Pada tahun 1989, masuk Institut Teknologi Bandung (ITB) dan berhasil lolos, masuk ke program Teknik Elektro. Setelah menyelesaikan Tahap Persiapan Bersama (TPB), pada semester 4 ia memilih Teknik Tenaga Listrik.
Setelah lulus pada tahun 1994, ia sempat bekerja di sektor swasta, hingga akhirnya berhasil bergabung dengan PLN. Pada krisis moneter 1998, ia ditempatkan di proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya di Merak, pembangkit listrik terbesar di Asia Tenggara Situasi yang tidak menentu saat itu, mendorongnya mencari beasiswa, berhasil mendapatkan British Council untuk studi di University of Abertay, Skotlandia, dan meraih gelar Master of Science di Power System Engineering and Management pada 1999 dengan predikat summa cum laude.
Memperoleh kesempatan untuk melanjutkan penelitian PhD di kampus yang sama, fokus pada smart grid dan artificial intelligence, belum sempat menyelesaikannya karena penghentian grant riset.
“Saya banting setir dan bekerja di ScottishPower Generation di Skotlandia pada 2002 sampai 2007,” katanya.
Dijemput Direktur
Pada 2007, Suroso Isnandar kembali ke PLN setelah dijemput oleh Direktur Transmisi dan Distribusi saat itu, Herman Darnel Ibrahim. Penugasan pertamanya adalah sebagai staf ahli di bawahnya, ia kembali fokus mempelajari berbagai aspek sektor ketenagalistrikan.
Kemudian secara berjenjang dan ditugaskan ke divisi Perencanaan Sistem, yang bertanggung jawab merencanakan pembangunan dan pengembangan sistem ketenagalistrikan.
Dari posisi itu, ia melanjutkan karier sebagai General Manager Unit Induk Pembangkitan dan Penyaluran Sulawesi, General Manager Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali, serta Kepala Satuan Digital dan Teknologi Informasi PLN, dengan salah satu karyanya adalah aplikasi PLN Mobile.
Kemudian, ia menjabat Direktur Manajemen Risiko selama dua tahun, bertugas menyiapkan dan men-set up manajemen risiko di PLN. Ia menyatakan, sektor energi seperti PLN memiliki karakteristik risiko yang berbeda dibanding industri lain seperti perbankan, asuransi, atau keuangan, di mana manajemen risiko sudah lebih mapan.
Beda Budaya
Saat bekerja di Scottish Power Generation di Skotlandia, Suroso Isnandar ditugaskan di PLTU Longannet dekat Edinburgh, PLTU terbesar saat itu yang kini telah digantikan oleh pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT).
Tugasnya adalah melakukan refurbish untuk memperpanjang umur PLTU sekitar 15 tahun. Di Skotlandia saat itu sudah menerapkan pasar terbuka dengan kompetisi penuh.
Pelanggan bebas memilih pemasok listrik dari puluhan perusahaan pembangkit. Misalnya, meski konsesi dipegang Scottish Power, pelanggan dapat beralih ke London Electricity jika tarif lebih kompetitif.
Perusahaan listrik berlombalomba memproduksi listrik se efisien mungkin sementara pelanggan memiliki fleksibilitas memilih
pemasok.
Sistem transaksi bersifat virtual sehingga satu jaringan tetap digunakan tetapi tarif dan pemasok dapat berbeda-beda. Harga listrik berubah setiap setengah jam berbeda.
“Saat krisis gas dari Rusia, harga listrik di Eropa bahkan sempat meroket tiga kali lipat,” katanya.
Momentum Transisi
Walaupun Suroso Isnandar sempat tidak menyelesaikan PhDnya, akhirnya ia mendapatkan kesempatan melanjutkan S3 di ITB dan berhasil menyelesaikannya pada 2024.
Topik risetnya adalah bagaimana mendorong penerapan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia. Saat ini 65% listrik di Indonesia dihasilkan dari batu bara, yang tersedia melimpah dan merupakan sumber energi termurah.
Jika tidak mempertimbangkan kerusakan lingkungan dan faktor eksternal, pembangkit listrik batu bara menjadi pilihan ekonomis. Kini, sektor ketenagalistrikan menjadi penyumbang emisi terbesar, dengan total sekitar 300 juta ton CO₂ per tahun.
Jika dibiarkan hingga 2060, jumlah ini bisa melebihi 1 miliar ton CO₂, belum termasuk emisi dari sektor transportasi dan manufaktur. PLN tiba-tiba menjadi perusahaan polutan terbesar dalam hal gas rumah kaca.
The Paris Agreement yang disepakati pada 12 Desember 2015 di Konferensi Perubahan Iklim PBB menekankan pengurangan emisi CO₂ untuk menjaga bumi. PLN percaya pada bukti ilmiah bahwa pengendalian emisi gas rumah kaca penting agar bumi tetap berkelanjutan untuk generasi mendatang.
“Pada era Presiden Jokowi, transisi energi sangat didorong, dan pada pemerintahan Pak Prabowo momentum ini dijaga,” katanya.
Tetap Swasembada
Saat ini masih ada sekitar 10.000 titik, dusun, dan desa di Indonesia yang belum dialiri listrik, dan penyelesaian ini menjadi perintah langsung Presiden Prabowo.
PLN tetap ditugaskan melalui RUPTL terbaru 2025–2034 untuk mengeksekusi transisi energi dengan satu syarat utama, Indonesia harus tetap swasembada energi.
Sebanyak 76% pembangkit listrik baru yang akan dibangun dalam 10 tahun ke depan adalah EBT. Transisi energi ini menjadi jalan terbaik untuk mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan.
Dengan transisi ini, PLN menargetkan sektor kelistrikan mencapai net zero emission pada tahun 2060. Dalam menghentikan pembangkit termal, PLN menggunakan pendekatan cool face down, membiarkan pembangkit pensiun secara alami pada akhir masa kontrak atau umur ekonomisnya.
Saat ini tidak ada pembangunan PLTU baru, pembangkit yang ada akan tetap beroperasi hingga pensiun, kemudian digantikan dengan EBT.
“Percepatan penghentian PLTU menghadapi tantangan ekonomi dan kontraktual,” katanya.
Roadmap Energi Terbarukan Surya, Air, Angin, Panas Bumi
Indonesia adalah tanah yang kaya potensi. Energi terbarukan sangat besar dan potensi energi termal pun melimpah. Posisi Indonesia saat ini cukup baik dan seluruh proyek kelistrikan telah tercatat dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), karena tanpa itu proyek tidak bisa dibangun.
Kapasitas listrik saat ini sekitar 80 GW atau 80.000 MW. Proyeksi permintaan dalam 10 tahun ke depan menunjukkan perlunya penambahan 70 GW pembangkit baru.
Dari jumlah itu, sekitar 46 GW atau 76% akan berasal dari energi terbarukan, terdiri dari 17 GW tenaga surya, 14 GW tenaga air, 7,5 GW tenaga angin, dan 5,2 GW tenaga panas bumi.
Potensi geothermal Indonesia adalah yang terbesar kedua di dunia, mencapai 25 GW tetapi yang dapat dimanfaatkan secara praktis dalam 10 tahun ke depan hanya sekitar 5 GW.
Banyak lokasi berada di hutan lindung dan pembangkit tenaga panas bumi memiliki risiko tinggi pada tahap eksplorasi. Meski 46 GW energi terbarukan terbangun, itu belum cukup.
Masih dibutuhkan 10 GW dari tenaga gas untuk menyeimbangkan pasokan energi surya dan angin yang tidak selalu stabil. Teknologi penyimpanan baterai dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTGU) akan membantu mengatasi intermitensi.
“Tanpa persiapan matang, agenda transisi energi Indonesia bisa terhambat,” tegasnya.
Inharmonia Progresio
Suroso Isnandar, yang menempuh pendidikan di ITB untuk S1 dan S3, mengatakan bahwa ITB merupakan almamater luar biasa yang membentuk karakter, visi, dan pemikiran.
ITB bukan hanya mencetak tenagatenaga unggul, tetapi juga menjadi institusi yang memiliki cita-cita untuk kemajuan bangsa. Salah satu hal yang sangat menarik di ITB adalah budaya dan penghargaan terhadap independensi para stakeholder.
Nilai ini, yang tak lekang oleh waktu, mengajarkan untuk selalu berkata benar adalah benar, salah adalah salah, tanpa memandang
situasi. Karakter ini tetap melekat pada sivitas akademika dan alumninya.
Lulusan ITB umumnya percaya diri, kadang over confident, tetapi mampu deliver, yang menjadi kebanggaan. Masa belajar di ITB adalah pengalaman luar biasa yang membentuk kemampuan adaptasi, analisis, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan.
Contohnya, seorang lulusan teknik elektro ITB kini menjadi Menteri Keuangan Republik Indonesia, tetap berbekal keahlian engineer sekaligus pemahaman makroekonomi dan keuangan.
Kolaborasi, kerja sama, dan sinergi antar tokoh ITB masih bisa ditingkatkan. Saat ini hampir semua BUMN dipimpin lulusan ITB, yangseharusnya bisa dimanfaatkan untuk membangun sinergi positif, bersaing namun tetap harmonis, sesuai moto ITB Inharmonia Progresio, yang menyiratkan bahwa kemajuan dicapai melalui kolaborasi harmonis dari semua bidang.
“Kerja sama yang baik, yang merupakan currency langka di Indonesia, perlu ditingkatkan di ITB,” tegasnya.











