ITS termasuk salah satu dari tujuh perguruan tinggi yang mendapat amanah dari pemerintah melalui Kemendikti Saintek untuk masuk dalam World Class University, dengan target berada di 400 besar dunia pada tahun 2030.
Program ini didukung pendanaan khusus dan berbagai program tambahan lainnya. Saat itu, ia optimis dapat mencapainya karena target Renstra memang menempatkan ITS pada peringkat
300 besar dunia.
Menurutnya, mencapai target tersebut bukan pekerjaan mudah, karena memerlukan kerja sama dari seluruh pihak. Tidak hanya sivitas akademika, dosen, dan mahasiswa, tetapi juga alumni serta
mitra, baik di dalam maupun luar negeri, yang memberikan dukungan luar biasa bagi perkembangan ITS.
Dalam Renstra terbaru 2026–2030, tujuan strategis ITS adalah menjadi ITS Tangguh, ITS Berdampak, dan ITS Mendunia. Selain itu, ITS juga menyiapkan tema strategi khusus untuk mencapai target-target, terutama untuk memenuhi kriteria sebagai World Class University.
Strategi Khusus
Bambang Pramujati menyebut strategi khusus itu dengan RAISE, yang terdiri dari lima pilar yakni Relevant and Impactful Research, Academic Excellence and Global Reputation, Innovation and Entrepreneurship, Sustainable Development, dan Excellent Governance.
Relevant and Impactful Research berarti riset yang dilakukan tidak hanya menghasilkan publikasi atau hak paten, tetapi juga mampu menjawab masalah nyata di masyarakat.
Dampaknya dapat diukur, misalnya melalui kontribusi ekonomi atau penyelesaian persoalan sosial. Untuk itu, ITS memperkuat pusat-pusat unggulan riset, meningkatkan ekosistem penelitian, dan mempermudah proses hilirisasi agar hasil riset dapat dimanfaatkan secara nyata.
Academic Excellence and Global Reputation bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan sesuai standar internasional sekaligus membangun reputasi akademik global.
Langkah – langkah yang dilakukan antara lain mengembangkan kurikulum adaptif yang relevan dengan teknologi dan kebutuhan industri, memperkuat kerja sama riset internasional, serta memperluas program internasionalisasi.
Semua ini memastikan pendidikan di ITS selalu mutakhir dan berdaya saing global. Innovation and Entrepreneurship berkaitan dengan pembangunan sistem kewirausahaan di kampus.
Mahasiswa tidak hanya diharapkan lulus dan mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan
lapangan kerja sendiri.
ITS menyediakan mata kuliah kewirausahaan, inkubator bisnis, dan dukungan bagi startup melalui pembinaan alumni serta angel investor.
Dengan cara ini, ekosistem inovasi terbentuk dari hulu ke hilir, termasuk hilirisasi produk penelitian
menjadi produk siap pakai atau dikomersialisasikan, sekaligus menjadi sumber pendapatan kampus dan mengurangi ketergantungan terhadap UKT.
Sustainable Development menunjukkan komitmen ITS menjadi kampus hijau dan berkelanjutan. Hal ini dilakukan melalui pengembangan infrastruktur riset, penerapan prinsip green campus dan circular economy, serta penguatan program pengabdian masyarakat yang berdampak nyata dan berkelanjutan.
Excellent Governance berarti pengelolaan kampus dilakukan secara efisien, transparan, dan berbasis digital. ITS memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan smart campus serta mengikuti prinsip-prinsip university governance agar seluruh kegiatan kampus berjalan lancar dan terstruktur.
“Dengan strategi ini, kami berharap ITS dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung kemandirian bangsa,” katanya.
Hilirisasi Riset
Dalam Taklimatnya, Presiden Prabowo Subianto menyoroti kekayaan negeri ini dan sumber daya alam yang luar biasa, namun belum dikelola secara optimal.
Saat ini, banyak hasil alam, seperti batu bara atau kelapa, dijual dalam bentuk mentah tanpa melalui
proses lanjutan. Padahal, dengan pengolahan lebih lanjut, produk tersebut bisa memiliki nilai yang
jauh lebih tinggi.
Menurut Bambang Pramujati, hal inilah yang membuat hilirisasi menjadi sangat penting, karena dapat meningkatkan nilai dari sumber daya yang dimiliki.
Prinsip yang sama berlaku di kampus, yaitu dari hasil penelitian para dosen. Namun, hilirisasi bukan hal yang mudah dilakukan. Prosesnya idealnya melibatkan industri sejak awal penelitian, karena industri memiliki perspektif yang lebih luas mengenai kebutuhan dan masalah masyarakat.
Dengan kolaborasi antara institusi pendidikan dan industri, produk yang dihasilkan diharapkan
benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan mampu menyelesaikan masalah yang ada.
Keterlibatan industri juga membantu memastikan penelitian sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan, sehingga inovasi bisa diterapkan secara efektif.
“Harapannya, kita tidak hidup di mercusuar,” tegasnya.
Satu-satunya Sirkuit
ITS adalah kampus yang tumbuh di Surabaya, dan namanya, Sepuluh Nopember, tentunya membawa
semangat kepahlawanan.
ITS juga memiliki moto Advancing Humanity, yaitu memajukan peradaban manusia melalui sains, teknologi, dan art yang menjadi core dari kegiatan kampus.
Artinya, ITS tidak ingin hanya hidup di Menara Gading, tetapi harus membumi dan memberikan dampak nyata. Keunggulan ITS selama ini dikenal di bidang maritim melalui fakultas kelautan yang kuat.
Namun, bidang lain seperti robotik, kendaraan listrik, dan otomotif juga menjadi identitas ITS yang semakin berkembang. Keunggulan-keunggulan tersebut diterjemahkan dalam empat kluster inovasi di Science Technopark ITS.
“Nantinya, Technopark akan menjadi tempat bermukim bagi startup dan industri berbasis teknologi, sehingga memudahkan proses hilirisasi dari hasil penelitian,” katanya.
Penambahan Prodi
Bambang Pramujati menjelaskan bahwa sesuai Renstra, jumlah mahasiswa ITS memang perlu ditingkatkan. Namun, penambahan ini tidak dilakukan sembarangan, karena ITS memastikan alumni yang dihasilkan benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat.
Dari sisi permintaan, jumlah peminat program studi seperti Elektro, Mesin, atau Sipil jauh melebihi kapasitas yang tersedia. Misalnya, di program studi Mesin, jumlah pendaftar mencapai lebih dari 2.000 untuk 200 tempat yang tersedia.
Artinya, penambahan kapasitas hingga 300, 400, atau 500 mahasiswa masih memungkinkan, tetapi ITS tetap melakukan kajian mendalam untuk memastikan lulusan dapat diterima dan digunakan oleh masyarakat.
Salah satu strateginya, membuka program studi baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Beberapa contohnya adalah Artificial Intelligence, Inovasi Digital, Sains Komunikasi, Bioteknologi, dan Pertambangan.
Program studi baru ini dibuka untuk memastikan alumni memiliki peluang yang jelas, baik untuk
bekerja, melanjutkan kuliah, maupun memulai bisnis.
“Kami harus memastikan bahwa setiap penambahan mahasiswa dan program studi baru benar-benar menghasilkan alumni yang dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.
Peranan Alumni Cukup Besar Dalam Pengembangan Kampus
Menurut Bambang Pramujati, ITS tidak akan pernah sebesar sekarang tanpa peran para alumninya. Alumni memberikan warna dan citra bagi ITS karena masyarakat menilai dari apa yang diperlihatkan oleh lulusannya. Oleh karena itu, ITS sangat menghargai dan berterima kasih kepada semua alumni yang telah berkiprah di berbagai bidang, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Selama masa studi, ITS berupaya memberikan pendidikan terbaik bagi mahasiswanya. Setelah lulus,
alumni menjadi cerminan kualitas pendidikan yang diterima.
Banyak alumni ITS yang menempati posisi penting dan memberikan dampak signifikan meski kadang kurang terekspos ke publik.
Beberapa di antaranya pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Muhammad Nuh, Wali Kota Surabaya sekaligus Menteri Sosial Tri Rismaharini, anggota DPR, pemimpin BUMN, pengusaha besar, maupun peneliti yang bekerja di luar negeri.
Menurutnya, kurangnya eksposur ini kemungkinan terkait dengan kultur ITS atau karakter masyarakat Jawa Timur dan Surabaya yang cenderung low profile.
ITS sendiri banyak melakukan hal positif yang seharusnya diberitakan agar dapat menginspirasi generasi muda dan menampilkan prestasi nyata alumninya.
Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui kontribusi alumni dan tertarik menempuh pendidikan di ITS.
Pengembangan Soft Skill
ITS dalam proses pendidikannya juga memberikan penguatan karakter lulusan melalui pengembangan soft skill, sehingga mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga nonakademik.
ITS memiliki program dan strategi khusus untuk membentuk karakter dan kepemimpinan mahasiswa, dengan tujuan mencetak tidak hanya insinyur yang kompeten secara teknis tetapi
pemimpin yang berintegritas dan memiliki kemampuan nonteknis yang mumpuni.
Banyak alumni ITS bekerja di bidang teknik, namun setelah beberapa tahun posisi mereka biasanya berkembang ke level manajemen, sehingga kemampuan nonteknis menjadi sangat penting.
Untuk itu, ITS mengundang alumni senior berbagi pengalaman mengenai dunia industri dan kebutuhan profesional. Alumni dari jurusan teknik berbagi pengalaman teknis, sedangkan alumni yang berkiprah di bidang SDM atau manajemen berbagi wawasan terkait kompetensi yang juga diperlukan di bidang tersebut.
“Dengan begitu, mahasiswa lebih siap menghadapi tantangan karier di masa depan.” Katanya
Kemandirian Finansial
Untuk menjadi World Class University, ITS mendapatkan pendanaan yang cukup besar, dengan 50% anggaran dialokasikan untuk penelitian.
Penelitian ini diharapkan menghasilkan karya yang dipublikasikan di jurnal top-tier, memberi dampak signifikan, serta manfaat nyata bagi masyarakat.
Untuk mendukung penelitian, ITS menyediakan Scientific Research Grant (SRG), dana yang diberikan tanpa kompetisi kepada seluruh dosen.
Hal ini memastikan setiap dosen dapat meneliti dan mempublikasikan karya ilmiah, meningkatkan peluang inovasi, serta mendukung kenaikan pangkat.
Dana ini juga bisa digabung antara beberapa dosen, membiayai mahasiswa S2 dan S3, dan memperluas kolaborasi dengan institusi lain, baik di dalam maupun luar negeri.
Kerja sama internasional didorong melalui penelitian dan kolaborasi. Profesor dan peneliti hebat dari luar negeri diundang untuk mengajar serta bekerja sama dengan dosen senior maupun junior, sehingga mahasiswa S2 dan S3 terekspos kualitas penelitian internasional dan terbentuk menjadi peneliti handal.
Selain itu, banyak program joint degree dengan universitas luar negeri memberi kesempatan
mahasiswa kuliah di luar negeri sekaligus memperoleh ijazah ganda, serta pengalaman profesional internasional sebelum kembali membangun negeri.
Beasiswa juga diberikan untuk mahasiswa asing, sehingga kampus semakin beragam dan mahasiswa
Indonesia dapat berinteraksidengan berbagai budaya,memperluas wawasan mereka.
Salah satu tantangan besar ITS adalah kemandirian finansial. Sebagai PTNBH, dana pemerintah
semakin berkurang, sementara kebutuhan operasional meningkat, termasuk gaji dan tunjangan untuk
dosen non-ASN (30–40%) serta tenaga kependidikan non-ASN (60–70%).
Oleh karena itu, ITS perlu mencari sumber pendanaan tambahan, melalui pemanfaatan aset kampus, kerja sama konsultan dengan perusahaan, pengembangan produk inovasi untuk menghasilkan revenue, serta pengelolaan dana abadi.
“Kami harapkan perusahaan ini bisa menjadi sumber revenue bagi ITS,” katanya.














