Laily Ulfiyah, MT - Direktur Politeknik Negeri Madura (Poltera)

Laily Ulfiyah, MT – Politeknik Inisiasi Yayasan Langsung Berstatus Negeri

Share

Laily Ulfiyah, MT, menjadi salah satu figur penting dalam pembangunan Politeknik Negeri Madura (Poltera). Ia bergabung dengan Poltera pada tahun 2012, saat lembaga ini masih berupa gagasan besar yang sedang disusun, dengan infrastruktur minim, sumber daya manusia terbatas, dan aktivitas akademik yang belum terpusat di Madura.

Pada awal 2010-an, ketika wacana penguatan pendidikan vokasi mulai mendapatkan perhatian serius, Madura masih menghadapi tantangan klasik, yakni keterbatasan akses pendidikan tinggi, minimnya tenaga terampil lokal, serta ketergantungan ekonomi pada sektor yang belum sepenuhnya modern.

Industri maritim, perikanan, dan manufaktur skala kecil berjalan tanpa dukungan tenaga teknis yang memadai. Di tengah kondisi tersebut, lahirlah Politeknik Negeri Madura (Poltera), yang sejak awal dirancang untuk menjawab permasalahan lokal melalui pendidikan vokasi.

Dalam perjalanan kampus ini, LailyUlfiyah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 2014. Selama 2014–2017, ia memimpin Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M), kemudian menjabat Kepala Unit Layanan Pengadaan.

Pada 2017–2019, ia menjadi Plt Kepala Bagian Umum, sebelum dipercaya sebagai Wakil Direktur Bidang Keuangan pada 2020–2022, dan akhirnya menjabat sebagai Direktur Politeknik Negeri Madura (Poltera).

“Padahal sebelumnya, saya tidak pernah berpikir akan menjadi pejabat di lingkungan kampus. Semua mengalir seperti air,” katanya.

Catatan Unik
Laily Ulfiyah mengatakan, kehadiran Poltera tidak bisa dilepaskan dari gagasan Yayasan Bina Sampang Mandiri (YBSM) yang dipimpin Ir. M. Syaifurrahman Noer, atau yang akrab dikenal sebagai Pak Cipung, putra dari mantan Gubernur Jawa Timur, H.M. Noer.

Sejak awal, pendirian Poltera memang memiliki catatan unik. Legalitasnya langsung berada di bawah pemerintah pusat, bukan perguruan tinggi swasta yang kemudian dinegerikan.

Ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, meninjau lokasi rencana pembangunan, ia memutuskan Poltera berdiri sebagai institusi negeri.

Keputusan itu ditegaskan melalui Permendikbud Nomor 67 Tahun 2012. Namun, status negeri tidak serta-merta membuat perjalananpendirian Poltera mulus.  Pada masa awal, Poltera belum memiliki gedung sendiri.

“Sampai 2016, mahasiswa kami masih menjalani kegiatan akademik di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS),” ujarnya.

Kemitraan dengan ITS Surabaya menjadi fase penting untuk membangun kurikulum, menyiapkan dosen, serta merancang sistem akademik yang matang.

“Madura punya potensi besar, tapi butuh tenaga vokasi yang tepat sasaran,” ujarnya.

Kampus Terintegrasi
Lokasi Poltera yang berada di jantung Pulau Madura menjadikannya mudah dijangkau dari empat kabupaten. Namun, keunggulan geografis ini bukan satu-satunya yang membedakan Poltera dari politeknik lain.

Fokus pada ekonomi kelautan dan industri strategis membuat kurikulum serta fasilitas kampus dibangun sesuai dengan potensi daerah.Poltera kini tengah mengembangkan ekosistem galangan kapal pendidikan, sebuah pusat pembelajaran yang terhubung dengan empat center of excellence, yaitu Pusat Perawatan Kapal, Pusat Perawatan Kendaraan Listrik, Pusat Perawatan Alat Berat, dan Poltera Medical Center.

Keempat pusat ini dirancang untuk mendukung pendidikan, pelatihan, peningkatan kompetensi (upskilling), hingga layanan masyarakat.

“Kami ingin kampus ini terintegrasi, bukan hanya mengajar, tetapi memberikan dampak langsung,” ujarnya.

Inovasi Terapan
Pada awal berdirinya, fasilitas Poltera sangat terbatas, hanya terdiri dari satu gedung kuliah dan satu bengkel praktik. Seiring meningkatnya kebutuhan pembelajaran vokasi, pembangunan dilakukan secara bertahap.

Kini, Poltera telah memiliki dua gedung kuliah dan tiga bengkel praktik yang menjadi pusat kegiatan pembelajaran dan pelatihan. Pembangunan gedung kesehatan juga tengah berlangsung untuk mendukung program studi di bidang medis.

Salah satu keunikan Poltera adalah fokus pada riset terapan, di mana hasil riset langsung diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Beberapa inovasi yang lahir dari riset Poltera menjadi solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat.

Kapal ambulans dikembangkan untuk memudahkan mobilisasi pasien dari pulaupulau kecil ke fasilitas kesehatan di daratan, sementara ambulans roda tiga dirancang agar efektif digunakan di daerah dengan jalan sempit, dan banyak dimanfaatkan oleh puskesmas untuk layanan darurat.

Teknologi “air lubrication system” untuk kapal fiberglass juga dikembangkan guna mengurangi hambatan kapal sehingga lebih hemat bahan bakar, sangat bermanfaat bagi nelayan. Selain itu, Poltera berhasil menghadirkan mesin kapal listrik, inkubator bayi, dan mesin penyortir beras, yang menarik perhatian industri sekaligus mendorong revitalisasi pendidikan vokasi.

“Dengan inovasi ini, Poltera bukan sekadar kampus, tetapi hadir sebagai lembaga yang memberikan solusi teknis bagi masyarakat Madura,” ujar Laily.

Jejaring ITS
Meski Poltera masih terbilang muda, kampus ini telah melahirkan ribuan alumni yang bekerja di sektor industri, pemerintahan, dan wirausaha.

Banyak lulusan bahkan diterima bekerja sebelum wisuda berkat kurikulum vokasi yang menekankan kompetensi praktis. Beberapa alumni bekerja hingga ke luar negeri, termasuk di industri besar di Hungaria.

Di dalam negeri, mereka dikenal sebagai teknisi alat berat, ahli manufaktur, teknisi maintenance bersertifikasi internasional, hingga perintis usaha teknologi.

Dalam memimpin Poltera, Laily Ulfiyah banyak mengambil pelajaran dari ITS almamaternya. Budaya kerja di sana, yaitu tidak menunda pekerjaan, etos kerja yang kompetitif dan kolaboratif, serta keberanian untuk berinovasi, menjadi prinsip kepemimpinannya.

“ITS membentuk karakter kerja saya, yaitu disiplin, tuntas, dan berani mencoba hal baru,” ujarnya.

Kuatnya jejaring alumni ITS juga mempermudah kerja sama riset, magang, dan program pelatihan, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai industri dan institusi pendidikan.

“Jaga hubungan baik, bangun jejaring, dan berani berinovasi,” pesannya.

Artikel Terkait