Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memandang taklimat ini sebagai momentum penting untuk menyelaraskan arah kebijakan dengan agenda transformasi pendidikan tinggi dan penguatan ekosistem riset nasional.
Melalui forum ini, pemerintah mendorong perguruan tinggi untuk berperan aktif dalam menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan solusi bagi masyarakat yang relevan dengan tantangan pembangunan nasional.
Taklimat Presiden kali ini menegaskan peran sentral manusia, pendidikan tinggi, dan sains sebagai fondasi utama inovasi, industrialisasi, dan daya saing bangsa. Hal ini juga sejalan dengan agenda besar pemerintah, yakni mewujudkan swasembada pangan dan energi.
Kepala Negara menekankan kebangkitan Indonesia tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), penguasaan ilmu pengetahuan, serta kemampuan menerjemahkan riset menjadi dampak nyata bagi masyarakat dan industri.
Taklimat Presiden 2026 diikuti lebih 1.200 peserta yang terdiri atas pimpinan perguruan tinggi, akademisi, serta pemangku kepentingan di bidang pendidikan tinggi dan sains.
Forum ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri untuk mendorong inovasi yang berkelanjutan, termasuk penguatan peran ilmu sosial dan humaniora dalam memahami konteks sosial budaya pembangunan negara.
Forum ini menjadi bagian dari komunikasi pemerintah dengan berbagai elemen masyarakat, sekaligus menegaskan komitmen Presiden Prabowo dalam memperkuat kualitas pendidikan tinggi melalui pengembangan SDM sivitas akademika, penyediaan sarana prasarana, dan dukungan pembiayaan yang berkelanjutan.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menegaskan bahwa arah kebijakan Presiden menjadi kompas bagi Kemdiktisaintek dalam memperkuat peran pendidikan tinggi sebagai motor penggerak perubahan dan pembangunan nasional.
Arahan tersebut juga menjadi dasar dari visi Diktisaintek Berdampak yang terus digaungkan.
“Bapak Presiden mengajak kita bersama-sama merefleksikan apa yang sudah bisa kita berikan kepada masyarakat, bangsa, negara, dan bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil peran yang penting dalam pembangunan Indonesia. Perguruan tinggi harus mampu mencetak SDM yang mumpuni secara kapasitas dan kapabilitas, berintegritas, nasionalis, dan keberpihakan yang besar kepada masyarakat dan bangsa Indonesia,” ujar Menteri Brian.
Dalam kesempatan ini, Mendiktisaintek juga menegaskan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat ekosistem riset nasional agar lebih berdampak bagi pembangunan. Kemdiktisaintek mendorong riset perguruan tinggi yang berorientasi pada inovasi dan solusi nyata, sejalan dengan kebutuhan strategis bangsa.
“Bapak Presiden juga menambah alokasi dana untuk riset dan inovasi seluruh perguruan tinggi hingga Rp4 triliun. Ini menjadi suatu gambaran betapa Presiden memberikan amanah besar kepada perguruan tinggi, seluruh peneliti, dan seluruh guru besar untuk memiliki kontribusi yang signifikan bagi kemajuan bangsa kita,” jelas Menteri Brian.
Capaian Riset Nasional sebagai Fondasi Kebijakan Berbasis Ilmu
Kemdiktisaintek mencatat capaian signifikan dalam penguatan riset nasional. Total anggaran riset nasional tahun 2025/2026 tercatat sebesar Rp81,4 triliun, setara 0,34 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), meningkat dari baseline sebelumnya.
Indonesia juga mencatatkan kemajuan pada Global Innovation Index (GII) 2025, dengan posisi sebagai overperformer di antara negara berpendapatan menengah atas, terutama pada aspek kolaborasi riset kampus-industri dan luaran inovasi.
Capaian ini memperkuat peran pendidikan tinggi sebagai tulang punggung kebijakan berbasis sains, sekaligus mendukung agenda hilirisasi, industrialisasi, dan pengembangan industri strategis nasional, mulai dari pangan, kesehatan, energi, hingga digitalisasi dan kecerdasan buatan.
Capaian Program Akselerasi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis (PPDS)
Khususnya untuk pendidikan tinggi bidang kesehatan, menindaklanjuti arahan Presiden dalam Sidang Tahunan MPR RI (15 Agustus 2025) “Untuk mengatasi kekurangan dokter dan dokter spesialis tahun ini akan dibuka 148 Prodi di 57 fakultas kedokteran di seluruh Indonesia terdiri dari 125 Prodi spesialis dan 23 prodi sub spesialis serta meningkatkan kuota mahasiswa kedokteran yang mendapat beasiswa”,
Kemdiktisaintek telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Akselerasi Peningkatan Akses dan Mutu Pendidikan Tinggi untuk Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan melalui Sistem Kesehatan Akademik dan meluncurkan program akselerasi pendidikan dokter spesialis/subspesialis (PPDS) pada tanggal 22 Juli 2025 bersama Kemenkes, Kemdagri dan pemangku kepentingan lainnya.
Dalam upaya percepatan, Satgas PPDS AHS menjalankan quick wins program tahun 2025 dengan tiga strategi, yaitu : (1) Penambahan prodi baru dan peningkatan kuota mahasiswa dokter spesialis-subspesialis dengan model kemitraan PT (2) Penempatan/deployment residen mandiri pada RSP prioritas, dan (3) Penguatan Kemitraan dengan Pemda, K/L dan stakeholders.
Hingga saat ini, Kemdiktisaintek telah mencapai target Presiden dengan membuka 156 prodi baru, yang terdiri dari 126 prodi dokter spesialis dan 30 prodi dokter subspesialis.
Prodi baru ini bermitra dengan sekitar 350 rumah sakit di seluruh wilayah Indonesia. Penambahan prodi ini juga berdampak pada peningkatan jumlah mahasiswa baru PPDS di tahun 2026 yaitu menjadi 8.650, sehingga total mahasiswa PPDS menjadi sekitar 24.000 di tahun 2026.
Selain itu, penambahan Prodi Baru PPDS ini diharapkan juga dapat meningkatkan aspek distribusi pemenuhan dokter spesialis/subspesialis dengan pembukaan prodi baru di 11 propinsi yang jumlah dokter spesialis nya masih kurang
dan baru pertama memiliki prodi PPDS (termasuk NTT, Maluku dan Papua), serta menambah 6 jenis subspesialis baru untuk meningkatkan jumlah dosen maupun dokter subspesialis. Kemdiktisaintek juga sudah berkoordinasi dengan LPDP untuk peningkatan jumlah beasiswa untuk mahasiswa PPDS di tahun 2026.
Kemdiktisaintek memastikan bahwa upaya percepatan ini tetap berpegang pada prinsip penjaminan mutu dan sesuai dengan regulasi yang berlaku, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan selain Pemerintah,
diantaranya LAMPTKes, Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia, Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia, asosiasi prodi tiap bidang spesialis dan kolegium tiap bidang kesehatan.
Perguruan Tinggi Respons Bencana Sumatra
Taklimat Presiden 2026 juga menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam respons tanggap darurat bencana. Kemdiktisaintek menempatkan kampus sebagai pusat koordinasi di wilayah terdampak atau terdekat dengan lokasi bencana, berfungsi untuk memetakan kebutuhan masyarakat serta mengoordinasikan dukungan lintas sektor.
Melalui skema penugasan dan pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi mengerahkan dosen, mahasiswa, dan tenaga profesional untuk mendukung layanan kesehatan, distribusi logistik, pendidikan darurat, hingga pendampingan psikososial.
Hingga saat ini, ribuan personel dari perguruan tinggi telah terlibat langsung di lapangan.
Kemdiktisaintek juga menyiapkan penguatan dukungan jangka menengah melalui Program Mahasiswa Berdampak, yang akan mengirimkan hingga 10.000 mahasiswa ke daerah terdampak bencana.
Program ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi hadir di garis depan kemanusiaan dan pemulihan sosial-ekonomi masyarakat.
Tanggapan dan Harapan Pimpinan Perguruan Tinggi
Para pimpinan perguruan tinggi dan guru beaae menilai Taklimat Presiden sebagai forum strategis dan relevan dengan tantangan pendidikan tinggi saat ini.
“Dari pertemuan dengan Presiden, kami dapat lebih memahami bagaimana peta situasi terkini di Indonesia. Tentu, dengan penyamaan persepsi ini, para pimpinan perguruan tinggi dan seluruh pemangku kepentingan dapat bersama-sama memajukan Indonesia secara sinergis,” ujar Rektor Universitas Indonesia, Heri Hermansyah.
Sementara itu, Ketua Komisi I Dewan Pendidikan Tinggi (DPT) serta Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Periode 2010-2014,
Akhmaloka menyatakan pentingnya membangun kekuatan sains dan teknologi Indonesia melalui perguruan tinggi. Menurutnya, ini tercermin dari informasi yang disampaikan oleh Presiden dalam forum tersebut.
“Pertemuan tadi, tentu bisa kita tindak lanjuti, terutama komitmen untuk meningkatkan penelitian di perguruan tinggi hingga 50%. Hal ini akan membangun pendidikan tinggi di Indonesia, terutama di bidang sains dan teknologi,” ujar Akhmaloka.
Melalui Taklimat Presiden 2026, Kemdiktisaintek berkomitmen untuk terus mendorong pendidikan tinggi dan sains yang berdampak, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan bangsa.
Forum ini sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap produk riset dan inovasi nasional berbasis sains sebagai bagian dari kebangkitan Indonesia.
Sumber : Humas Kemendiktisaintek














