Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. - Rektor Universitas Diponegoro (Undip)

Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. – Semakin Bermartabat Semakin Bermanfaat

Share

Rektor Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. menyampaikan, Undip telah mengalami kemajuan besar dan terus berproses menjadi semakin baik, bermartabat, serta bermanfaat. Menurutnya, memperingati 69 tahun Undip, dies natalis memang menjadi seremoni tahunan, tetapi yang terpenting adalah Undip terus berprogres menjadi lebih baik dan semakin baik.

Dari sisi fisik, Suharnomo mengaku, asesor kampus lain, menyampaikan bahwa Undip sekarang bagus. Pesan tersebut menyebut adanya immigration point, career development, dan berbagai fasilitas lainnya.

Suharnomo ingin menstandarkan seluruh fasilitas di Undip agar bagus dan nyaman digunakan sejak pagi hingga malam. Mahasiswa dapat belajar dengan nyaman di perpustakaan maupun Muladi Dome.

Undip juga mempertahankan Undip Scholarship sebagai salah satu program peningkatan sumber daya manusia (SDM), sebagai langkah berani karena menyekolahkan dosen ke jenjang S3 di kampus Top 100.

Sebelumnya, para dosen diminta bertanding terlebih dahulu melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) atau tempat lainnya.

“Intinya, kami ingin berprogres untuk menjadi lebih baik dan semakin baik dari waktu ke waktu,” ujarnya.

Undip Scholarship
Menurut Suharnomo, Undip Scholarship bukan program yang hasilnya langsung dinikmati hari ini. Program tersebut merupakan bagian dari peningkatan SDM yang hasilnya mungkin baru dirasakan dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Perubahan metodologi pengajaran, pembelajaran daring, rekognisi pembelajaran lampau (RPL), maupun berbagai perubahan lainnya tetap kembali kepada dosen.

Karena itu, pihaknya berkomitmen meningkatkan kualitas SDM. Kesempatan tersebut diberikan
kepada dosen untuk bertanding terlebih dahulu dalam scholarship bergengsi.

Mereka yang berhasil kemudian mendapatkan reward, sedangkan yang belum berhasil tetap memiliki kewajiban untuk melanjutkan pendidikan.

Sumber dana scholarship sepenuhnya berasal dari Undip. Pihaknya berkomitmen memberikan kesempatan kepada dosen yang ingin bersekolah ke luar negeri selama kampus tujuan masuk Top 100.

“Kalau soal SDM, kami merasa tidak boleh ragu sedikit pun dalam memberi kesempatan,” jelasnya.

Jejaring Global
Suharnomo baru saja pulang dari China dan menceritakan upaya Undip membangun hubungan dengan Tsing Hua University yang disebutnya top one serta Peking University sebagai top two di sana.

Hubungan tersebut diarahkan pada beberapa program studi yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan pada masa depan melalui kerja sama pendidikan dan pengembangan kemampuan mahasiswa.

Bidang yang disebut antara lain artificial intelligence, robotik, humanoid, serta perkawinan
antara kedokteran dan mechanical engineering. Komunikasi lanjutan telah dilakukan melalui zoom
dan diharapkan segera masuk tahap eksekusi.

Undip berharap dapat mengirim mahasiswa untuk belajar dan mengembangkan kemampuan di Tsing Hua University maupun Peking University.

Sebelumnya, Suharnomo juga melakukan komunikasi dengan Saclay atau Université Paris – Saclay yang disebut sebagai top one di Prancis.

Sebulan sebelumnya ia berada di Jerman, termasuk Aachen University, tempat yang berkaitan dengan Prof. B.J. Habibie. Hanya ada dua perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki kerja sama
dengan Aachen University, yakni UGM dan Undip.

Ia melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari upaya konsisten agar keberadaan Undip
semakin memberi manfaat bagi masyarakat. Kerja sama tidak diharapkan berhenti di laboratorium, tetapi berlanjut pada penerapan dan manfaat yang lebih luas.

“Kita berharap bisa mengirim anak-anak yang bagus ke Tsing Hua dan Peking,” jelasnya.

Bermartabat Bermanfaat
Suharnomo menyebut perkembangan Undip mulai dilirik banyak pihak dan lembaga. Ia melihat apresiasi tersebut sebagai dorongan untuk menunjukkan bahwa kampus yang baik adalah kampus yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Karena itu, tagline Undip Bermartabat dan Bermanfaat yang dideklarasikan saat pelantikan mulai terasa dalam berbagai kegiatan dan pengembangan kampus.

Pada hari pertama pelantikan, 29 April 2024, ia menyampaikan kepada media bahwa Undip ingin
menjaga martabat kampus, terutama secara akademik.

Setelah itu, ia menekankan unsur kedua, yaitu Undip yang bermanfaat. Dua hal tersebut kemudian menjadi gagasan yang terus dibawa dalam berbagai kegiatan, penelitian, pengembangan fasilitas, serta hubungan kampus dengan masyarakat.

Menurut Suharnomo, terlalu banyak hasil riset yang hanya berhenti pada kebutuhan kenaikan angka kredit untuk menjadi guru besar. Ia menganggap pencapaian tersebut memang baik bagi individu dan lembaga, tetapi hasil penelitian perlu didorong sedikit lebih jauh agar dapat dibawa kepada
masyarakat atau industri.

Peneliti juga perlu menguji dirinya dengan persoalan nyata. Dorongan tersebut memang tidak mudah karena dosen selama ini sibuk mengajar. Perubahan dapat dilakukan sedikit demi sedikit.

Menurutnya, kampus perlu membangun kebiasaan agar hasil penelitian tidak berhenti pada kepentingan akademik, tetapi dapat digunakan untuk menjawab persoalan yang ditemukan masyarakat dan industri.

“Tagline Undip Bermartabat dan Bermanfaat itu sekarang sudah mulai terasa,” tegasnya.

Solusi Pantura
Pada 2017, Undip memiliki water treatment karya Prof. Nyoman yang sempat berada di depan LPPM. Suharnomo berulang kali menyampaikan keberadaan teknologi tersebut dalam pidato dan berbagai forum.

Teknologi itu mampu mengolah air payau dan air laut menjadi air siap minum yang dapat digunakan ketika terjadi kekeringan maupun bencana. Dari satu titik water treatment, Undip kemudian dapat membangun 20 titik mesin desalinasi di Pantai Utara (Pantura) Jawa, mulai Brebes, Pekalongan, Pemalang, Demak, hingga Rembang.

Air rob dapat ditampung dan dijadikan bahan baku. Air laut, air payau, maupun air kotor juga dapat diolah menggunakan teknologi tersebut untuk kebutuhan masyarakat.

Undip juga mengembangkan Padi Salin, yaitu padi yang kompatibel dengan salinitas tinggi. Pengembangan tersebut dilakukan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA).

Suharnomo menegaskan, Undip sebagai kampus tidak dapat hanya menjadi penonton terhadap berbagai persoalan yang terjadi di wilayah Pantura.

Selain itu, Undip memiliki tim yang mendukung pemerintah dalam pembangunan seawall. Jika
giant seawall dianggap terlalu mahal, Undip turut membangun hybrid seawall.

Teknologi tersebut telah dibuat di Morodemak dan dikunjungi Menteri KKP, Pertamina, PLN, serta pihak lainnya. Suharnomo menyebutnya sebagai contoh kampus dapat berbuat sesuatu bagi persoalan nyata.

“Teknologi itu menjadi contoh bagus bahwa kampus bisa berbuat sesuatu,” tuturnya.

Inovasi Pesisir
Menurut Suharnomo, hybrid seawall yang dikembangkan Undip telah menghasilkan sedimentasi
sehingga memungkinkan garis pantai kembali mendekati kondisi awal.

Air tidak masuk sembarangan dan hanya akan masuk melalui sungai. Ia menyebut solusi tersebut
tidak membutuhkan dana luar biasa apabila dibandingkan dengan pembangunan tanggul dalam skala
besar.

Ia mengajak profesor bidang sipil dan profesor oseanografi Undip mencoba membuat sesuatu yang
dapat menjawab persoalan tersebut. Teknologi yang digunakan berupa buis-buis beton, mangrove, dan berbagai unsur lainnya.

Suharnomo melihat sedimentasi sudah meluas sehingga teknologi tersebut dapat diperpanjang sesuai kebutuhan dan arah yang diinginkan pemerintah. Teknologi hybrid seawall yang dikembangkan Undip dapat menjadi alternatif penanganan pesisir tanpa membutuhkan biaya sebesar pembangunan giant seawall yang diperkirakan mencapai Rp11 triliun.

Menurutnya, teknologi tersebut memang tidak langsung menyelesaikan persoalan dalam satu hari, tetapi hasilnya sudah mulai terlihat dan pengembangannya dapat dilakukan secara bertahap.

Undip juga telah mengusulkan teknologi tersebut kepada pemerintah provinsi sembari menunjukkan pembenahan garis pantai yang telah dilakukan di Morodemak.

Undip menyadari kampus berada di wilayah Pantura sehingga persoalan kawasan tersebut juga menjadi perhatian. Suharnomo mendorong penelitian agar tidak hanya berhenti pada kebutuhan kenaikan pangkat.

Hasil penelitian perlu dibawa keluar supaya memberi manfaat kepada masyarakat, sekaligus memberikan pengalaman bagi dosen dan mahasiswa terkait kebutuhan industri.

“Tidak akan hari ini menyelesaikan masalahnya, tetapi tidak sampai menunggu lima tahun,” ucapnya.

Kembangkan Produk Kampus Langsung Masuk ke Pasar

Undip terus mengembangkan hubungan dengan perusahaan yang mulai masuk dan membuat berbagai produk. Salah satunya 220 e-bike Undip dari Oneway China. Seluruh proses assembling dilakukan 100 persen di Undip. Suharnomo berharap pada akhir tahun terdapat sejumlah produk Undip yang masuk e-catalog sehingga dapat diakses masyarakat lebih luas.

Water treatment juga sedang dikembangkan dan menunggu izin edar dari Kementerian Kesehatan. Selain itu terdapat bone graft, berupa tulang buatan hasil kerja sama Fakultas Kedokteran dan teknik mesin.

Bahan yang digunakan berasal dari kerang hijau dan disebut memiliki kualitas lebih bagus dibandingkan produk impor dari Korea maupun China.

Produk lain juga dikembangkan untuk kebutuhan lutut serta daerah bencana berupa bahan makanan.
Suharnomo berharap pada akhir tahun atau masa dies natalis, beberapa produk inovasi Undip dapat diluncurkan dan mulai masuk pasar.

Ia mempertanyakan ketergantungan pada produk China dan mendorong teman-teman di kampus menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan masyarakat. Suharnomo juga baru saja ikut meresmikan pengering rumput laut di Brebes, karya salah satu akademisi Undip.

Alat tersebut dinilai bermanfaat karena mampu mengubah proses pengeringan dari 18 jam menjadi delapan jam. Rumput laut tidak perlu dijemur di pinggir jalan, sehingga prosesnyalebih higienis, lebih cepat, danmenghasilkan harga yang lebih tinggi.

“Selama ini, masak semua produk harus dari China? Kita juga harus bisa membuat sesuatu,” katanya.

Masuk Pasar
Setiap tahun, Undip disebut berada di peringkat nomor satu se – Indonesia untuk paten sederhana.
Secara nasional terdapat lebih dari 1.300 hingga 1.500 paten setiap tahun.

Suharnomo berpikir, apabila satu persen dari 1.500 atau sekitar 15 paten saja dapat masuk pasar,
capaian tersebut sudah sangat berarti bagi pengembangan hasil penelitian.

Tahun 2026 ini Undip memiliki 36 inovasi dengan harga sekitar Rp36 miliar. Suharnomo ingin
mencoba melihat apakah sampai akhir tahun sebagian inovasi tersebut dapat masuk pasar.

Ia mengakui prosesnya tidak sederhana karena berbagai persyaratan komersialisasi harus dipenuhi sebelum produk dapat digunakan secara luas dan masuk ke dalam mekanisme pengadaan.

Dalam pertemuan dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP),
Suharnomo mengetahui bahwa pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) komersial dan berbagai
persyaratan lain sangat rumit.

Ia menyebut proses tersebut very – very complicated. Karena itu, Undip ingin mencoba satu atau dua
produk lebih dahulu sebagai small win agar produk lainnya dapat mengikuti.

Suharnomo juga mengakui Undip selama ini kurang memublikasikan berbagai produknya. Ketika salah satu produk diposting di grup IKA, banyak pihak langsung menghubungi.

Gubernur Maluku, Morowali, Gubernur Riau, hingga Menteri Impas disebut ikut menghubungi Undip setelah mengetahui produk dan penelitian yang dikembangkan kampus.

“Kita coba satu dua dulu, supaya kalau sudah ada small win, yang lainnya bisa mencontoh,” paparnya.

Produk Pantura
Suharnomo ingin Undip masuk lebih jauh ke persoalan rumput laut karena melihat sendiri proses pengeringannya masih dilakukan di pinggir jalan di wilayah Pantura, baik Demak maupun Brebes.

Menurutnya, Undip dapat membuat mesin pengering yang lebih higienis, cepat, dan tidak tergantung cuaca. Pengembangan tersebut menjadi salah satu bidang yang terus didorong.

Ia juga mendapat telepon dari Wakil Menteri Luar Negeri Prof. Arif Havas Oegroseno yang menyatakan tertarik. Suharnomo menyebut komunikasi tersebut menunjukkan bahwa hasil penelitian dan produk yang dikembangkan Undip dapat memperoleh perhatian dari pihak yang membutuhkan ketika dipublikasikan dan diperkenalkan dengan baik.

Selain rumput laut, Undip mulai memperhatikan persoalan garam. Suharnomo mempertanyakan
kondisi Indonesia yang memiliki laut luas tetapi masih melakukan impor garam.

Tim yang dipimpin wakil rektor I ditugaskan menangani rare earth, tanah jarang, material lain,
termasuk garam. Untuk garam, Undip masih menghitung apakah akan menjadi pemain atau cukup
berada di laboratorium.

Undip juga ingin mengambil garam industri atau garam kesehatan dan membuat miniplan untuk mencoba. Di Wedung dan banyak daerah, produksi garam rakyat disebut luar biasa, sedangkan kebutuhan industri jauh dari terpenuhi dan masih banyak mengambil dari Australia. Selain garam, eceng gondok, alga, rumput laut, serta kolaborasi kedokteran dan teknik mesin juga terus dikembangkan.

“Sekarang ada beberapa titik penugasan Undip, yakni eceng gondok, rumput laut, dan garam,” jelasnya.

Sains Terapan
Menurut Suharnomo, produk Undip sangat banyak dan hampir semua fakultas memiliki hasil
penelitian. Namun, selama ini kampus belum secara masif menjadikan hasil tersebut sebagai produk yang digunakan masyarakat.

Ia ingin sebagian penelitian diarahkan menjadi applied science, meskipun sebagian lainnya tetap berada pada ranah basic research untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Jika sebuah penelitian belum dapat dilepaskan dari basic research, menurutnya tetap tidak menjadi persoalan. Kampus tetap harus memiliki ilmu untuk mengembangkan ilmu.

Namun, sebagian hasil penelitian ingin didorong menjadi sesuatu yang dapat diterapkan dan dibawa
melalui KKN tematik agar mahasiswa serta masyarakat dapat berhubungan langsung dengan hasil pengembangan tersebut.

Fakultas Kedokteran juga mulai banyak melakukan kolaborasi dengan teknik mesin. Kolaborasi
tersebut diarahkan untuk mengembangkan humanoid dan robot kesehatan.

Pengembangan itu berjalan berdampingan dengan berbagai penugasan lain, termasuk eceng gondok, rumput laut, garam, alga, serta material lain yang dikembangkan sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Suharnomo melihat banyak hasil penelitian sebenarnya sudah tersedia, tetapi belum semuanya
dikembangkan menjadi produk. Karena itu, ia mendorong dosen melihat manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.

Penelitian dasar tetap berjalan, sementara penelitian yang memiliki peluang penerapan diarahkan agar dapat keluar dari lingkungan kampus melalui berbagai program.

“Kita ingin applied science, meskipun sebagian tetap basic research,” jelasnya.

Percaya Diri
Suharnomo menyebut Undip merupakan kampus besar. Menurutnya, yang dibutuhkan adalah rasa lebih percaya diri bahwa kampus memiliki kemampuan.

Ketika diundang ke Tsing Hua dan Peking University, ia melihat laboratorium di sana memang belum sepadan dengan Undip. Namun, jika melihat raw material, ia menilai yang tersedia di Indonesia sama bagusnya, bahkan lebih banyak dan lebih kaya.

Ia juga melihat kondisi di Aachen University yang memiliki BMW. Jika dibandingkan dengan kampus dan industri di Indonesia, Suharnomo mengakui kondisinya masih jauh.

Menurutnya, persoalan link and match antara kampus dan industri masih banyak dibicarakan, tetapi hubungan nyata belum sepenuhnya berjalan karena kebutuhan industri belum selalu diterjemahkan ke dalam pendidikan.

Selama ini, menurutnya, masyarakat cenderung memilih impor karena produk dapat dilap sedikit kemudian dijual kembali dengan risiko lebih kecil.

Namun, untuk masa depan kondisi tersebut  tidak dapat terus berlangsung. Sebagai bangsa besar, Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) harus berjalan, manufacturing berkembang, industri bergerak, dan produksi melibatkan anak-anak bangsa.

Suharnomo mengakui jika kemampuan Indonesia hari ini langsung dibandingkan dengan
robot China, hasilnya belum sepadan. Namun, ia menilai proses harus dimulai.

Jika tidak pernah dimulai, Indonesia tidak akan memiliki kesempatan mengembangkan produk sendiri. Karena itu, kampus didorong untuk mulai mengembangkan kemampuan dan menghasilkan
produk sendiri.

“Sebagai bangsa besar, STEM harus jalan, manufacturing-nya jalan, industrinya jalan, produksinya
jalan,” tegasnya.

Artikel Terkait