Kembali ke Indonesia, Jokowi memberikan keterangan dalam jumpa pers. Dia sengaja tidak menandatangani perjanjian itu.
Sebab, jika melakukannya, Indonesia akan terus terperangkap menjadi pemasok bahan mentah selamanya, sampai bahan tambang itu habis.Dan angan-angan untuk melakukan hilirisasi tidak akan pernah terjadi.
Hilirisasi adalah strategi industrialisasi untuk mengolah bahan mentah (hulu) menjadi barang setengah jadi atau bahkan produk jadi (hilir).
Ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari proses hilirisasi itu. Antara lain meningkatkan nilai tambah dari hasil tambang, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahannya, meningkatkan lapangan kerja di dalam negeri, dan mengurangi bahkan menghilangkan ketergantungan impor atas barang jadi dari produk produk tambang itu. Buah dari semua itu adalah pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Agenda hilirisasi tidak hanya berhenti di pernyataan, tetapi diwujudkan dengan mewujudkan
sejumlah undang undang dan peraturan serta pembangunan smelter untuk pengolahan dan pemurnian bahan tambang di dalam negeri.
Potensi SDA Tambang
Indonesia memiliki potensi sumber daya alam bahan tambang yang luar biasa. Nikel, misalnya, yang dimiliki negeri ini sebanyak 17,7 miliar ton biji (ore).
Jumlah itu diperkirakan 42% cadangan nikel dunia. Di negeri ini, sumber daya alam nikel terletak di Sulawesi Tengah, Tenggara dan Selatan, Maluku dan Papua.
Saat ini ada 330 izin usaha pertambangan (IUP) nikel yang aktif. Sumber bahan tambang lain, bauksit, negeri ini memiliki cadangan hingga 5,5 miliar ton, terkonsentrasi di Kalimantan Barat, Kepulauan Riau dan Papua.
Negeri ini berada di peringkat 4 dunia, di bawah Guenia, Australia dan China. Potensi bahan alam tembaga yang dimiliki negeri ini diperkirakan mencapai jumlah antara 2,63 miliar ton hingga 28 miliar metrik ton biji.
Sumber data berbeda beda antara Badan Geologi ESDM dan data daerah penghasil tambang. Sekalipun angka yang dipakai adalah jumlah yang kecil, Indonesia diperhitungkan sebagai salah satu pemasok bahan tembaga terbesar di dunia, diperkirakan di peringkat ke-7 hingga ke-10.
Di Indonesia sumber bahan tambang tembaga berada di Papua, Minahasa, Aceh, dan Nusa Tenggara Timur. Tidak ada data khusus tentang IUP Tembaga.
Pengolahan SDA
Inti dari program hilirisasi dalam pengolahan bahan tambang mentah menjadi produk setengah jadi (bahan baku) dan barang jadi.
Tanpa hilirisasi kekayaan alam itu –baik itu biji nikel, bauksit, batubara, tembaga, hingga emas— dikeruk dari bumi, diolah sekadarnya (untuk memisahkan bahan tambang dari tanah) lalu diekspor.
Melalui pengolahan lebih jauh, nikel bisa menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik, bahan baku stainless steel (baja tahan karat), logam nikel murni, serbuk nikel dan lapis nikel (plating) untuk pelapisan antikorosi.
Biji bauksit diolah menjadi alumina, yang diproses lebih lanjut menjadi alumunium primer. Produk turunannya mencakup bahan konstruksi, komponen otomotif, kemasan makanan, elektronik
dan furniture.
Lalu, biji tembaga (copper ore) dapat diolah lebih jauh menjadi konsentrat tembaga, katoda tembaga (copper cathode) –bahan baku untuk industri manufaktur tembaga–, batang tembaga, kabel listrik, pipa tembaga, tembaga foil, paduan logam (kuningan dan perunggu) dan lainnya.
Selain itu, ada produk sampingannya, seperti asam sulfat untuk industri pupuk, terak tembaga (copper slag) untuk bahan campuran semen, serta loga mulia seperti emas dan perak yang didapat dari proses pemurnian elektrolisis tembaga.
Peluang Perguruan Tinggi
Hilirisasi menjadi peluang bagi perguruan perguruan tinggi di Indonesia untuk berperan lebih besar. Di dalam proses pengolahan, dibutuhkan banyak sekali tenaga ahli di bidang kimia, teknik kimia, konstruksi, manajemen, mesin produksi, kelistrikan, metalurgi, kesehatan, komputasi, dan sebagainya.
Sebelum hilirisasi, berbagai tenaga tenaga ahli berbagai bidang tersebut di atas, tidak banyak berperan. Karena proses pengolahannya terjadi di negara negara pengimpor biji bahan tambang.
Jadi, kemampuan tenaga tenaga ahli yang berasal dari perguruan tinggi di Indonesia, tidak banyak
termanfaatkan. Dengan hilirisasi, kehidupan dunia kampus akan semakin dinamis.
Tentu saja, sejauh pemerintah memberi peluang untuk berperanserta lebih jauh. Akan banyak sekali riset dilakukan, teknologi teknologi baru dihasilkan, dan manfaat yang diberikan bagi masyarakat dan negara ini.
Selain berperan di bidang pengolahan, perguruan tinggi juga bisa turut mengatasi persoalan yang terjadi di dunia pertambangan sebelum hilirisasi.
Kerusakan lingkungan dan persoalan hak asasi manusia, ketika kehadiran industri tambang banyak merampas hak hidup masyarakat yang sebelumnya bertampat tinggal di lokasi tambang. Pasti bisa!














