Prof. Dr. Ahmad Alim Bachri, SE., M.Si. - Rektor Universitas Lambung Mangkurat

Rektor Universitas Lambung Mangkurat – Kuasai Mangrove Nusantara Genggam Peringkat Dunia

Share

Dies natalis ke-68 Universitas Lambung Mangkurat (ULM) tahun 2026 dimaknai sebagai perjalanan sejarah kontribusi dalam proses pembangunan nasional, melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan bangsa dan negara. Keberadaan ULM secara institusi disebut memberikan jaminan perluasan akses pendidikan tinggi yang berkualitas dan

Setelah meraih status Akreditasi Unggul, ULM perlu menjaga keberlanjutan atau sustainabilitas yang bersifat continuous improvement, sekaligus melangkah ke fase peningkatan daya saing di tingkat nasional maupun internasional.

Rektor ULM, Prof. Dr. Ahmad Alim Bachri, SE., M.Si., mengajak seluruh sivitas akademika untuk terus berinovasi, bersemangat, dan membangun kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan.

Sebagai organisasi yang terus berkembang, seluruh aspek pengelolaan perlu dievaluasi secara berkala sebagai bagian dari proses manajemen yang berorientasi pada continuous improvement.

Ia juga menyampaikan slogan ULM ‘U love me’ sebagai ungkapan kecintaan dan kebanggaan sivitas akademika terhadap kampus. “Secara pribadi, saya sangat bersyukur menjadi bagian dari ULM sebagai tempat pengabdian kepada bangsa dan negara melalui sektor pendidikan tinggi,” katanya.

Akreditasi Unggul

ULM resmi meraih status Akreditasi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Pencapaian ini menempatkan sebagai salah satu dari kurang sekitar 200 perguruan tinggi berakreditasi Unggul di Indonesia, dari total lebih dari 4.000 institusi pendidikan tinggi yang terdaftar secara nasional.

ULM saat ini mengelola 147 program studi yang tersebar pada jenjang pendidikan vokasi (S0), sarjana (S1), magister (S2), dan doktor (S3), termasuk pendidikan profesi dan spesialis di berbagai bidang keilmuan.

Pendidikan dokter spesialis menjadi salah satu penekanan, dengan 14 program studi yang tersedia, satu di antaranya merupakan program subspesialis atau SP2.
Dari jumlah tersebut, sekitar 60 program studi telah mengantongi akreditasi A dan Unggul.

Pertumbuhan jumlah program studi berakreditasi Unggul tercatat mencapai 100 persen sejak tahun 2022 hingga 2026, sejalan dengan proses penataan kelembagaan yang dilakukan ULM dalam beberapa tahun terakhir.

Pada akreditasi internasional, 7 program studi ULM telah meraih pengakuan dari lembaga akreditasi internasional. Tahun ini, ULM mengajukan 10 program studi tambahan untuk proses Akreditasi Internasional, ditambah 5 program studi dari Fakultas Teknik yang juga tengah dipersiapkan untuk proses serupa.

ULM menargetkan sekitar 30 program studi telah mengantongi akreditasi internasional pada tahun 2027. Status Akreditasi Unggul yang telah diraih turut menjadi salah satu prasyarat strategis bagi ULM dalam proses menuju status Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH).

“Dari sisi kelengkapan dan jumlah program studi, ULM termasuk yang paling komprehensif di Kalimantan, khususnya untuk pendidikan dokter spesialis,” katanya.

Lompatan Riset
Di bidang riset, ULM menempati posisi ke-8 nasional dalam perolehan dana riset pada kompetisi penelitian nasional yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdikti Saintek).

Posisi ini diraih di tengah persaingan ratusan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia yang mengajukan proposal penelitian pada skema pendanaan yang sama.

Klaster kinerja penelitian ULM di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) berada pada level Klaster Mandiri, status tertinggi dalam sistem klasterisasi perguruan tinggi berbasis kinerja penelitian nasional.

Pada 2024, ULM meraih peringkat I penerima insentif klaster II, sekaligus peringkat I perguruan tinggi terproduktif Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) klaster II pada tahun yang sama.

Peringkat Sinta ULM, indeks yang mengukur kinerja ilmu pengetahuan dan teknologi perguruan tinggi secara nasional, naik dari posisi ke-45 pada 2022 menjadi posisi ke-28 nasional.

Kenaikan ini mencerminkan peningkatan jumlah publikasi ilmiah dan sitasi dari kalangan dosen dan peneliti ULM dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Di kancah pemeringkatan global, posisi ULM versi EduRank dunia bergerak dari peringkat 2.528 pada 2022 menjadi peringkat 1.689.

Pada level regional, ULM tercatat berada di peringkat 1.389 se-Asia dan peringkat 203 se-Asean, sementara posisi nasional versi EduRank naik dari peringkat 47 pada 2022 menjadi peringkat 28 pada saat ini.

Jumlah guru besar ULM saat ini mencapai 91 orang dari total keseluruhan dosen yang dimiliki ULM. Jumlah tersebut diproyeksikan terus bertambah seiring peningkatan produktivitas riset dan publikasi ilmiah di kalangan dosen ULM.

Penghargaan dan Prestasi
ULM mencatatkan sejumlah penghargaan lain sepanjang 2026. Institusi ini menerima piagam penghargaan dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum Kalimantan Selatan pada 19 Agustus 2026 atas peran aktifnya dalam edukasi, pendampingan, dan pengembangan intelektual di lingkungan akademisi.

Pada capaian mahasiswa, mencatatkan sejumlah prestasi pada ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) dan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Sistem Informasi Kemahasiswaan Nasional (Simkatmawa) ULM meraih predikat Unggul, sementara pada Pilmapres kategori mahasiswa disabilitas tahun 2026, mahasiswa ULM meraih Juara Harapan II tingkat nasional.

Di bidang kedokteran gigi, mahasiswa ULM meraih peringkat 1 dengan nilai sempurna 100 pada Uji Kompetensi Nasional Program Pendidikan Dokter Gigi (Ukomnas PPDG) periode III 2026, capaian terbaik pada periode tersebut.

“Kami ingin membawa ULM menjadi kampus berstandar global dengan tetap berakar pada nilai dan kebutuhan masyarakat Kalimantan,” katanya.

Kebijakan UKT
Sejak menjabat sebagai Wakil Rektor I pada 2013 hingga saat ini menjabat sebagai Rektor, ULM tidak pernah menaikkan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswanya.

Kebijakan ini konsisten dijalankan meskipun terjadi berbagai penyesuaian biaya operasional pendidikan tinggi selama periode tersebut. UKT tertinggi untuk Fakultas Kedokteran, yang umumnya menjadi program studi dengan biaya kuliah termahal di perguruan tinggi negeri,

Biaya ditetapkan sebesar Rp17 juta. ULM juga tidak memberlakukan sumbangan pengembangan institusi (SPI) atau iuran pengembangan institusi (IPI) pada jalur seleksi mandiri di semua program studi.

Kebijakan tidak menaikkan UKT ini berjalan seiring dengan peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) ULM yang secara akumulatif naik 54,13 persen dari tahun 2021 hingga 2026. Peningkatan PNBP tersebut berasal dari berbagai unit usaha dan layanan yang dikelola ULM di luar biaya kuliah mahasiswa.

Sebagai perguruan tinggi negeri berbadan layanan umum (BLU), ULM memiliki fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan, termasuk mengembangkan sumber pendapatan di luar UKT. Prinsip pengelolaan BLU inilah yang menjadi dasar ULM untuk menambah pendapatan tanpa membebankan kenaikan biaya pendidikan kepada mahasiswa. Selain kebijakan UKT, ULM juga mengembangkan berbagai unit usaha, termasuk di sektor peternakan, sebagai sumber dana bantuan bagi mahasiswa kurang mampu. Unit usaha ini dikelola bersama mitra dari pemerintah dan dunia usaha. “Saya tahu betul sulitnya orang miskin ingin sekolah. Karena itu, kami tidak membebani mereka dengan biaya tambahan,” katanya.

Peduli Mahasiswa
Salah satu kebijakan yang diambil Rektor terkait kondisi mahasiswa terjadi saat 264 mahasiswa baru tidak bisa daftar ulang karena kendala ekonomi. Situasi ini berpotensi membuat mereka kehilangan hak melanjutkan pendidikan di ULM.

Ahmad Alim Bachri menulis surat dan menemui DPRD serta Gubernur Kalimantan Selatan untuk mencari solusi pembiayaan. Pro advokasi ini memakan waktu dan butuh koordinasi lintas lembaga sebelum akhirnya mendapat kepastian dukungan anggaran.

Hasilnya, seluruh biaya kuliah 264 mahasiswa yang terdampak ditanggung pemerintah daerah. ULM juga menerima dukungan beasiswa dari perusahaan swasta seperti PT Adaro dan Bayan Resources, selain bantuan dari pemerintah daerah dan pelaku usaha lainnya.

Selain itu, ULM mengembangkan program usaha tanam jagung dan peternakan sapi bersama Kepolisian Daerah, Badan Intelijen Daerah, dan PT Antang Gunung Meratus melalui skema CSR.

Salah satu hasilnya adalah kandang sapi berkapasitas 200 ekor yang dikelola kampus sebagai sumber pendanaan alternatif untuk program kesejahteraan mahasiswa.

Hasil peternakan ini digunakan membantu mahasiswa kurang mampu membayar UKT. “Kalau ada mahasiswa yang tetap kesulitan meski UKT sudah ringan, lapor ke saya. Insyaallah bisa kita bantu dari honor yang ada,” tegasnya.

Fokus Lingkungan Lahan Basah
Visi ULM sebagai kampus unggul di bidang lingkungan lahan basah berangkat dari kondisi geografis Kalimantan Selatan, di mana lebih dari 33 persen wilayahnya terdiri atas gambut dan rawa. Kondisi ini menjadi dasar pengembangan riset dan kelembagaan ULM beberapa tahun terakhir.

ULM mengelola 611 hektare lahan mangrove di Kabupaten Kotabaru hasil kerja sama dengan Kementerian Kehutanan, yang dikembangkan menjadi Laboratorium Mangrove Tropis Indonesia, menjadikannya satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia dengan hak pengelolaan hutan mangrove.

Selain itu, ULM juga mengelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) seluas 1.617 hektare di Mandiangin, Kabupaten Banjar, yang sedang dalam tahap pemulihan ekosistem bersama sejumlah perusahaan seperti PT Arutmin, PT Bandangan Tirta, dan PT Syafwa.

Di kawasan KHDTK dibangun dua barak berkapasitas sekitar 500 mahasiswa untuk praktik lapangan dan penelitian, lengkap dengan mushala hibah dari PT Bandangan Tirta dan PT Syafwa.

Dalam pengelolaan mangrove, ULM bekerja sama dengan PT Freeport Indonesia untuk rehabilitasi areal mangrove, dengan komitmen memberdayakan masyarakat lokal melalui wisata edukatif dan perikanan.

Fakultas Perikanan ULM mengembangkan budidaya kepiting cangkang lunak sebagai bagian kegiatan KKN mahasiswa di sekitar lahan mangrove, termasuk budidaya udang dan ikan, dengan target meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 100 persen tanpa merusak ekosistem.

“Kalimantan adalah paru-paru dunia. ULM punya tanggung jawab moral dan ilmiah untuk menjaganya.” katanya.

Alumni Berkarya
ULM berkontribusi besar terhadap pembangunan daerah lewat keterlibatan langsung civitas akademikanya di berbagai lembaga publik. Beberapa dosen ULM tercatat menjabat sebagai Ketua KPU daerah, Ketua Bawaslu daerah, anggota Tim Percepatan Pembangunan Daerah, hingga tenaga ahli di lingkungan pemerintah daerah.

Di tingkat nasional, dua alumni ULM kini duduk di Kabinet Merah Putih. Salah satunya, Hanif Faisol Nurofiq, alumnus Fakultas Kehutanan ULM, pernah menjabat Menteri Lingkungan Hidup sejak Oktober 2024 sebelum dilantik sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan pada April 2026.

Alumni lainnya, Mukhtarudin, lulusan FISIP ULM, menjabat Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia sejak September 2025. Selain itu, ada juga Dr. Ir. Roy Rizali Anwar, S.T., M.T., yang memegang posisi strategis sebagai Direktur Jenderal Bina Marga di Kementerian Pekerjaan Umum sejak Januari 2025.

Roy merupakan lulusan program magister Teknik Sipil ULM.

“Ada juga Pangeran Khairul Saleh, yang menjabat Wakil Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan merupakan lulusan Fakultas Teknik ULM,” katanya.

Menuju PTNBH
Dengan status Akreditasi Unggul yang diraih, ULM masuk tiga besar nasional sebagai calon Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH). Status ini memberi otonomi lebih luas dalam pengelolaan akademik, SDM, dan keuangan.

Sebagai bagian dari persiapan, enam laboratorium utama ULM—laboratorium air, udara, tanah, material, laboratorium terpadu, dan satu lainnya—sudah terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Laboratorium terpadu ULM juga mengantongi sertifikasi ISO 45001:2018, standar internasional untuk sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

Dalam upaya memperluas akses pendidikan, ULM berencana mengembangkan kampus Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) di Kabupaten Kotabaru dan Balangan, dengan dukungan hibah sarana-prasarana dari pemerintah daerah.

Pemkab Kotabaru telah memberi hibah untuk pembangunan Gedung Fakultas Kedokteran, Gedung Pascasarjana, Gelanggang Olahraga dan Seni Mahasiswa, serta lapangan mini soccer.

Sementara Pemkab Balangan menanggung seluruh biaya pendidikan mahasiswa asal daerah tersebut. Dukungan daerah juga terlihat dari berbagai kegiatan nasional yang dipercayakan pada ULM.

Tahun 2023, ULM menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) dengan biaya sekitar Rp40 miliar dari Pemprov Kalimantan Selatan, dan pada 2025 kembali menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Nasional (MTQMN) dengan pendanaan dari pihak yang sama.

“Pada prinsipnya, begitu ditugaskan, kita harus siap,” ujarnya.

 

 

Artikel Terkait