Buku 100 Alumni Its Kebanggan Almamater

Jejak Membanggakan Seratus Putra Bangsa – Oleh Budi Maryono

Share

ADA banyak cara agar sebuah kampus dikenang. Sebagian dengan gedung-gedung yang megah, sebagian lain dengan reputasi akademik. Beberapa beruntung diingat karena melahirkan orang-orang besar yang kemudian menorehkan pengaruh di tengah masyarakat. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memilih cara yang terakhir itu, setidaknya dengan adanya buku 100 Alumni ITS Kebanggaan Almamater ini.

Data Buku 

Judul : 100 Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Kebanggaan Almamater
Tebal : 764 halaman
Penyunting : Bambang Sadono
Pengantar : Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati
Penerbit : PT Citra Almamater Baru
ISBN : 978 – 634 – 96541 – 2 – 8
Harga : Rp 250.000

Buku setebal lebih dari tujuh ratus halaman ini bukan sekadar daftar nama alumni sukses yang dipajang demi nostalgia atau kebanggaan institusional.

Ini dokumentasi panjang tentang orang-orang yang pernah duduk di ruang kuliah yang sama, memandang papan tulis yang sama, kemudian berjalan ke arah hidup yang berbeda namun hampir semua menuju puncak pencapaian.

Dari CEO perusahaan teknologi, direktur BUMN, akademisi, pengusaha, birokrat, hingga tokoh publik nasional, buku ini merangkum seratus nama yang dianggap mewakili wajah keberhasilan alumni ITS lintas generasi.

Yang menarik, kekuatan buku ini bukan pada deretan jabatan mentereng alumni melainkan pada satu pesan konsisten di hampir setiap halaman: kesuksesan tidak pernah datang secara kebetulan.

Membaca buku ini seperti menelusuri lorong panjang berisi profil orang-orang yang berhasil menaklukkan bidang masing-masing.

Bedanya, pada setiap profil, selain menampilkan wajah dan prestasi, juga menyuguhkan pemikiran, filosofi hidup, dan prinsip kerja yang membentuk mereka. Salah satu contoh datang dari Abdul AziezBahalwan, tokoh di bidang teknologi. Dia mengatakan, “AI bukan sekadar tren melainkan evolusi cara organisasi bekerja.”

Kalimat singkat dan sederhana tetapi menyimpan pesan besar tentang zaman yang sedang berubah. Bahwa masa depan bukan milik mereka yang sekadar mengikuti tren melainkan milik mereka yangmampu membaca perubahan sebelum orang lain menyadari.

Kumpulan Gagasan
Ungkapan pemikiran dan filosofis seperti itutersebar di banyak bagian buku sehingga terasa bukan hanya sebagai kumpulan biografi tetapi juga bank gagasan orang-orang yang telah makan asam garam dunia profesional.

Di bagian lain, pembaca akan menemukan kesan tentang karakter khas lulusan ITS melalui pernyataan Arif Irwansyah, “Teman-teman ITS itu kalau bicara langsung ke inti, nggak bertele-tele,
blak-blakan, dan tidak ada istilah mbuli. To the point, meskipun pahit.”

Di tangan penulis dan editor buku, pernyataan tersebut bukan sekadar humor internal alumni. Iamenjadi gambaran kultur bahwa lingkungan teknik membentuk watak yang lugas, efisien, dan terbiasa berpikir solutif.

Dalam dunia kerja modern, karakter seperti itu adalah modal mahal. Hermawan Kartajaya, nama besar dalam dunia pemasaran Indonesia, hadir dengan pernyataan yang memperlihatkan bagaimana passion menjadi fondasi kesuksesan.

“Kalau badan saya dibedah, mungkin isinya semua pemasaran. DNA saya memang ada di dunia ini.” Sangat jelas memperlihatkan bahwa orang besar tidak hanya  pintar tetapi juga mencintai apa yang mereka kerjakan.

Untuk pembaca muda, wajib khusus mahasiswa yang sedang galau menentukan arah hidup, pernyataan Sugianto Halim bisa menjadi semacam suntikan keberanian, “Mahasiswa sekarang ini, pada hari ini, punya kemampuan dan potensi untuk jadi founder di masa depan!”

Optimisme seperti itulah yang membuatbuku ini terasa hidup. Ia tidak hanya menatap masa lalu dan berkata, “Lihat, mereka telah berhasil.”  Ia juga menatap pembacanya dan berkata, “Kamu bisa menyusul.”

Cukup Cermat
Masalah terbesar buku-buku profil alumni biasanya satu: terlalu seremonial. Terlalu banyak pujian. Banyak buku sejenis berakhir seperti buku tahunan mewah yang hanya menarik bagi orang dalam.

Untungnya, 100 Alumni ITS Kebanggaan Almamater berhasil menghindari jebakan itu. Meski tetap terasa sebagai buku penghormatan, penulis dan editor cukup cermat dalam membingkai setiap tokoh sebagai pribadi, bukan hanya sebagai pemegang jabatan.

Pembaca tidak hanya tahu “si A adalah direktur perusahaan X” tetapi juga memahami bagaimana ia berpikir, bagaimana ia melihat tantangan, dan nilai hidup apa yang ia pegang.

Karena itulah buku ini tetap menarik bahkan bagi pembaca yang tidak punya hubungan apa pun dengan ITS.

Ia menawarkan sesuatu yang universal: cerita tentang perjuangan manusia. Tentang orang-orang yang pernah muda, pernah bingung, pernah gagal, pernah diragukan, lalu perlahan membangun jalan hidupnya sendiri.

Salah satu nilai terbesar buku ini adalah daya gunanya yang praktis. Ia bukan hanya inspiratif dalam pengertian emosional tetapi juga edukatif secara konkret.

Pertama, membantu pembaca untuk memahami bahwa dunia kerja jauh lebih luas daripada yang sering dibayangkan.

Banyak alumni teknik ternyata menempuh jalur di luar bidang teknis: ke pemasaran, bisnis, pemerintahan, media, bahkan kewirausahaan.

Itu memberikan perspektif bahwa latar pendidikan bukan penjara karier. Kedua, menjadi semacam panduan tidak langsung tentang pengembangan diri.

Dari satu profil ke profil lain, pembaca akan menangkap pola berulang: betapa penting disiplin, jejaring, keberanian mengambil peluang, kemampuan beradaptasi, dan kemauan belajar sepanjang hayat.

Ketiga, menumbuhkan motivasi realistis. Berbeda dari buku motivasi yang kadang terlalu teoretis, disini pembaca melihat contoh konkret orang-orang nyata yang meniti karier tahap demi tahap.

Bagi mahasiswa dan fresh graduate, buku ini bisa menjadi semacam peta mental, gambaran bahwa masa depan dapat berkembang ke banyak arah, selama seseorang mau terus bergerak.

Sisi Kegagalan
Secara gaya penulisan, buku ini cenderung menggunakan bahasa populer-jurnalistik. Tidak terlalu akademis, tidak pula terlalu santai.

Format yang membuat pembaca dapat menikmati setiap profil seperti membaca rubrik feature tokoh dalam majalah bisnis atau koran akhir pekan.

Sebuah keputusan editorial yang tepat sebab dengan jumlah tokoh sebanyak itu, bahasa yang terlalu formal akan membuat buku terasa melelahkan.

Penyajian cukup cair sehingga pembaca bisa membuka halaman mana saja dan langsung tenggelam dalam cerita tanpa harus membaca secara berurutan.

Meskipun begitu tentu tidak sepenuhnya lepas dari kelemahan. Karena memuat begitu banyak tokoh, beberapa profil terasa terlalu ringkas.

Ada kisah yang sangat menarik tetapi harus selesai hanya dalam beberapa halaman. Akibatnya, kedalaman emosional beberapa cerita kurang tergali.

Pembaca tahu apa yang dicapai tokoh tersebut tetapi belum benar-benar mengenal pergulatan batinnya. Selain itu, karena bernuansa sangat apresiatif, buku ini nyaris tidak menyentuh sisi
kegagalan.

Hampir semua tokoh tampil dalam cahaya kemenangan. Padahal justru kisah tentang jatuh, gagal,bangkit, dan berdarah-darah biasanya menjadi bagian paling manusiawi dan menginspirasi.

Kadang pembaca justru belajar paling banyak bukan dari puncak keberhasilan seseorang tetapi dari cara ia bertahan di titik terendah.

Satu Pesan
Bagaimanapun, 100 Alumni ITS Kebanggaan Almamater tetap lebih dari sekadar buku dokumentasi.Ini arsip kolektif tentang mimpi, kerja keras, dan daya juang – sekaligus bukti bahwa kampus bukan hanya tempat belajar teori melainkan ruang pembentukan diri.

Buku ini bisa menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari bakat luar biasa. Kadang-kadang ia lahir dari disiplin biasa yang istikomah, ajeg, terus-menerus.

Dari keberanian mengambil kesempatan. Dari kesediaan belajar lebih lama daripada orang lain. Dari tekad untuk tetap berjalan ketika banyak orang berhenti.

Membaca buku ini, kita pasti kita akan mengenal seratus alumni ITS, pun memahami seratus kemungkinan jalan hidup.

Seratus bentuk perjuangan. Seratus versi dari satu pesan yang sama: masa depan gemilang selalu dibangun dari langkah kecil yang sungguh-sungguh.

**

Artikel Terkait