Prof. Dr. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin. Rektor Universitas Airlangga (Unair)

Prof. Dr. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin. – Memimpin Transformasi Menuju Dampak Global

Share

Rektor Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Muhammad Madyan SE MSi MFin, fokus mengarahkan kampusnya menuju visi World-Class Entrepreneurial University yang berkelanjutan dan berdampak. Antara lain mengutamakan tiga pilar utama, kualitas lulusan, peningkatan kompetensi akademik, dan tata kelola yang strategis.

Salah satu dampaknya pencapaian terbaru Unair, termasuk posisi peringkat 287 dunia QS WorldUniversity Rankings (WUR). Semua ini tercapai antara lain karena peran para guru besar, yang mempunyai kompetensi akademik dan tanggung jawab moral untuk terus berkarya, membimbing, dan menginspirasi.

Di sisi lain Rektor terus berinteraksi langsung dengan mahasiswa. Misalnya kegiatan “Duduk Bareng Rektor”, menjadi ruang dialog terbuka, menunjukkan komitmen Rektorat terhadap keterbukaan informasi dan pelibatan mahasiswa dalam tata kelola kampus.

Prof. Madyan juga menekankan perlunya perencanaan anggaran yang presisi dan sinkron dengan arah kebijakan strategis Unair, terutama dalam konteks transformasi menuju status World-Class Entrepreneurial University.

Unair berhasil meraih Peringkat 1 Nasional untuk Environmental Research dan Health & Wellbeing, yang menunjukkan perannya yang akuntabel dalam riset dan tata kelola institusi yang bertanggung jawab.

“Pengakuan global menegaskan keunggulan Unair tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam dedikasi terhadap keberlanjutan lingkungan dan dampak sosial,” katanya.

Fase Baru
Prof. Madyan resmi menjabat sebagai Rektor Universitas Airlangga (Unair) pada 17 Juni 2025 untuk periode 2025–2030.

Pengangkatannya menandai babak baru bagi Unair sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) yang menuntut tata kelola modern serta penguatan kapasitas akademik dan kelembagaan.

Ia kerap menekankan pentingnya efektivitas, efisiensi, dan mutu terukur sebagai fokus utama di setiap proses universitas. Kepemimpinannya hadir di tengah dinamika global pendidikan tinggi yang ditandai dengan meningkatnya standar kompetisi, tuntutan akuntabilitas, dan relevansi universitas terhadap kebutuhan masyarakat.

Berlandaskan prinsip “Excellence with Morality” yang memadukan keunggulan akademik dan integritas moral, ia membangun budaya kerja, tata kelola, dan orientasi akademik di seluruh unit dan fakultas.

Menurutnya, keunggulan tanpa moralitas tidak cukup untuk membentuk institusi yang berkelanjutan. Salah satu fokus utamanya adalah transformasi institusional melalui penyederhanaan dan efektivitas business process, penguatan sistem digital, serta modernisasi tata kelola.

Penyempurnaan proses dilakukan demi memastikan layanan akademik dan administrasi berjalan lebih cepat, terukur, dan akuntabel. Prof. Madyan menegaskan bahwa dalam bidang akademik, penguatan riset dan inovasi menjadi prioritas utama.

Agenda ini mencakup peningkatan kapasitas laboratorium, perluasan kolaborasi riset nasional dan internasional, penguatan pusat unggulan, serta pemanfaatan hasil riset untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan industri.

Ia kerap menekankan pentingnya membangun ekosistem riset yang produktif dan kolaboratif, dengan prinsip bahwa riset harus berkembang dari sekadar publikasi menuju pemanfaatan nyata

Dalam konteks daya saing, kebijakan difokuskan pada peningkatan kinerja institusi di tingkat nasional dan global melalui penguatan kualitas pengajaran, peningkatan kompetensi dosen, internasionalisasi kurikulum, pengembangan program akademik berstandar global, dan kerja sama strategis dengan mitra luar negeri.

Tujuan akhirnya adalah memastikan setiap program studi memiliki karakter unggul dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan industri.

Selama lima tahun kepemimpinannya, arah besar Universitas Airlangga berfokus pada tiga pilar utama: penguatan kualitas akademik, konsolidasi tata kelola modern, dan peningkatan kontribusi institusi bagi pembangunan nasional, demi menjadikan Unair lebih adaptif, responsif, dan kompetitif di tengah dinamika pendidikan tinggi global.

Keunggulan Akademik
Universitas Airlangga memiliki identitas akademik yang berlandaskan prinsip “Excellence with Morality”, yaitu keseimbangan antara prestasi akademik dan integritas etika. Prinsip ini diterapkan dalam seluruh kegiatan tridarma, sehingga mutu akademik selalu sejalan dengan tanggung jawab moral lembaga.

Prof Madyan sering menegaskan bahwa moralitas adalah fondasi yang memastikan kualitas akademik tetap berada dalam koridor etika ilmiah.

Mutu pendidikan menjadi prioritas utama Unair, dengan setiap program studi diarahkan untuk memenuhi standar nasional dan internasional melalui penguatan kurikulum, pembaruan metode pembelajaran, dan sistem evaluasi yang diperkuat.

Proses penjaminan mutu dilakukan bertahap dan sistematis untuk memastikan kompetensi lulusan sesuai kebutuhan masyarakat, profesi, dan industri.

Kapasitas dosen dan tenaga kependidikan turut mendukung keberlanjutan mutu akademik, dengan universitas menyediakan pelatihan, studi lanjut, kolaborasi riset, serta pertukaran akademik bersama institusi mitra.

Ekosistem belajar diperkuat lewat laboratorium yang terus ditingkatkan, pusat inovasi, perpustakaan digital, dan pemanfaatan teknologi. Dalam riset, Unair unggul di bidang kesehatan, lingkungan, dan sosial-ekonomi.

Bidang kesehatan berkontribusi besar lewat penelitian klinis, teknologi kesehatan, dan publikasi ilmiah relevan bagi kebutuhan nasional.

Sementara itu, riset sosial-ekonomi dan lingkungan berkembang melalui pusat studi yang bermitra dengan pemerintah dan organisasi internasional.

Keunggulan akademik Unair juga tampak pada pengabdian masyarakat yang berjalan sistematis, seperti program kesehatan, pendampingan sosial, dan layanan konsultasi kebijakan dilaksanakan melalui kolaborasi fakultas dan pusat studi.

Pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan publik menjadikan pengabdian masyarakat sebagai bagian integral dari penguatan karakter akademik universitas.

Kombinasi nilai moralitas, mutu pembelajaran, kapasitas riset, dan konsistensi dalam layanan publik membentuk diferensiasi Unair dalam peta perguruan tinggi Indonesia.

Struktur akademik, SDM, dan fasilitas yang berkembang memberikan dasar kuat untuk memperluas cakupan pendidikan, penelitian, dan pengabdian secara berkelanjutan.

PTN Favorit
Minat pendaftar ke Universitas Airlangga terus menunjukkan tren peningkatan di berbagai jalur seleksi seperti SNBP, SNBT, dan Seleksi Mandiri. Pertumbuhan ini mencerminkan tingginya kepercayaan publik terhadap kualitas akademik, kenyamanan fasilitas, dan prospek lulusan Unair.

Tren positif ini konsisten dalam beberapa tahun terakhir, memperkuat posisi Unair sebagai salah satu PTN dengan daya tarik besar.

Peningkatan minat ini diimbangi dengan penataan ulang kapasitas penerimaan mahasiswa secara terencana, dengan penambahan daya tampung pada program studi yang banyak dibutuhkan masyarakat, khususnya di bidang kesehatan, sains terapan, manajemen, dan ilmu sosial.

Meski daya tampung bertambah, standar seleksi dan mutu akademik tetap dijaga melalui mekanisme penilaian yang ketat. Rumpun Sains dan Teknologi (Saintek) memiliki tingkat persaingan tinggi,

terutama di kedokteran, keperawatan, farmasi, dan beberapa prodi sains dasar, menegaskan reputasi Unair sebagai salah satu pusat pendidikan kedokteran terbaik di Indonesia.

Pada rumpun Sosial dan Humaniora (Soshum), prodi seperti manajemen, akuntansi, psikologi, komunikasi, dan hubungan internasional juga sangat diminati berkat reputasi akademik, kualitas dosen, serta keterkaitan kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja.

Selain program studi, faktor lain yang membuat Unair menjadi PTN favorit adalah stabilitas mutu akademik, fasilitas pembelajaran yang memadai, reputasi riset, jaringan kerja sama internasional, dan peluang mobilitas mahasiswa.

Saat ini, Unair memiliki lebih dari 40.000 mahasiswa aktif yang tersebar di 16 fakultas dan 1 sekolah pascasarjana.

Komposisi jenjang pendidikan meliputi Diploma 3 (4,31%), Diploma 4 (10,84%), Sarjana (S1, 61,53%), Magister (S2, 9,02%), Doktor (S3, 4,04%), Profesi (5,69%), Spesialis (4,18%), dan Subspesialis (0,39%).

Mahasiswa Unair berasal dari hampir seluruh wilayah Indonesia dan berbagai negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika, didukung oleh lebih dari 2.000 dosen akademik serta lebih dari 2.000 tenaga kependidikan.

Unair juga memiliki lebih dari 108.000 alumni yang berkiprah di berbagai sektor profesional. Berdasarkan QS Graduate Employability, reputasi Unair dalam menghasilkan lulusan unggul menempati peringkat ke-95 dunia.

Tracer study dan survei internal menunjukkan rata-rata lulusan S1 memperoleh pekerjaan pertama dalam waktu tiga bulan. Alumni Unair menduduki berbagai posisi strategis di pemerintahan, perbankan, kementerian, serta perusahaan nasional dan internasional.

Rekam jejak alumni, stabilitas kinerja akademik, kekuatan jaringan, dan konsistensi mutu pendidikan membentuk kepercayaan masyarakat, menjadikan Unair salah satu pilihan utama dalam penerimaan mahasiswa baru.

Fokus Akreditasi Internasional Target Capai 300 Besar Dunia

Universitas Airlangga menetapkan arah pengembangan jangka menengah yang berfokus pada peningkatan daya saing global melalui penguatan kinerja akademik, riset, dan tata kelola institusi.

Target utama dalam orientasi strategis adalah meningkatkan posisi di pemeringkatan internasional, termasuk masuk ke jajaran Top 500 QS World University Rankings, serta memperluas pengakuan global melalui berbagai indikator kinerja.

Menurut Prof. Muhammad Madyan, peningkatan peringkat internasional mencerminkan kualitas internal universitas. Ia menegaskan bahwa capaian Unair di QS WUR menunjukkan ketangguhan, adaptabilitas, dan daya saing tinggi di tingkat dunia.

Unair konsisten meraih peringkat tinggi, baik nasional maupun internasional, di berbagai pemeringkatan bergengsi seperti QS World University Rankings dan Times Higher Education.

Pada QS Asian University Rankings 2025, Unair berada di peringkat 2 nasional dan 12 di Asia Tenggara. Prestasi ini menjadi bukti pengakuan atas kualitas pengajaran, riset, reputasi lulusan di mata pemberi kerja, serta jaringan riset dan mahasiswa internasional.

Ke depan, Unair akan terus mendorong kolaborasi global untuk memperluas dampaknya. Dalam Webometrics 2025, Unair bersama Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada menjadi tiga perguruan tinggi Indonesia yang berhasil masuk 600 terbaik dunia.

Dalam konteks akreditasi, Unair menargetkan mempertahankan Akreditasi Institusi Unggul sekaligus meningkatkan jumlah program studi yang meraih akreditasi internasional.

Kerja sama dengan lembaga penjaminan mutu global seperti FIBAA, ASIIN, AQAS, ABEST21, dan RSC difokuskan pada audit mutu, penyelarasan kurikulum, serta penjaminan kompetensi lulusan sesuai standar internasional.

Upaya ini didukung dengan penguatan dokumentasi mutu dan konsistensi pemantauan di tingkat fakultas dan program studi. Prof. Madyan menegaskan pentingnya konsistensi tersebut, dengan menyatakan bahwa pencapaian institusional adalah hasil dari proses yang baik, konsisten, dan berkelanjutan.

Penerapan standar akademik internasional dipertegas melalui pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), dengan target penyempurnaan capaian pembelajaran, peningkatan kesiapan dosen dalam mengelola kurikulum, dan perluasan integrasi teknologi pembelajaran.

Digitalisasi proses akademik dan layanan administrasi menjadi kunci untuk memastikan efisiensi dan kepastian layanan, sekaligus memperkuat keselarasan kurikulum dan pembelajaran dengan standar profesi, industri, dan kebutuhan global.

Dalam bidang riset dan inovasi, Universitas Airlangga menargetkan peningkatan jumlah paten, paten granted, serta komersialisasi hasil riset yang relevan dengan kebutuhan nasional. Fokus riset diarahkan pada bidang unggulan seperti kesehatan, bioteknologi, lingkungan, dan ilmu sosial-ekonomi.

Prof. Madyan juga menyoroti pentingnya publikasi dan kolaborasi riset dalam mendorong reputasi internasional, mencatat bahwa publikasi Unair meningkat pesat dari sekitar 140 per tahun pada 2015 menjadi lebih dari 3.200 per tahun saat ini, sebagai bukti peningkatan kapasitas riset institusi.

Artikel Terkait