Syair tembang Dandanggula tersebut persis menggambarkan suasana pagi di Dukuh Jambangan, Desa Sukorejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Di sinilah, aku, Bambang Sadono dilahirkan. Rabu Kliwon, 30 Januari 1957. Rumah kami di ujung dukuh. Sebelah kanan rumah sudah persawahan, hanya dibatasi selokan kecil. Kunang-kunang masih sering melintas di malam hari. Bunyi jengkerik dan suara
katak, menjadi musik yang indah, di masa kecil saya. Ibuku, Ny. Trusmiaji, nama yang sering kusebut setelah dewasa, saat komunikasi dengan perbankan.
Sebagai ibu rumah tangga biasa, rutinitasnya memasak sejak pagi, mencuci ketika siang, dan mendampingi anak-anaknya bermain atau belajar di
sore hari.
Kami hidup sederhana, walaupun agak lebih baik dibanding tetangga sekitar, yang rata-rata petani atau buruh tani. Ayah kami, Suradi Sosroharjono, pegawai negeri, di Kantor Penerangan Kabupaten Blora.
Kakek kami, Yosodiharjo, pensiunan Kepala Sekolah Dasar
(SD), membuatkan rumah untuk keluarga kami, bersebelahan di lahannya yang cukup luas. Begitulah, kebiasaan di desa kami, orang tua membekali rumah dan tanah, setelah anak-anaknya menikah.
Karena rumah bersebelahan, masa kecil saya praktis bergerak di antara dua rumah tersebut. Terutama untuk bermain dan mencari makanan.
**
Ibu bersaudara empat orang. Anak sulung simbah Yosodiharjo-Rasinah adalah Mohamad Rusdi, yang kedua Sutadi, ibu nomor tiga, yang bungsu Sri Astuti.
Pernah sekolah di SD Darmorini Blora, sekolah rakyat atau sekolah dasar favorit saat itu. Namun Trusmiaji dan kakaknya Sutadi, yang berangkat sekolah bersama, harus jalan kaki sekitar lima kilometer untuk sampai ke sekolahnya.
Jalanan masih lengang saat itu, hanya satu dua dilalui cikar, gerobag barang yang ditarik sapi. Atau sesekali ada dokar, kereta kuda. Mobil sangat langka. Banyak orang jalan kaki.
“Kalau pulang sampai perempatan Maguan, tidak bertemu teman jalan, kami menunggu. Karena takut, di jalan menanjak ada pekuburan Blingi,” kata Ibu suatu kali.
Ibu bertemu dengan Bapak, ketika bapak menjadi pegawai Kantor Kementerian Penerangan di Kecamatan Tunjungan, dan indekost di depan rumah Simbah Yosodiharjo.
Kembang jagung omah kampung pinggir lurung
Jejer telu, sing tengah bakal omahku
Cempa munggah guwa, mudhun nyang bon raja
Methik kembang soka, dicaoske kanjeng rama
Maju kowe tatu, mundhur kowe ajur
Jok na sabalamu, ora wedi sudukanmu
Iki lho dhaha satrya, iki lho dhadha Janaka
(Kembang jagung rumah kampung di pinggir jalan
Berjejer tiga, yang tengah calon rumahku
Dekat naik ke goa dan turun ke taman raja
Memetik bunga soka diberikan kepada bapak
Maju kamu terluka, mundur kamu hancur
Majulah beserta sekutumu, tidak takut tusukanmu
Inilah dada satria, inilah dada Janaka
Itulah salah satu lagu anak-anak, yang diajarkan Ibu pada kami, selain lagu-lagu perjuangan. Sebelum tidur selain mengajari menyanyi, ibu juga suka mendongeng. Tiada hari tanpa dongeng, kalau tidak Ibu, juga Bapak.
Banyak dongeng yang jadi favorit dan sering diulang-ulang, misalnya tentang Timun Emas. Gadis pejuang yang tabah nenghadapi banyak tantangan, dan akhirnya hidup bahagia.
Dongeng lain yang cukup sering diulang-ulang adalah Ande-Ande Lumut. Sebelum dongeng berakhir kami sudah sering tertidur. Ibu juga senang membacakan cerita-cerita berbahasa Jawa, baik dari majalah maupun novel-novel yang banyak diterbitkan saat itu.
**
Takbir dan tahmid mulai terdengar sayup-sayup dari kampung sebelah. Esok hari Lebaran, bagi kami anak-anak, itu artinya makan nasi uduk, dan pakai baju baru. Tapi malam itu, saya pergi tidur dengan gelisah.
Baju baru, dari jatah kain kantor bapak, belum selesai dijahit Ibu. Ibu memang suka menjahit. Ada mesin jahit Singer, yang digerakkan dengan tangan. Kami hampir tidak pernah dibelikan pakaian jadi, di samping jarang pada waktu itu. Semua hasil jahitan ibu sendiri.
Setiap lebaran kami disiapkan baju kembar, walaupun kakak dan adik saya perempuan, bahan bajunya sama. Entah apa sebabnya, waktu itu baju lebaran kami terlambat dijahit.
Namun pagi hari, ketika saya bangun, Ibu tersenyum, membawakan bajuku yang sudah jadi, dan meminta aku mencobanya. Suka tidak suka, pas tidak pas, hanya itu adanya.
Kami menerimanya dengan senang hati. Akhirnya bisa berlebaran dengan baju baru yang belum dicuci, dan sarapan nasi uduk dengan riang gembira.
Dalam menjahit Ibu suka mencoba apa saja, termasuk ketika saya mulai masuk Sekolah Menengah Atas (SMA), ingin menjahitkan celana panjang. Sebuah kain coklat untuk seragam Pramuka, dipotong dan dijahit sendiri.
Itu mungkin percobaan pertama Ibu menyiapkan celana panjang. Kurang berhasil, karena celana tersebut muntir. Garis jahitan sampingnya tidak lurus dari pinggang sampai ke kaki.
Di atas sepatu, garis jahitan itu ada di depan. Karena harus seragam, celana Panjang instimewa itu tetap saya pakai sampai beberapa bulan.
Akhirnya saya dipesankan celana yang dibuat oleh penjahit profesional. Ibu juga menjahit kelambu sendiri. Salah satu gangguan kami saat tidur, adalah nyamuk.
Biasanya kami usir dengan membakar sampah atau rumput yang menghasilkan asap. Selain berbahaya karena ada api di kamar, juga asapnya sering membuat tidak nyaman.
Suatu malam kami terbangun, ketika ada kelambu sudah terpasang, rupanya Ibu melembur untuk menyelesaikan jahitannya.
**
“Walang kekek, walang kadung
Sega gaplek, jangan rembayung”
Itulah ungkapan sehari-hari yang saya dengar, kalau tidak salah pada tahun 1963. Masa sulit yang luar biasa. Beras langka, juga jagung. Orang banyak makan gaplek, ketela yang dikeringkan, kemudian dimasak namanya thiwul.
Bung Karno waktu itu pidato tentang Ganefo, orang di desa saya memelesetkan dengan “Ganewul”, segane (nasinya) thiwul. Berbarengan dengan musim kemarau yang Panjang, tanaman yang tumbuh hanya kacang tunggak, dan daunnya namanya lembayung.
Itulah sayuran yang ada, di “jangan” (sayur) atau dibuat urap dengan sambal kelapa. Itulah situasi saat itu, makan nasi gaplek sayur rembayung. Lauk yang mewah ikan asin, sering disebut gereh.
Masa itu juga disebut sebai “usum tikus”, musim tikus yang luar biasa banyak, seakan berebut makanan dengan manusia. Hampir tiap hari orang berburu tikus, di rumah, di sawah, di jalan-jalan. Kelurahah menyediakan hadiah, untuk setiap ekor tikus yang bisa dikumpukan.
Sesulit apapun keadaan, Ibu tetap suka memasak. Kami sering makan nasi jagung. Kalau ada beras, sering dicampur dengan kacang tolo, biji dari kacang tunggak, yang bisa tahan di musim kemarau
Tempe goreng jadi lauk harian, selain ikan asin. Untung tradisi di desa, membuat Ibu sering memasak untuk selamatan, “bancakan” atau “kondangan”. Ada saja alasannya,
bisa memperingati Maulud Nabi, menjelang Puasa Ranadhan, sampai acara kupatan, menjelang tanam padi, sampai selamatan kalau sapi beranak.
Kalau ada selamatan, saatnya menyembelih ayam, paling jelek ada telur rebus. Juga saat hari weton kelahiran, semua diperingati,
setidkanya ada bubur merah putih.
Kalau sudah memasak, Ibu bisa bertahan sampai malam hari. Apalagi ketika kami sudah tidak serumah, Ibu selalu memasak khusus untuk anak-anaknya yang pulang kampung.
Bahkan setelah semalaman menyiapkan makanan, paginya bisa jatuh sakit. Salah satu makanan favorit saya buatan Ibu, yang sampai saat ini tak tergantikan dalam rempeyok tolo.
Saya sudah coba meminta keluarga atau orang lain untuk menirukan, rasanya tidak bisa sama. Bahkan penjual makanan professional di Blora yang menawarkan peyek tolo, tidak bisa sama. Buatan Ibu, tepungnya bisa tipis, renyah, dan tolonya tidak keras, tetapi juga tidak lembek.
**
Waktu usia Sekolah Dasar (SD), saya suka menirukan dhalang wayang kulit, dan main wayang orang. Wayang membuat sendiri dengan kertas apa saja. Kalaju mendhalang, beberapa teman menjadi pengiring, dengan gamelan mulut.
Ibu tidak pernah marah, walaupun rumah jadi kotor, dan banyak mainan saya tercecer di mana-mana. Hanya marah ketika saya larang adik-adik memainkan wayang saya.
Buka apa-apa, karena belum bis acara memainkan, wayangnya jadi rusak. Biasanya tangannya copot, karena terlalu keras memainkannya. Ibu suka menonton kalau saya sedang main wayang orang dengan teman teman kecil.
Kelangkapan wayang kami buat sendiri, antara lain dengan bahan daun nangka. Grupnya cukup lengkap, sampai ada yang jadi pemain tetap, misalnya selalau jadi Gareng. Musibah pernah terjadi ketika memainkan cerita
“Anoman Obong”. Kami menggunakan kembang api, untuk memberi Kesan kebakaran di Kerajaan Alengka. Saya yang jadi jadi Anoman dikerubut, barisan raksasa bersenjata kembang api.
Ada yang tanpa sengaja, mengenai alis saya. Bukan hanya alisnya yang terbakar, tetapi meninggalkan goresan luka, abadi sampai sekarang. Ibu agak marah ketika di depan pintu rumah saya pasangi layar kerek, meniru pentas di panggung professional.
Rumah jadi kacau balau dengan berbagai kain dan tali. Akhirnya penggunaaan layar, kami batalkan, pentas Kembali di halaman seperti biasanya.
Di usia 50 an, Ibu mulai sakit-sakitan. Yang paling terasa adalah gangguan jantung. Saya mendampinginya setiap konsultasi dengan dokter jantung di Semarang.
Bahkan pernah dirawat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, saat saya sudah menjadi anggota DPR RI dan tinggal di Jakarta.
Ketika meninggal dunia, pada usia 64 tahun, kami merasa terlalau cepat ditinggalkan. Saya sendiri yang paling menyesal, tidak sempat mengantarkannya untuk ibadah haji, suatu hal yang sudah kami rencanakan.
Sebagai gantinya, saya selalu menjadikannya tonggak, ke manapun akan melangkah. Selalu membayangkan, apakah pilihanpilhan yang saya ambil bisa membuatnya tersenyum. Walaupun tidak selalu berhasil.
Semarang, 19 Februari 2026.







