Pada 6 April 1970, Fakultas Ushuluddin dinegerikan. Bersamaan dengan itu, Fakultas Tarbiyah ditarik ke IAIN Walisongo Semarang, sementara Fakultas Ushuluddin tetap berada di Kudus sebagai Fakultas Daerah dari IAIN Walisongo Semarang.
Pada tahun 1992, Kementerian Agama merelokasi Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo dari Kudus ke Surakarta. Pada 26 November 1996, dan bulan Maret 1997, berdirilah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri.
Dengan animo masyarakat yang semakin besar dan tuntutan regulasi baru, pimpinan STAIN Kudus mengajukan perubahan bentuk dari Sekolah Tinggi menjadi Institut Agama Islam Negeri. Pada tahun 2018, STAIN Kudus resmi berubah menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus.
Saat itu, IAIN Sunan Kudus memiliki lima fakultas: Fakultas Tarbiyah, Fakultas Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, serta Pascasarjana, dengan 29 program studi hingga tahun 2019.
Pada 25 Mei 2025, IAIN Kudus resmi bertransformasi menjadi UIN. Kini, UIN Sunan Kudus memiliki lima fakultas dengan 26 program studi sarjana (S1), Program Pascasarjana dengan enam program magister (S2), dan dua program doktor (S3).
Dampak Transformasi
Transformasi ini akhirnya terwujud pada 25 Mei 2025, menjadikan IAIN Kudus resmi berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus.
Dampak perubahan tersebut,
menurut Prof. Dur, panggilan akrab Abdurohman Kasdi, sangat signifikan. Transformasi ini membuka peluang untuk pembukaan program studi umum, peningkatan daya saing kampus, serta perluasan kerja sama nasional dan internasional.
“Selain itu, kepercayaan publik terhadap kualitas UIN Sunan Kudus sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam yang unggul dan berorientasi masa depan juga meningkat,” ujarnya.
Sejak berganti nama dari IAIN Sunan Kudus pada tahun 2022, Prof. Dur telah menghasilkan tiga program studi dengan akreditasi unggul. Dalam tahun pertama kepemimpinannya, ia berhasil menjalin 12 kerja sama dengan universitas dan lembaga luar negeri.
Selain itu, akreditasi institusi meningkat dari peringkat C menjadi Baik Sekali, dan kini UIN Sunan Kudus telah meraih akreditasi Unggul dari BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi).
Pencapaian ini menunjukkan bahwa UIN Sunan Kudus telah memenuhi standar kualitas tinggi dalam pendidikan. Saat ini, kampus sedang bersiap untuk mendapatkan akreditasi internasional FIBAA (Foundation for International Business Administration Accreditation).
“Beberapa program studi dengan akreditasi Baik dan Baik Sekali akan kita tingkatkan menjadi Unggul. Untuk yang sudah Unggul, kami dorong agar mendapatkan akreditasi internasional,” tambahnya.
Peminat Meningkat
Peminat UIN Sunan Kudus juga terus meningkat setiap tahunnya. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah pendaftar menunjukkan tren kenaikan, dari 3.575 orang pada tahun 2022 menjadi 3.939 orang pada tahun 2024.
Prof. Dur mengungkapkan bahwa tren peningkatan peminat menunjukkan daya tarik institusi yang semakin baik di mata calon mahasiswa. Program studi favorit di UIN Sunan Kudus meliputi Manajemen Bisnis Syariah, Pendidikan Agama Islam, dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.
Saat ini, jumlah mahasiswa mencapai 12.785 orang yang belajar di lima fakultas dengan 26 program studi S1, program pascasarjana dengan enam program magister (S2), dan dua program doktor (S3). Mereka didukung oleh 284 dosen.
Prestasi UIN Sunan Kudus sangat membanggakan, seperti meraih Sertifikasi ISO 21001 (2018), ISO 9001 (2015), penghargaan Perguruan Tinggi Responsif Gender (PTRG) Peringkat Madya, penghargaan dari KPID, dan lainnya.
itu, perpustakaannya terakreditasi A dari Perpusnas, Jurnal Ilmiah QIJIS terindeks Scopus (Sinta 1, Q1), Jurnal Ilmiah ADDIN terakreditasi peringkat 1, serta sembilan jurnal ilmiah terakreditasi peringkat 2.
Jumlah guru besar juga meningkat signifikan, dari hanya dua profesor di awal masa jabatan Prof. Dur sebagai rektor, kini telah mencapai 15 guru besar.
Filosofi Gusjigang
Nama Sunan Kudus mencerminkan filosofi lokal “Gusjigang,” yang berarti memiliki akhlak baik, rajin mengaji, dan pandai berdagang. Filosofi ini menjadi spirit kampus dalam pembentukan karakter mahasiswa,
penguatan moderasi beragama, dan penumbuhan jiwa kewirausahaan, sehingga tidak hanya berfokus pada aspek akademik tetapi juga membentuk insan yang religius, berintegritas, dan mandiri secara ekonomi.
“Itu sejalan dengan semangat Gusjigang yang menjadi identitas budaya masyarakat Kudus,” katanya.
Prospek karier lulusan UIN Sunan Kudus sangat kompetitif di dunia kerja, baik di sektor pemerintah, swasta, maupun pengembangan wirausaha. Kurikulum dirancang berbasis integrasi keilmuan Islam dan keilmuan umum yang aplikatif, sehingga lulusan memiliki kompetensi akademik, profesional, sekaligus akhlakul karimah.
Salah satu alumni sukses adalah Mukhasiron, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kudus. Berdasarkan tracer study internal, rata-rata alumni UIN Sunan Kudus terserap di dunia kerja dalam waktu 3-6 bulan setelah lulus.
Mereka bekerja di berbagai sektor seperti lembaga pendidikan formal dan nonformal, perbankan syariah dan konvensional, lembaga zakat dan amil sosial, pemerintahan, biro perjalanan haji-umrah, konsultan agama dan sosial, media, hingga membuka lapangan kerja sendiri melalui kewirausahaan.
UIN Sunan Kudus juga memiliki unit pengembangan karier dan pusat karier (career center) yang aktif memfasilitasi pelatihan soft skills, keterampilan digital, bimbingan karier, dan magang industri bagi mahasiswa sebelum lulus, sehingga mempercepat adaptasi mereka di dunia kerja.
Kelas Internasional
Selama menjabat sebagai rektor, Prof Dur ingin meningkatkan akreditasi institusi dan program studi, mengubah bentuk kelembagaan dari satker biasa menjadi satker BLU, meningkatkan jumlah doktor melalui fasilitasi studi lanjut, serta meningkatkan efektivitas dan kapabilitas kelompok dosen riset dan laboratorium riset.
“Saya juga akan terus menginisiasi pembukaan kelas internasional melalui program short course, join course, double degree, mengupayakan akreditasi internasional untuk program studi, serta meningkatkan jumlah mahasiswa asing,” katanya.
Di tengah kesibukannya di kampus, Prof. Dur tetap berkomitmen untuk mengabdi kepada masyarakat. Ia aktif di berbagai organisasi sosial dan keagamaan.
Beberapa di antaranya adalah Ketua PC GP Ansor Demak, Wakil Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah, Wakil Ketua DPD KNPI Demak, Wakil Ketua PCNU Demak, Ketua III MUI Demak, hingga Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kabupaten Kudus.
Selain itu, ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar, anggota Dewan Pertimbangan dan Dewan Pakar IKAPMII Pusat, serta Ketua Divisi Publikasi dan Penerbitan Karya Ilmiah ADRI (Asosiasi Dosen Republik Indonesia).
Prof. Dur memiliki visi besar untuk membawa UIN Sunan Kudus menjadi universitas kelas dunia. Prinsip hidupnya sederhana: menjadi pribadi yang bermanfaat, menebar kebaikan, dan memberikan yang terbaik kepada siapa saja.
“Semua ini merupakan bagian dari semangat dan dedikasi untuk membangun institusi agar terus maju dan memberi manfaat bagi umat,” katanya.














