Universitas Ngudi Waluyo (UNW) – Wujudkan Kampus Berdampak Menuju Reputasi Internasional

Share

Universitas Ngudi Waluyo (UNW) berlokasi di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Berawal dari integrasi tiga institusi pendidikan kesehatan yaitu STIKES, AKPER, dan Akbid, resmi berdiri 2016, di bawah naungan Yayasan Ngudi Waluyo Ungaran, dengan Ketua Dewan Pembina H.Assaat Pitoyo, S. Kp, M. Kes, dan Ketua Umum Dewan Pengurus Prof. DYP Sugiyarto, M. Pd (Kons).

Institusi ini telah meraih akreditasi Unggul dari BAN-PT.

Saat ini, jumlah mahasiswanya mencapai 7.146 orang dan memiliki tiga fakultas: Fakultas Kesehatan dengan 10 program studi, Fakultas Komputer dan Pendidikan dengan 4 program studi, serta Fakultas Ekonomi, Hukum, dan Humaniora dengan 6 program studi.

Mulai tahun 2025, akan dibuka program Pascasarjana dengan 4 program studi, yaitu S2 Manajemen Pendidikan, S2 Hukum, S2 Kesehatan Masyarakat, dan S2 Keperawatan.

Total ada 24 program studi yang terdiri dari S1, S2, D3, dan program profesi, dengan 4 di antaranya sudah meraih akreditasi Unggul. Terdapat 167 dosen, termasuk 26 bergelar doktor dan 3 guru besar, serta 356 tenaga kependidikan.

Berdasarkan Webometrics, UNW berada di peringkat sekitar 400-an nasional dan masuk 20 besar perguruan tinggi di Jawa Tengah. UNW memiliki dua lokasi kampus, laboratorium di setiap program studi, serta mini sport center.

Hingga kini, lebih dari 15.800 alumni telah dihasilkan, tersebar di seluruh Indonesia dan berbagai negara, termasuk yang menjabat sebagai Wakil Menteri Kesehatan di Timor Leste serta yang berkarya di Jerman, Taiwan, Jepang, Arab Saudi, dan lainnya.

Universitas Ngudi Waluyo (UNW)
UNW tengah menapaki langkah menuju pengakuan global. Di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Subyantoro, M.Hum, kampus ini bertransformasi menjadi perguruan tinggi dengan reputasi internasional yang semakin kuat pada tahun 2025, 2026, dan 2027.

Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui pengiriman dosen ke Hong Kong, Korea, dan Jepang, serta menjajaki kerja sama untuk program magang berbayar di Jepang.

Selain itu, UNW mengembangkan sistem IT berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mengoptimalkan data kampus dalam pengambilan kebijakan, diharapkan membuat kampus lebih responsif, presisi, dan inovatif.

Sebagai kampus yang berdampak bagi masyarakat, UNW juga berinovasi di bidang literasi melalui program LiterasiKan, hasil kolaborasi dengan Universitas Negeri Semarang (Unnes), yang dirancang untuk menjawab rendahnya kompetensi literasi di Indonesia.

LiterasiKan merupakan platform digital yang dapat mengukur kemampuan literasi siswa dari kelas 4 SD hingga kelas 12 SMA, sekaligus memotivasi mereka untuk terus meningkatkan kemampuan literasinya.

Kampus Berdampak
Dalam mewujudkan program Kampus Berdampak, UNW menjadikan pengurangan stunting sebagai misi nasional yang diimplementasikan secara lokal.

Seluruh program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa difokuskan untuk mendukung penurunan angka stunting di Kabupaten Semarang.

Tidak hanya lewat KKN, hasil penelitian dosen dan mahasiswa di bidang kesehatan juga banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.

Dalam pengembangan ekonomi lokal, kampus ini turut mendorong pemberdayaan UMKM.

Inovasi terbaru yang menarik perhatian adalah proyek padi terapung di Rawa Pening, hasil eksplorasi mahasiswa melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa).

“Sudah mulai panen, bukan hanya padi, tapi juga mina padi,” katanya.

Prof. Dr. Subyantoro, M. Hum. –  Bangun Kampus Berbudaya Sehat

Prof. Subyantoro, sebagai rektor UNW, menghadapi berbagai persoalan kompleks. Meski sudah berstatus universitas, ia mendapati adanya empat budaya kerja berbeda di kampus.

Civitas akademika dari STIKES, Akbid, dan Akper, meskipun sama-sama berlatar belakang kesehatan, memiliki pola kerja yang berbeda.

Situasi makin rumit dengan adanya dosen non-kesehatan yang juga memiliki budaya kerja tersendiri.

Menyadari bahwa perbedaan ini bisa menghambat persatuan dan perkembangan, hanya enam bulan setelah dilantik, ia mengambil keputusan strategis: UNW harus segera mengajukan akreditasi perguruan tinggi.

Keputusan ini disambut positif oleh seluruh civitas akademika, dan pada 2017 UNW meraih akreditasi pertamanya.

Momen ini menjadi awal lahirnya budaya baru yang menyatukan perbedaan menjadi satu identitas, yaitu “kampus berbudaya sehat”.

Budaya ini terbukti saat pandemi Covid-19, ketika UNW mendapat penghargaan Kementerian sebagai pengirim relawan terbanyak se-Indonesia.

“Saya heran juga, padahal itu kami tidak punya Fakultas Kedokteran,” katanya

Program Prakerja
Selain budaya sehat, UNW juga memiliki program inovatif yang menjadi daya tarik tersendiri bagi calon mahasiswa.

Program bernama “Prakerja” ini menawarkan pendekatan unik dalam pendidikan tinggi. Jika umumnya kampus lain mengusung jargon “mahasiswa lulus langsung bekerja,”

UNW justru punya konsep berbeda: “Kalau di kami, mahasiswa belum kuliah sudah kami carikan kerja,” ujarnya.

Program ini ditujukan bagi mereka yang ingin mandiri, terutama dari keluarga kurang beruntung.

Setelah lulus SMA, peserta mendapat pelatihan gratis selama 5 hingga 10 hari, lalu langsung ditawarkan ke dunia kerja, terutama di industri sekitar kampus UNW di Kabupaten Semarang.

Peserta biasanya mulai bekerja Juni atau Juli, lalu pada September bisa kuliah sambil bekerja. Dengan gaji yang diperoleh, mereka dapat membayar kuliah sendiri.

Jadwal kuliah diatur Jumat sore hingga malam, Sabtu sore hingga malam, perkuliahan daring, dan Minggu luring di kampus.

Pada wisuda terakhir, mahasiswa terbaik berasal dari program ini, dengan total 356 mahasiswa Prakerja dari 3.364 mahasiswa baru tahun 2025.  ***

Artikel Terkait