan di Pegandan, Sampangan, Semarang, tahun 1982, syair tersebut dituliskan. Sempat dinyanyikan, dan saya rekam.
Kesan saya, memberi motivasi, harapan, dan semangat.
**
Banyak orang memanggilnya mBah Guru. Namanya Yakub Yosodiharjo. Formalnya memang seorang mantan guru, tepatnya Kepala Sekolah Rakyat (SR). Ternyata bukan hanya guru di sekolah, di lingkungannya Dukuh Jambangan, Desa Sukorejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, menjadi guru dalam banyak hal.
Bagi saya, dialah guru pertama sebelum masuk sekolah. Saya mulai mengenalnya ketika berusia sekitar 4 tahunan, mBah Kung, demikian kami biasa memanggil, sudah pensiun. Kegiatannya ke sawah sejak pagi, sekitar pukul 10 beristirahat sambil menunggu makan siang. Saat itulah biasa melewatkan waktu bersama saya. Sore hari mbah Kung bisa kembali ke sawah atau tegalan lagi.
Saya diajari membaca, menulis, terutama banyak diberi dongeng. Saya membuat kalender sendiri mencontoh yang sudah ada. Belajar membaca aksara Jawa. Banyak diberi cerita tentang wayang. Diajari membuat mainan sendiri, mulai dari layangan, gangsingan, dan sebagainya.
Paling senang kalau tanggal muda. Diajak mengambil uang pensiun ke Kantor Pos Blora. Naik sepeda terpedo yang tanpa rem. Saya harus naik di boncengan dulu, sebelum mbah Kung naik ke sadelnya.
Pulangnya pasti mampir makan sate ayam dulu di Koplakan (waktu itu menjadi terminal dokar). Kemudian dalam perjalanan pulang mampir ke toko Nyah Ju, di Sukorame, Desa Tutup. Di situlah mbah Kung belanja untuk oleh-oleh Mbah Yi, nenek, Rasinah namanya. Ada gula, kopi, dan yang lain.
Kadang-kadang mampir di rumah mbah Bayan Nglencong, di desa Adirejo, kakaknya mBah Kung. Kakaknya yang lain, mbak Carik yang tinggal di depan rumah, dan mbah Tun yang tinggal di Putat, Desa Sambongrejo. Semuanya di Kecamatan Tunjungan.
**
Ketika saya sudah usia SMP, saya sering menginap di rumah simbah, yang hanya bersebelahan dengan rumah ibu saya. Mbah Kung dan mbah Yi memang tinggal berdua dengan pembantu perempuan.
Saya sudah datang sebelum Maghrib. Tugas rutinnya membuatkan kopi Mbah Kung. Ukuran kopinya hanya satu gelas persis, setelah ditambah gula dan kopi, ukurannya menjadi lebih dari satu gelas. Kelebihan kopi itu yang menjadi jatah saya.
Setelah mbah Yoso makan malam, saya menemani mbah Yi makan. Ritualnya memang begitu, tidak pernah makan bersama. Setelah makan malam, sebelum belajar, saya biasa membantu mbah Yi mengupas kelapa, akan dijual ke pasar desa esok paginya. Biasanya ketika saya berangkat sekolah, pamit ke mbah Yi yang sedang di pasar, di situlah saya mendapat uang saku.
Mbah Yi ini bukan hanya memberi uang saku, kalau saya akan ujian selalu diberi peniti yang dipasangkan di saku saya. Untuk apa?
“Biar pikiranmu setajam peniti ini,” katanya.
**
Saya pernah bertanya apa makna nama saya Bambang Sadono, karena ibu saya mengatakan mbah Kung lah yang memberi nama semua anak-anaknya. Kalau nama Bambang hampir digunakan di lingkungan keluarga Jawa pada masa itu, saya lahir tahun 1957.
“Sadono itu dari kata usadanono, yang artinya penyembuh, atau obat,” katanya.
Diharapkan kelahiran saya, bisa menjadi obat keluarga. Saya menjadi cucu laki-laki pertama bagi mbah Kung. Mbah Yosodiharjo anaknya empat, Pak Dhe Rusdi anaknya enam kalau tidak salah, satu lelaki yang paling kecil meninggal ketka masih anak-anak. Pak Dhe Sutadi anaknya tujuh, dua lelaki putra kelima dan ke tujuh. Dari tujuh anak ibu saya, sebenarnya ada empat lelaki, semua namanya Bambang. Adik saya Bambang Sampurno meninggal saat masih bayi, kemudian Bambang Sartono, dan yang bungsu Bambang Tri Mulyono.
Rumah kami, bersebelahan dengan rumah besar mbah Kung. Jadi sehari-hari berkomunikasi langsung. Selain mendapat rumah, ibu saya juga diberi sebidang lahan tegalan, yang biasa ditanami jagung, ketela, kacang tanah, atau cabai keriting. Tegalan inilah yang kemudian dijual oleh mbah Kung, dan uangnya digunakan untuk biaya sunat (khitan) saya.
Acara khitan saya itu dirayakan cukup lumayan meriah, untuk ukuran desa. Untuk merayakannya dengan menanggap wayang kulit sehari semalam, dan disembelih seekor sapi.
Ketika saya menikah, perayaan juga dilakukan dua kali, di Blora maupun di Semarang.
**
Mbah Yoso sangat aktif di desa, dekat dengan pak Saiban kepala desa yang bisa dipanggil Pak Lurah. Keduanya saling kunjung mengunjungi. Tamu lain yang sering datang adalah adik sepupunya, mbah Sumadi, yang menjadi guru saya di Kelas I, II, dan III SD Sukorejo.
Mbah Kung aktif di koperasi, yang saya ingat kalau ada penjualan murah minyak tanah. Warga desa harus antri membawa kaleng atau botol masing-masing.
Juga aktif membangun Pasar Jambangan, dengan membangun kios yang dijual atau disewakan.
Yang saya kagumi, rasanya mbah Kung tidak pernah kehabisan uang. Selain banyak membantu dan meminjami siapa saja, baik keluarga maupun tetangga, kami cucu-cucunya selalu mendapat “sangu”. Itu uang yang biasa diberikan saat ada tontotan di desa, wayang kulit, ketoprak atau yang lain. Biasanya ketika ada orang punya kerja, dan ada tontonannya, banyak penjual makanan atau mainan yang disenangi anak kecil.
Mbah Guru juga sangat aktif di politik. Di rumah depan, ada foto Bung Karno tiga perempat badan, yang membawa keris. Sering dicerikan simbah lahir tahun 1901, sepantaran dengan Bung Karno. Ketika Pemilu 1971, saya sudah kelas III SMP, belum punya hak pilih, tetapi sudah menyablon kaos dengan gambar Banteng Segitiga.
“Biar di desa lain PNI (Partai Nasional Indonesia) kalah, tetapi harus menang di desa ini,” katanya.
“Kenapa ?” tanya saya.
“ Saya malu kalau kalah. Karena pak Hadisubeno Sosrowerdoyo, pernah berkunjung ke rumah ini,” katanya.
***
Setelah saya menikah, dan tinggal di rumah kontrakan di Sampangan Semarang, mbah Yoso menengok. Mbah Kung sempat nembang dan saya rekam. “Wimbanira kadya surya wanci enjang (ibaratnya seperti matahari waktu pagi…” Hanya itu yang sempat saya rekam.
Ternyata kedatangannya juga membawa misi, meminta saya untuk membeli lahan sawah yang berbatasan dengan tanah pekarangan yang kami tinggali. Kalau tidak mampu semua, bisa berbagi dengan kakak saya Endang Suhartini.
Gaji masih kecil, keluarga muda, rumah saja belum punya, diminta beli tanah di kampung lagi. Saya menenggang perasaan isteri saya.
Hanya dengan keyakinan bahwa ini amanat orang yang sangat saya hormati, saya nekad menghadap pimpinan redaksi Suara Merdeka saat itu, Pak Soewarno SH. Saya sampaikan akan mendapat warisan tanah di kampung, tetapi harus mengganti sejumlah uang, informasinya agak saya modifikasi. Anehnya, permohonan pinjaman saya dikabulkan.
Jadilah saya punya investasi tanah pertama, itu sekitar 1980 an awal.
***
Mbah Yoso suka mendongeng dan memberi nasehat, diselingi dengan tembang-tembang Macapat. Bahkan sampai saya punya isteri, Restu Lanjari, masing sering mendengar nasehatnya, sampai kami mengantuk.
Salah satu cerita yang sering diulang-ulang, tentang mimpinya. Pernah bermimpi melihat matahari kembar di langit timur, dan juga melihat bulan purnama di ujung barat. Kemudian mbah Yoso memberi tafsir atas mimpinya. Matahari kembar ditafsirkan keberhasilan dua puteranya, yaitu Pak Dhe Rusdi yang kariernya terakhir sebagai Camat, dan Pakdhe Soetadi yang sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Rembang, Tegal, dan Kudus.
Ramalan bulan sempurna di ujung barat itu katanya untuk ibu saya, yang ketika sudah usia senja, ada anaknya yang mempunyai karier cukup baik.
“Mudah-mudahan itu kamu,” katanya.
Kami masih sempat merawat mbah Yoso. Pernah kami bawa ke rumah sakit di Semarang, ketika saya sudah bekerja di Suara Merdeka. Mbah Kung wafat di tahun 1990, dalam usia 89 tahun. Almarhum selalu mengatakan lahir bersamaan dengan Bung Karno yang menjadi idolanya, tahun 1901.
Ada dua wasiatnya yang saya coba laksanakan. Pertama menjaga nama baik keluarga yang disebut Sapta Rengga (Tujuh Kehormatan), artinya menjaga sampai tujuh turunan. Kedua aset peninggalannya agar dipertahankan di lingkungan keluarga sendiri.
Saya juga merawat beberapa buku peninggalannya, termasuk catatan yang ditulisnya sendiri. Pernah menyatakan penyesalannya, karena tidak mengirim tulisan-tulisannya ke media.
“Kalau tulisan di majalah seperti Jaya Baya dan Panyebar Semangat, rasanya saya bisa,” katanya.
Semarang, 21 Februari 2026.







