Aktivitas ini, menjadi manifestasi paling nyata dari visi cemerlang. Abdunnur secara cerdas memposisikan Unmul, sebagai perguruan tinggi terbesar dan tertua di Kalimantan Timur, bukan hanya sebagai penonton, melainkan sebagai aktor intelektual utama dalam mengawal konsep IKN sebagai “Forest City”.
Aksi penanaman ini adalah cara Unmul mendeklarasikan diri sebagai life support system bagi ekosistem IKN dan menunjukkan bahwapembangunan fisik harus diimbangi dengan pelestarian lingkungan.
Kecemerlangan visi itu terletak pada kemampuannya mengubah tantangan relokasi ibu kota menjadi peluang emas bagi lompatan kualitas Unmul.
Tidak merasa terancam oleh kehadiran kampus-kampus dari Jawa, justru menjadikan IKN sebagai batu loncatan untuk membawa Unmul menuju predikat World Class University (WCU).
Unmul memiliki keunggulan komparatif yang tak dimiliki kampus lain. Core keilmuan berbasis Hutan Hujan Tropis dan Lingkungan, yang kini menjadi inti dari pembangunan IKN.
Karenanya, ia mendorong penuh inisiatif pembangunan Miniatur Hutan Hujan Tropis (MHHT). MHHT bukan sekadar taman botani; ia adalah laboratorium raksasa, living library, dan pusat edukasi yang menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan harus didukung riset mendalam.
“Visi ini memastikan Unmul menjadi kiblat ilmu pengetahuan tropis global, memanfaatkan identitas lokalnya untuk bersaing di kancah internasional,” katanya.
Universitas Internasional
Langkah visioner lainnya adalah usulan pendirian universitas internasional di IKN melalui model konsorsium. Ini adalah pemikiran yang progresif dan mengikis ego sektoral antar universitas.
Kampus di IKN, menurut visi beliau, harus dikelola bersama oleh program studi unggulan dari berbagai PTN terbaik di Indonesia Visi konsorsium ini mencerminkan semangat kolaborasi yang matang.
Tujuannya bukan tentang siapa yang paling menonjol, tetapi bagaimana PTN Indonesia dapat bersatu menciptakan institusi pendidikantinggi bertaraf dunia yang efektif, efisien, dan menjadi tolok ukur kualitas pendidikan nasional.
Ini adalah strategi yang mempercepat akselerasi mutu tanpa harus memulai dari nol, memanfaatkan kekuatan kolektif bangsa. Pada visi lain, Prof. Abdunnur menyoroti pentingnya pembinaan karakter lulusan yang holistik dan tangguh.
Program dormitori (asrama) yang diinisiasi untuk mahasiswa baru adalah jawaban atas tantangan degradasi moral dan mentalitas di era digital. Melalui program ini, mahasiswa Unmul tidak hanya dibekali dengan kecerdasan kognitif di fakultasnya masing-masing, tetapi juga dibentuk mental spiritual, kemandirian, dan karakter kebangsaan.
Ruang Dialog
Unmul semakin menegaskan diri sebagai ruang dialog antara ilmu pengetahuan dan kebijakan publik. Pada 29 Oktober 2025, dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan Penyerapan Pandangan tentang Perkembangan Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang diselenggarakan oleh Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia.
Dalam forum tersebut, Prof. Abdunnur menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh berdiri di menara gading, melainkan harus hadir sebagai mitra strategis pemerintah dalam memastikan pembangunan berjalan berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat.
Selaras dengan semangat itu, Unmul menunjukkan peran globalnya melalui kerja sama strategis dengan Kedutaan Besar Republik Korea Selatan. Kehadiran Konsulat Jenderal Korea Selatan, Kang Won-Joon, dalam kuliah tamu di Unmul menjadi simbol penting bagi upaya memperkuat diplomasi pendidikan dan budaya.
Kolaborasi ini bukan sekadar pertukaran pengetahuan, melainkan langkah konkret menuju pembentukan Program Studi Bahasa dan Budaya Korea serta pendirian Korean Corner di kampus.
Bagi Abdunnur, diplomasi akademik adalah bagian dari strategi membangun jati diri Unmul sebagai universitas berkelas dunia yang berpijak pada akar lokal Kalimantan Timur.
Putra Daerah
Abdunnur memulai pendidikan tinggi di Unmul, dengan meraih gelar Sarjana (S1) Budidaya Perairan dari Fakultas Pertanian pada tahun 1991. Setelah menyelesaikan studi sarjana, melanjutkan ke jenjang Magister Ilmu Kelautan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1997.
Meraih gelar Doktor (S3) Ilmu Sumber Daya Hayati Akuatik (Aquatic Bioresource Science) dari Nihon University, Jepang, pada tahun 2010. Latar belakang pendidikan ini memperkuat kepakarannya di bidang Ekologi Perairan, yang kemudian mengantarkannya menjadi Guru Besar dan Rektor Universitas Mulawarman.
Abdunnur di Universitas Mulawarman (Unmul) tak bisa dipisahkan dari tanah kelahirannya. Ia putra daerah, lahir di Bulungan, yang kini menjadi Kalimantan Utara.
Latar Visinya mengenai kampus hijau dan keberlanjutan IKN bukan lahir dari buku teks semata, melainkan dari pemahaman mendalamtentang budaya, geografi, dan denyut nadi masyarakat Kalimantan.
Ia juga meniti seluruh jenjang karier akademiknya di kampus yang sama, menjadi mahasiswa, kemudian menjadi dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, hingga mencapai jabatan tertinggi sebagai Rektor.
Fokus Lingkungan Perairan
Ia seorang ilmuwan yang kredibel dengan spesialisasi yang sangat relevan dengan tantangan lingkungan Kalimantan. Ahli di bidang Perikanan dan Ilmu Kelautan, dengan fokus utama pada studi Sumber Daya Akuatik dan Lingkungan Perairan.
Keahlian ini memberinya landasan kuat untuk berbicara mengenai isu-isu krusial di Kalimantan Timur, seperti kesehatan sungai, dinamika pesisir, hingga masalah pendangkalan dan pencemaran Sebagai seorang peneliti, fokusnya pada lingkungan perairan menjadikannya garda terdepan dalam menjaga “paru paru” Kalimantan.
Ketika kampus lain mungkin berfokus pada pembangunan darat di IKN, Prof. Abdunnur secara konsisten menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dan kelestarian sistem air di sekitarnya.
Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan Prof. Abdunnur dapat diringkas sebagai kolaboratif, inklusif, dan berorientasi pada dampak. Gagasannya tentang pendirian International University di IKN melalui model konsorsium, cerminan paling jelas dari filosofi ini.
Ia meyakini bahwa akselerasi kemajuan hanya dapat dicapai dengan mengikis ego sektoral dan memanfaatkan kekuatan kolektif. Pendekatan ini diwujudkan melalui implementasi model Triple Helix yang kuat.
Prof. Abdunnur aktif mendorong kerja sama erat dengan tiga pilar. Pemerintah (khususnya Otorita IKN dan Pemda Kaltim), Industri (melalui program hilirisasi riset sepertiKedaireka/Kedaulatan Riset, Inovasi, dan Reka Cipta), dan akademisi dari luar.
Keterlibatan Unmul dalam agenda “Forest City” di IKN, membuktikan bahwa Unmul telah bertransformasi menjadi laboratorium kebijakan yang menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Secara manajerial, beliau fokus pada peningkatan mutu internal melalui percepatan perolehan Akreditasi Unggul bagi program studi dan institusi. Unmul saat ini memiliki total 105 Program Studi (69 S1, 20 S2, 6 S3, 6 Profesi, 2 Spesialis, dan 2 Diploma).
Total mahasiswa Unmul per 20 Oktober 2024 mencapai 37.899 orang, dengan penerimaan mahasiswa baru semester ganjil 2025/2026sebanyak 11.883 orang di berbagai jenjang.














