Perjalanan kariernya berubah ketika ia ditawari menjadi asisten dosen saat menempuh S1 di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta.
Meski awalnya ragu karena merasa tidak memiliki latar akademik, dorongan dari Dekan saat itu membuatnya mencoba. Dari peran tersebut, ia mulai menikmati proses mengajar dan melihat bahwa pengalaman bisnisnya relevan untuk mata kuliah manajemen, strategi, dan kewirausahaan.
Tahap penting lain muncul saat ia menjadi PNS di Kementerian Pertahanan. Pengalaman ini mengenalkannya pada birokrasi,
manajemen organisasi besar, serta kedisiplinan khas militer. Ia juga terlibat dalam kajian strategi dan analisis keamanan, yang
memperkuat kemampuan berpikir sistemik dan analitis.
Titik balik terbesar terjadi ketika ia ditugaskan ke Timor Timur. Di sana ia berhadapan dengan situasi sosial-politik yang kompleks
dan melihat langsung dampak kebijakan pembangunan terhadap masyarakat.
Ia terlibat dalam implementasi dan evaluasi program transmigrasi, yang memberinya wawasan tentang dinamika sosial, adaptasi komunitas, dan tantangan pembangunan lintas budaya. Pengalaman lapangan ini membangkitkan minatnya pada penelitian ilmiah.
Di Timor Timur, ia juga memperluas jaringan profesional dan memperoleh pemahaman tentang pembangunan regional. Pengalaman tersebut menjadi fondasi riset yang ia kembangkan di tingkat pascasarjana dan mengarahkan kariernya sepenuhnya ke dunia akademik.
“Pengalaman lapangan yang kaya ini menjadi inspirasi untuk tesis dan disertasi yang saya tulis di kemudian hari,” katanya.
Studi di Unair
Setelah pengalaman di Timor Timur, Prof. Irhas memutuskan mengambil langkah serius dalam mengembangkan karier akademiknya. Pendidikan pascasarjana dilanjutkan di Universitas Airlangga (Unair), salah satu universitas terkemuka di Indonesia dengan reputasi kuat di bidang ilmu sosial.
Program magister (S2) menjadi wadah untuk mengasah kemampuan analitis dan metodologis. Ia mendalami teori-teori ilmu sosial, metodologi penelitian kualitatif dan kuantitatif, serta konsep-konsep strategi pembangunan terbaru.
Masa studi S2 juga menjadi periode di mana ia mulai menemukan ruang akademiknya dan mengembangkan perspektif unik dalam melihat isu-isu pembangunan.
Keberhasilan menyelesaikan program S2 membuka jalan untuk melanjutkan ke jenjang doktoral (S3). Program doktoral memberinya kesempatan melakukan riset yang lebih mendalam dan orisinal dibidang spesialisasinya. Disertasi yang ditulis menjadi landasan fundamental bagi kontribusinya di bidang studi pembangunan dan strategi.
Proses menempuh pendidikan S2 dan S3 tidak mudah. Ia harus membagi waktu antara tugas profesional sebagai PNS Kemhan dan kewajiban akademik sebagai mahasiswa pascasarjana.
Spesialisasi Strategi
Salah satu ciri Prof. Irhas sebagai akademisi adalah spesialisasinya dalam bidang ilmu strategi. Pilihan ini jarang bagi latar belakang sosial humaniora, namun menunjukkan kemampuannya berpikir lintas disiplin.
Pengalaman tersebut memberinya perspektif tentang pentingnya strategi dalam mengelola organisasi dan menyelesaikan masalah kompleks. Ia menyadari bahwa teori strategi konvensional sering kurang relevan bila diterapkan pada pembangunan masyarakat dan negara berkembang.
Disertasi doktoralnya fokus pada pengembangan kerangka kerja strategis yang sesuai konteks Indonesia. Ia meninjau berbagai model strategi Barat dan mengadaptasinya dengan kondisi sosial, politik, dan ekonomi nasional.
Sintesis antara teori dan praktik ini menjadi ciri khas kontribusinya. Spesialisasi ini membuka peluang konsultasi dengan berbagai institusi, pemerintah maupun swasta, karena keahliannya dalam merumuskan strategi organisasi dan pembangunan regional membuatnya menjadi konsultan akademik yang banyak dicari.
Setelah membangun fondasi keilmuan, ia mengembangkan jaringan kolaborasi dengan berbagai institusi ternama. Salah satu kerja sama penting adalah dengan Bank Indonesia (BI), yang membutuhkan analisis komprehensif terkait stabilitas ekonomi nasional.
Karakter Unik
Puncak perjalanan karier Prof. Irhas tercapai saat ia terpilih dan dilantik sebagai Rektor UPN Veteran Yogyakarta. Pencapaian ini menandai transformasi penuh dari praktisi lintas disiplin menjadi pemimpin institusi pendidikan tinggi yang dihormati.
Ia menjelaskan, UPN Veteran Yogyakarta memiliki karakter unik dengan ikatan historis pada dunia veteran dan pembangunan nasional.Latar belakangnya yang pernah terlibat di Kemhan serta pemahamannya terhadap isu pertahanan dan pembangunan nasional membuatnya tepat memimpin universitas ini.
Tantangan utama muncul dari status kepegawaian. Pada awalnya, pimpinan dan staf terdiri dari purnawirawan, anggota TNI/Polri aktif, PNS Kemhan, dan pegawai yayasan. Saat UPN resmi beralih status, seluruh unsur TNI/Polri dan PNS Kemhan ditarik keluar.
“Jadi terjadi posisi yang menggantung, bukan PNS, pegawai swasta juga bukan,” katanya.
Ketidakjelasan ini berdampak pada kualitas akademik dan akreditasi. Sekitar 70 persen dosen yang saat itu berstatus swasta merupakan PNS Kemhan, namun mereka tidak diakui sebagai dosen oleh Kemdikbudristek.
Melalui perjuangan panjang, UPN akhirnya berhasil meraih akreditasi Unggul dari BAN-PT. PNS Kemhan dialihkan menjadi PNS Kemdikbudristek, aset dilimpahkan secara bertahap, dan SDM ditata ulang melalui pemetaan jabatan, perencanaan SDM, pengembangan karier, serta penyesuaian kompensasi.
“Pegawai yayasan yang beralih menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) tetap mengikuti upaya strategis untuk memenuhi sembilan indikator akreditasi unggul,” katanya.
BANKampus Bela Negara Menjadi Ikon Utama
Salah satu keunikan UPN Veteran Yogyakarta terletak pada visi dan misinya, yang disusun secara konsensus bersama
dua kementerian, yaitu Kemhan dan Kemdikbudristek. Visi tersebut menempatkan UPN sebagai perguruan tinggi pionir pembangunan yang dilandasi nilai bela negara di era global.
Proses penyusunan visi dan misi sempat menimbulkan pertanyaan karena tidak mengikuti pola lazim yang melibatkan banyak pemangku kepentingan. Namun, dengan landasan hukum berupa Perpres, statuta, dan Peraturan Menteri, keberlangsungan dan legalitasnya tetap terjamin.
“Awalnya agak bingung juga, kok cara penyusunan UPN tidak lazim,” kenangnya.
Nilai-nilai bela negara menjadi fondasi utama yang membedakan UPN dari perguruan tinggi lain di Indonesia. Warisan para pejuang terus dijaga meski kampus berpindah kewenangan dari Kemhan ke Kemdikbudristek, dan penempatan bela negara dalam Peraturan Presiden No. 121 tentang pendirian UPN menjadi bukti nyata komitmen tersebut.
Bela negara diwujudkan dalam seluruh aspek kehidupan kampus secara komprehensif. Mulai dari seleksi mahasiswa baru hingga tatakelola, nilai ini ditanamkan secara sistematis.
UPN membuka jalur prestasi khusus berbasis kapasitas pilihan negara dan menempatkan mahasiswa penerima jalur tersebut di organisasi kemahasiswaan strategis seperti Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA), Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR), dan Pramuka.
“Nilai ini juga tercermin pada bangunan, kurikulum, dan perilaku civitas akademika, dengan Kepala Pusat Pengembangan Bela Negarasebagai bukti institutionalisasinya,” jelasnya.
Fokus Energi
Prof. Irhas menjelaskan, selain mengedepankan kekuatan nilai, UPN Veteran Yogyakarta juga fokus membangun kompetensi unggul di bidang energi, baik fosil maupun renewable, berbeda dengan perguruan tinggi lain yang banyak menonjolkan bidang kedokteran.
Fokus pada energi dan penguatan nilai bela negara berdampak signifikan terhadap daya tarik kampus. Jumlah pendaftar meningkat dari sekitar 12.000 saat UPN masih berstatus swasta menjadi lebih dari 66.000 pada tahun terakhir, meskipun hanya 6.000 yang diterima.
Saat ini, jumlah mahasiswa aktif di UPN berkisar antara 23.000 hingga 25.000 orang, dengan dinamika yang fluktuatif mengikuti proses wisuda yang dilakukan hingga enam kali setahun.
“Kesuksesan ini tidak terlepas dari peran aktif seluruh elemen UPN sebagai ‘pemasar’ alami kampus,” katanya.
UPN Veteran Yogyakarta kini berdiri sebagai perguruan tinggi negeri yang semakin kokoh dengan identitas kuat, ditopang oleh 35 program studi yang tersebar dalam lima fakultas. Hampir separuh dari seluruh program studi telah meraih akreditasi Unggul dari BAN PT, tepatnya 17 prodi, sementara beberapa lainnya sedang dalam proses akreditasi.
Keberhasilan UPN dalam meraih pengakuan internasional juga patut diperhitungkan. Seluruh program studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), meliputi Administrasi Bisnis, Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, Manajemen Komunikasi, dan Sistem Informasi, telah mendapatkan akreditasi internasional.
Kolaborasi dan Inovasi
UPN Veteran Yogyakarta secara proaktif menciptakan inisiatifnya sendiri, termasuk program double degree di Magister Manajemen dan kolaborasi kuliah bersama di bidang Manajemen serta Perminyakan. Salah satu kemitraan yang paling intensif dilakukan dengan China University of Mining and Technology (CUMT), berfokus pada bidang teknologi mineral dan energi, terutama melalui Fakultas Teknologi Mineral dan Energi.
“Kolaborasi ini mencakup riset bersama, konferensi ilmiah, hingga pertukaran dosen.” Katanya.
Kemitraan juga terjalin luas dengan berbagai perguruan tinggi di kawasan ASEAN, seperti Universiti Putra Malaysia (UPM), Politeknik Singapura, dan sejumlah perguruan tinggi di Filipina. Selain itu, UPN terlibat dalam jejaring yang dikoordinasikan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri, termasuk kerja sama riset dengan institusi di Thailand.
Saat ini, universitas ini sedang merintis kolaborasi dengan perguruan tinggi di Jepang, khususnya Hokkaido, dengan memanfaatkan jaringan alumni yang pernah menempuh studi di sana sebagai jembatan kerja sama.
Fasilitas kampus mengalami perubahan besar melalui master plan berbasis smart campus yang mengintegrasikan smart building,smart lighting, smart classroom, dan smart library.
Seluruh infrastruktur didukung oleh data center Tier 4 dan common center untuk decision support system, menjadikan UPN sebagaikampus digital yang efisien dan responsif.
“Tetapi modernisasi ini tidak mengorbankan identitas. Semua pembangunan dirancang dengan standar smart, bela negara, dan greencampus,” katanya.
Lulusan Unggul
Kunci keberhasilan UPN Veteran Yogyakarta terletak pada karakter lulusannya yang tidak hanya unggul secara keilmuan tetapi jugatahan banting. Kombinasi antara kompetensi teknis dan ketangguhan mental yang dibentuk dari pendidikan berbasis bela negara menjadi nilai unik yang membuat perusahaan memilih lulusan UPN.
UPN membangun pendidikan berdasarkan tiga pilar utama yaitu nilai, kompetensi, dan responsivitas terhadap perubahan. Pendekatanini membuktikan bahwa perguruan tinggi dapat unggul sambil mempertahankan jati diri yang kuat, bahkan di tengah persaingan ketat di Yogyakarta.
Jejak alumni semakin menguatkan posisi ini karena lulusan UPN menempati posisi strategis di perusahaan besar seperti Pertamina,Mind ID, PLN, ADARO, dan Bukit Asam. Hampir semua sektor strategis energi dan pertambangan memiliki kontribusi lulusan UPN, sehingga keberadaan mereka di industri energi sangat terasa.
Selain di sektor energi, alumni UPN hadir di posisi kunci pemerintahan dan industri strategis lainnya. Di antaranya adalah Wakil Gubernur DIY Paku Alam, Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Wakil Wali Kota Yogyakarta, dan Bupati Sleman, yang semuanya merupakan lulusan UPN dan memegang peran penting dalam pengambilan keputusan daerah serta pengelolaan pembangunan.














