Pendekatan ini menekankan interaksi yang intensif dan kolaboratif antara dosen dan mahasiswa, berbasis observasi serta diskusi masalah nyata di masyarakat.
Dr. Yusuf, yang berasal dari Kalimantan Tengah dan merupakan alumni UMPR, menyatakan bahwa rasa cinta pada tanah kelahiran menjadi motivasi kuatnya untuk membangun pendidikan di daerah.
Pengalamannya sebagai jurnalis di Kantor Berita Antara sangat memengaruhi cara ia memimpin dan mengelola universitas. Ia mengatakan bahwa sebagai jurnalis,
ia banyak mengetahui keadaan meskipun hanya sedikit mendalaminya, dan hal ini menjadi bekal yang digunakan di UMPR sehingga program-programnya selalu relevan.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah sistem absen fajar dari pukul 03.00 hingga 05.00 pagi, serta fleksibilitas kerja dosen yang diberikan kebebasan untuk beraktivitas di luar kampus sambil tetap produktif.
UMPR terus berkembang dengan menambah program studi baru, termasuk mendirikan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi yang baru saja mendapatkan izin operasional.
Dengan dukungan sekitar 400 pegawai dan dosen muda berbakat, Dr. Yusuf optimis UMPR bisa menjadi pusat pendidikan terkemuka di Kalimantan Tengah.
Kampus Muda
Sebagai kampus muda, UMPR memang masih tergolong baru dibandingkan dengan jaringan perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya yang tersebar di Indonesia.
Namun demikian, UMPR terus tumbuh dan menguat dengan terinspirasi oleh kampus-kampus besar Muhammadiyah lainnya. UMPR selalu mendapatkan panduan dalam mengelola perguruan tinggi yang baik, meskipun kemandirian tetap menjadi kunci utama dalam pengembangan kampus ini.
“Kita dipandu untuk berpikiran besar, tapi kemudian kita dilepas untuk berusaha sendiri,” katanya.
Hal ini menjadi tantangan bagi UMPR untuk menyesuaikan diri dengan kondisi dan situasi di Kalimantan Tengah yang berbeda dari kampus-kampus besar di kota lainnya.
UMPR bangga mendapatkan kepercayaan dari pemerintah daerah di 14 kabupaten/kota di Kalteng, yang secara aktif mengirimkan mahasiswa dengan dukungan pembiayaan masing-masing.
“Kami selalu dilibatkan dalam aktivitas yang melibatkan akademisi,” katanya.
Kepercayaan publik terhadap UMPR semakin meningkat karena kampus ini mampu menghadirkan kekhasan yang sesuai kebutuhan mitra di daerah, sehingga diterima dengan baik oleh masyarakat dan pemerintah daerah.
Selama dua tahun terakhir, meskipun secara nasional perguruan tinggi swasta mengalami penurunan jumlah mahasiswa baru, UMPR justru berhasil mempertahankan jumlahnya.
“Alhamdulillah di UMPR tidak terjadi penurunan,” ujarnya.
Kepercayaan masyarakat Kalteng yang sebelumnya memilih kuliah di luar provinsi kini mulai beralih ke UMPR sebagai alternatif, terutama bagi mereka yang tidak memiliki kesempatan kuliah di kota lain.
Saat ini, jumlah mahasiswa UMPR mencapai sekitar 7.600 orang yang tersebar di 12 fakultas dan 28 program studi.
Sebagai Orang Tua
Pendekatan pembinaan mahasiswa di UMPR menjadi salah satu keunggulan utama kampus ini. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengajaran akademis, tetapi juga pendampingan personal dari dosen pengampu.
Dosen di UMPR berperan ganda sebagai pengajar dan pendamping, membimbing mahasiswa seperti saudara kakak-adik.
“Dosen pengampu mendampingi mereka sejak awal hingga lulus. Jadi, dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi seperti orang tua yang menjaga perkembangan dan pergaulan mahasiswa,” jelasnya.
Pendampingan ini semakin diperkuat dengan keterlibatan mahasiswa dalam tim riset dan pengabdian masyarakat yang dilakukan dosen, sehingga pembelajaran dapat langsung diterapkan di masyarakat.
UMPR saat ini memiliki lima guru besar, 18 doktor, dan sekitar 30 dosen yang sedang menempuh studi doktoral. Kampus ini berfokus meningkatkan kualitas akademik dan mengembangkan program studi unggulan.
“Kami berusaha mengembangkan empat program studi unggulan dan menjadi kampus swasta terdepan di Kalteng,” tuturnya.
UMPR juga ingin mengulang sejarahnya sebagai perguruan tinggi swasta pertama dengan program studi terakreditasi A, khususnya di bidang Administrasi Negara yang pernah diraih sebelumnya. Motivasi ini mendorong UMPR untuk terus maju dan memberikan kontribusi signifikan bagi pendidikan tinggi di daerah.
Dengan inspirasi dari jaringan Muhammadiyah, kemandirian yang tinggi, serta pendekatan pembinaan mahasiswa yang personal dan aplikatif, UMPR membuktikan dirinya bukan hanya sebagai alternatif pendidikan tinggi di Kalteng, tetapi juga sebagai institusi yang siap berkembang dan bersaing di tingkat nasional.
Mahasiswa Jadi Relawan Punya Profesor Termuda
UMPR telah mencetak lebih dari 30.000 alumni program S1 dan hampir 6.000 alumni program S2 dalam lima tahun terakhir. Adanya minat yang sangat tinggi, terutama pada program S2 Administrasi Publik yang menerima sekitar 250 mahasiswa setiap semester, UMPR menunjukkan posisinya sebagai perguruan tinggi yang diminati di Kalteng dan sekitarnya.
Setiap tahun, UMPR menerima sekitar 500 mahasiswa baru di program S2, sementara di pendidikan dasar terdapat sekitar 400 mahasiswa per angkatan. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah geografis Kalimantan Tengah,
dengan jarak antar kabupaten yang jauh dan sulit dijangkau dalam sehari. Untuk mengatasi hal ini, UMPR mengembangkan model perkuliahan adaptif yang memungkinkan mahasiswa tidak harus selalu hadir di kampus utama.
UMPR juga memiliki sertifikat pemerintah untuk 18 program studi dalam menyelenggarakan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), yang memungkinkan mahasiswa memanfaatkan teknologi pembelajaran tanpa kehadiran fisik, dosen datang secara periodik.
“Model ini menjaga pekerjaan dan aktivitas mahasiswa serta dosen tetap berjalan lancar,” ujarnya.
UMPR bangga melahirkan akademisi muda seperti Prof. Dr. Chandra Anugrah Putra, M.Ikom, yang merupakan alumni asli dan kini menjadi dosen serta melanjutkan studi atas nama UMPR. Kampus ini menarik mahasiswa tidak hanya dari Kalimantan tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, terutama setelah dibukanya program studi kedokteran dan kedokteran gigi.
Dr. Yusuf menekankan bahwa sistem imbal jasa di UMPR sangat dinamis, bergantung pada kreativitas dan hasil kerja individu. Tunjangan fungsional dan struktural bersifat fleksibel, sehingga penghasilan besar tidak hanya diperoleh oleh senior tetapi juga mereka yang kreatif dan produktif.
“Ini menjadi motivasi bagi dosen dan staf muda untuk terus berinovasi,” tambahnya.
Sejak berdiri, pendidikan menjadi bidang unggulan UMPR, dengan program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang tetap menjadi favorit. Selain itu, program studi Administrasi Negara juga menunjukkan peningkatan signifikan dan tetap menjadi pilihan banyak mahasiswa. Lulusan UMPR memiliki masa tunggu yang reltif singkat sebelum terserap ke dunia kerja. Bahkan banyak yang sudah beekrja pada tingkat akhir studi mereka
Mahasiswa Relawan
Salah satu keunggulan UMPR adalah fokus pada pengembangan mental dan pembentukan karakter mahasiswa. Melalui kebijakan mahasiswa relawan, mahasiswa UMPR didorong untuk aktif terlibat dalam berbagai kegiatan penelitian, pengabdian masyarakat, dan acara pemerintah daerah.
“Mahasiswa kami selalu dikirim untuk membantu berbagai acara pemerintahan, baik diminta maupun tidak,” ujarnya.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman, tetapi juga membangun mental mahasiswa agar siap berinteraksi di dunia nyata. Bahkan mahasiswa dari daerah terpencil pun memiliki kesempatan untuk memperkuat mental sosial mereka.
Dr. Yusuf menggambarkan filosofi pendidikan UMPR dengan semangat “jalanan model wartawan.” “Kami selalu berprinsip memberikan manfaat apapun yang bisa dilakukan tanpa memandang status,” katanya. Dengan semangat ini, UMPR menghasilkan alumni yang tidak hanya kompeten di bidangnya tetapi juga memiliki karakter kuat, siap menghadapi dunia kerja, dan berkontribusi bagi masyarakat luas.
Sukses Generasi Muda
Menurut Dr. H. Muhammad Yusuf, berbagai program unggulan telah dijalankan selama dua tahun kepemimpinannya. Namun, ia menegaskan bahwa tugasnya belum selesai. Dalam dua tahun ke depan,
ia akan fokus memastikan semua program berjalan dengan baik. Ia menyebut keberhasilan UMPR sebagai hasil kerja keras generasi muda kampus, mengingat lebih dari 90 persen dosen adalah tenaga muda penuh semangat dan kreativitas.
“Yang tua itu saya sama Pak Junaidi Direktur Humas, lainnya muda-muda,” candanya. Generasi muda inilah yang menjadi ujung tombak pelaksanaan berbagai program di lapangan.
Pendirian tujuh program studi kesehatan yang memiliki tingkat kesulitan tinggi, seperti keperawatan anestesi, manajemen informasi kesehatan, dan fisioterapi, sedang diupayakan. Program-program ini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah daerah Kalteng.
Yusuf juga menyampaikan apresiasi atas dukungan dari pemerintah tinggi, termasuk penghargaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Ia menekankan pentingnya relevansi dan aplikasi ilmu agar teori tidak hanya menjadi khayalan, tetapi dapat langsung diterapkan di lapangan.
“Kita jangan hanya berkhayal dengan teori-teori, tetapi harus bisa langsung melakukannya,” ujarnya.
Yusuf memastikan bahwa program-program UMPR tidak berhenti pada tahap perencanaan dan pelaksanaan, tetapi terus didukung dan diperkuat oleh generasi muda inovatif agar memberikan dampak positif, khususnya di Kalimantan Tengah.
Komitmen ini menjadikan masa baktinya sebagai rektor bukan hanya tugas administratif, melainkan misi untuk menjadikan UMPR sebagai pusat pendidikan tinggi yang unggul, relevan, dan bermanfaat bagi masyarakat.
UMPR juga bangga memiliki Prof. Dr. Chandra Anugrah Putra, M.Ikom., wakil rektor yang merupakan guru besar termuda di UMPR bahkan Kalteng. Ia menjelaskan bahwa jabatan fungsional dosen, termasuk guru besar,
membutuhkan proses panjang dengan syarat tertentu yang tidak mudah, terutama di tengah kesibukan mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat.
“Guru besar itu sebenarnya menunggu waktu, tetapi tantangannya adalah apakah dosen mau memenuhi persyaratan kenaikan jabatan di tengah aktivitas yang padat,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti nilai tambah dosen Muhammadiyah yang selain menjalankan Tri Dharma perguruan tinggi (mengajar, meneliti, mengabdi), juga mengemban chatur dharma, yakni Keislaman dan Kemuhammadiyahan diwujudkan dengan meningkatkan kedalaman serta kebermaknaan dalam aktivitas akademik dan pengabdian.
Prof. Candra menyadari bahwa banyak dosen sering terjebak dalam kesibukan sehingga kurang fokus pada pengurusan jabatan fungsional. Oleh karena itu, ia kerap berbagi strategi dan motivasi terkait hal ini di berbagai kesempatan.
“Saya sering memberikan tips dan trik agar dosen dapat lebih terorganisir dalam mengurus jabatan fungsional meskipun dengan jadwal yang padat,” tambahnya.
UMPR hadir bukan hanya sebagai institusi pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai sumber solusi dan penggerak pembangunan daerah. Dengan memadukan keahlian akademik dan keberpihakan pada masyarakat lokal,
keberadaan guru besar termuda menjadi bukti bahwa UMPR adalah pilihan menjanjikan bagi akademisi yang ingin berkarir sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi daerah.