WIKON juga mengelola berbagai alat berat khusus infrastruktur seperti launcher girder, gantry, dan mesin mini bore tunnel,” katanya.
Salah satu proyek penting yang memanfaatkan teknologi tersebut adalah sodetan Kali Ciliwung di Jakarta. Proyek ini dikerjakan secara senyap tanpa mengganggu aktivitas masyarakat di permukaan.
Pengeboran dilakukan dari Banjir Kanal Timur menuju Sungai Ciliwung menggunakan teknologi mini bore tunnel milik WIKON, menjadi contoh penerapan solusi teknis untuk persoalan perkotaan dengan dampak sosial minimal.
Selain fabrikasi baja dan alat berat, WIKON jugamengembangkan bisnis produk industri turunan Plastic Pressing and Casting (PPC). Produk yang dikembangkan meliputi anoda katodik untuk perlindungan korosi pada kapal dan pelabuhan, plastik precast, serta komponen industri otomotif dan sepeda motor.
Bisnis PPC menyasar pasar tier ketiga sebagai bagian dari diversifikasi usaha WIKA ke sektor manufaktur. Pada periode yang sama, EkaSantoso juga menjabat sebagai Komisaris Utama di anak usaha WIKA yang bergerak di bidang industri manufaktur kendaraan listrik.
Anak usaha ini terlibat dalam pengembangan motor listrik Gesits, proyek yang berawal dari inisiatif akademisi ITS dan kemudian mendapat penugasan negara untuk dikembangkan secara massal.
Ketika pandemi Covid 19 melanda, banyak lini usaha non inti justru menjadi beban tambahan bagi BUMN karya yang tengah menghadapi tekanan likuiditas dan penurunan proyek.
“Terus terang, pengalaman ini malah membuka mata saya terhadap risiko diversifikasi yang terlalu jauh dari bisnis inti,” katanya.
Tantangan Strategis
Memasuki 2023, Eka Santoso ditunjuk sebagai Senior Vice President (SVP) Asset Management WIKA. Penugasan ini datang pada masa sulit, karena saat itu WIKA dan BUMN karya lain harus menata ulang struktur aset, kewajiban, dan strategi bisnis pasca pandemi.
Posisi tersebut menuntut tanggung jawab untuk memastikan aset perusahaan mampu memberikan nilai tambah dan menopang keberlangsungan usaha.
Upayanya diarahkan pada optimalisasi aset agar dapat menjadi sumber leverage di tengah keterbatasan proyek baru dan tekanan keuangan.
Pada akhir 2023, ia kembali dipercaya menjadi SVP Quality, Health, Safety, and Environment (QHSE). Tugasnya mengoordinasikan standar mutu, keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan di seluruh lini bisnis WIKA dan anak usahanya, mencakup proyek konstruksi, industri manufaktur, hingga pertambangan.
Sejak Mei 2025, ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Wijaya Karya Bitumen. Perusahaan ini mengelola tambang aspal alam di Pulau Buton yang dikenal memiliki salah satu cadangan aspal alam terbesar di dunia.
“Penugasan ini sejak awal dimaksudkan untuk mendukung agenda hilirisasi sumber daya alam nasional,” katanya.
Aspal Buton
Menurut Eka Santoso, realitas di lapangan jauh dari sederhana. Aspal Buton merupakan mineral alam berupa batuan yang mengandung aspal sekitar 20 sampai 30 persen.
Berbeda dengan aspal minyak yang merupakan residu pengolahan minyak mentah, aspal Buton harus melalui proses penghancuran, fraksinasi, dan ekstraksi untuk memisahkan kandungan aspal dari material batuannya.
Secara teknologi, proses ini jauh lebih kompleks dan mahal. Dari sisi ekonomi, biaya produksinya masih kalah bersaing dibandingkan aspal minyak impor yang telah memiliki rantai pasok mapan dan teknologi yang efisien.
Menurutnya, riset laboratorium dan pengembangan prototipe sebenarnya telah dilakukan dan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Namun, ketika masuk ke skala industri, aspek keekonomian menjadi persoalan utama.
Hingga kini, belum ada teknologi di dunia yang terbukti mampu mengekstraksi aspal Buton menjadi aspal murni dalam skala besar secara ekonomis.
“Tantangannya, aspal Buton ini harus disesuaikan dengan standar pasar yang sudah terbentuk,” jelasnya.
Ketidakpastian Pasar
Eka Santoso mengatakan, di WIKA Bitumen terdapat dilema yang harus dihadapi, yakni cadangan melimpah, tetapi pasar belum siap. Dari total wilayah izin usaha pertambangan (IUP) yang dimiliki, saat ini baru sekitar 20 persen yang dimanfaatkan sejak awal eksploitasi.
Di Pulau Buton sendiri, dari belasan pemilik IUP, sebagian besar telah berhenti beroperasi. Industri yang pada era 1980 sampai 1990 pernah menjadi kebanggaan nasional tersebut kini nyaris mati.
Rumah sakit yang dahulu melayani pasien dari berbagai daerah kini hanya melayani kebutuhan lokal. Dalam kondisi seperti itulah, lanjutnya, WIKA Bitumen memilih bertahan secara realistis.
Operasi tetap berjalan, namun disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Perusahaan tidak agresif melakukan ekspansi, tetapi terus mencari formulasi produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan memungkinkan secara ekonomi.
Karena itu, sebagai direktur utama, ia aktif menjalin kolaborasi dengan BRIN, ITS, ITB, serta mitra internasional untuk mencari terobosan teknologi.
“Memang benar ekspor ke China masih berjalan, namun pasokan jauh melebihi permintaan. Saat ini aspal Buton makin terpinggirkan oleh aspal minyak,” jelasnya.
Arah Produksi
Pemerintah sebenarnya menginginkan produksi aspal Buton mencapai 100.000 ton per tahun. Namun menurut Eka Santoso, target tersebut masih menyisakan sejumlah pertanyaan mendasar, mulai dari bagaimana cara memproduksinya, berapa kebutuhan riilnya, siapa yang akan menyerap, hingga di mana fasilitas produksinya akan dibangun.
Ia menilai kebutuhan nasional terhadap aspal saat ini justru cenderung menurun. Pemerintah di era Presiden Prabowo, sedang melakukan penataan ulang kebijakan secara menyeluruh, layaknya sistem yang direset.
Sepanjang 2025, berbagai program disesuaikan kembali dari titik awal. Dalam kondisi tersebut, diperlukan langkah yang lebih realistis dan terukur.
Target produksi tidak bisa dilepaskan dari kepastian permintaan, kesiapan infrastruktur, serta arah kebijakan pembangunan yang sedang
dirumuskan ulang.
Kemungkinan lain untuk memasarkan aspal Buton dapat dilakukan melalui kemitraan dengan pihak asing. Selain China, Jepang juga mengetahui bahwa cadangan aspal Buton merupakan yang terbesar di dunia.
“Tapi masalahnya, Jepang sendiri belum menemukan teknologinya.” katanya
Pendidikan Teknik Tidak Cukup Perlu Tahu Ekonomi dan Politik
Pengalaman panjang Eka Santoso di dunia profesional membawanya pada kesimpulan bahwa pendidikan teknik tidak cukup hanya membekali kemampuan teknis. Insinyur masa depan perlu memahami aspek ekonomi dan politik kebijakan agar mampu membaca konteks yang lebih luas.
Dalam pandangannya, langkah pemerintah merapikan BUMN merupakan hal yang wajar. Berdasarkan riset akademik yang ia pelajari, diversifikasi bisnis BUMN terbukti berdampak negatif dan tidak signifikan apabila tidak sejalan dengan bisnis inti perusahaan.
Pelajaran ini relevan bagi dunia kampus. Lulusan teknik perlu dibekali kemampuan memahami konteks sosial dan ekonomi, bukan sekadar menghitung struktur dan volume.
Pengembangan perusahaan, menurutnya, harus saling bersinergi agar berkelanjutan. Ia mencontohkan pengembangan BUMN di China. Selain infrastruktur, industri petrokimia juga tumbuh seiring kebutuhan penduduk yang besar.
Negara tersebut memahami pengembangan infrastruktur yang sesuai dengan karakter tiap kota, termasuk bentuk sinergi antar sektor yang dibangun.
Dalam situasi BUMN konstruksi yang tengah menghadapi tantangan berat, ia tetap menekankan pentingnya berpikir ke depan. Kondisi yang tidak ideal justru menuntut keberanian untuk bersikap jujur, terbuka, dan berorientasi pada solusi jangka panjang.
Ikatan Almamater
Hingga saat ini Eka Santoso tetap menjaga keterikatan dengan almamaternya. Pengalamannya menempuh pendidikan di ITS membentuk karakter militannya sejak awal, sekaligus menanamkan fondasi ketangguhan dan profesionalisme yang ia pegang hingga kini.
Menurutnya, lulusan ITS, terutama dari jalur vokasi, terbiasa berperan sebagai eksekutor yang adaptif. Karakter tersebut menjadi keunggulan tersendiri di tengah ketidakpastian global dan perubahan cepat dalam dunia kerja.
Ia mengenang saat pertama masuk ITS pada 1993, ketika suasana kampus membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang tangguh dan kritis.
Pengalaman ospek, termasuk keterlibatan dalam boikot bakti kampus di tengah dinamika nasional saat itu, turut memengaruhi cara berpikir serta sikap terhadap lingkungan sosial dan institusional.
Ia juga menyoroti posisi lulusan diploma, khususnya D3, yang kerap dipandang sebelah mata. Padahal dalam praktik profesional, kontribusi lulusan D3 dapat sangat signifikan, selama didukung kepercayaan diri dan penguasaan keahlian yang kuat.
“Jangan sampai lulusan diploma merasa patah arang. Justru kalau kita percaya diri dan menguasai bidang kita, kontribusinya bisa besar,” tambahnya.
Karakter Profesional
Pilihan jalur vokasi membentuk karakter profesional Eka Santoso sejak awal. Hampir seluruh perjalanan profesionalnya dihabiskan di lingkungan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA).
Saat ini, ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Wijaya Karya Bitumen, anak usaha WIKA yang mengelola tambang aspal alam di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.
Pendidikan tingginya dimulai dari Diploma III (D3) Teknik Sipil, Fakultas Non-Gelar Teknologi (FNGT) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, yang kini menjadi Fakultas Vokasi.
Program ini dirancang untuk melahirkan tenaga teknik yang tangguh, adaptif, dan siap terjun langsung ke lapangan. Menurutnya, lulusan jalur ini diposisikan sebagai penghubung antara pekerja teknis di lapisan bawah dan pengambil keputusan di tingkat manajerial.
Dan praktik lapangan dirasakan lebih intens, dengan tuntutan kedisiplinan dan daya tahan yang tinggi. Setamat pendidikan D3 di ITS, ia melanjutkan ke jenjang sarjana di bidang teknik sipil dan infrastruktur di Universitas Jayabaya Jakarta pada 2005, kemudian program magister di bidang ekonomi di STIE Perbanas Surabaya.
Karier Infrastruktur
Eka Santoso memulai karier di lini infrastruktur, sektor yang sejak awal menjadi tulang punggung bisnis WIKA sebagai BUMN konstruksi. Hingga 2017, ia dipercaya menjabat sebagai General Manager (GM) Infrastruktur di WIKA Infra untuk wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Nusa Tenggara Timur.
Dalam peran tersebut, ia bertanggung jawab atas perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian proyek infrastruktur berskala besar dengan kompleksitas teknis dan administratif yang tinggi.
Proyek yang ditanganinya mencakup pembangunan jalan nasional, jalan tol, jembatan, infrastruktur perkeretaapian, pelabuhan, serta bendungan sumber daya air.
Pada periode 2017 sampai 2019, sebelum pandemi Covid 19, ia memimpin dan mengoordinasikan sekitar 39 proyek infrastruktur. Dari jumlah tersebut, 18 proyek berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menuntut penyelesaian tepat waktu dengan target yang ketat.
Beberapa proyek besar yang berada di bawah pengawasannya antara lain Jalan Tol Surabaya- Mojokerto, Tol Solo-Kertosono, dan Tol Gempol-Pasuruan.











