Sejumlah inisiatif akademik strategis mulai menunjukkan hasil. Peningkatan jumlah dosen yang naik jabatan fungsional, penguatan kapasitas riset dan publikasi ilmiah, serta penataan ulang tata kelola fakultas agar lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman.
Ia juga memperkuat kemitraan dengan lembaga eksternal, baik di tingkat nasional maupun internasional, sebagai bagian dari upaya memperluas jejaring akademik. Bagi Prof. Safrida, amanah sebagai Rektor UISU menjadi titik tolak untuk memperbarui arah dan semangat universitas.
“Saya ingin UISU bukan hanya besar karena sejarahnya, tetapi juga unggul karena mutunya, dan dikenal karena kontribusinya bagimasyarakat,” tegasnya.
Perjalanan karriernya mencerminkan loyalitas akademik yang tumbuh sejak dari mahasiswa, dosen muda, hingga saat ini. Pengalamannya menjabat di berbagai posisi, mulai dari Ketua Program Studi Magister Manajemen, Wakil Dekan II, hingga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, telah menempanya menjadi pemimpin yang memahami kampus dari ruang-ruang kerja nyata.
Dalam kepemimpinannya, mengusung visi “UISU Unggul 2026”, sebuah agenda strategis untuk menjadikan UISU sebagai universitas yang unggul dalam mutu akademik, tata kelola, dan karakter Islami.
Namun, baginya, predikat unggul tidak semata diukur dari akreditasi atau peringkat nasional, melainkan dari kemampuan universitas melahirkan insan berilmu yang berakhlak.
Partisipatif Berbasis Data
Ketertarikan Safrida terhadap dunia ekonomi muncul sejak masa remaja. Ia meyakini bahwa ekonomi bukan semata urusan angka, tetapi berkaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat.
Keyakinan itu membawanya menempuh pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi UISU, tempat ia kemudian tumbuh sebagai akademisi. Setelah menyelesaikan studi sarjana, Safrida melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Sumatera Utara (USU), mengambil konsentrasi Manajemen.
Di tingkat ini, ia memperdalam pemahaman tentang strategi organisasi, pengambilan keputusan, dan tata kelola kelembagaan. Berlanjut ke S3 di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dengan fokus pada integrasi antara teori ekonomi modern dan nilaI-nilai keagamaan.
Karier akademiknya bermula hanya tiga hari setelah dinyatakan lulus S1, langsung diangkat menjadi dosen di almamaternya, UISU. Pernah dipercaya mengemban sejumlah jabatan penting di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UISU, antara lain sebagaiKetua Program Studi Magister (S2) Manajemen, Wakil Dekan II Bidang Sumber Daya dan Tata Kelola selama dua periode, dan kemudian Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UISU juga selama dua periode berturut-turut.
Kepemimpinannya dikenal partisipatif dan berbasis data. Setiap keputusan penting diambil melalui musyawarah dan kajian akademikyang matang, namun ia tetap tegas dalam implementasi kebijakan.
Akreditasi Unggul
Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) lahir dari semangat pembaruan dan idealisme keislaman yang menyala pasca kemerdekaan. Resmi berdiri pada 7 Januari 1951, universitas ini tumbuh dari gagasan besar sejumlah tokoh Islam dan pemuda di Medan yang berambisi menghadirkan lembaga pendidikan tinggi Islam pertama di Sumatera.
Mereka mendirikan UISU di bawah naungan Yayasan Perguruan Tinggi Islam Indonesia (PTII) Medan. Beberapa tokoh yang tercatat sebagai pendiri antara lain Haji Bahrum Djamil, Adnan Benawi, Sariani Amiraden Siregar, Sabaruddin Ahmad, dan Rivai Abdul ManafNasution.
Dua nama pertama—Bahrum Djamil dan Adnan Benawi—sering disebut sebagai motor utama yang menggerakkan fondasi awal universitas ini.
Mereka tidak hanya berpikir tentang pembentukan lembaga akademik, tetapi juga memaknai pendidikan sebagai sarana perjuangan moral dan sosial bagi umat Islam di Sumatera Utara.
Sejak awal, UISU membawa visi besar, mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai Islam. Kampus ini ingin melahirkan bukan hanya sarjana yang cerdas secara intelektual, tetapi juga pribadi yang berakhlak dan berjiwa sosial.
Empat Strategi
Visi UISU menjadi universitas berdaya saing nasional dan internasional, sekaligus tetap kokoh berakar pada nilai-nilai Keislaman yang menjadi identitas kampus tertua di Sumut. Safrida mentargetkan UISU juga unggul dalam mutu, berakar pada nilai Islam, dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Untuk mencapai visi tersebut, ada beberapa strategi utama. Pertama, penguatan sumber daya manusia (SDM) dosen, khususnya dalam percepatan jenjang jabatan fungsional dan peningkatan kualitas riset. Hingga tahun 2025 memiliki 9 guru besar dan 25 lektor kepala.
Kedua, digitalisasi dan modernisasi sistem akademik. UISU memperkuat infrastruktur digital melalui pengembangan Sistem Informasi Akademik (SIAK), Sistem Informasi Mahasiswa (Simawa), e-Learning, serta platform administratif terpadu.
“Dunia sudah berubah. Maka, layanan akademik dan administrasi harus cepat, transparan, dan berbasis data,” tegasnya.
Ketiga, penguatan jaringan eksternal dan internasionalisasi. UISU aktif menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan di luar negeri, baik dalam bentuk joint research, pertukaran mahasiswa dan dosen, maupun penguatan kapasitas kelembagaan.
Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi positioning UISU sebagai universitas Islam yang terbuka dan berdaya saing global.
Keempat, transparansi dan akuntabilitas tata kelola. Pendekatan ini terbukti efektif: beberapa program studi UISU berhasil mencapai status akreditasi Unggul.
Alumni Tangguh
Ukuran keberhasilan sebuah universitas dilihat dari kualitas dan daya saing lulusannya. Lulusan UISU dikenal memiliki karakter tangguh, beretika, dan adaptif. Nilai-nilai Islam yang tertanam sejak masa perkuliahan menjadikan mereka pribadi yang kuat menghadapi dinamika dunia kerja.
Keunggulan ini tak lepas dari sistem pendidikan yang menekankan keseimbangan antara kompetensi akademik, spiritual, dan sosial. Di UISU, mahasiswa tidak hanya ditempa dalam ruang kuliah, tetapi juga melalui kegiatan dakwah, kepemimpinan, dan pembinaan rohani.
Kemampuan membaca Alquran, kemampuan menjadi imam salat, hingga praktik dakwah menjadi bagian dari pembentukan karakter mahasiswa.
Adaptivitas lulusan UISU juga terlihat dari kiprah mereka di berbagai sektor, pemerintahan, swasta, lembaga keuangan, hingga perkebunan dan daerah terpencil.
Banyak di antara mereka dipercaya menduduki posisi strategis karena ketekunan dan integritasnya. yang mereka bawa dari bangku kuliah. UISU juga aktif membangun kerja sama dengan berbagai universitas di luar negeri.
“Kita tidak bisa membatasi diri pada batas geografis. Dunia akademik adalah ruang kolaborasi global,” katanya.














