Sebaiknya kamu memilih jurusan ini saja,” ujar Bu Reni, guru BK-nya, sambil menunjuk salah satu nama jurusan di daftar. “Peluangnya lebih besar, dan kamu bisa belajar nanti.”
Tifa tidak banyak bertanya. Ia hanya mengangguk. Pilihan itu diambil bukan karena keinginan, tetapi karena pertimbangan “yang penting masuk kampus dulu.” Ia tidak tahu apa yang akan dipelajari, juga tidak membayangkan akan menjadi apa setelah lulus. ia tahu hanya satu: jangan sampai tidak kuliah.
Tiga tahun berlalu. Kini Tifa adalah mahasiswa tingkat akhir di jurusan yang dulu terasa asing baginya, dan perasaannya tetap sama: bingung, tidak bersem, dan merasa seperti berada di tempat yang bukan miliknya.\
“Aku kuliah bukan karena aku ingin, tapi karena aku harus,” ucapnya pelan sambil menatap skripsi yang belum disentuh.
Status Sosial
Setiap tahun, ribuan lulusan SMA di Indonesia berjuang memasuki dunia perguruan tinggi. Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), hingga jalur mandiri menjadi medan perjuangan menuju apa yang sering disebut “kampus impian.”
Namun, seberapa banyak dari mereka yang benar-benar memahami pilihan yang diambil? Apakah kampus impian itu hasil dari pencarian panjang penuh refleksi, atau sekadar pelarian dari ketakutan tidak kuliah?
“Kalau boleh jujur, kampus tempat aku kuliah sekarang itu bukan yang aku idam-idamkan,” ujar Andri, mahasiswa semester empat. “Tapi daripada nggak kuliah sama sekali, ya sudah, diambil saja yang keterima.”
Pola ini bukanlah hal baru. Banyak mahasiswa, terutama dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah, menghadapi tekanan besar untuk kuliah di mana saja asal kuliah. Keputusan diambil terburu-buru tanpa sempat merenungkan apakah pilihan tersebut sesuai dengan minat dan potensi diri.
Dalam banyak keluarga Indonesia, kuliah bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga status sosial. Anak kuliah dianggap sebagai bukti keberhasilan orang tua. Tak heran, sebagian orang tua memaksakan jurusan atau kampus tertentu kepada anaknya.
“Orang tuaku pengin aku masuk kedokteran, padahal aku pengin ke desain komunikasi visual,” keluh Rani, mahasiswi tahun pertama di sebuah fakultas kedokteran ternama.
“Akhirnya aku nurut, tapi aku capek banget setiap hari.”
Tekanan ekspektasi ini bisa membuat mahasiswa kehilangan motivasi. Mereka merasa seperti hidup dalam bayang-bayang harapan orang lain. Pada titik tertentu, ini bisa berdampak pada kesehatan mental dan performa akademik.
Tak sedikit pula siswa yang memilih kampus atau jurusan karena ikut-ikutan teman, termakan promosi media sosial, atau terpesona oleh nama besar tanpa menggali lebih jauh tentang isi di dalamnya.
Kampus-kampus berlombaampilkan citra yang menarik: gedung modern, internet cepat, kafe estetik, dan dosen berprestasi. Namun, apa gunanya pemandangan indah jika materi kuliah sulitahami dan semangat belajar terus menurun?
“Pas lihat brosurnya keren banget, laboratorium canggih, ada student exchange luar negeri,” ungkap Jodi. “Tapi ternyata kuliahnya nggak sesuai harapan. Banyak teori, jarang.”
Ini bukan semataata kesalahan kamp. Masalah ini juga terkait minimnya informasi dan edukasi karier sejak bangku sekolah. Siswa sering kali hanya dibali daftar jurusan dan passing grade tanpa pendamping serius untukali potensi serta minat pribadi.
Real lain yang tidak bisa diabaikan adalah ketimpangan akses informasi. Siswa di kota besar mungkin banyak sumber: internet cepat, seminar kampus, guru BK aktif, bimbingan belajar. Namun, diok daerah, banyak siswa bahkan tidak tahu cara mendaftar SNBT secara daring.
Bayangkan seorang siswa di desa terpencil yang tidak pernah mendengar istilah double degree, mata kuliah wajib, atau akredit jur. Ia hanya tahu, “Kalau bisa kuliah, ya syukur.”
Sementara itu, algoritma internet lebih banyak menyajikan konten viral tentang “kampus keren” dibanding edukasi memilih jurusan dengan tepat. Akibatnya, orientasi siswa mudah teralihkan proses menuju hasil akhir yang mewahWalaupun banyak yang awalnya “es,” bukan berarti semuanya berakhir buruk.
Banyak yang akhirnya jatuh pada jurusan yang tidak mereka kenal. Proses belajar, pengalaman organisasi, hingga bertemu teman baru mampu membentuk rasa memiliki yang perlahan tumbuh.
“Awalnya aku benci banget kuliah di teknik lingkungan,” ujar Vira, alumni kampus negeri di Surabaya. “ lama-lama aku sadar, ini bidang yang penting buat masa depan.
Sekarang aku kerja di proyek pengolahan limbah industri, dan aku bangga. Hal ini membuktikan bahwa kampus bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan Tapi tetap saja, tak semua orang beruntung bisa berdamai dengan pilihan yang diambil secara terburu-buru.
Memilih dengan Sadar
Untuk memutus siklus “asal kuliah”, kita perlu membangun budaya memilih secara sadar. Hal ini adalah tanggung jawab bersama: sekolah, keluarga, pemerintah, dan media.
1.Sekolah harus memperkuatan bimbingan karier—bukan hanya membikan bros pendaftaran tetapi mendampingi mengenali potensi, minat, dan kerja.
2. Orang tua perlu membuka ruang ruang dialog, bukann memaaksakan pilihan. Anak-anak sekadar cerminan kebanggaan, tetapi yang harus tumbuh sesuai kodrat dan kemampuannya.
3. Kampus harus lebih transparan dalam promosi, dengan menunjukkan gambaran yang utuh, bukan hanya gemerlap fasilitas.
4. Pemerintah perlu memperluas akses informasi dan platform edukasi karier, agar siswa di daerah terpencil memiliki kesempatan yang sama untukal dunia kampus.
Kepada para calon mahasiswa yang memilih jurusan dan kamp: berhentilah sejenak. Tutup brosur, matikan sementara media sosial, dan tanyakan pada diri sendiri:
“Apa yang sebenarnya aku mau?”
“Apakah aku memilih karena keinginan, atau karena rasa takut?”
Tidak ada pilihan benar-benarurna. Namun, pilihan yang diambil dengan kesadaran penuh akan selalu lebih kuat menopang perjalanan, dibandingkan pilihan yang lahir dari keterpaksaan.
Jika kamu memilih dengan jujur, walau terasa berat di awal, kelak kamu akan menyadari bahwa perjalananmu bukan hanya soal lulus dan bekerja, tetapi juga tentang dirimu sendiri—dan mungkin, menemukan dunia yang tak pernah kamu bayangkan sebelumnya.
Kampus bukanlah tujuan akhir, juga penentu mutlak masa depan. Kampus hanya salah satu dari banyak jalan menuju apa yang kamu impikan. Maka, pilihlah dengan bijak. Jangan sampai hanya berpikir “yang penting kuliah,” kamu lupa bertanya, apa arti kuliah bagimu?
Dan jika saat ini kamu berada di jurusan yang bukan impianmu, jangan putus asa. Tidak ada yang sia-sia jika kamu bersedia belajar, bertumbuh, dan terus mencari arti dalam setiap langkah. Sebab terkadang, jalan yang tidak direncanakan justru membawa kita tempat yang lebih baik.














