Nama kecil bapak saya Suradi. Setelah menikahi Ibu saya,mendapat nama tambahan Sosroharjono. Kira kiraartinya seribu kebahagiaan. Bapak lahir di Gemolong, Sragen pada tahun 1927. Bapak pernah merantau bekerja di Blora sebagai pegawai di Kantor Penerangan.
Saat mendongeng tentang wayang, Bapak sering memainkan peran seperti seorang dalang, misalnya dalam cerita antawecana maupun suluk. Saya sudah terbiasa mendengar tata cara pembukaan pertunjukan wayang kulit sejak kecil.
Itulah yang saya sukai ketika bermain wayang kertas buatan sendiri. Selain suka mendongeng, bapak juga sangat perhatian kalau anak-anaknya sakit. Bapak suka menggendong anak-anaknyakalau sakit. Kalau ada masuk angin atau meriang, kami selalu menggosok perut dengan minyak tanah.
Pernah suatu malam, saya terbangun dan merasakan ada bagian di tubuh yang terasa panas. Ternyata Bapak sedang mengobati bagian tubuh saya yang terkena penyakit kulit. Orang biasanya menyebut penyakit itu dengan sebutan “kadasen”.
***
Pada zaman Jepang, pernah masuk ke Sekolah Teknik di Jakarta. Saat akan dikirim keluar Jawa atau keluar Indonesia, sesampainya di Pelabuhan Surabaya, ia melarikan diri.
Nekad mencebur ke laut dengan bantuan drum kosong, bisa sampai ke daratan. Terus berjalan kaki sampai tiba di kampung halamannya, Sragen.
Saat perang kemerdekaan, Bapak masuk tentara dan bergabung dengan Barisan Banteng. Pernah bergerilya sampai ke MranggenSemarang. Setelah perang selesai, ia memutuskan tidak melanjutkan karier di tentara, melainkan menjadi pegawai pemerintah dan diterima di Jawatan Penerangan.
Dari Sragen dipindahkan ke Blora. Tidak pernah mengurus keanggotaan sebagai veteran. “Saya sudah beruntung bisa menjadi pegawai negeri,” katanya suatu kali.
Di Blora, pernah ditempatkan di Kecamatan Tunjungan, yang kemudian ketemu ibu saya, dan tinggal di Dukuh Jambangan, desa Sukorejo. Saya sering diajak ke kantornya, di Jalan Pemuda, di depan Kantor Pos Blora.
Terutama kalau sedang sakit, setelah pulang dari rumah sakit, sebaiknya kunjungi kantor. Biasanya di sana ada pedagang kue dan makanan ringan lainnya. Saya dibelikan camilan, bersama dengan para pegawai lainnya.
Kalau ada mesin tik yang sudah tidak pakai lagi, saya minta kesempatan untuk latihan mengetik, sebisanya.
Kalau pulang dari kantor, Bapak sering membawa banyak bacaan seperti koran, buku, bahkan majalah atau buletin partai.
Kebiasaan ini membuat saya sudah gemar membaca sejak kecil. Selain berita politik dan buku penyuluhan pertanian, ada juga buku-buku fiksi, termasuk novel atau roman berbahasa Jawa.
Sejak kecil, saya sudah membaca karya-karya seperti “Kumpule Balung Pisah“ oleh A. Saerozi dan “Jodho Kang Pinasthi“ oleh Hardjowirogo. Juga, saya melihat buletin Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan gambar Banteng Segitiga.
Momen yang paling membekas adalah saat Bapak membawa pulang radio kantor. Radio itu cukup besar dan membutuhkan antena yang dipasang di bawah genteng.
Waktu itu tahun 1960-an, radio masih langka di desa kami, sehingga banyak tetangga berdatangan untuk ikut mendengarkan. Saya sangat senang mendengarkan siaran wayang dan siaran langsung Thomas Cup zaman Ferdinand Alexander (Ferry) Sonneville.
Saat pidato Bung Karno setiap 17 Agustus, rumah kami jadi tempat berkumpul untuk mendengarkan. Keseruan bertambah ketika radio itu dipinjam tetangga yang mengadakan hajat tirakatan semalam suntuk menyambut kelahiran bayi.
Untuk menemani malam, ada yang bermain kartu dan sebagian mendengarkan radio, terutama siaran wayang. Saya bertugas menjaga radio dan upahnya adalah makan soto atau rawon.
**
Aja rame-rame
Ana pedhet mlebu mrene
Pedhet loreng-loreng
Besuk gedhe dadi banteng
Banteng Segitia
Kango Bela Pancasila
(Jangan bising
Ada anak sapi ke sini
Anak saai loreng
Jika besar jadi banteng
Banteng segitiga
Untuk Bela Pancasil)
Itulah penggalan nyanyian dari peserta kegiatan pembinaan kader partai dari desa ke desa, waktu itu. Bapak juga aktif dalam kegiatan partai. Kantor Penerangan saat itu dipimpin Pak Sutjipto, Ketua PNI Cabang Blora.
Bapak aktif di partai tersebut karena kedekatan dengan kepala kantornya, hal yang dianggap lumrah terjadi kala itu karena Kementerian Penerangan banyak diisi oleh tokoh-tokoh PNI.
Saya sering diajak ikut acara partai ke desa-desa, biasanya malam hari berjalan kaki beberapa kilometer. Meskipun peserta tidak mendapat apa-apa selain makanan kecil, pengurus partai dan pembicara mendapatkan hidangan utama.
Jika Bapak mengajak saya, tuan rumah sering membawa saya ke dapur untuk menikmati rawon atau soto. Pada masa kerusuhan politik akibat pemberontakan PKI di tahun 1965,
Bapak sangat aktif memimpin pemuda desa membantu pemerintah dan tentara mengamankan situasi. Namun, dalam situasi yang penuh gejolak tersebut, entah bagaimana, Bapak yang dikenal sebagai Sukarnois justru didemo hingga ditahan di Kodim Blora selama kurang lebih satu bulan.
Hingga Pemilu 1971, Bapak tetap setia pada PNI meskipun sebagai pegawai negeri diarahkan untuk mendukung Sekber Golkar. Bahkan hingga akhir 1980-an, ia masih menjadi pengurus senior PDI Blora.
Ketika saya mulai aktif berkampanye untuk Golkar pada awal 1990-an, Bapak terlihat kurang nyaman dengan pilihan saya. Namun atas saran Ibu, Bapak mengalah demi mendukung aktivitas politik saya.
Saya sangat terharu ketika dalam salah satu pidato kampanye untuk Golkar, saya melihat beliau duduk di kursi baris depan. Bapak juga aktif dalam kegiatan sosial dengan sebagai pengurus cabang Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).
***
Bapak sangat mendukung keinginan saya untuk melanjutkan kuliah. Pada tahun 1978, setelah diterima sebagai mahasiswa di IKIP Semarang, Bapak dan Mbah Yosodihardjo menjemput saya ke Tegal.
Karena ketika menitipkan ke Pak Dhe Sutadi saya juga diantar, maka ketika akan meninggalkan pekerjaan saya, juga dijemput. Banyak orang, dan keluarga menyayangkan mengapa saya yang sudah diangkat jadi pegawai negeri, justeru keluar.
Ketika menjemput saya, sekaligus menyiapkan kendaraan untuk mengangkut barang-barang ke Semarang. mBah Yoso duduk di depan bersama sopir, saya, bapak, dan kernet di belakang, bersama barang-barang.
Saya dibawa dan dititipkan pada Om Sumarno, adik Bapak, di Sampangan, Semarang Selatan. Uang SPP masuk IKIP Semarang, sudah saya bayar sendiri dengan uang pinjaman dari Budhe Sutadi, yang saya ganti dari rapelan gaji PNS.
Begitu diangkat saya langsung mengundurkan diri, dan mendapat gaji beberapa bulan. Menjadi masalah, ketika ternyata saya juga diterima di Fakultas Hukum Undip.
Uang sudah tak ada lagi. Di situlah ketegasan Bapak “Ambil, saya carikan uang”. Akhirnya saya bisa kuliah di Undip, dan selanjutnya bisa cari uang sendiri untuk biaya tahun tahun berikutnya.
**
Di Hariian Suara Merdeka, awal tahun 1990 an, saya menjadi wakil pemimpin redaksi yang ditugasi untuk mengelola sumber daya manusia. Ketika ada kesempatan mengirim karyawan untuk menjalankan ibadah haji, saya yang memilih siapa yang akan diberangkatkan.
Saya tidak pernah mengambil kesempatan, menunggu sampai mampu berangkat sendiri. Waktu itu saya berfikir saya tidak mau berangkat kalau orang tua belum, dan saya ingin berangkat bersama isteri.
Ternyata ibu saya, dan ayah isteri keburu wafat, sebelum kami sempat mengantarnya pergi haji. Akhirnya segera kami putuskan pergi, dengan mengajak bapak saya, dan ibunda isteri, Ny. Oentari Sudarsono.
Usia bapak dan ibu kami sudah hampir 80 tahun waktu itu, saya dan isteri harus mengawal ketika ibadah di Tanah Suci. Banyak ujian yang terjadi. Suatu malam di Madinah, bapak membangunkan saya.
“Ayo turun, di bawah ada ibumu,” katanya. Pasti sesuatu yang tidak mungkin, karena ibu sudah meninggal. Ketika saya jelaskan, malah marah.
“Kalau kamu tidak mau, saya akan cari sendiri,”katanya. Terpaksa saya ikuti, dan terlihat kecewa, karena ibu memang benar-benar tidak ada.
Ketika di Mekkah, beberapa kali hilang, saat saya tertidur. Ketika saya sedang bingung mencari tiba-tiba datang sendiri, di antar seseorang, entah siapa.
Paling tragis ketika baru datang di Mina. Tenda belum siap, bapak sudah ingin istirahat. Langsung merebahkan diri di karpet yang sudah digelar. Petugas baru akan menurunkan tenda pembatas yang diberi pemberat pipa besi.
Mungkin talinya lepas, pipa besi meluncur mengenai kepala bapak, darah mengucur. Kami panik, petugas kesehatan menyarankan untuk dibawa ke rumah sakit.
Saya minta kalau bisa dirawat di tenda saja, karena kalau di rumah sakit kami tidak tahu cara mengurusnya. Ternyata pelahan lukanya sembuh. Saya terus kawal bapak, terutama kalau harus antri untuk ke toilet.
Anehnya ketika pulang sampai di rumah Blora, keluarga saya beri tahu mengenai luka bapak yang kejatuhan pipa besi. Mereka bertanya-tanya. Ternyata luka itu hilang, tanpa bekas sama sekali.
**
Bapak meninggal dalam usia 82 tahun. Sempat mengikuti saya mencalonkan Gubernur Jawa Tengah, tahun 2008, walaupun kalah. Tidak ada komentar. Saya tidak tahu pasti bapak puas atau kecewa ketika saya aktif di politik.
Namun pernah mengungkapkan kenyamanannya ketika saya menjadi wartawan. Ternyata bapak pernah menjadi koresponden untuk surat kabar di Semarang. Hanya yang saya ingat pernah melarang untuk mencalonkan sebagai Bupati Blora.
“Di sini teman dan saudaramu banyak, bisa repot. Kalau ada yang punya kepentingan, dibantu kamu salah, tidak dibantu, pasti tidak enak,” katanya.
Semarang, 20 Februari 2026.







