Proses ini membutuhkan pengalaman talenta dari berbagai latar belakang. Kepengurusan saat ini sangat beragam, terdiri dari banyak mantan direktur utama baik dari BUMN, swasta, maupun perusahaan asing, layaknya the dream team.
Disebut the dream team karena komposisinya memadukan mantan Direktur Utama dari berbagai BUMN dan korporasi besar, sehingga Board of Directors (BOD) Telkom berfungsi sebagai collective wisdom untuk mengawal transformasi strategis.
Saat ini, Telkom memiliki total 63 anak perusahaan. Dalam orkestrasi strategi holding, seluruh anak perusahaan ini dikelompokkan menjadi empat segmen utama yaitu Business to Consumer (B2C), Business to Business (B2B) Infrastructure, B2B Information and Communication Technology (ICT), dan International Business.
Segmen-segmen ini disebut sebagai customer portfolio. Di setiap customer portfolio terdapat business portfolio, yaitu sekumpulan anak perusahaan dengan produk untuk melayani segmen tersebut.
Produk-produk ini bisa saling melintasi segmen. Misalnya, produk untuk B2C juga dapat digunakan oleh B2B ICT atau segmen internasional. Saat ini, Telkom memetakan bisnisnya ke tiga domain digital utama, yaitu digital connectivity, digital platform, dan digital services.
“Ketiga layanan ini dikelola oleh masing-masing anak perusahaan dan disesuaikan untuk melayani keempat customer portfolio,” katanya.
Tiga domain ini menjadi kerangka utama penyajian kinerja Telkom dalam laporan tahunannya, mencakup layanan seluler dan fixed broadband sebagai digital connectivity, data center dan cloud sebagai digital platform, serta layanan Over The Top (OTT), Internet of Things (IoT), dan solusi enterprise sebagai digital services.
Telkomsel Dominan
Telkomsel merupakan salah satu anak perusahaan Telkom yang cukup dominan, khususnya dalam mengelola segmen B2C. Saat ini, Telkomsel menangani konsumen personal maupun layanan internet rumah (home), yang memberikan kontribusi sekitar dua pertiga pendapatan konsolidasian TelkomGroup.
Pada 2024, Telkom membukukan pendapatan konsolidasian sekitar Rp150 triliun dengan pertumbuhan positif yang ditopang Data, Internet & IT Services, serta percepatan program Fixed Mobile Convergence (FMC).
Segmen lain diharapkan akan mengalami rebalancing portofolio agar lebih seimbang, sehingga pertumbuhan tidak hanya bergantung pada B2C.
Segmen B2B infrastructure direncanakan menjadi portofolio kedua yang akan didorong, diikuti oleh B2B ICT yang melayani perusahaan besar dan multinasional, serta terakhir adalah bisnis internasional.
Saat ini pelanggan internasional, sudah tersebar di sekitar 15 negara. Faizal menjelaskan, Telkomsel saat ini dimiliki 69,9% oleh Telkomdan 30,1% oleh Singtel, perubahan komposisi ini terkait program Fixed Mobile Convergence (FMC).
Pada level holding, 52,09% saham Telkom dimiliki oleh PT Danantara Aset Management (Persero), sedangkan sisanya dimiliki publik karena Telkom merupakan perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan New York Stock Exchange (NYSE).
“Struktur kepemilikan ini memungkinkan Telkom untuk menyederhanakan pengelolaan dan melakukan streamlining secara lebih efektif,” katanya.
Secara komersial, operator seperti Telkom sulit masuk ke banyak wilayah 3T karena tidak layak secara bisnis. Namun melalui skema kewajiban pelayanan universal atau Universal Service Obligation (USO) dan kerja sama dengan BAKTI Kominfo, TelkomGroup tetap berkontribusi menghadirkan konektivitas di ribuan titik 3T.
Kompetisi Kompleks
Menurut Faizal, kompetisi saat ini jauh lebih kompleks karena adanya layering. Telkom menyebut diri sebagai Digital Telco, yaitu perusahaan telekomunikasi yang juga masuk ke layanan digital.
DNA Telkom tetap pada telekomunikasi melalui digital connectivity. Saat ini menguasai pangsa pasar terbesar, baik di seluler maupun fixed broadband—misalnya IndiHome dengan sekitar 67% pangsa pasar fixed broadband, dan lebih dari 10 juta pelanggan pada 2024, sehingga menjadi pemimpin pasar yang jauh di depan pesaing terdekat.
Di ranah digital platform, Telkom termasuk pemain baru sehingga pangsa pasarnya masih kecil. Di sektor digital service, kompetisinya bahkan lebih berat karena banyak pemain kecil masuk tanpa modal besar, pangsa pasar Telkom belum dominan.
Saat ini jaringan telekomunikasi di Indonesia hampir mencapai saturasi dengan cakupan lebih dari 90%. Sisanya sekitar 10% berada di lokasi terpencil serta daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T).
Secara komersial, operator seperti Telkom sulit masuk ke banyak wilayah 3T karena tidak layak secara bisnis. Namun melalui skema kewajiban pelayanan universal atau Universal Service Obligation (USO) dan kerja sama dengan BAKTI Kominfo, TelkomGroup tetap berkontribusi menghadirkan konektivitas di ribuan titik 3T.
Hulunisasi – Hilirisasi
Telkom juga tengah menggencarkan penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI), tidak terbatas di internal Telkom, tetapi juga di berbagai instansi pemerintah, industri, dan universitas.
Contohnya, Telkomsel mengintegrasikan AI untuk optimasi jaringan dalam program Fixed Mobile Convergence (FMC), sementara di sektor publik TelkomGroup mendukung pemanfaatan AI untuk analitik layanan kesehatan dan pendidikan.
Di kampus, Telkom juga membuka AI BigBox Connect sebagai ruang kolaborasi riset dan komersialisasi AI bersama ITS dan universitaslain. Bisnis IT dan digital memiliki persaingan yang sangat ketat, sementara teknologi berkembang dengan sangat cepat.
Faizal menekankan, peran perguruan tinggi seperti ITS sangat besar dalam menghadapi dinamika ini. Peran utama perguruan tinggi adalah melakukan hulunisasi (riset dasar di sisi hulu: pengembangan teori, algoritma, dan prototipe awal) yang kelak dihilirkan menjadi produk komersial oleh industri, dan proses tersebut membutuhkan waktu panjang, biaya besar, serta hasil yang belum tentu langsungmenguntungkan.
Sementara itu, hilirisasi merupakan ranah industri, yaitu proses mengemas teknologi menjadi produk dan kemudian memasarkan secara komersial.
Perguruan tinggi seharusnya tidak terlibat langsung dalam hilirisasi, melainkan lebih fokus pada riset dasar, misalnya pengembanganArtificial Intelligence (AI) atau model bahasa lokal, yang kemudian dapat diambil oleh industri untuk diolah menjadi produk, menentukan strategi go-to-market, dan dikomersialisasikan.
“Riset meningkat tajam, terutama grant yang diberikan pemerintah kepada para dosen researcher di berbagai perguruan tinggi,” katanya.
Peran Character Building Lahirkan Alumni Kreatif
Sebagai alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Faizal, menilai almamaternya cukup unik. Knowledge atau pengetahuan memang bisa diperoleh di banyak perguruan tinggi, tetapi di ITS ada sistem kaderisasi khas ala Suroboyoan. Saat ia kuliah, sebelum masuk semester 3, ada program bernama Electrical Workshop untuk mahasiswa jurusan elektro.
Di sana, mahasiswa diberikan pembekalan tentang leadership, membentuk teamwork yang solid antara senior dan junior, serta membangun kerja sama antaranggota satu angkatan dengan berbagai cara unik ala ITS.
Mahasiswa juga diajari memimpin tim meskipun dalam skala kecil dan menghadapi situasi sulit, sehingga karakter tangguh terbentuk sejak masa kuliah.
Setiap jurusan di ITS memiliki himpunan mahasiswa yang kuat dan berperan dalam pembentukan karakter mahasiswanya. Konsep character building telah diterapkan sejak 1980-an.
Faizal yang masuk pada tahun 1986 merasakan bahwa mahasiswa dibekali pendidikan karakter melalui kegiatan kemahasiswaan, outbound, dan organisasi untuk menjadi tangguh, tidak mudah menyerah, agile, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan.
Mengabdi Almamater
Faizal pernah dipercaya menjadi anggota Majelis Wali Amanah (MWA) ITS dan hingga kini tetap aktif mengabdi melalui Ikatan Alumni serta berbagai program kolaborasi ITS dan industri.
Ia juga baru saja menyelesaikan masa jabatannya sebagai Ketua Alumni Elektro ITS yang bertugas membangun jejaring, menghubungkan alumni senior dengan junior, serta memberikan informasi mengenai peluang di dunia kerja maupun bisnis.
Masih aktif sebagai pengajar tamu, khususnya bagi mahasiswa S2 dan S3. Ia berbagi wawasan praktis tentang dunia kerja karena teori yang dipelajari di kelas, misalnya dalam program Magister Manajemen Teknik tentang manajemen SDM, sering berbeda dengan praktik di lapangan.
Menurutnya, keberhasilan seorang alumni tidak bisa diukur hanya dari jabatan atau posisi tertentu, seperti jumlah menteri, komisaris, atau direktur BUMN.
Setiap alumni memiliki jalur karier masing-masing, ada yang menjadi entrepreneur, profesional, ASN, dan sebagainya. Keberhasilan perguruan tinggi itu ketika alumninya mampu menjaga integritas dan nama baik perguruan tinggi.
“Menjadi negara maju tidak cukup hanya dari pencapaian materi atau posisi, tetapi harus dimulai dari integritas yang dijaga oleh setiap warganya,” katanya.
Alumni Inspiratif
Banyak alumni ITS yang memberikan kontribusi besar bagi bangsa. Salah satu yang paling prominen adalah Prof. Mohammad Nuh, Tri Rismaharini yang pernah menjabat sebagai menteri Ada juga Harsusanto, Direktur Utama PT Teknologi Militer Indonesia (PT TMI), yang dipercaya Presiden untuk membangun mobil nasional listrik Indonesia Electric Intelligent Car (i2C).
Kontribusi ini menjadi pengakuan terhadap peran ITS, yang sejak lama menjuarai berbagai kompetisi mobil listrik meski belum masuk tahap komersial karena keterbatasan dukungan stakeholder.
Bersama Rektor ITS, Bambang Pramujati, yang sejak mahasiswa aktif dalam lomba mobil listrik, mereka diharapkan dapat mempercepat pengembangan mobil listrik di Indonesia melalui kolaborasi antara hulunisasi dan hilirisasi teknologi.
Di bidang entrepreneur, J. Adi Sasongko, alumni Elektro angkatan 1989, menjadi contoh inspiratif. Ia mendirikan PT Info global Teknologi Semesta (Infoglobal) di Surabaya, yang menghasilkan perangkat avionik untuk pesawat tempur, sistem pengolahan data radar, dan sistem kontrol senjata.
Termasuk keterlibatan dalam program jet tempur generasi 4,5 i-22 Sikatan. Kisah Faizal dan para alumni ITS lain menunjukkan bahwakombinasi fondasi teknik yang kuat, karakter yang ditempa di kampus, dan keberanian mengambil risiko adalah kunci untuk membawa Indonesia melompat dari sekadar pasar teknologi menjadi creator dan exporter teknologi.











