Dr. dr. Sugeng Ibrahim, M. Biomed - Dekan FK UIN Walisongo

Mencetak Dokter Moderat, Religius, dan Tanpa Sekat – Dr. dr. Sugeng Ibrahim, M. Biomed

Share

Untuk ikut mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) di bidang kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang hadir sebagai oase yang memadukan ilmu kedokteran modern dengan nilai- nilai spiritualitas dan kemanusiaan.

Bukan sekadar melahirkan dokter yang kompeten secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang berakhlak, egaliter, dan berpihak pada nilai- nilai kemaslahatan. Dari kampus inilah, lahir harapan baru akan sosok dokter yang tidak hanya  menyembuhkan penyakit, tetapi juga membangun peradaban.

Menurut Dr. dr. Sugeng Ibrahim, M. Biomed, Dekan FK UIN Walisongo, fakultas yang dipimpinnya, menjadi satu dari sedikit fakultas kedokteran di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Penunjukan Dr. Sugeng sebagai perintis FK di UIN Walisongo datang langsung dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada tahun 2023. Proyek yang sudah digagas lebih dari satu dekade ini sempat stagnan akibat ketidaksesuaian pendekatan konsultan. Persiapan mulai bergerak cepat sejak pertengahan 2023. Dalam waktu hanya 10 bulan setelah dokumen disubmit (Juni 2024), izin resmi berdiri turun pada 8 April 2025.

Penyiapan SDM

Meski secara administratif cepat, proses paling berat adalah dalam hal sumber daya manusia. Persyaratan Kemendikbudristek sangat ketat: tenaga pengajar tidak boleh berstatus ASN, usia di bawah 58 tahun, bukan dari TNI/ Polri, serta mencakup 10 dokter spesialis dan 12 doktor biomedik dari berbagai bidang, termasuk yang tersulit: spesialis pendidikan kedokteran (medical education).

Salah satu tantangan paling mendasar dalam pendirian Fakultas Kedokteran (FK) UIN Walisongo Semarang menurut Sugeng adalah pemenuhan Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya dosen tetap bergelar dokter spesialis dan doktor bidang ilmu dasar kedokteran.

“Syaratnya harus ada 26 SDM: 10 spesialis, dan 2 doktor biomedik dari berbagai ilmu dasar seperti fisiologi, anatomi, biokimia, biomolekul. Tantangannya, ilmu- ilmu dasar ini peminatnya sangat sedikit,”jelasnya.

Khusus untuk spesialis di bidang medical education, tantangannya lebih berat lagi. Jumlahnya sangat terbatas di Indonesia, bahkan hanya ada di dua institusi besar, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia.

“Spesialis pendidikan kedokteran itu paling sulit. Karena saya sudah cukup lama di dunia kedokteran, jadi lebih mudah mengumpulkan adik-adik dokter yang saya kenal sejak lama,”tambahnya.

Lebih dari sekadar tantangan teknis, permasalahan terbesar justru pada status dan motivasi para calon dosen. Sesuai regulasi, dosen spesialis yang direkrut tidak boleh berstatus ASN, tidak boleh berusia lebih dari 58 tahun, dan bukan TNI/Polri. Padahal, mayoritas dokter spesialis sudah memiliki penghasilan besar dari praktik di berbagai rumah sakit.

Namun, menurut Dr. Sugeng, ada pendekatan nonmaterial yang jauh lebih efektif: menyentuh aspek spiritual dan idealisme.

“Saya menyentuh hati mereka. Dokter spesialis itu kalau tidak pegang pisau saja sudah 30–50 juta dari satu rumah sakit. Kalau dua rumah sakit bisa 100 juta.Kalau pegang pisau bisa 150 juta. Nah kalau sudah segitu, ayo cari sodaqoh-nya, cari berkahnya,” Katanya.

Dengan pendekatan tersebut, FK UIN Walisongo tidak hanya mengumpulkan SDM sesuai regulasi, tapi juga menghidupkan semangat pengabdian dalam atmosfer kampus keislaman yang mengedepankan nilai-nilai rahmatan lil alamin.

Penyakit Degeneratif

Sebagai bagian dari PTKIN, FK UIN Walisongo membawa semangat moderasi Islam. Konsep “kewalisongoan” yang menjadi ciri khas kampus ini menjiwai proses pendidikan kedokteran: menanamkan nilai rahmatan lil alamin, integrasi ilmu keislaman dan sains modern, serta semangat untuk menghidupkan kembali warisan intelektual Islam klasik seperti yang dicontohkan oleh Ibnu Sina. 

Lebih lanjut, FK UIN Walisongo mengusung misi khusus, mencetak dokter dengan kompetensi unggul dalam modifikasi gaya hidup masyarakat, utamanya dalam penanggulangan penyakit degeneratif seperti diabetes melitus dan hipertensi, dua penyebab utama gagal ginjal dan penyakit jantung yang menggerus anggaran BPJS setiap tahunnya. 

Dengan orientasi ini, FK UIN Walisongo tidak sekadar menambah jumlah dokter di Indonesia, tapi juga memperkuat pendekatan promotif dan preventif dalam sistem kesehatan nasional.

Dokter Moderat Di tengah dinamika dunia kesehatan yang makin kompleks dan komersial, Fakultas Kedokteran UIN Walisongo hadir dengan tekad membangun jalan berbeda, mencetak dokter-dokter profesional yang tidak hanya kompeten secara medis, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan kebangsaan.

Dr. Sugeng mengatakan lulusan kedokteran UIN Walisongo nantinya, diarahkan bukan hanya untuk memenuhi standar kompetensi dokter Indonesia, tetapi juga untuk memiliki akhlak moderasi yang tinggi.

“Yang ingin kami capai tentu adalah capaian lulusan yang memenuhi standar kompetensi dokter Indonesia. Tapi dengan nilai- nilai Walisongo, dokternya harus mempunyai akhlak yang moderat,” ujarnya.

Pelayanan kesehatan tidak boleh dibatasi oleh sekat agama, ekonomi, bahkan politik. Ia ingin dokter-dokter UIN Walisongo melayani siapapun dengan ikhlas dan empati tinggi.

“Orang sakit itu tidak punya agama. Tidak punya strata ekonomi. Jadi kita cetak dokter yang melihat pasien sebagai manusia, bukan sebagai angka atau kelas sosial,” tegasnya.

Dalam pandangannya, arus kapitalisme telah menyeret sistem kesehatan nasional pada orientasi profit semata. Rumah sakit bergeser menjadi korporasi, dan profesi dokter terjebak dalam transaksi ekonomi. UIN Walisongo, ingin menghadirkan narasi tandingan: mencetak dokter yang menjadi solusi, bukan sekadar pengobat.

“Kita ingin dokter itu tidak hanya kasih resep buatan luar negeri lalu selesai, tapi menjadi bagian dari solusi. Seperti dokter- dokter zaman Budi Utomo dan Cipto Mangunkusumo dulu—dokter yang sekaligus tokoh peradaban,” kenangnya.

Ia menyebut, langkah besar ini juga selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo, terutama cita keempat yang memprioritaskan kesehatan dan pendidikan, serta cita kelima yang mendorong industrialisasi dan hilirisasi. Dalam konteks ini, dokter harus menjadi pelaku perubahan, bukan hanya pelaksana layanan.

Tahapan Menuju Unggul Fokus Layanan Preventif

 

Sugeng juga mengungkap bahwa proses pembangunan FK UIN Walisongo dilakukan dengan tahapan bertahap namun berorientasi mutu.

Saat ini kapasitas penerimaan mahasiswa masih dibatasi dan baru bisa ditingkatkan jika akreditasi dan standar terpenuhi.

“Dua tahun pertama itu wajib standarisasi. Kalau akreditasinya baik, bisa naik ke 100 mahasiswa. Kalau unggul, bisa 150,” jelasnya.

UKMPPD (Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter), menurutnya, tetap menjadi ujian kunci bagi setiap calon dokter, karena tanpa kelulusan itu, mereka tidak bisa internship atau memperoleh STR (Surat Tanda Registrasi).

Preventif dan Promotif

Dr. Sugeng menekankan bahwa orientasi FK UIN bukan sekadar kuratif, melainkan juga memperkuat dimensi preventif dan promotif dalam dunia kedokteran. Baginya, upaya mencegah dan mendidik jauh lebih penting dalam menjaga kesehatan masyarakat jangka panjang.

“Itu yang sekarang mulai ditinggalkan: upaya-upaya promotif dan preventif. Justru itu yang akan kami tanamkan kuat- kuat kepada mahasiswa kami,” jelasnya

Dengan pendekatan ini, FK UIN Walisongo tidak hanya membangun institusi pendidikan dokter, tetapi juga memulai pergerakan moral yang bisa menggugah kembali nurani dunia medis Indonesia,kembali ke akar, kembali ke nilai.

Tonton Video Selengkapnya

Artikel Terkait