Ia menekankan pentingnya menumbuhkan budaya riset di lingkungan akademik. Menurutnya, penyusunan proposal penelitian perlu menjadi kebiasaan bagi dosen karena riset merupakan bagian mendasar dari profesi akademik.
Riset adalah proses jangka panjang yang membutuhkan kolaborasi dan manajemen yang baik agar hasilnya memberi dampak nyata.
Sebagai langkah konkret, ia menyiapkan dukungan dana riset lebih dari Rp 3 triliun pada tahun 2026 dan mendorong para dosen serta peneliti memanfaatkan kesempatan tersebut secara optimal.
Melalui sinergi riset, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia diharapkan mampu melahirkan temuan-temuan baru yang tak hanya memperkuat daya saing bangsa, tetapi juga memberi solusi bagi kemajuan masyarakat.
Prof. Brian bercerita, saat berkunjung ke UC Berkeley, ia sempat bertemu dengan peraih Nobel Kimia 2025, Prof. Omar Yaghi, yang dikenalnya sejak 2017 ketika berkesempatan belajar di laboratoriumnya tentang Metal–Organic Framework (MOF).
Pengalaman itu banyak menginspirasinya. Ia masih ingat betapa rendah hatinya sang ilmuwan, bukan hanya jenius, tetapi juga hangat dan terbuka.
“Semoga dari Indonesia juga lahir ilmuwan-ilmuwan hebat yang memberi kontribusi besar,” tuturnya.
Motor Penggerak
Dalam sebuah dialog dengan para dosen, Prof. Brian menyampaikan bahwa peran dosen tak hanya sebatas mengajar, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa agar pantang menyerah, berintegritas, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
Ia menegaskan riset, sains, dan teknologi adalah fondasi kedaulatan bangsa sekaligus jalan menuju kemakmuran rakyat. Dengan kekuatan akademik perguruan tinggi, ia yakin kampus mampu melahirkan inovasi berdampak serta generasi unggul yang siap membawa Indonesia menuju Emas 2045.
Menurutnya, kampus merupakan motor penggerak ekonomi berbasis riset yang aplikatif sekaligus pembentuk karakter mahasiswa berintegritas.
Karena itu, kampus harus menjadi pusat inovasi yang menghasilkan solusi konkret bagi industri dan masyarakat melalui kolaborasi erat antara akademisi dan pelaku usaha.
Indonesia, katanya, sedang berada pada momentum penting untuk melompat menjadi negara maju, dengan syarat penguasaan sains dan teknologi. Untuk mencapainya, kampus perlu menerapkan hasil riset menjadi teknologi yang bermanfaat bagi seluruh pemangku kepentingan secara kolaboratif.
Kampus Berdampak
Prof. Brian menyatakan bahwa Indonesia perlu meningkatkan kapasitas teknologi secara signifikan untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah. Dalam upaya ini, kampus berperan sebagai pusat riset dan pengembangan yang bersinergi dengan industri sebagai lokomotif hilirisasi.
Kampus menjadi motor penggerak perubahan tersebut, seperti contoh perguruan tinggi yang berhasil menciptakan mesin daur ulang sampah.
Inovasi ini sudah diterapkan di sejumlah Tempat Pembuangan Sampah (TPS) sebagai wujud nyata semangat “Perguruan Tinggi Berdampak” yang digerakkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
“Insinerator sampah itu luar biasa, karena tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga bisa langsung dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia tidak akan menjadi negara maju dengan cara kerja yang biasa-biasa saja. Dibutuhkan sumber daya manusia yang tangguh, gigih, dan pantang menyerah—karakter yang harus dibentuk oleh kampus.
Melalui berbagai kebijakan serta program hilirisasi riset, Kemdiktisaintek berkomitmen mendorong lahirnya kampus-kampus berdampak di seluruh Indonesia.
“Melalui Diktisaintek Berdampak, pemerintah menegaskan arah kebijakan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang terhubung langsung dengan kebutuhan masyarakat, industri, dan bangsa,” tegasnya.
Relaksasi Khusus
Civitas akademika sebaiknya tidak hanya berdiam di kampus. Dosen dan peneliti perlu terjun langsung ke lapangan, berinteraksi dengan industri, berdialog dengan para pemimpin perusahaan, dan menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Prof. Brian Yuliarto pernah bertemu dan berdiskusi dengan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, membahas arah kebijakan anggaran pendidikan tinggi dan riset 2025–2026.
Ia mendorong adanya relaksasi khusus agar dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) perguruan tinggi dapat segera dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan akademik.
Langkah ini diambil untuk memastikan kesejahteraan dosen dan peneliti terus meningkat, akses beasiswa bagi mahasiswa prasejahtera tetap terjaga, serta ekosistem riset di perguruan tinggi semakin kuat.
Kebijakan ini diharapkan memberi ruang gerak lebih lincah bagi perguruan tinggi dalam mendukung kegiatan akademik tanpa mengurangi hak dosen maupun mahasiswa. Bagi Prof. Brian, kampus bukan hanya ruang kelas, tetapi juga lapangan olahraga, laboratorium riset, dan ruang industri kreatif.
Karena itu, ia mendorong penyelenggaraan Liga Mahasiswa, dari seleksi daerah hingga final nasional, yang melibatkan berbagai kampus di seluruh Indonesia.
Dalam ajang tersebut, ia melihat peluang besar kolaborasi riset dan teknologi, termasuk pengembangan animasi, agar karya kreatif lokal mampu berjaya di negeri sendiri.
“Saya percaya, ketika kampus, industri, dan media bergerak bersama, kita tidak hanya mencetak prestasi, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, inovatif, dan berdampak,” ujarnya.
Dana Abadi
Prof. Brian Yuliarto mendorong arah baru pengelolaan dana abadi pendidikan, riset, dan kebudayaan agar lebih bermanfaat dalam mendukung delapan industri strategis nasional. Transformasi ini fokus pada efektivitas beasiswa serta penguatan sinergi lintas kementerian.
Ia menekankan pentingnya pemetaan kebutuhan sumber daya manusia secara terstruktur berdasarkan delapan bidang Asta Cita, sekaligus mendorong universitas dalam negeri untuk lebih aktif berpartisipasi melalui skema double degree dan joint supervision dengan kampus-kampus ternama dunia.
Menurutnya, dana abadi harus disalurkan dengan visi yang jelas dan berdampak strategis, bukan sekadar menambah jumlah penerima beasiswa,
tetapi juga meningkatkan kualitas SDM dan memperkuat riset yang mampu menggerakkan delapan industri strategis nasional sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh dunia pendidikan, industri, dan masyarakat luas.
“Sudah saatnya kita tidak hanya mengirim ke luar negeri, tetapi menjadikan kampus dalam negeri bagian dari ekosistem internasional,” paparnya.
Prioritas Utama
Secara ringkas, program Prof. Brian sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berfokus pada penguatan riset dan inovasi untuk mendukung lima prioritas utama Presiden: ketahanan pangan, ketahanan energi, ketersediaan air bersih, hilirisasi, dan digitalisasi.
Untuk mencapainya, ia menekankan pentingnya kolaborasi erat antara perguruan tinggi dan industri, peningkatan kerja sama internasional, serta percepatan hilirisasi hasil riset agar menghasilkan inovasi nyata dan solusi konkret bagi pembangunan nasional.
Upaya ini dilakukan melalui peluncuran program strategis seperti Program Riset Strategis yang didanai LPDP untuk bidang pangan, energi, kesehatan, material, dan semikonduktor, serta pendanaan untuk riset konsorsium, program mahasiswa berdampak, dan pengabdian kepada masyarakat.
Perguruan tinggi diharapkan fokus pada riset inovatif yang berdampak nyata, memperkuat ekosistem riset lewat kolaborasi, dan mendorong lahirnya inovasi, startup teknologi, serta solusi praktis sehingga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, peningkatan kemitraan global juga penting untuk memperkuat daya saing pendidikan tinggi Indonesia di tingkat internasional, misalnya melalui skema double degree dengan universitas luar negeri guna mencetak lulusan berdaya saing global.
“Perlu mempercepat hilirisasi hasil riset melalui programprogram seperti Program Hilirisasi Riset, serta menerapkan kebijakan digitalisasi di universitas,” katanya.
Tidak Lupa Almamater
Meski sudah menjabat sebagai menteri, Prof. Brian tetap tak melupakan almamaternya. Saat ITB mengadakan ajang lari estafet Wonder ITB Ultra Marathon sejauh 180 km dari Jakarta ke Bandung pada 26–28 September 2025, ia hadir memimpin salah satu dari dua tim yang beranggotakan para guru besar ITB.
Acara ini bertujuan menggalang Dana Lestari Pendidikan. Dalam kesempatan itu, Prof. Brian memimpin Tim DANA dan menjadi pelari pertama yang memulai estafet. Rute 180 km tersebut melintasi Jakarta–Bogor–Puncak–Cianjur–Padalarang–Cimahi hingga finis di Kampus ITB Ganesha, Bandung.
Sebanyak 32 profesor ikut berlari, menyebarkan semangat kebersamaan dan kontribusi nyata bagi almamater. Menurutnya, lari 180 km Jakarta–Bandung ini bukan sekadar olahraga, tapi simbol kebersamaan, kepedulian, dan komitmen untuk masa depan pendidikan tinggi.
Bersama Rektor ITB dan para guru besar, ia berlari demi menghimpun Dana Lestari ITB yang digunakan untuk mendukung beasiswa mahasiswa dan penelitian strategis.
“Perjuangan para profesor ITB, berlari dua hari dua malam dari Jakarta ke Bandung sejauh 180 km demi Dana Lestari ITB dan beasiswa mahasiswa,” ujarnya.
Ilmuwan Inovatif
Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. adalah sosok intelektual yang bersemangat memajukan Indonesia lewat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berbekal pengalaman sebagai peneliti aktif di Advanced Industrial Science and Technology (AIST), Jepang, ia melanjutkan kariernya di Indonesia hingga meraih gelar profesor pada usia 43 tahun.
Sejak menjadi dosen dan peneliti di ITB pada 2006, ia telah menerbitkan ratusan artikel di jurnal internasional bereputasi tinggi di bidang nanomaterial untuk sensor, energi, dan solar PV. Ia memiliki 343 karya ilmiah di Scopus dengan 6.043 sitasi dan H-Index 40.
Kepemimpinannya di dunia akademik diakui secara internasional lewat peran sebagai visiting professor dan kerja sama dengan berbagai universitas ternama seperti UC Berkeley, Queensland University, dan Nagoya University.
Penelitian dan pengembangannya bermanfaat untuk deteksi gas berbahaya, polutan lingkungan, hingga diagnosis penyakit seperti kanker, hepatitis, dan demam berdarah.
Atas dedikasinya, ia meraih penghargaan bergengsi seperti Habibie Prize 2024, masuk daftar World’s Top 2% Scientist 2024, serta menjadi Top 1 Indonesia Researcher bidang Nanoscience & Nanotechnology tahun 2023. Ia juga dinobatkan sebagai Peneliti Terbaik ITB 2021 dan Dosen Berprestasi bidang Saintek ITB 2017.
Di luar dunia akademis, ia aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, kini menjabat Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cibeunying Kaler, Bandung (2023–2027). serta Ketua Lembaga Kajian Kerja Sama Strategis Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat (2023– 2027).














