Prof. Drs. Sudharto PH, M.E.S., Ph.D. - Mantan Rektor Undip dan Deputi Kementerian LH RI

Prof. Drs. Sudharto PH, M.E.S., Ph.D. – Semboyan “Undip Rumah Kita” Galang Sense of Ownership

Share

Prof. Drs. Sudharto Prawata Hadi, M.E.S., Ph.D. memimpin Universitas Diponegoro (Undip) sebagai rektor periode 2010–2015. Kini, ia menjalankan tugas sebagai Pembina Yayasan Alumni Undip, badan penyelenggara Universitas Semarang (USM). Lebih dari empat dekade, Sudharto menjalani perjalanan akademik dan pengabdiannya di lingkungan Undip.

Kisah itu bermula pada 1974, setelah Sudharto menamatkan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA). Ia menyimpan keinginan sederhana untuk melanjutkan kuliah.

Saat itu, ia mempertimbangkan Yogyakarta atau Semarang. Dua perguruan tinggi menarik perhatiannya, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Undip.

Nama Diponegoro memberi Undip daya tarik tersendiri. Sudharto kemudian memilih Undip dan masuk Jurusan Administrasi Niaga, Fakultas Sosial dan Politik.

Jurusan tersebut kini bernama Administrasi Bisnis dan berada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Kampus Pleburan menjadi tempatnya belajar.

Saat itu, Undip belum menggunakan sistem kredit semester (SKS) dan masih menerapkan sistem gugur dengan mata kuliah dalam paket.

SKS baru diberlakukan pada 1976. Setiap akhir semester, kampus mengumumkan hasil yudisium
dengan dua huruf: L untuk lulus dan M untuk mengulang.

Mahasiswa tidak mengetahui berapa nilai yang diperoleh. Sudharto selalu mendapat L. Ia memiliki waktu libur lebih panjang daripada teman-temannya yang harus mengikuti ujian ulang. Ia mengisi waktu dengan pulang kampung dan membantu orang tuanya berdagang kayu.

“Nama Undip yang menyandang nama besar Diponegoro menjadi daya tarik bagi saya sejak memilih
perguruan tinggi,” katanya.

Aktif Berorganisasi
Memasuki tahun kedua, Sudharto mulai mengisi waktu luangnya dengan kegiatan kemahasiswaan. Teman-temannya menunjuknya sebagai ketua kelas.

Kepercayaan itu kemudian membawanya ke senat mahasiswa. Ia menjadi Ketua Seksi Pendidikan
sebelum akhirnya memimpin Senat Mahasiswa Fakultas Sosial dan Politik sebagai ketua umum periode 1977–1979.

Pengalaman tersebut membuatnya melihat kampus sebagai ruang belajar yang lebih luas daripada kelas. Menurut Sudharto, pembelajaran interaktif dengan studi kasus dapat melatih sikap kritis.

Namun, mahasiswa juga perlu berhadapan langsung dengan organisasi, teman, dan berbagai
persoalan agar kemampuan sosial mereka berkembang.

Kegiatan kemahasiswaan menjadi ruang untuk belajar memimpin, berkomunikasi, membangun
networking, menghargai pendapat, dan menghadapi perbedaan.

Kemampuan semacam itu tidak selalu tumbuh melalui perkuliahan. Karena itu, pengalaman berorganisasi menjadi bagian penting dalam pembentukan mahasiswa secara utuh.

Sudharto juga membandingkan sistem gugur yang pernah ia jalani dengan SKS. Sistem gugur memberi mahasiswa ruang lebih luas untuk berorganisasi, sedangkan SKS membuat mahasiswa lebih sibuk mengejar satuan kredit semester sehingga waktu untuk kegiatan di luar kelas ikut berkurang.

Menurutnya, SKS juga menimbulkan sikap compartmentalized. Mahasiswa terkotak-kotak dalam jurusan, yang kini disebut departemen, bahkan sampai ke tingkat program studi.

Mahasiswa cenderung hanya mengenal teman seangkatan dan satu program studi sehingga ruang
pergaulan lintas bidang menjadi lebih sempit. Dampaknya bukan hanya pada hubungan sosial, tetapi juga pada kemampuan yang terbentuk selama kuliah.

Lulusan mungkin memiliki kemampuan akademik atau hard skill yang baik, tetapi kemampuan
leadership, komunikasi, networking, dan kepedulian terhadap masalah bangsa dapat menjadi lebih lemah.

Bagi Sudharto, ruang belajar di luar kelas tetap diperlukan agar mahasiswa tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan sosial dan kepemimpinan.

“Melalui kegiatan kemahasiswaan, mahasiswa dapat mengembangkan kepemimpinan, komunikasi, networking, toleransi, dan kemampuan menghargai pendapat,” katanya.

Menjadi Dosen
Setelah lulus pada 1979, Sudharto menemui Rektor Undip Prof. Soedarto, S.H. Ia ingin berpamitan sekaligus menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf.

Sebagai aktivis mahasiswa, ia kerap mengikuti demonstrasi. Ia merasa perlu menyampaikan langsung
penghormatannya kepada rektor sebelum meninggalkan kampus yang telah menjadi tempatnya
belajar.

Pertemuan itu justru membawa tawaran yang tidak pernah ia rencanakan. Prof. Soedarto meminta Sudharto tetap tinggal di Undip dan menjadi dosen.

Ia pernah menjadi asisten dosen ketika mahasiswa, tetapi tidak pernah membayangkan dunia akademik sebagai jalan hidup. Namun, ia menerima tawaran tersebut dan mulai mengajar.

Pilihan itu dijalaninya pada masa ketika profesi dosen belum menjanjikan dibandingkan pilihan
karier kawan-kawannya di luar kampus.

Masa awal mengajar menghadirkan situasi yang tidak biasa. Sejumlah dosen yang menjadi koleganya pernah mengajarnya. Di depan kelas, ia juga bertemu mahasiswa yang pernah menjadi teman seangkatan bahkan kakak tingkatnya.

Situasi itu perlahan membentuk kepercayaan dirinya sebagai pengajar dan membuka jalan menuju perjalanan akademik yang lebih panjang. Sudharto kemudian melanjutkan studi master dan doktor di Kanada.

Ia tidak hanya memperdalam ilmu, tetapi juga mengenal metode pembelajaran yang lebih egaliter
dan menyenangkan. Pengalaman tersebut memperkaya cara pandangnya sebagai dosen.

Pada 1999, ia menjadi guru besar pada usia 44 tahun. Rektor Undip saat itu, Prof. Eko Budihardjo,
mengumumkannya sebagai guru besar termuda di Undip. Sebelas tahun kemudian, ia memimpin
Undip sebagai rektor.

Membangun Kebersamaan
Saat memimpin Undip, Sudharto tidak memulai perubahan dengan proyek besar. Ia lebih dahulu mengajak warga kampus membangun kedekatan melalui kegiatan sederhana.

Setiap Jumat pagi, pimpinan universitas, fakultas, lembaga, badan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa berkegiatan bersama. Mereka bersepeda, bersenam, menanam pohon, kemudian sarapan bersama.

Kegiatan tersebut berpindah dari satu unit ke unit lain. Sudharto ingin membangun kebersamaan
sekaligus menciptakan lingkungan kampus yang hijau, asri, dan nyaman.

Ia memperkenalkan Semboyan “Undip Rumah Kita” untuk menumbuhkan sense of ownership di kalangan warga kampus. Ia juga menggaungkan tiga nilai: jujur, berani, dan peduli.

Program lingkungan kemudian bergerak ke empat bidang, yakni ruang terbuka hijau, drainase, pengelolaan sampah, dan transportasi kampus.

Pada Desember 2012, KementeriannKehutanan memberikan penghargaan kampus peduli penghijauan kepada Undip dalam rangkaian Hari Menanam Nasional yang berlangsung di Jakarta dan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Awal 2013, Kementerian Lingkungan Hidup menetapkan Undip sebagai pelopor kampus berwawasan lingkungan. Pada tahun yang sama, GreenMetric menempatkan Undip di posisi ketiga nasional dan peringkat ke- 47 dunia.

Penilaian itu mencakup green building, ruang terbuka, kendaraan, energi, pendidikan lingkungan, serta drainase. Saat asesor GreenMetric dari UI mengunjungi Undip, mereka juga mengakui bahwa aspek – aspek penataan kampus di Undip sebagian besar selaras dengan kriteria GreenMetric.

“Kami ingin membangun kebersamaan sekaligus menciptakan kampus hijau, asri, nyaman, dan menumbuhkan rasa memiliki,” ungkapnya.

Menata Mutu
Sudharto mulai merintis penjaminan mutu Undip pada 2004 ketika menjabat pembantu rektor bidang akademik, jabatan yang kini bernama wakil rektor.

Ia mempelajari berbagai sistem dari sejumlah perguruan tinggi, termasuk UGM yang lebih dahulu
menjalankannya. Tim kemudian menyusun kebijakan akademik, standar mutu, dan perangkat
organisasi penjaminan mutu.

Pada 1 Februari 2006, Undip mendeklarasikan sistem penjaminan mutu. Bagi Sudharto, dokumen dan perangkat yang mereka susun menjadi bagian penting dari pekerjaannya sebagai pembantu rektor bidang akademik.

Sistem tersebut kemudian terus berkembang dan membantu Undip membangun pengelolaan akademik yang lebih terarah. Pada 2013, ketika Sudharto menjadi rektor, Undip mengajukan
akreditasi institusi dan memperoleh peringkat A, setelah sebelumnya meraih peringkat B pada 2008.

Pada periode yang sama, Undip mengikuti penilaian untuk memperoleh status Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Penilaian mencakup publikasi internasional, akreditasi, keuangan, kinerja badan layanan umum (BLU), kepatuhan hukum, dan prestasi mahasiswa.

Dalam penilaian akhir 2013, Undip mencatat 750 karya ilmiah internasional dosen, akreditasi institusi A, dan sekitar 80 persen program studi dengan akreditasi A.

Undip juga mencatat laporan keuangan wajar tanpa pengecualian (WTP), tidak memiliki persoalan
hukum, prestasi mahasiswa pada Pimnas di peringkat keenam, serta kinerja BLU sebagai peringkat kedua terbaik secara nasional.  Rangkaian indikator itu mengantarkan Undip memperoleh status PTN-BH.

“Dokumen mutu beserta seluruh perangkatnya menjadi salah satu warisan saya sebagai pembantu rektor bidang akademik,” ungkapnya.

Peringkat Terus Meningkat Teruskan Pengabdian di USM

Lebih dari satu dekade setelah meninggalkan kursi rektor, Sudharto masih mengikuti perkembangan Undip. Ia melihat sejumlah gagasan yang pernah dirintisnya terus
berkembang. Lingkungan kampus kini memiliki lebih banyak taman dan ruang hijau. Gagasan “Undip Rumah Kita” juga tetap hadir dalam berbagai bentuk di sejumlah kawasan kampus.

Dalam pemeringkatan GreenMetric, Undip kini berada di peringkat kedua nasional. Taman Undip Rumah Kita pun terus berkembang dan tersebar di berbagai penjuru kampus.

Perubahan juga terlihat dalam sistem transportasi internal. Undip menyediakan bus kampus dan golf
car untuk menghubungkan berbagai unit di lingkungan kampus.

Di bidang akademik, sejumlah program studi Undip telah masuk dalam rentang peringkat 150–200
dunia dalam pemeringkatan tertentu.

Posisi Undip dalam berbagai pemeringkatan internasional juga terus berubah dan kini mendekati 500 besar dunia dalam pemeringkatan World Class University.

Sejumlah ilmuwan Undip juga telah masuk dalam jajaran ilmuwan kelas dunia. Di tingkat nasional, Undip berada di peringkat kelima atau keenam perguruan tinggi terbaik, sementara jumlah peminatnya menempati posisi pertama atau kedua.

Dari sisi penyerapan lulusan, Undip juga berada di peringkat pertama dalam hal kecepatan lulusan memperoleh pekerjaan. Kebanggaan Sudharto terhadap Undip berawal dari sebuah pengalaman yang tidak pernah ia rencanakan.

Ketika menjadi mahasiswa pada 1974, ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari akan memimpin almamaternya. Setelah menyelesaikan tugas sebagai rektor, pengabdiannya kepada
Undip pun tidak berhenti.

Setelah purnatugas, ia masih diminta untuk terus mengabdikan diri di Undip. Kini, ia melanjutkan pengabdiannya melalui Yayasan Alumni Undip.

“Rasanya berat untuk menolak. Saya lahir dan besar di Undip, almamater ini segalanya bagi saya,”
tandasnya.

Membangun Sistem
Pada 2021, Sudharto mulai menjalankan tugas sebagai Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip, badan penyelenggara Universitas Semarang (USM).

Ia melihat USM sudah memiliki sarana dan prasarana yang cukup lengkap, mulai dari ruang kuliah, laboratorium, perpustakaan, fasilitas olahraga, gedung pertemuan, ruang rapat, hingga museum.

Karena itu, ia mengarahkan perhatian pada pembenahan sistem. Ia merumuskan perubahan melalui satu prinsip: program follows money harus berubah menjadi money follows program.

Artinya, program menentukan arah penggunaan anggaran. Yayasan kemudian mengukur kinerja melalui indikator kinerja utama. Setiap tahun, rektor menandatangani kontrak dengan yayasan yang memuat program dan target capaian.

Sistem tersebut berjalan secara berjenjang. Rektor meneruskannya kepada dekan, dekan kepada
ketua jurusan, lalu ketua jurusan kepada dosen.

Pada 2025, USM meraih akreditasi institusi Unggul. Sejumlah program studi juga terus meningkatkan akreditasinya hingga mendekati angka 50 persen.

Yayasan sekaligus mengembangkan unit pendapatan seperti Language and Cultural Centre, YAU Unggul Bersama, Radio dan TV USM, serta Poliklinik USM.

Unit-unit tersebut merupakan bagian dari revitalisasi revenue generating activities. Lembaga Bahasa bertransformasi menjadi Language and Cultural Centre, sedangkan Unit Pengelola Aset menjadi YAU Unggul Bersama.

Pendapatan dari unit-unit tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kuantitas dan
kualitas sarana serta prasarana pembelajaran.

Sudharto melihat pengabdiannya di Undip sebagai bagian dari kehidupan yang terus berjalan. Ia menilai perguruan tinggi tidak cukup hanya menyiapkan lulusan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Kampus juga perlu menghasilkan pemikiran, membaca persoalan bangsa, dan mengambil peran
dalam merespons berbagai masalah aktual dan kritis yang
muncul di masyarakat.

“Perguruan tinggi harus menjadi pusat pemikiran, bahkan trend setter dalam merespons masalah
aktual dan kritis bangsa,” tuturnya.

Artikel Terkait