Dr. Ir. Surono - Anggota Dewan Energi Nasional

Dr. Ir. Surono – Bencana Tak Dapat Diramal Risikonya Bisa Dimitigasi

Share

Dr. Ir. Surono tumbuh dalam keluarga petani dengan kondisi ekonomi terbatas sehingga akses ke pendidikan tinggi tidak tersedia secara langsung. Keputusan kuliah diambil tanpa dukungan biaya memadai. Ia mengikuti bimbingan tes gratis di Bandung dan mendaftar seleksi masuk perguruan tinggi negeri, termasuk Universitas Padjadjaran dan Institut Teknologi Bandung. Diterima di ITB, meski kendala biaya membuat proses administrasi baru tuntas menjelang batas akhir pendaftaran.

Masuk ITB tidak serta-merta membuat perjalanan akademiknya berjalan mulus. Ia diterima di Fisika,
pilihan yang lebih dipengaruhi oleh kondisi dan kesempatan yang ada.

Kesulitan akademik terutama muncul pada mata kuliah dasar, seperti kimia, yang beberapa kali harus diulang dan berdampak pada lamanya masa studi.

Ancaman drop out menjadi risiko nyata pada masa itu. Di tengah tekanan akademik, ia mengambil berbagai pekerjaan sambilan, mulai dari tukang foto keliling hingga membantu pekerjaan di lingkungan kampus, untuk membiayai kebutuhan kuliah sehari-hari.

“Nilai saya tidak selalu baik, tapi saya memilih bertahan dan menyelesaikan apa yang sudah saya mulai,” katanya.

Asisten Laboratorium
Menjelang selesai studi, Surono mulai menjadi asisten di laboratorium geofisika sambil menyelesaikan tugas akhir.

Peran ini dijalani dalam keterbatasan sarana dan tekanan akademik, namun memberi pengalaman
praktis yang tidak ia peroleh di ruang kuliah.

Di laboratorium, ia berinteraksi dengan dosen dan peneliti senior. Pada masa ini, Surono semakin
memahami pentingnya pendekatan eksperimental dan analitis dalam fisika kebumian.

Pengalaman mengelola peralatan, membantu praktikum, dan mendampingi mahasiswa lain mengasah pemahaman metode ilmiah sekaligus dinamika belajar di perguruan tinggi.

Keterlibatan tersebut sempat mengarah pada peluang menjadi dosen fisika. Namun ketertarikan
pada isu kebencanaan justru menguat setelah ia menyaksikan langsung dampak letusan Gunung Galunggung dan keterbatasan penanganannya.

“Saya melihat ilmu bisa diterapkan langsung untuk persoalan kebencanaan, dan itu yang kemudian saya pilih,” ujarnya

Beralih ke Vulkanologi
Surono memutuskan meninggalkan fisika murni dan beralih ke vulkanologi setelah melihat kebutuhan nyata di lapangan.

Ketertarikannya tumbuh dari pengalaman langsung menyaksikan dampak bencana serta keterbatasan upaya mitigasi pada masa itu, bukan karena mengikuti arus atau pertimbangan akademik semata.

Pilihan tersebut membawa konsekuensi tersendiri. Jalur vulkanologi dipandang berbeda dibandingkan dunia akademik atau industri energi yang lebih mapan.

Ketika banyak rekan seangkatannya memilih masuk ke sektor migas atau perusahaan besar, ia justru
melangkah ke institusi yang berfokus pada kebencanaan, bidang yang saat itu belum banyak dilirik.

Pengalaman mendampingi peneliti asing ke wilayah terdampak letusan Gunung Galunggung semakin menguatkan keyakinannya.

Dari kerja lapangan itu, ia melihat langsung betapa pentingnya data, pemetaan, dan respons kebencanaan yang rapi serta berpijak pada kondisi masyarakat. Dari situlah ia merasa ilmu yang dimilikinya menemukan tempat yang tepat.

“Saya memilih bidang yang memungkinkan ilmu saya dipakai langsung untuk kepentingan masyarakat,” ujarnya.

Studi Luar Negeri
Kesempatan melanjutkan pendidikan ke luar negeri diperoleh Surono setelah melalui proses panjang mencari beasiswa secara mandiri.

Berbagai upaya untuk mendapatkan dukungan pendanaan dari dalam negeri tidak berhasil, sehingga ia akhirnya memilih mengikuti seleksi langsung melalui Kedutaan Besar Prancis.

Ia kemudian menempuh pendidikan magister di Université Grenoble Alpes pada bidang geofisika dan menyelesaikannya pada 1989.

Masa studi ini memperkuat landasan keilmuan kebumian yang telah ia miliki, terutama dalam hal analisis data, pemodelan, serta pemahaman dinamika fisik bumi yang berkaitan erat dengan aktivitas
vulkanik.

Pendidikan doktoral dilanjutkan di University of Savoie, Chambéry, dan diselesaikan pada 1993. Pada periode ini, pendekatan risetnya semakin terarah, tidak hanya pada aspek ilmiah fenomena alam, tetapi juga pada kaitannya dengan keselamatan manusia dan implikasinya terhadap kebijakan publik.

“Walaupun sekolah di luar negeri, tujuan saya tetap kembali dan bekerja untuk Indonesia,” ujarnya.

Mitigasi Bencana
Sekembalinya ke Indonesia, Surono langsung terlibat dalam penanganan dan mitigasi bencana geologi. Dari pengalaman lapangan, ia melihat bahwa persoalan utama bukan hanya pada fenomena alam, melainkan pada kesiapan sistem, ketersediaan data, dan kesinambungan kebijakan mitigasi.

Ia mendorong penggunaan peta kawasan rawan bencana sebagai dasar pengambilan keputusan. Peta tersebut menggabungkan data geologi, curah hujan, kemiringan lereng, dan tata guna lahan, sehingga mitigasi tidak berhenti sebagai dokumen teknis, tetapi benar-benar digunakan dalam perencanaan wilayah dan perlindungan masyarakat.

Perubahan pola kerja dilakukan dengan mempercepat penyusunan peta rawan bencana, khususnya untuk gunung api dan longsor.

Proses yang biasanya memakan waktu panjang dipercepat dengan memanfaatkan data yang sudah tersedia secara optimal melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset, tanpa mengorbankan ketelitian ilmiah.

“Bencana tidak bisa diramalkan, tetapi risikonya bisa dipetakan dan diantisipasi,” ujarnya.

Ketahanan Energi
Pengalaman menangani berbagai bencana besar membawa Surono pada satu kesimpulan penting. Krisis tidak berhenti pada korban jiwa, tetapi berlanjut pada runtuhnya sistem energi.

Peristiwa gempa dan bencana di Yogyakarta, Aceh, dan Padang menunjukkan bahwa lumpuhnya listrik serta pasokan bahan bakar kerap memperlambat pemulihan, meskipun bantuan kemanusiaan
sudah tersedia.

Dalam situasi darurat, energi menjadi kebutuhan dasar bagi komunikasi, distribusi logistik, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi paling mendasar.

Ketika sistem energi terputus, pemulihan sosial dan ekonomi berjalan tersendat dan dampak bencana
pun berlangsung lebih lama bagi masyarakat.

Surono melihat bahwa Indonesia sejatinya tidak kekurangan sumber daya energi. Dengan 127 gunung api aktif, Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia.

“Pemanfaatan energi lokal, terutama panas bumi dan sumber terbarukan, lebih sesuai bagi wilayah rawan bencana dan daerah terpencil,” katanya.

Perubahan Iklim Fenomena Nyata

Surono menjelaskan, perubahan iklim bukan lagi isu abstrak, melainkan fenomenanyata yang sedang berlangsung dan sudah berdampak langsung.

Salah satu dampaknya terlihat pada meningkatnya bencana hidrometeorologi. Pola curah hujan menjadi semakin ekstrem dan sulit diprediksi, sehingga risiko banjir dan longsor meningkat di
banyak wilayah.

Ia menolak pandangan yang menyebut perubahan iklim semata sebagai siklus alam. Menurutnya,
aktivitas manusia, terutama penggunaan energi fosil secara masif, berperan besar dalam mempercepat pemanasan global dan mengganggu keseimbangan sistem iklim bumi.

Dampak perubahan iklim tidak berhenti pada kerusakan lingkungan. Dampaknya merembet ke sektor pangan, air, dan energi.

Bagi Surono, perubahan iklim merupakan konsekuensi dari pilihan pembangunan. Ketika eksploitasi sumber daya dilakukan tanpa tanggung jawab, alam akan memberikan dampak balik yang tidak bisa dihindari.

“Perubahan iklim itu nyata, dan sebagian besar dipicu oleh penggunaan energi fosil,” ujarnya.

Tanggung Jawab Alumni
Bagi Surono, Institut Teknologi Bandung (ITB) bukan sekadar tempat menempuh pendidikan, melainkan ruang pembentukan tanggung jawab sosial.

Pendidikan tinggi dilihat sebagai hasil investasi negara dan masyarakat, sehingga capaian akademik tidak seharusnya berhenti pada keberhasilan individual.

Ia kerap menyampaikan bahwa alumni ITB idealnya menjadi sosok yang kaya. Kekayaan tersebut tidak selalu berarti materi, tetapi juga ilmu, integritas, dan kontribusi nyata bagi kepentingan publik.

Jika memiliki kekayaan harta, pengelolaannya perlu dilakukan dengan hati hati, mengingat proses
pendidikan yang dijalani sebagian besar dibiayai oleh rakyat.

Surono menegaskan bahwa alumni tidak perlu lelah mengembalikan apa yang telah diterima selama masa pendidikan.

Pengabdian dapat dilakukan melalui ilmu maupun harta, selama  diarahkan untuk memperkuat bangsa.

“Kalau alumni ITB tidak kaya harta, maka harus kaya sekali dalam ilmu dan kontribusi.” ujarnya.

Tonton Video Selengkapnya

Artikel Terkait