Pertemuan tersebut menjadi bagian penting dari upaya majalah Ekonomi Indonesia untuk memperluas perspektif dan mendapatkan gambaran langsung mengenai arah kebijakan ekonomi nasional hampir dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Bagi BS, pertemuan dengan Airlangga bukan sekadar wawancara. Ada kebutuhan untuk memahami lebih dalam berbagai kebijakan yang sedang dijalankan pemerintah sekaligus menangkap tantangan yang dihadapi dunia usaha, masyarakat, pemerintah daerah,dan sektor investasi. Pembicaraan berlangsung santai, tetapi berkembang menjadi diskusi yang cukup luas mengenai masa depan ekonomi Indonesia.
Berbagai persoalan dibicarakan, mulai dari pertumbuhan ekonomi, daya beli, investasi, hilirisasi, efisiensi anggaran, Koperasi Desa Merah Putih, penciptaan lapangan kerja, hingga perubahan geopolitik dan perdagangan dunia. Dari pembicaraan tersebut,terlihat bahwa menjaga pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dengan mempertahankan angka makroekonomi, tetapi juga membutuhkan inovasi dan efisiensi di berbagai lapisan.
Bagi Ekonomi Indonesia, perspektif seperti itu penting. Majalah tidak hanya ingin menyajikan angka pertumbuhan, investasi maupun perdagangan, tetapi juga menjelaskan bagaimana kebijakan ekonomi diterjemahkan menjadi kegiatan nyata dan memberikan dampak kepada masyarakat.
Membaca Ekonomi
Airlangga menjelaskan bahwa kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif solid. Pertumbuhan ekonomi semester pertama mencapai 5,45 persen, investasi tumbuh 7 persen dengan nilai sekitar Rp1.100,6 triliun, sedangkan inflasi berada pada level 2,88 persen. Cadangan devisa mencapai 145,6 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dan pertumbuhan kredit perbankan mencapai 12,67 persen.
Angka-angka tersebut menjadi salah satu bahan penting bagi redaksi untuk membaca situasi ekonomi nasional secara lebih utuh. Namun, bagi BS, angka makro tidak berdiri sendiri. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga daya beli masyarakat, memastikan investasi menciptakan lapangan kerja, serta membuat pertumbuhan ekonomi dirasakan lebih luas.
Airlangga juga mengingatkan bahwa perekonomian Indonesia tidak terlepas dari berbagai perubahan global. Konflik geopolitik, perang dagang, ketegangan di berbagai kawasan, serta perubahan hubungan AS, China, Jepang, dan negara-negara lain dapat memengaruhi perdagangan serta investasi.
Karena itu, pemerintah harus menjaga berbagai mesin pertumbuhan sekaligus. Konsumsi rumah tangga yang menyumbang sekitar 54 persen terhadap perekonomian, investasi, ekspor-impor, dan belanja pemerintah harus bergerak secara bersamaan.
“Makro kita relatif baik. Tantangannya adalah bagaimana menjaga daya beli, investasi, ekspor, dan seluruh sektor ekonomi agar tetap bergerak,” terang Airlangga.
Efisiensi Baru
Salah satu bagian menarik dalam pembicaraan BS dengan Airlangga adalah mengenai efisiensi. Pemerintah saat ini mendorong efisiensi anggaran sebagai bagian dari penataan fiskal. Namun, menurut Airlangga, efisiensi tidak boleh berhenti pada pemotongan belanja.
Efisiensi justru harus menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi. Pemerintah daerah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan dituntut menemukan cara baru agar sumber daya yang terbatas dapat menghasilkan manfaat yang lebih besar.
Persoalan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) menjadi salah satu contoh. ICOR Indonesia yang masih berada di atas 6 menunjukkan bahwa efisiensi investasi masih dapat ditingkatkan. Sementara kawasan industri dengan infrastruktur dan ekosistem yang terintegrasi dapat mencapai ICOR di bawah 4.
Bagi redaksi Ekonomi Indonesia, gagasan tersebut relevan untuk terus dikembangkan menjadi salah satu perspektif pemberitaan majalah. Efisiensi tidak harus identik dengan pengurangan, tetapi dapat menjadi jalan untuk menemukan cara kerja baru yang lebih produktif.
“Efisiensi harus membangkitkan inovasi. Jangan sampai efisiensi justru membuat kegiatan ekonomi berhenti,” tutur Airlangga.
Ekonomi Daerah
Wawancara tersebut juga memberikan perhatian cukup besar terhadap ekonomi daerah dan pedesaan. Airlangga menilai pertumbuhan ekonomi nasional harus berjalan seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi di daerah.
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi salah satu contoh yang dibicarakan. Pemerintah berharap koperasi dapat memperbaiki rantai distribusi, mempertemukan hasil produksi petani dan nelayan dengan pasar, serta meningkatkan perputaran ekonomi di desa.
Pembicaraan mengenai pembangunan daerah juga memperlihatkan pentingnya keterhubungan antarprogram. Pembangunan bendungan, misalnya, tidak akan memberikan hasil optimal apabila tidak diikuti jaringan irigasi dan kegiatan ekonomi masyarakat.
Perspektif tersebut membuka ruang bagi Ekonomi Indonesia untuk semakin memberikan perhatian kepada ekonomi daerah. Selama ini, banyak cerita keberhasilan ekonomi justru muncul dari daerah, baik melalui pengembangan industri, UMKM, koperasi, investasi,maupun inovasi pemerintah daerah. Dengan demikian, wawancara BS dengan Airlangga tidak hanya memberikan bahan mengenai kebijakan ekonomi nasional, tetapi juga memperluas perspektif redaksi mengenai bagaimana ekonomi nasional sesungguhnya bergerak dari pusat hingga daerah.
Investasi Nyata
Pembicaraan mengenai investasi dan hilirisasi juga menjadi bagian penting dalam wawancara tersebut. Pemerintah ingin memastikan investasi tidak sekadar menghadirkan modal, tetapi juga menciptakan nilai tambah, industri, dan lapangan kerja di dalam negeri.
Nikel, alumina, aluminium, timah, batu bara, kelapa sawit, dan berbagai komoditas lainnya diarahkan untuk masuk ke dalam rantai industri yang lebih panjang. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga memperoleh nilai tambah yang lebih besar.
Perkembangan kawasan industri menjadi salah satu indikatornya. Kawasan industri di Kendal, Gresik, dan Batang terus berkembang, sementara investasi baru ikut menciptakan lapangan kerja. Pada semester pertama, tambahan lapangan kerja tercatat hampir 500.000.
Bagi Ekonomi Indonesia, perkembangan tersebut menjadi isu yang penting untuk terus dikawal. Majalah dapat menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif pemerintah, pelaku usaha, investor, akademisi, dan masyarakat mengenai sejauh mana investasi benar-benar memberikan dampak ekonomi.
Dengan pendekatan tersebut, pemberitaan investasi tidak hanya berbicara tentang nilai triliunan rupiah, tetapi juga tentang pabrik yang berdiri, tenaga kerja yang terserap, usaha lokal yang tumbuh, dan perubahan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Menatap 2045
Wawancara BS dengan Airlangga pada akhirnya membawa pembicaraan pada agenda yang lebih besar, yaitu Indonesia Emas 2045. Tantangannya bukan hanya mempertahankan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat industri, memperluas lapangan kerja, dan mengurangi kesenjangan.
Indonesia juga harus mampu menempatkan diri di tengah perubahan peta ekonomi dunia. Perluasan kerja sama perdagangan, proses menuju Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), serta hubungan ekonomi dengan AS, Uni Eropa, China, Jepang, dan negara lainnya menjadi bagian dari strategi memperkuat posisi Indonesia.
Di sisi lain, kekuatan domestik tetap menjadi modal utama. Besarnya pasar Indonesia, sumber daya alam, energi, dan potensi hilirisasi menjadi keunggulan yang harus dikelola secara efisien dan inovatif.
Bagi BS, berbagai pandangan yang disampaikan Airlangga menjadi bahan penting bagi Ekonomi Indonesia untuk menjalankan perannya sebagai media yang tidak hanya memberitakan ekonomi, tetapi juga ikut membaca arah perjalanan ekonomi nasional.
Pertemuan tersebut juga menegaskan pentingnya komunikasi antara media dan pengambil kebijakan. Media membutuhkan informasi dan perspektif langsung dari pembuat kebijakan, sementara masyarakat membutuhkan media yang mampu menerjemahkan kebijakan itu menjadi informasi yang mudah dipahami dan relevan.
Karena itu, Ekonomi Indonesia akan terus membuka ruang dialog dengan berbagai tokoh ekonomi nasional. Dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga pelaku ekonomi di daerah. Tujuannya satu: menghadirkan perspektif yang lebih lengkap mengenai perjalanan ekonomi Indonesia.
Optimisme menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Sebab, seperti disampaikan Airlangga kepada BS, perekonomian tidak hanya bergerak karena kebijakan dan angka, tetapi juga karena keyakinan masyarakat dan dunia usaha untuk terus bergerak.
“Kalau kita membangun optimisme, ekonomi akan terus bergerak. Dari situ akan terbuka kesempatan dan peluang-peluang baru,” tegas Airlangga. (*)










