Universitas Bengkulu pun menempuh jalur serupa, dari akreditasi B, kemudian meningkat menjadi
unggul Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT), hingga meraih akreditasi internasional.
Baik Indra maupun institusi yang dipimpinnya sama-sama menunjukkan bahwa pencapaian besar lahir dari proses panjang, kerja keras, dan konsistensi.
Sebagai rektor Universitas Bengkulu periode 2025–2029, Prof. Indra membawa visi unggul, berbudaya, dan berdaya saing internasional.
Visi ini menjadi arah strategis universitas dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi di era global. Ia menekankan pentingnya diversifikasi sumber pendapatan universitas. Ia menyadari bahwa sebagian besar anggaran masih bergantung pada uang kuliah tunggal (UKT).
“Kami harus jujur mengakui bahwa sebagian besar anggaran untuk menjalankan aktivitas tridarma bersumber dari UKT. Ke depan, kami diminta untuk memperbesar proporsi pendapatan non-UKT,” katanya.
Targetnya mengembangkan usaha-usaha produktif di kampus dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.
Salah satu rencana konkret adalah pemanfaatan kawasan hutan dengan tujuan khusus seluas hampir 200 hektar untuk penyediaan air bersih yang bisa dikembangkan menjadi usaha air minum.
“Kami ingin berkontribusi dalam program pemerintah, misalnya menyediakan ayam dan telur untuk kebutuhan lokal,” katanya.
Akreditasi Unggul
Salah satu pencapaian penting Unib saat ini adalah keberhasilan meraih predikat akreditasi unggul untuk institusi.
Sebelumnya, universitas ini hanya berstatus akreditasi B. Dengan kerja keras dan kolaborasi seluruh unit, capaian itu berhasil ditingkatkan.
Proses menuju predikat unggul tidaklah sederhana. Melibatkan semua unit dan semua asesor yang ada di Universitas Bengkulu.
Borang yang sudah disusun kemudian dilakukan simulasi internal, mengundang asesor eksternal untuk meninjau. Hasilnya, meraih nilai sekitar 366 poin, sebuah capaian yang menegaskan kualitas institusi.
Selain akreditasi nasional, juga menorehkan prestasi di tingkat internasional. Melalui lembaga akreditasi ACQUIN (Accreditation, Certification and Quality Assurance Institute), badan akreditasi internasional nirlaba dari Jerman, Unib berhasil memperoleh pengakuan internasional dengan basis Outcome Based Education (OBE).
“Kami punya target paling tidak 50% dari semua program studi memperoleh predikat unggul, baik dari BAN-PT maupun lembaga akreditasi mandiri,” tegasnya.
Pesisir dan Hutan
Universitas Bengkulu saat ini menampung hampir 24.000 mahasiswa yang tersebar di 77 program studi. Setiap tahun, universitas menerima sekitar 5.400 mahasiswa baru.
Prof. Indra menekankan bahwa peningkatan jumlah mahasiswa ke depan bukan semata karena daya tampung program studi yang ada, melainkan karena bertambahnya program studi baru yang sedang diusulkan, termasuk jenjang S3 dan program spesialis kandungan.
Saat ini memiliki sekitar 1.000 dosen, dengan 40% di antaranya bergelar doktor dan 78 guru besar. Terus mendorong dosen-dosen baru untuk segera melanjutkan pendidikan ke S3, baik di dalam maupun luar negeri.
Unib memiliki keunggulan akademik yang khas, berakar pada kondisi geografis provinsi yang diapitoleh samudra dan hutan hujan tropis.
Kombinasi ekosistem pesisir dan hutan tropis ini menjadi daya tarik sekaligus laboratorium alam. Bengkulu ini diuntungkan dengan kondisi geografis. Punya wilayah pesisir dan hutan hujan tropis.
Juga pulau kecil, terumbu karang, padang lamun, mangrove, dan hutan tropis yang luas. Keunggulan akademik ini semakin diperkuat dengan jejaring kerja sama internasional yang luas.
“Bekerja sama dengan Oxford University. Baru-baru ini dosen kami menemukan spesies baru dari bunga raflesia,” katanya.
Kerjasama Global
Penelitian tentang kutu putih juga mendapat perhtian internasional. Riset ini dilakukan bersama peneliti dari Turki.
Hasilnya sudah ditemukan spesies baru yang diakui secara internasional. Kerja sama dengan UMT
(University Malaysia Terengganu) difokuskan pada bidang pesisir dan kelautan.
Tahun 2024 dosen dan mahasiswa UMT datang ke Bengkulu melakukan riset spesies laut. Di bidang perkebunan, menjalin kerja sama dengan Wageningen University di Belanda.
Fokus penelitian mencari solusi bagi petani sawit yang kehilangan pendapatan saat masa peremajaan.
sawit butuh waktu 3–4 tahun untuk berbuah kembali.
“Kami bersama Wageningen meneliti tanaman semusim seperti melon, semangka, dan pisang agar petani tetap punya penghasilan,” katanya.
Alumni Jadi Menteri, Dirjen, dan Gubernur
Sejak berdiri pada tahun 1982 dan mulai menghasilkan lulusan pada 1985, Universitas Bengkulu telah melahirkan sekitar 80.000 alumni.
Di tingkat nasional, beberapa alumni berhasil menempati posisi strategis dalam pemerintahan. Salah satunya adalah Yandri Susanto, Menteri Desa dalam kabinet Presiden Prabowo Subianto.
Ada juga alumni Fakultas Pertanian yang kini menjabat sebagai Direktur Jenderal Tanaman Pangan di Kementerian Pertanian.
Kiprah alumni juga tampak jelas di tingkat provinsi. Gubernur Bengkulu saat ini, H. Helmi Hasan, adalah alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Wakil Gubernur, Ir. Mian, merupakan alumni Fakultas Pertanian. Bahkan Walikota Bengkulu saat ini juga juga alumni.
“Pada tingkat provinsi, pimpinan-pimpinan di Bengkulu banyak sekali yang alumni Unib. Gubernur, wakil gubernur, walikota, semuanya alumni,” kata Indra menambahkan.
Selain di pemerintahan, alumni Universitas Bengkulu juga berkiprah sebagai diplomat, birokrat, akademisi, dan politisi di berbagai daerah.
Jejak mereka memperlihatkan bahwa universitas ini tidak hanya mencetak tenaga profesional, tetapi
juga pemimpin yang berkontribusi bagi bangsa.
Fasilitas Kampus
Unib saat ini berdiri di atas lahan yang mencapai sekitar 120–125 hektar. Kampus utama berada di kawasan Kandang Limun, dengan luas sekitar 99 hektar, menjadi pusat kegiatan akademik dan administrasi.
Juga memiliki beberapa kampus lain yang berasal dari alih status lembaga pendidikan sebelumnya. Ada tambahan dari SPG (Sekolah Pendidikan Guru) yang dialih statuskan menjadi PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar), dari SGO (Sekolah Guru Olahraga) yang menjadi program studi Penjaskes (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan), dan dari Poltekes Pemprov yang juga dialihkan ke Unib.
“Jadi sekarang total ada empat lokasi kampus. Juga memiliki aset tambahan berupa lahan praktikum dan hibah dari pemerintah daerah,” katanya
Fasilitas akademik terus dikembangkan untuk mendukung tridarma perguruan tinggi. Laboratorium yang ada tidak hanya melayani praktikum mahasiswa, tetapi juga penelitian dosen dan kerja sama dengan pihak eksternal.
Bisa dimanfaatkan oleh stakeholder di Bengkulu, seperti pabrik dan kebun. Tinggal kita memperkuat
laboratorium ini menjadi terakreditasi, sehingga hasil analisisnya diakui secara global.
Universitas juga memiliki kawasan hutan dengan tujuan khusus seluas hampir 200 hektar. Kawasan ini menjadi laboratorium alam sekaligus sumber daya potensial untuk pengembangan usaha produktif kampus.
Lahir di Desa Terpencil Konsisten Studi Pertanian
Lahir dan besar di Mukomuko, sebuah wilayah paling utara Provinsi Bengkulu yang berbatasan langsung dengan Sumatera Barat, Prof. Dr. Indra Cahyadinata SP., M.Si. menempuh jalan panjang dari kampung halaman yang terpencil hingga akhirnya dipercaya memimpin Universitas Bengkulu sebagai rektor periode 2025–2029.
Mukomuko sekarang sudah menjadi kabupaten sendiri. Aksesnya cukup jauh, perjalanan darat sekitar tujuh sampai delapan jam dari ibu kota provinsi,” kenangnya.
Indra menghabiskan masa kecil hingga remaja di lingkungan sosial yang sederhana dan jauh dari pusat kota membentuk karakter disiplin dan kerja keras dalam dirinya.
Pendidikan dasar hingga menengah atas ia jalani di kampung halaman, sebelum akhirnya pada tahun
1996 melanjutkan studi ke Institut Pertanian Bogor (IPB).
Konsistensi akademiknya menunjukkan komitmen kuat terhadap ilmu pertanian dan pengembangan sumber daya alam.
Setelah menyelesaikan S1, ia mengikuti seleksi dosen di Universitas Bengkulu dan resmi diterima pada 1 Desember 2001.
“Sejak saat itu saya mulai berkarier sebagai dosen di Program Agribisnis Universitas Bengkulu,” ujarnya.
Karier strukturalnya dimulai pada tahun 2008 ketika ia dipercaya menjadi sekretaris jurusan. Jabatan itu diembannya hingga 2012, sebelum kemudian naik menjadi wakil dekan.
“Pada tahun 2008 sampai 2012 itu saya diamanahi menjadi sekretaris jurusan, sekarang banyak orang menyebutnya sekretaris departemen. Lalu 2012–2016 menjadi wakil dekan, dan 2020–2024 kembali dipercaya sebagai wakil dekan,” tuturnya.
Puncak karier akademiknya di tingkat fakultas terjadi pada tahun 2024, ketika ia diangkat menjadiDekan Fakultas Pertanian.
Jabatan ini menjadi batu loncatan pentingsebelum akhirnya ia dipercaya memimpin universitas secara keseluruhan.














