Rektor Unmul, Prof. Dr. Ir. H. Abdunnur, M.Si., IPU., ASEAN Eng, menyampaikan bahwa pencapaian ini merupakan lompatan strategis.Sebelumnya, Unmul terakreditasi Baik Sekali sejak 2022, hasil reakreditasi untuk konversi dari status akreditasi A.
Setelah tiga tahun perjalanan sejak 2022, Unmul kembali mengajukan reakreditasi. Predikat Unggul yang diperoleh bukan sekadar capaian administratif, melainkan bukti nyata konsistensi dan komitmen seluruh sivitas akademika dalam transformasi dan peningkatan mutu akademik, penguatan tridarma perguruan tinggi, serta kinerja seluruh program studi.
Dari 107 program studi yang ada di Unmul, lebih dari 50 persen telah meraih akreditasi Unggul. Fokus utama Unmul adalah memastikan seluruh indikator mutu tidak hanya terpenuhi, tetapi juga menjadi budaya kerja dan keunggulan di setiap unit dan program studi.
“Transformasi sistem akreditasi dari model lama ke skala Unggul direspons dengan pembangunan sistem penjaminan mutu internal yang holistik dan berkelanjutan,” katanya.
Fondasi Kuat
Visi Unmul menjadi World Class University, sehingga benchmark-nya tidak hanya berdasarkan akreditasi nasional Unggul, tetapi juga terus meningkatkan seluruh program studi menuju akreditasi internasional.
Saat ini, 7 program studi telah meraih akreditasi internasional, dan pada tahun ini terdapat 18 program studi yang telah diprogramkan dan diajukan ke badan akreditasi internasional, baik Akkreditierungsagentur für Studiengänge der Ingenieurwissenschaften, der Informatik, der Naturwissenschaften und der Mathem(ASIIN) maupun The Accreditation, Certification and Quality Assurance Institute (ACQUIN).
Abdunnur mengatakan, capaian ini merupakan pengakuan atas posisi Unmul sebagai universitas tertua di Kalimantan Timur yang terus berinovasi dan memimpin.
Apalagi dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN), perguruan tinggi negeri ini berperan sebagai laboratorium sistem bagi pembangunan ibu kota baru.
Predikat Unggul menjadi landasan bagi Unmul untuk terus berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berkualitas serta relevan dengan pembangunan nasional dan global.
“Akreditasi Unggul bukan tujuan akhir, tetapi fondasi kuat menuju World Class University,” katanya.
Momentum Transformasi
Dengan akreditasi Unggul, Unmul memiliki legitimasi dan reputasi yang lebih kuat untuk memperkokoh perannya sebagai pusat ilmu pengetahuan dan penggerak pembangunan di Kalimantan serta kawasan Timur Indonesia.
Keunggulan ini didukung oleh orientasi ilmiah yang berfokus pada tropical rainforest and humid environment, sehingga penelitian dan pembelajaran diarahkan pada ekosistem hutan tropis lembab serta isu lingkungan tropis dan pelestarian alam secara berkelanjutan.
Predikat Unggul ini bukan sekadar pengakuan formal, melainkan modal strategis untuk membangun kepercayaan dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah pusat dan daerah di Kalimantan Timur, mahasiswa dan orang tua, mitra akademik, serta kalangan industri.
Hal ini membuka peluang lebih luas untuk pendanaan, kemitraan, dan kolaborasi riset berskala nasional maupun global. Secara internal, status Unggul ini dijadikan sebagai momentum transformasi menuju tata kelola yang lebih matang.
Komitmen yang dijalankan memastikan predikat ini diwujudkan dalam kualitas nyata di setiap lini, melalui penguatan sistem penjaminan mutu, manajemen akademik yang efisien, dan peningkatan fasilitas.
“Beberapa langkah strategis meliputi transformasi infrastruktur dan modernisasi kampus, termasuk peningkatan fasilitas akademik, digitalisasi, penataan lingkungan, serta penyediaan sarana dan prasarana pendidikan modern,” katanya.
Hilirisasi Inovasi
Abdunnur mengatakan, Unmul telah mengajukan proposal hibah kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2026 senilai Rp 2 triliun untuk mentransformasi kampus, termasuk pembangunan gedung dan fasilitas akademik kelas dunia.
Dalam Rencana Induk Pembangunan 2026–2030, kampus akan membangun fasilitas strategis seperti digital library, gedung fakultas dan laboratorium terpadu, serta ruang penunjang mahasiswa untuk memperkuat kapasitas akademik dan ekosistem belajar melalui digitalisasi dan smart campus.
Penguatan riset dan hilirisasi ilmu tropis menjadi fokus melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), yang mengaktifkan Rencana Induk Penelitian 2025 dengan penelitian berbasis keunggulan lokal tropis, pedoman jelas, serta strategi pendanaan dan kolaborasi untuk meningkatkan dampak dan hilirisasi hasil riset.
Kampus fokus pada perlindungan kekayaan intelektual dan komersialisasi inovasi, dengan menjalin kerja sama bersama Kantor WilayahKemenkumham Kalimantan Timur untuk memastikan hak kekayaan intelektual terlindungi dan inovasi serta temuan kampus memiliki nilai komersial yang berdampak pada masyarakat dan industri.
Unmul juga aktif melakukan kolaborasi sosial dan pengabdian, memperluas peran sebagai agent of change melalui kerja sama dengan organisasi masyarakat sipil dalam program pemberdayaan, advokasi, dan pendampingan komunitas, menunjukkan komitmen bahwa ilmu pengetahuan harus memberikan dampak sosial yang nyata.
“Unmul tidak hanya unggul di atas kertas, tetapi juga unggul dalam tindakan, memberikan dampak, dan berkontribusi bagi bangsa,” ujarnya.
Perguruan Tinggi Mandiri
Target berikutnya bagi Unmul yaitu menjadi perguruan tinggi mandiri, yang berarti terus meningkatkan kapasitasnya, tidak hanya sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN BLU), tetapi menuju status Perguruan Tinggi Negeri Badalah Hukum (PTNBH).
Untuk itu, Unmul telah membentuk tim PTNBH, menyusun proposal, dan menjalin kerja sama pendampingan dengan perguruan tinggi PTNBH lain di Indonesia.
Abdunnur mengatakan, salah satu syarat utama menjadi PTNBH adalah memperoleh opini keuangan wajar tanpa pengecualian selama tiga tahun berturut-turut, yang saat ini telah tercapai.
Selain itu, Unmul juga telah memenuhi persyaratan predikat akreditasi institusi Unggul. Unmul menargetkan minimal 50% dosen bergelar doktor.
Saat ini, rasio dosen doktor mencapai sekitar 39%. Dengan tambahan formasi baru sekitar 200 dari total 1.500 dosen, program peningkatan kualifikasi doktor menjadi prioritas.
“PTNBH bukan sekadar perubahan status hukum, tetapi jembatan transformasi menuju universitas kelas dunia,” ujarnya.
Bersyukur Dukungan Kuat Pemda Kalimantan Timur
Abdunnur bersyukur Unmul berada di Kalimantan Timur (Kaltim), karena dukungan terhadap kampus datang tidak hanya dari Pemerintah Provinsi, tetapi juga dari seluruh kabupaten/kota.
Bantuan ini sangat nyata, terutama dalam pembangunan sarana dan prasarana kampus. Sejak beberapa tahun terakhir, mayoritas fasilitas di Unmul berasal dari hibah Pemerintah Provinsi. Sebagian besar gedung justru berasal dari hibah Pemerintah Provinsi Kaltim.
Pada tahun 2025, Unmul menerima anggaran sebesar Rp 127 miliar untuk program digitalisasi kampus. Tahun sebelumnya, pembangunan Konstruksi Dalam Penyelesaian (KDP) juga rampung, sementara hibah dari provinsi untuk beberapa gedung mencapai sekitar Rp 70 miliar.
Bantuan serupa diberikan oleh kabupaten/ kota berupa sarana prasarana pendidikan, termasuk peralatan laboratorium. Dukungan ini bukan sekadar soal besarnya dana, tetapi menjadi wujud sinergi positif antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam membangun serta meningkatkan pendidikan tinggi.
Sinergi ini turut berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan tinggi secara nasional. Selain bantuan sarana fisik, pemerintah daerah juga mendukung biaya pendidikan.
Pada 2025, Pemerintah Provinsi Kaltim meluncurkan program Gratis Pol, yaitu bebas UKT bagi mahasiswa baru. Sekitar 6.000 mahasiswa Unmul menerima bantuan biaya pendidikan penuh.
“Ini menjadi spirit dan semangat bagi masyarakat Kaltim untukmelanjutkan pendidikan tinggi, tidak hanya di Unmul, tetapi juga di seluruh perguruan tinggi di Kaltim,” tegasnya.
Dampak IKN
Hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) secara tidak langsung memperkuat perguruan tinggi di Kaltim, termasuk Unmul. Oleh karena itu, Unmul berada di lini terdepan untuk mendukung pembangunan IKN.
Abdunnur menyatakan, Unmul telah merancang dan melaksanakan sejumlah program strategis yang konkret dan terukur untuk mendukung pengembangan kawasan sekaligus memperkuat posisi sebagai universitas unggul berbasis tropis.
Konsep IKN sebagai forest city dan smart city menuntut pengelolaan ekosistem hutan tropis, yang menjadi bagian penting dalam mendukung ekosistem ibu kota baru.
Peran nyata Unmul yaitumenjaga fungsi tata lingkungan dan ekosistem hutan tropis di sekitar IKN. Rehabilitasi dilakukan di lebih dari 5.000 hektare dari total 21.000 hektare di Taman Hutan Raya Bukit Soeharto yang berbatasan langsung dengan IKN, menjadikan kawasan ini sebagai laboratorium sistem hutan yang mendukung ekosistem.
Unmul juga telah menandatangani MoU dengan Otorita IKN untuk mendukung pembangunan ibu kota baru. Melalui kerja sama ini, berbagai kajian penelitian dilakukan untuk mendukung pembangunan, baik dari sisi sosial, ekonomi, budaya, maupun lingkungan.
International University IKN
Konsep kolaborasi yang dikembangkan Unmul mengacu pada model triple helix, yaitu sinergi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah dalam mendukung pembangunan daerah.
Dari lahan 29 hektare yang dimiliki Unmul di kawasan IKN, 24 hektare dialokasikan untuk pembangunan Science Technopark, yang dirancang sebagai pusat pelatihan, pusat inovasi, sekaligus etalase hasil riset dan karya mahasiswa serta dosen.
“Di sana nanti akan menjadi training center, showcase inovasi, sekaligus pusat implementasi hasil penelitian Unmul,” katanya.
Selain itu, Unmul berupaya mendapatkan sekitar 200 hektare di luar Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN. Lahan tambahan ini akan digunakan untuk memperluas program rehabilitasi hutan yang sudah berjalan, sekaligus mendukung pemulihan dan pelestarian ekosistem di kawasan IKN.
Abdunnur juga mengusulkan konsep pengembangan International University di IKN, sebuah universitas bertaraf internasional yang didukung konsorsium perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
Program ini menetapkan standar internasional bagi universitas di IKN dan diharapkan didukung oleh seluruh perguruan tinggi melalui program studi unggulan masing-masing.
“Langkah ini menjadi kebanggaan bersama dan memperkuat sinergi pengelolaan perguruan tinggi internasional di IKN,” ujarnya.
Rencana Pengembangan
Saat ini, kampus Unmul memiliki lahan seluas 69 hektare. Dengan 14 fakultas, 1 program pascasarjana, dan 107 program studi, ruang yang tersedia terasa sangat sempit, apalagi dengan terus dibukanya program studi baru, termasuk Pendidikan Pelatihan Olahraga yang nantinya menjadi cikal bakal Fakultas Keolahragaan.
Selain itu, Unmul berencana membuka Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Peternakan, dan Fakultas Teknologi Informasi. Dengan kapasitas saat ini mencapai 35.000 mahasiswa dan penerimaan sekitar 6.000 mahasiswa setiap tahun, lahan serta sarana prasarana yang ada jelas masih kurang memadai.
Oleh karena itu, Unmul merencanakan pengembangan kampus alternatif dan pembangunan sarana prasarana baru. Di antaranya, pembangunan rumah sakit pendidikan untuk Fakultas Kedokteran sebagai wahana pendidikan.
Pembangunan ini diajukan melalui kementerian dengan pendanaan pinjaman luar negeri sekitar Rp 550 miliar. Saat ini, sudah tersedia Rumah Sakit Gigi Mulut untuk Fakultas Kedokteran Gigi dan Klinik Unmul.
Unmul juga merencanakan dormitory (asrama) bagi mahasiswa tahun pertama, dengan rencana membangun enam tower, masing – masing menampung 1.000 kamar, sehingga total tersedia 6.000 kamar. Saat ini, Unmul memiliki sekitar 700 kamar rusunawa, sehingga masih dibutuhkan tambahan sekitar 4.000–5.000 kamar.
“Mungkin di awal tahun 2026 sudah akan dilakukan peletakan batu pertamanya,” katanya.
Kerjasama Internasional Mengejar Kelas Dunia
Untuk menuju World Class University, salah satu indikator kinerjanya adalah jumlah mahasiswa internasional dan tingkat internasionalisasi, yang diwujudkan melalui akreditasi internasional.
Dalam rangka menyiapkan kedatangan mahasiswa dari luar negeri maupun luar daerah, Unmul membangun iklim akademik yang berstandar global.
Langkah yang dilakukan antara lain membangun dormitory dan digitalisasi kampus untuk menarik minat mahasiswa asing. Unmul juga mengembangkan kerja sama dengan perguruan tinggi di luar negeri, memfasilitasi mobilisasi mahasiswa, baik dari Unmul keuniversitas luar negeri maupun sebaliknya, dari negara seperti Jepang, Thailand, dan Malaysia untuk belajar di Unmul.
Dukungan terhadap mahasiswa internasional menjadi nilai penting, mengingat persaingan dengan perguruan tinggi nasional yang lebih terkenal.
Untuk itu, Unmul mengembangkan program studi dengan keunggulan tersendiri, terutama berorientasi pada pola ilmiah Tropical Rainforest and Environment, yang sulit ditemukan di program studi lain di perguruan tinggi Indonesia.
“Dengan demikian, Unmul memiliki penciri khusus, yaitu tropical studies, yang menjadikan belajar di Unmul pilihan utama bagi mahasiswa yang tertarik pada bidang ini,” katanya.
Center of Civilization
Abdunnur mengatakan, untuk berdaya saing secara global, Unmul harus terus beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan,termasuk dalam tata pengelolaan perguruan tinggi.
Ke depan, inovasi menjadi hal penting, dan Unmul tidak bisa mengelola semuanya sendiri, dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan.
Oleh karena itu, Unmul perlu memperkuat kerja sama dengan pemerintah pusat dan daerah, menjalin hubungan dengan universitas di seluruh Indonesia, serta membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi dan institusi internasional.
Kerja sama dengan industri juga dilakukan untuk mendukung penelitian, inovasi, dan pengembangan akademik. Langkah ini diharapkanmenjadikan Unmul tidak hanya sebagai center of excellence, tetapi juga sebagai center of civilization, pusat peradaban.
Dalam pembangunan masyarakat dan daerah, perguruan tinggi menjadi prototipe pusat peradaban, menghasilkan sumber daya manusia unggul secara intelektual dan spiritual, yang dapat diterapkan dalam pembangunan masyarakat di Indonesia.
“Ini menjadikan sebuah benchmarking juga, kalau ada IKN berarti ada Unmul,” katanya.














