Menurut data BPS tahun 2025, jumlah mahasiswa aktif di Indonesia (S1-S3) mencapai 9,9 juta. Mayoritas mahasiswa S1 sebanyak 8,2 juta. Mereka tersebar
di 127 perguruan tinggi negeri (PTN) sebanyak 4,4 juta dan selebihnya tersebar di 2.700 perguruan tinggi swasta (PTS).
Tahun ini, berdasarkan catatan Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) tercatat sebanyak 860 ribu lebih calon mahasiswa yang akan mengkuti Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) untuk masuk PTN.
Pendaftarannya sampai 7 April mendatang dan dan tes Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk masuk jalur itu, dilaksanakan pada 21 – 30 April 2026. Dari jumlah itu hanya sekitar 248.000 yang diterima sebagai mahasiswa baru PTN Jalur lain, Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP), tercatat diikuti oleh 34.000 pendaftar.
Dari mereka, akan diambil hanya sekitar 4.000 an mahasiswa baru. Mereka yang tidak bisa masuk ke PTN akan melimpah ke PTS. Jumlahya lebih dari 650 ribu calon mahasiswa.
Tapi itu data di atas kertas. Faktanya, secara umum PTS kesulitan mendapatkan calon calon mahasiswa. Rata-rata perolehan mahasiswanya setiap tahun menurun sekitar 20% Persaingan ketat sekali.
Tidak hanya antar-PTS, kompetisi itu juga terjadi dengan PTN yang sangat agresif mendapatkan mahasiswa baru, khususnya lewat jalur mandiri. Kondisi ini membuat pemerintah berusaha menahan agresivitas PTN untuk meraup mahasiswa, dan membuat iklim persaingan menjadi lebih sehat.
Mengapa Animo Tinggi
Mengapa animo lulusan SLTA untuk menjalani pendidikan di perguruan tinggi, khususnya PTN, demikian tinggi. Bukankah di era internet ini banyak sekali peluang bagi anak anak muda membekali diri, baik melalui You Tube, Instagram, Facebook, dan media berbasis internet lainnya?
Untuk “menjadi orang” anak anak lulusan SLTA tidak hanya menjadi mahasiswa dan lewat bangku perguruan tinggi. Beberapa tokoh bisa ditunjuk sebagai contoh atau modelnya. Di masa lalu, ada nama-nama besar yang tidak pernah merasakan bangku universitas.
Sebut saja Bapak Haji Agoes Salim – guru politik Soekarno–, Adam Malik yang pernah menjadi Wakil Presiden, Susi Pudjiastuti yang pernah menjadi Menteri, juga penyanyi Anggun C Sasmi.
Dari sudut pandang masyarakat masa kini, di mana lembaga lembaga pendidikan tinggi banyak tersedia, pilihan “tidak sekolah” sebagaimana yang dilakukan Susi maupun Anggun, bukanlah hal yang lumrah.
Susi Pudjiastuti pun mengakuinya. Apa yang dilakukannya, yaitu tidak menyelesaikan SMA, adalah hal tidak ideal dan tidak patut ditiru. Dan hal itu juga tidak diterapkan pada anak anaknya. Karena memang sangat sulit. “Harus berdarah darah menjalaninya.”
Animo yang besar untuk merasakan pendidikan tinggi adalah hal yang paling lumrah. Paling normal. Tentu saja selama para calon mahasiswa layak untuk mendapatkannya. Ada dua ukuran kelayakan itu.
Pertama, intelektualitasnya. Calon mahasiswa dianggap layak menjalani masa perkuliahan di perguruan tinggi setelah lulus seleksi yang diikutinya. Baik seleksi tanpa test, karena prestasi yang dimilikinya, maupun seleksi berbasis test.
Kedua, kelayakan ekonomi. Bagaimanapun, pendidikan tinggi berbiaya. Tapi kendala atas kelayakan ini bukan menjadi halangan yang besar bagi calon mahasiswa yang tingkat intelektualitasnya memang tinggi.
Jika ada kendala dalam hal ini, calon mahasiswa bisa mendapatkan pembiayaan, yaitu beasiswa, yang
beraneka ragam sumbernya, baik dari pemerintah maupun perusahaan perusahaan swasta.
Kekuatan Jaringan
Pertanyaan berikutnya, apa yang didapat dengan menjalani pendidikan di perguruan tinggi? Banyak hal, tentu saja. Selain ilmu pengetahuan dan keterampilan, juga ketahanan selama menjalani pendidikan.
Ibarat atlet, ketahanan dalam berlatih sangat penting untuk mendapatkan prestasi saat lomba. Prestasi pada mahasiswa adalah nilai akademik yang diperolehnya Jaringan pertemanan, jejaring profesi, dan informasi, juga hal penting lain yang tidak bisa diabaikan.
Banyak lulusan perguruan tinggi yang kemudian mendapatkan posisi penting di pemerintahan, di perusahaan BUMN, di dunia perbankan, di dunia politik, atau juga di dunia bisnis, boleh jadi karena kemampuannya memanfaatkan jaringan jaringan itu.
Intinya adalah ada ke-salingpercaya-nya di antara pihak pihak yang berinteraksi di dalam jejaring itu. Kematangan pribadi adalah hal penting lainnya. Di kampus, mahasiswa berinteraksi dengan civitas akademika lain yang beragam.
Dalam interaksi itu kematangan pribadi diasah. Kapan harus unjuk diri, kapan harus sabar menahan diri, bagaimana berorganisasi, bagaimana bernegosiasi, bagimana memotivasi diri sendiri dan sesama teman, semua menentukan kematangan pribadi mahasiswa.
Kematangan itu penting untuk menjalani tahap tahap kehidupan selanjutnya. Pendidikan tinggi sangat penting. Setidaknya itu pandangan mainstream masyarakat.
Ijasah, Sebagai penanda keberhasilan menjalani masa kuliah dan ujian perguruan tinggi, menjadi salah satu tolok ukurnya. Ijasah semakin menjadi persyaratan yang vital di banyak bidang.
Sekalipun tentu saja itu bukan satu satunya penentu keberhasilan dalam menjalani hidup. Bagaimana jika –karena banyak faktor— anak muda tidak bisa menjadi mahasiswa di perguruan tinggi?
Menjalani pendidikan tinggi ibarat menapak anak tangga untuk mencapai taraf kehidupan yang lebih tingi. Tetapi jangan lupa, ada banyak tangga lain yang bisa dinaiki.
Lebih sulit, lebih menyakitkan, dan lebih berdarah darah, tentu saja. Tetapi siapa tahu, yang sulit itu, justru menjadi faktor penentu untuk menggapai taraf
kehidupan yang lebih tinggi dan membah agiakan. Intinya, “Jangan pernah menyerah.”
***














