Diangkat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi pada 6 Januari 2025, ia tidak hanya mengurusi regulasi dan akreditasi, tetapi aktif menjangkau kampus-kampus, meninjau langsung kondisi mahasiswa,dan memastikan program-program strategis seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Dengan visi yang menggabungkan tata kelola, kualitas akademik, dan pemberdayaan daerah, Khairul Munadi menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus menjadi motor penggerak pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya di seluruh pelosok negeri.
Sejak awal 2025 hingga Oktober, sejumlah kegiatan menunjukkan konsistensinya dalam mengintegrasikan pendidikan tinggi dengan pembangunan nasional dan pemberdayaan daerah.
Setiap kunjungan dan program yang dilaksanakan menekankan pemerataan akses pendidikan, penguatan institusi, dan relevansi riset terhadap kebutuhan lokal.
Pada waktu berkunjung ke Universitas Mataram, 25 Oktober 2025, Prof. Khairul Munadi menekankan pentingnya akses pendidikan tinggi yang terbuka untuksemua lapisan masyarakat, khususnya bagi mahasiswa dengan keterbatasan ekonomi. Beberapa mahasiswa di lokasi tersebut menghadapi risiko terhambatnya studi karena kondisi ekonomi.
Dari Kampus Ke Kampus
Ketika berkunjung ke Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, 4 Oktober 2025, menyatakan keinginannya untuk mendengarlangsung aspirasi civitas akademika di luar Jawa dan memastikan kualitas pendidikan tinggi merata di seluruh Indonesia.
‘’Kualitas fasilitas dan sumber daya manusia di beberapa daerah masih menjadi tantangan,’’ katanya.
Pada 9 Oktober 2025, Prof. Khairul Munadi mengunjungi Universitas Teuku Umar di Meulaboh, Aceh Barat, fokus utama kunjungan adalah penguatan pendidikan tinggi di wilayah terpencil dan rawan bencana, lalu kampus menghadapi tantangan kelembagaan dan kapasitas riset yang terbatas.
Untuk itu, beliau mendorong peningkatan mutu institusi melalui penguatan SDM, akreditasi, dan pengembangan riset yang disesuaikandengan kondisi lokal.
Berdasarkan aktivitas dan pernyataannya, pola pemikiran Prof. Khairul Munadi terlihat konsisten, pendidikan tinggi harus relevan
dengan masalah nyata masyarakat dan pembangunan nasional. Kelembagaan dan tata kelola perguruan tinggi menjadi fondasi utama bagi kualitas pendidikan dan riset.
Pemerataan akses pendidikan tinggi menjadi prioritas, terutama melalui program beasiswa dan KIP Kuliah. Pendekatan berbasis kunjungan dan dialog langsung memberikan pemahaman mendalam tentang kondisi riil perguruan tinggi dan mahasiswa.
Perjalanan Karier
Pengalaman Prof. Dr. Khairul Munadi, S.T M.Eng., kuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memberikan warna berbeda. Surabaya mempertemukannya dengan beragam latar belakang mahasiswa dari seluruh penjuru Nusantara.
Di ruang kuliah dan laboratorium, ia berbaur dengan kultur kerja keras khas kampus teknologi. Selepas menuntaskan studi sarjananya di ITS, ia melanjutkan langkah akademiknya ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri.
Ia mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan magister di Tokyo Metropolitan University (TMU), Jepang. Khairul berfokus pada bidang signal and image processing, sebuah cabang ilmu yang menuntut ketekunan, logika matematis, sekaligus kreativitas dalam menerjemahkan teori ke aplikasi nyata.
Setelah meraih gelar doktor di Jepang pada tahun 2007, ia kembali mengabdi di kampus asalnya, Universitas Syiah Kuala (USK). Di USK, ia membangun kelompok riset yang fokus pada pengolahan sinyal dan citra, menghubungkan tradisi akademik Jepang dengan kebutuhan lokal Nusantara.
Sejak awal menapaki jalur akademik, Khairul Munadi tidak berpindah-pindah bidang, memusatkan pada ranah yang spesifik,signalprocessing, image processing, dan multimedia processing. Fokusnya pada signal processing bermakna besar, sebab bidang ini adalah fondasi dari berbagai teknologi komunikasi modern.
Konflik & Tsunami
Ketika Aceh diguncang konflik berkepanjangan dan kemudian diterpa tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004, provinsi ini mengalami pukulan berlipat ganda. Prof. Khairul menjadi saksi hidup. Ia menyaksikan langsung bagaimana kota kelahirannya luluh lantak.
Alih – alih meninggalkan daerah yang porakporanda, Khairul justru bertahan. Ia melihat kampus bukan sekadar ruang kuliah dan laboratorium, melainkan sebagai pusat kebangkitan Aceh pascabencana.
Dengan kapasitasnya sebagai akademisi muda yang terlatih di dalam dan luar negeri, ia menjadi bagian dari generasi baru yang menghidupkan kembalikepercayaan diri masyarakat Aceh Pasca-tsunami, Aceh mendapat perhatian dunia.
Banyak universitas asing, lembaga donor, dan NGO hadir dengan berbagai program. Khairul memegang peran strategis sebagai
jembatan, dengan latar belakang pendidikan di ITS dan pengalaman riset internasional, ia bisa berdialog dengan mitra global.
Khairul mengarahkan perhatiannya pada isu-isu yang relevan dengan kondisi Aceh. Ia menekuni pengembangan teknologi informasiuntuk sistem peringatan dini bencana, pengolahan citra satelit untuk mitigasi tsunami, hingga multimedia untuk edukasi masyarakat.
Kampus Berdampak
Prof. Khairul Munadi termasuk yang berhasil menyeberang, dari seorang peneliti bidang sinyal dan citra yang terbiasa bekerja dengan data, kini ia memimpin Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, dengan mandat besar menentukan arah pendidikan tinggi Indonesia.
Bagi Khairul, universitas harus menjadi pusat pengembangan talenta, tempat lahirnya ide-ide besar dan solusi nyata untuk masyarakat. Salah satu gagasan yang ia bawa ke meja birokrasi adalah pentingnya sustainability leadership atau kepemimpinan berkelanjutan diperguruan tinggi.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada produksi lulusan semata, tetapi harus melahirkan generasi pemimpin yang
sanggup menjaga kesinambungan transformasi sosial.
Sebagai Dirjen Dikti, Riset, dan Teknologi, ia merumuskan visi yang ia sebut sebagai “Perguruan Tinggi Berdampak.” Artinya, tridarma perguruan tinggi, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, tidak boleh berhenti pada laporan administratif, melainkan benar-benar memberi nilai nyata.
Masyarakat harus merasakan manfaat penelitian kampus. Industri harus mendapatkan mitra inovasi yang solutif. Negara harus mendapatkan sumber daya manusia yang siap bersaing di tingkat global.














