Zulfan Zahar - Ketua Umum METI

Zulfan Zahar – Pembangkit Listrik Tenaga Air Andalan Energi Terbarukan

Share

Saat menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB), Zulfan Zahar mengaku bukan termasuk yang menonjol di kelas. Hobi mendaki gunung dan menjalani hidup apa adanya menjadi ciri khasnya. Untuk menutupi kebutuhan kuliah, ia sempat berjualan roti dan berhasil memperoleh beasiswa sepanjang masa studi. Selama kuliah, aktif di berbagai organisasi serta menjadi asisten dosen dan asisten laboratorium.

Setelah lulus, perjalanan karier berlangsung secara bertahap. Ia tujuh tahun menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Pekerjaan Umum, bertugas di Sekretariat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) dengan fokus pada regulasi dan hubungan dengan berbagai stakeholder di bidang sumber daya air.

Zulfan Zahar beruntung mendapat bimbingan dari Dirjen SDA saat itu yang juga alumni ITB. Ketika pejabat berganti, penggantinya tetap berasal dari ITB, sehingga peluang belajar dan mengembangkan karier tetap terbuka.

“Interaksi yang intens dengan alumni ITB membantu membangun jaringan profesional yang luas,” katanya.

Wirausaha Energi
Zulfan Zahar menyatakan, pengalamannya bekerja di bidang sumber daya air, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), membuka peluang baru baginya.

Ia memutuskan keluar dari PNS dan terjun ke dunia usaha sebagai pengusaha di sektor energi terbarukan. Ia mulai melakukan studi tentang PLTA dan membentuk satu unit bisnis yang bekerjasama dengan perusahaan terkait Independent Power Producer (IPP).

Awalnya, proyek yang dijalankan berskala mikro di bawah 1 megawatt (MW), kemudian berkembang menjadi mini mikro 3 MW, 5 MW, 7 MW, hingga membangun 10 MW.

Setelah semua proyek skala kecil berjalan, ia mulai mengembangkan proyek menengah, dari 20 MW hingga 100 MW, sambil memperluas jejaring dengan banyak pengembang.

Sebagai pengusaha energi terbarukan, Zulfan aktif mendorong kebijakan energi bersih dan transisi energi, sekaligus menjadi penghubung antara industri, pemerintah, termasuk DPR RI, dan generasi muda untuk mempercepat pengembangan energi hijau diIndonesia.

“Mungkin saya Ketua Umum METI pertama yang masih muda,” ujarnya.

Konservasi Lahan
PLTA di Indonesia memiliki jejak yang cukup panjang dan mengalami pasang surut. Namun, menurut Zulfan Zahar, saat ini sektor ini mulai bangkit dan menunjukkan peningkatan signifikan.

Ia menyadari bahwa teknologi PLTA masih tergolong lama, sehingga banyak anak muda kurang tertarik karena menganggapnya ketinggalan zaman, berbeda dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), baterai, atau teknologi baru lainnya yang lebih maju.

Namun, pandangannya berbeda. Ketika banyak anak muda enggan menekuni PLTA, ia justru semakin tertarik. Menurutnya, energi listrik yang dihasilkan PLTA masih lebih unggul dibanding Energi Baru Terbarukan (EBT) lainnya. Bahkan, PLTA merupakan tulang punggung energi di Indonesia.

PLTA juga berorientasi pada konservasi lahan. Ia merasa miris ketika PLTA disalahkan sebagai penyebab banjir. Seharusnya, ketika terjadi bencana banjir besar, Indonesia justru membangun lebih banyak PLTA, karena bendungan mampu menahan banjir.

Desain PLTA tidak pernah menyebabkan banjir, bahkan sebaliknya, dapat menahan dan mengelola air secara efektif. Saat ini, investasi PLTA juga sangat besar dan bernilai tinggi dibanding EBT lainnya, sehingga banyak konglomerat tertarik memilikinya.

“PLTA adalah yang paling andal saat ini. Potensinya banyak, lokasinya tersebar di seluruh Indonesia, dan kapasitasnya sangat baik,” katanya.

Paling Reliabel
Zulfan Zahar menyatakan sejauh ini, baru sekitar 10 persen potensi PLTA yang berhasil dioperasikan. Hal ini karena tidak semua lokasimudah dibangun.

Meski begitu, tren pengembangan PLTA terlihat menjanjikan. Dalam RUPTL, target kapasitas sebesar 12 Giga Watt (GW) pada 2035 bahkan diproyeksikan meningkat menjadi 17 GW pada 2040.

Namun, dari seluruh potensi yang reliabel dan layak dikembangkan, target 17 GW belum dapat terpenuhi di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Di Sumatera, misalnya, kapasitas PLTA yang tersedia tidak lebih dari 3 GW, padahal kebutuhan menurut RUPTL mencapai 5 GW.

Artinya, masih ada kekurangan pasokan dari PLTA yang dapat diandalkan. Saat ini, capacity factor PLTA mencapai 65 persen, jauh lebih tinggi dibanding energi baru terbarukan (EBT) lainnya, seperti tenaga surya, biomassa, maupun angin.

Secara keekonomian, PLTA juga lebih menarik. capacity factor-nya yang tinggi membuat proyek ini lebih layak secara teknis dan ekonomis. Walaupun membutuhkan investasi besar, potensi pengembalian finansialnya tetap menjanjikan.

“Dengan segala keunggulannya, PLTA menjadi pilihan strategis untuk membangun tulang punggung energi terbarukan di Indonesia, sekaligus membuka peluang pengembangan yang lebih luas bagi masa depan energi hijau,” katanya.

Lebih Efisien
Terkait pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Batam untuk memenuhi kebutuhan pulau tersebut, Zulfan Zahar menilai langkah itu kurang tepat.

Menurut perhitungannya, Indonesia dapat membangun “lumbung” PLTA di Aceh dan Sumatera Utara, yang energi listriknya bisa didistribusikan ke Batam maupun Singapura, atau dialirkan langsung dari Riau ke Batam, dan dari Batam ke Bintan serta Singapura.

Opsi ini dianggap lebih ideal dibanding membangun PLTS, yang membutuhkan lahan sangat luas dan berpotensi menimbulkan berbagai entropi lingkungan. Risiko deforestasi tetap ada, sehingga pemilihan tipe pembangkit listrik yang akan dibangun harus dipertimbangkan secara matang, termasuk saat membangun pembangkit di Jawa.

Selain itu, pengembangan PLTA di Kalimantan dianggap lebih efisien. Kapasitasnya dapat dibangun hingga 9 GW atau 10 GW dan energi listriknya dapat dialirkan melalui kabel dari Kalimantan Barat ke Jawa, dibanding membangun pembangkit gas di Jawa.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi angin yang besar, dan teknologi pemanfaatannya sudah berkembang di Eropa. Namun, pengembangan energi angin di Indonesia berjalan lambat karena karakter angin yang tidak seragam dan tidak stabil.

“Tidak semua pegunungan dan wilayah pantai dapat dimanfaatkan, sehingga harga listrik dari angin masih belum kompetitif dengan harga jual ke konsumen,” tambahnya.

Peran Signifikan METI Bangun Ketahanan Energi

Menuju target energi bersih pada 2060, METI diharapkan berperan signifikan, dan menurut Zulfan Zahar, peran tersebut sudah dijalankan. Pengurus sebelumnya telah mengemban tugas serupa, namun kini METI bersikap lebih realistis dan proaktif.

Jika sebelumnya kegiatan lebih banyak berbentuk diskusi kelompok atau Focus Group Discussion (FGD), sekarang METI lebih banyak mengadakan rapat internal dengan berbagai stakeholder untuk mempercepat iklim investasi di energi baru dan terbarukan (EBT).

“Tujuannya adalah menjadikan METI sebagai pendorong percepatan investasi EBT sekaligus menyelaraskan dengan target Asta Cita Presiden Prabowo untuk pertumbuhan 8 persen” Katanya.

Percepatan investasi di bidang EBT diharapkan mendorong sirkulasi ekonomi wilayah. Karena pengembangan EBT identik dengan pembangunan di area tertentu yang tersebar di pelosok Indonesia, proyek ini membuka peluang Green Jobs atau pekerjaan hijau yang berkontribusi pada pelestarian dan pemulihan lingkungan.

EBT juga meningkatkan kandungan lokal sehingga mendorong aktivitas pabrikan lokal dan menghidupkan ekonomi wilayah. Selain itu, ada perubahan paradigma yang selama ini dijalankan PLN, dari demand create supply, menjadi supply create demand.

Kalau dulu PLN membangun pembangkit ketika ada permintaan demand, dengan cara melakukan perkiraan pertumbuhan permintaan, tapi tidak dibarengi dengan pelaksanaan pengadaan pembangkitnya.

“Sehingga banyak sekali demand, dalam hal ini misalkan kawasan industri atau misalkan green industry, pindah ke luar negeri karena pengadaan pasokan listrik yang terlambat,” katanya.

Sekolah Bung Karno Teknik Sipil ITB merupakanprogram studi tertua dan dikenal sebagai sekolahnya Bung Karno. Zulfan Zahar merasakan kebanggaan luar biasa saat pertama kali kuliah di kelas yang pernah ditempati Bung Karno.

Ia juga merasa bahagia bisa menikmati atmosfer universitas tertua di Indonesia yang berdiri pada 1920. Menurutnya, ITB terkenal sebagai kumpulan talenta-talenta, sehingga masyarakat memandang bahwa lulus dari ITB berarti peluang karier terbuka lebar.

“Saya sangat bangga terhadap lulusan ITB yang mendapatkan kepercayaan besar. Di luar bidang keilmuannya, mereka mampu mengemban amanah, seperti Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa,” katanya.

Artikel Terkait

Scroll to Top