Institut Teknologi Kalimantan – Kampus Muda Berprestasi Dukung Smart Forest City IKN

Share

Prof. Dr. rer. nat. Agus Rubiyanto, M.Eng.Sc. mengaku sebagai “produk Supersemar” karena pernah menerima beasiswa Supersemar saat menempuh pendidikan S1 Fisika di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan lulus pada tahun 1988. Ia kemudian melanjutkan pendidikan S2 Optoelektronika dan Aplikasi Laser di Universitas Indonesia (UI) dengan beasiswa pendidikan tinggi, dan lulus pada tahun 1993. Gelar S3 Applied Physics diperoleh dari University of Paderborn, Jerman.

Karirnya dimulai sebagai dosen ITS pada 1989. Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Program Magister Fisika ITS (2002–2004). Pada periode 2006–2009, ia bertugas sebagai Asisten Atase Pendidikan KBRI Jerman.

Tahun 2007, ia dikukuhkan sebagai Profesor Fisika ITS, menjadi salah satu guru besar termuda di bidang fisika. Ia kembali ke Jerman menjadi Atase Pendidikan KBRI (2012–2016).

“Kalau ditotal, saya hidup di Jerman selama 12 tahun, termasuk ketika menempuh studi S3,” ujarnya.

Setelah kembali ke Indonesia, ia menjadi Dekan Fakultas Sains ITS (2017–2019), kemudian Kepala Pusat Penelitian Sains Fundamental ITS (2020–2024),

Ketua Klaster Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), serta anggota Asosiasi Profesor Indonesia (API). Tahun 2022, ia dipercaya sebagai Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) untuk periode 2022–2026.

Berbagai penghargaan pernah diraihnya, antara lain Paper Internasional Terbaik di Italia (1999) dan Ilmuwan Kontributor Fisika Terbaik (2012) yang diselenggarakan oleh FMIPA UI.

Pendirian Kampus
Saat masih menjabat sebagai Atase Pendidikan KBRI Jerman, Prof. Rubi kerap membantu Wakil Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) menjalin kerja sama dengan universitas di Jerman.

ITS terus mengampanyekan program yang mendorong para profesor di Jawa untuk mengabdikan diri di luar Jawa. Dorongan itu pula yang membuatnya terpanggil mencalonkan diri sebagai Rektor ITK.

Pendirian ITK dimulai pada tahun 2011, berawal dari gagasan pemerintah untuk mengejar ketertinggalan Indonesia di bidang teknologi, terutama di kawasan Indonesia Timur.

Langkah ini sejalan dengan target Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), khususnya dalam pemerataan pendidikan tinggi teknik yang saat itu masih terpusat di Pulau Jawa.

Sebagai tindak lanjut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu menugaskan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mendirikan dua institut teknologi baru, masing-masing di Kalimantan dan Sumatera.

ITS diberi mandat untuk mendirikan Institut Teknologi Kalimantan (ITK), sementara ITB ditugaskan mendirikan Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Proyek MP3EI ini dilaksanakan pada masa kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan Menteri Pendidikan Prof. Muhammad Nuh.

Pondasi Awal
ITK memulai proses perkuliahan pada tahun 2012 dengan angkatan pertama sebanyak 100 mahasiswa, yang tersebar di lima program studi awal: Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Perkapalan, Teknik Kimia, dan Teknik Sipil.

Jalur penerimaan mahasiswa dilakukan melalui Seleksi Masuk ITK (SMITeK), hasil kerja sama ITS dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui program beasiswa Kaltim Cemerlang.

Tahun 2013, ITK membuka jalur seleksi mandiri nasional untuk calon mahasiswa dari luar Kalimantan Timur, serta menambah lima program studi baru: Teknik Material dan Metalurgi, Fisika, Matematika, Sistem Informasi, dan Perencanaan Wilayah dan Kota.

Seleksi masuk tahun 2014 dilakukan melalui dua jalur, yaitu Seleksi Lokal Berbeasiswa Pemprov Kaltim dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

“Pada tahun 2014, pembangunan gedung pertama ITK dimulai dan selesai pada 2015, Sejak itu, mahasiswa yang sebelumnya dititipkan di ITS akhirnya bisa menempati gedung ITK di Balikpapan,” ungkapnya.

Visi ITK adalah menjadi perguruan tinggi yang unggul dan berperan aktif dalam pembangunan nasional melalui pemberdayaan potensi daerah Kalimantan pada tahun 2025.

Adapun misinya, menyelenggarakan tridharma perguruan tinggi yang bermutu guna mengoptimalkan potensi daerah Kalimantan, menghasilkan lulusan yang unggul, berkualitas, dan berbudi luhur serta berperan aktif dalam pembangunan nasional.

Potret Akademik
Hingga saat ini, ITK telah meluluskan 10 angkatan dengan jumlah alumni sekitar 3.700 orang. Saat ini tercatat ada 6.995 mahasiswa aktif, didukung oleh 311 dosen dan 129 tenaga kependidikan.

Hal ini menjadikan ITK sebagai perguruan tinggi dengan mahasiswa terbanyak di Balikpapan, meskipun usianya masih relatif muda.

ITK telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 250 lembaga pemerintah maupun mitra lainnya. Menariknya, mahasiswa ITK kini tidak hanya berasal dari Kalimantan Timur, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke.

“Dalam Rencana Strategis tahun 2025, target mahasiswa baru adalah 2.000 orang, dan tahun ini kita menerima 2.043 mahasiswa baru, artinya sesuai dengan target,” jelas Prof. Rubi.

Saat ini, ITK memiliki 22 program studi sarjana dan 1 program studi pascasarjana yang tersebar di tiga fakultas. Sebaran mahasiswa terdiri atas Fakultas Rekayasa dan Teknologi Industri (FRTI) sebesar 35,9%, Fakultas Sains dan Teknologi Informasi (FSTI) 33,3%, dan Fakultas Pembangunan Berkelanjutan (FPB) 30,8%.

Pada tahun 2026, ITK berencana membuka lima program studi baru, yaitu Teknik Biomedik, Teknologi Informasi, Teknik Geomatika, Transportasi Laut, dan Sistem Perkapalan.

Hal ini sejalan dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dirancang sebagai smart forest city. Nama fakultas dan program studi pun dipilih untuk mendukung arah pembangunan masa depan yang dinamis, bukan hanya mengikuti pola umum saat ini.

Secara geografis, ITK memiliki posisi yang sangat strategis. Kampus ini berjarak sekitar 80 km dari IKN, tidak jauh dari Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman, serta sekitar 100 km dari Pelabuhan Semayang.

“Walaupun usia ITK baru 10 tahun menuju 11 tahun, sudah banyak perguruan tinggi luar negeri yang menjalin kerja sama dengan kami,” ujarnya.

Program Strategis
Untuk memajukan ITK, sejak awal menjabat sebagai rektor, Prof. Rubi memiliki visi besar melalui program unggulan 4I+E. Program ini mencakup Internal Enhancement, Innovation Action, International Collaboration, Ibadah, dan Environmental Insight.

Menurutnya, yang terpenting adalah ibadah dan Environmental Insight. ITK diarahkan untuk bertransformasi secara digital dan spiritual, dengan dosen yang bermartabat, tenaga kependidikan berkualitas, mahasiswa berkelas, serta cita-cita menjadi entrepreneur university.

“Makanya, moto saya adalah ITK Mapan, ITK terus maju dan menjadi yang terdepan,” ujarnya.

Perkembangan pun terlihat sejak awal kepemimpinannya. Jumlah dosen dengan jabatan lektor yang awalnya hanya 28 kini hampir mencapai 100, dan lektor kepala dari 1 menjadi 4. Tingkat kepercayaan masyarakat juga meningkat signifikan, dari negatif minus 35 menjadi hampir 95 persen positif.

ITK saat ini sedang berproses menuju status Badan Layanan Umum (BLU). Saat ini, ITK masih berstatus perguruan tinggi Satuan Kerja (Satker), sehingga penguatan tata kelola keuangan menjadi prioritas.

Dengan adanya statuta baru, ITK merencanakan pembukaan tiga fakultas baru sekaligus memperkuat fondasi finansialnya.

Namun, tantangan masih ada, salah satunya terkait lahan kampus. Dari rencana 300 hektar yang seharusnya dialokasikan, baru sekitar 60 hektar yang berhasil dibebaskan.

Menuju BLU
Prof. Rubi menjelaskan bahwa sebagai perguruan tinggi negeri baru, ITK belum memiliki kebebasan seperti kampus dengan status BLU. Semua anggaran yang diterima masih harus disetorkan ke negara.

Padahal, ITK telah menjalin banyak kerja sama dengan Pemerintah Provinsi, Kota, maupun Kabupaten, termasuk program revitalisasi daerah bekas tambang yang rusak lingkungannya.

“Jadi, sementara ini hampir semua masih berasal dari negara. Kita tidak bisa, misalnya, ada MoU kerja sama lalu langsung kita kelola sendiri, karena itu bisa menjadi temuan,” jelasnya.

Meski begitu, ia tetap memberikan ruang dan dukungan bagi dosen untuk aktif meneliti. Selama masa kepemimpinannya, anggaran penelitian bahkan meningkat hingga dua kali lipat. Dengan anggaran tersebut, para dosen berkreasi dan berhasil mendapatkan tambahan pendanaan dari tingkat nasional.

Salah satu contohnya adalah melalui program Kedaireka, di mana ITK bekerja sama dengan perusahaan sawit untuk mengolah limbah menjadi produk bermanfaat. Limbah sawit yang sebelumnya hanya menjadi sampah kini diubah menjadi briket ramah lingkungan yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Menurutnya, jika ITK telah berstatus BLU, pengelolaan dana akan menjadi lebih fleksibel. Dana kerja sama bisa langsung ditempatkan di bank dan dikelola kampus tanpa harus disetor ke pusat di Jakarta.

Saat ini, setiap kali ada dana masuk, harus melalui prosedur panjang, termasuk pengajuan surat kembali untuk penggunaannya.

“Walaupun dengan status satker saja ITK sudah memiliki prestasi luar biasa, apalagi kalau nanti menjadi BLU,” tegasnya.

Akreditasi Internasional Dan Pengembangan IKN

Walaupun usianya baru 10 tahun, ITK telah berbagai mencatat prestasi. Sebanyak delapan program studi telah terakreditasi internasional oleh lembaga Jerman, ASIIN (Akkreditierungsagentur für Studiengänge der Ingenieurwissenschaften, der Informatik, der Naturwissenschaften und der Mathematik).

Delapan program studi tersebut meliputi Teknik Mesin, Teknik Kimia, Teknik Material, Teknik Sipil, Perencanaan Wilayah dan Kota, Informatika, Teknik Elektro, dan Sistem Informasi.

“Bahkan ketika 22 guru besar dari Jerman datang ke ITK, mereka terkejut. Rektornya kok bisa bahasa Jerman, padahal kampusnya di tengah hutan,” kenangnya.

Dengan pencapaian ini, ITK menjadi perguruan tinggi dengan akreditasi internasional terbanyak di Kalimantan Timur (Kaltim). ITK juga satu-satunya perguruan tinggi dengan predikat informatif di Kaltim, meskipun ada kampus lain yang sudah berdiri lebih dari 60 tahun.

“Ini adalah lompatan yang kami lakukan. Kami tidak berjalan pelan, tapi diajak berlari kencang,” tambahnya. Dari 23 program studi yang ada, mayoritas telah berstatus akreditasi Baik Sekali

. ITK juga telah membuka program studi unik yang belum ada di perguruan tinggi lain, seperti Teknik Logistik yang sangat relevan dengan banyaknya industri di Kalimantan.

Selain itu, ITK adalah satu-satunya kampus di Kalimantan yang memiliki program studi Teknologi Kelautan untuk mendukung konektivitas wilayah.

“Makanya Alur Laut Kepulauan Indonesia II (ALKI II) ini harus kita kuasai. Ini keunggulan ITK dibanding kampus lain,” tegasnya.

ITK juga membuka Magister Manajemen Teknologi yang menjadi satu-satunya di Kalimantan, serta program Rekayasa Keselamatan yang relevan dengan banyaknya perusahaan rekayasa di Balikpapan.

ITK menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia Timur yang bekerja sama dengan Kementerian PANRB, khususnya dalam pengembangan sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE).

Dalam berbagai kunjungan ke luar negeri, Prof. Rubi selalu membawa misi besar, yaitu bagaimana ITK dapat mendukung pembangunan IKN.

Dari Jepang di Universitas Tsukuba, Cina di Guangzhou Science and Technology, Beijing Jiaotong University, hingga Beijing University, ia aktif menjalin kerja sama internasional.

Prof. Rubi juga terpilih sebagai salah satu dari sedikit rektor perguruan tinggi negeri yang mengikuti program pelatihan kepemimpinan kerja sama
Indonesia–Korea di Seoul dan Busan selama 10 hari.

Saat ini ITK juga tercatat sebagai satu-satunya perguruan tinggi di Kalimantan yang masuk forum pengembangan semikonduktor bergengsi di Jerman.

Pengembangan IKN
Saat ini, pembangunan IKN telah mencapai tahap signifikan. Governance core area seluas 6.617 hektar atau hampir 90% telah terbangun, mencakup Istana Presiden, Sumbu Kebangsaan, dan kantor Kemenko 1 hingga Kemenko 4. Dari total luasnya, IKN ini tiga kali lebih besar dari Singapura.

IKN dirancang sebagai smart forest city dengan prinsip zero deforestation, yang menekankan penghijauan kembali dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Aspek penting lainnya adalah menjaga komunitas lokal, baik manusia maupun satwa.

Di jalur tol Balikpapan–IKN, misalnya, telah dibangun koridor satwa berupa jembatan besar agar hewan dapat bermigrasi dengan aman. Dalam pembangunan IKN,

ITK siap berkontribusi di berbagai bidang smart city, seperti smart governance, smart economy, smart living, smart society, smart environment, hingga smart branding.

Kalimantan yang kaya sumber daya air juga menjadi fokus. Teluk Balikpapan, yang berbatasan langsung dengan kawasan selatan IKN, menjadi pusat unggulan penelitian ITK, terutama terkait pengukuran sedimen agar pembangunan tidak menimbulkan masalah lingkungan seperti di Jakarta.

“Potensi wisata juga dikembangkan. ITK telah membangun Phinisi Tourist Ship sebagai bagian dari eksplorasi wisata di Teluk Balikpapan, yang diharapkan ke depan menjadi destinasi pariwisata pendukung IKN”, katanya

Capaian Prestasi
Prestasi ITK terus menunjukkan perkembangan yang membanggakan. Pada tahun 2023, ITK meraih penghargaan posisi tinggi 10% Indikator Kinerja Utama (IKU) pada liga PTN Satker, serta penghargaan atas pencapaian tertinggi untuk keunggulan IKU 1 dan IKU 4 PTN Satker.

Di Balikpapan, ITK juga mendapat penghargaan dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) dengan peringkat 1 untuk penggunaan cash management system.

Selain itu, ITK memenangkan tujuh penghargaan Anugerah Diktisaintek 2024, termasuk Gold Winner kategori media sosial, website, media pers, dan majalah. Banyak konten kreatif ITK berhasil viral dan memberikan edukasi kepada masyarakat,

menjadikan ITK satu-satunya perguruan tinggi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang meraih penghargaan Anugerah Keterbukaan Informasi Publik 2024.

Prestasi mahasiswa ITK juga gemilang, dengan 259 penghargaan akademik dan non-akademik, termasuk medali PON XXI 2024 Aceh-Sumut untuk cabang Taekwondo dan Dayung.

Di tingkat internasional, mahasiswa ITK menjuarai International Dam Innovation Contest (IDIC) dan Civil Engineering Innovation Contest (CEIC). Secara nasional, mereka juga unggul dengan juara 1 Lomba Inovasi Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia untuk usaha kuliner minuman.

Lulusan ITK banyak terserap di berbagai sektor, mayoritas di perusahaan swasta, namun juga sebagai dosen, pegawai negeri di kementerian seperti PUPR, bekerja di BUMN, hingga menjadi entrepreneur dengan mendirikan perusahaan sendiri.

Berdampak Nyata
Prof. Rubi menjelaskan bahwa masyarakat di Balikpapan setiap bulan harus mengeluarkan biaya cukup besar, sekitar Rp5–10 juta, hanya untuk membeli solar sebagai sumber energi, khususnya untuk kebutuhan air dan pertanian.

Kondisi ini sangat memberatkan, terutama karena harga bahan bakar cenderung fluktuatif dan ketersediaannya tidak selalu terjamin.

Sebagai solusi, ITK membangun PLTS water pump berkapasitas 3.000 watt dengan tandon air 2 x 2.200 liter berkat dukungan Pertamina Foundation. Teknologi ini berhasil menekan biaya energi yang selama ini menjadi beban utama masyarakat.

Selain membangun infrastruktur, ITK juga memberikan pendampingan berupa pelatihan manajemen dan pengelolaan teknologi. Masyarakat didorong untuk menabung dan mandiri, sehingga jika solar cell atau baterai mengalami kerusakan, mereka dapat membeli pengganti tanpa bergantung pada pihak luar.

“Ini akan dikelola koperasi. Sekarang produknya sudah cukup bagus dan mereka tidak lagi pusing membeli solar,” ujarnya.

ITK juga terus mengembangkan riset berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. Salah satunya adalah teknologi Bioleaching Li-Ion Battery Waste, yaitu metode mendaur ulang limbah baterai litium-ion agar lebih ramah lingkungan.

Inovasi ini tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga membuka peluang penyediaan bahan baku baru dari hasil daur ulang. ITK bahkan membangun rumah energi mandiri dengan dukungan Pertamina, sehingga masyarakat semakin mudah mengakses energi bersih dan berkelanjutan.

Karya inovatif lainnya adalah memanfaatkan limbah kelapa sawit untuk dijadikan elektroda baterai, yang terbukti sangat membantu para petani di Balikpapan mengurangi ketergantungan pada solar untuk kebutuhan pengairan.

“Dampak ini tidak hanya terasa pada efisiensi ekonomi masyarakat, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Pusat Riset
Research Center di ITK fokus pada pengembangan energi bersih seperti energi terbarukan, bioenergi, solar cell, mobil listrik, energy storage, hingga smart grid. Teknologi ini juga dirancang untuk membantu petani di Kalimantan Timur, terutama di Balikpapan, agar lebih efisien dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi.

ITK juga berkontribusi dalam pembangunan smart city di IKN melalui pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) serta sistem keterlibatan stakeholder di Indonesia.

Meski tidak memiliki lahan pertanian, ITK tetap mengembangkan riset teknologi pangan dan menjalin kerja sama dengan universitas internasional, seperti beberapa perguruan tinggi di Korea Sejak 2024,

ITK aktif menjalankan berbagai proyek riset, termasuk program Kadaireka yang mempertemukan perusahaan dengan perguruan tinggi, grant riset sawit, dan proyek inovasi berbasis kebutuhan industri dan masyarakat.

Dalam hal infrastruktur, ITK didukung Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) untuk pembangunan Gedung Laboratorium Terpadu 2 yang kini telah selesai.

Laboratorium ini dilengkapi peralatan riset seperti Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), High Performance Liquid Chromatography (HPLC), wind tunnel, dan Vickers hardness untuk uji kekerasan material.

Fasilitas ini mendukung pengembangan akademik serta industri tambang dan konstruksi, termasuk pengujian kekuatan beton di wilayah IKN.

“Kami sudah memiliki dua laboratorium terpadu yang kini menjadi percontohan bagi perguruan tinggi baru,” ujarnya.

Tonton Video Selengkapnya

Artikel Terkait