Sebagai anak kampung dari sebuah dusun di pelosok Bengkulu, ia sempat merasa canggung menghadapi lingkungan UI yang besar dan kompetitif. Namun pengalaman itu justru menguatkan mental dan tekadnya.
Seiring waktu, ia mampu beradaptasi, menaklukkan tantangan akademik, dan menemukan jati diri di tengah komunitas kampus yang mendorongnya berkembang.
Perjalanan studinya semakin lengkap berkat keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan, termasuk Himpunan Mahasiswa FISIP UI. Dari sana, ia belajar memahami dinamika sosial politik, memperluas jejaring, dan mengasah kemampuan memimpin.
Di luar perkuliahan, usahanya juga terus bertumbuh, mulai dari industri, ekspor impor, hingga bidang keamanan, persenjataan, dan bahan peledak.
Pengalaman kuliah di UI menjadi kebanggaan tersendiri karena kampus ini tidak hanya menggembleng kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter.
Baginya, jaket kuning selalu berada di garis depan berbagai gerakan besar, dan alumninya membawa semangat itu ketika menduduki posisi strategis di pemerintahan, dunia usaha, maupun politik.
“Saya berharap UI terus menjadi tempat lahirnya pemimpin masa depan yang memiliki pemahaman kuat tentang kepemimpinan, politik, dan isu isu kewarganegaraan,” ujarnya.
Generasi Emas
Sultan mendorong mahasiswa UI untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin menyambut Indonesia Emas 2045. Menurutnya, mahasiswa saat ini memiliki kesempatan yang jauh lebih luas untuk memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan nasional, didukung oleh fasilitas belajar yang lebih lengkap dan modern.
Kesempatan untuk mengisi ruang pengabdian di abad kedua Indonesia tentu lebih baik dibandingkan generasinya dahulu. Karena itu, sejak dini penting untuk memetakan potensi serta peluang pengabdian di berbagai bidang ke depannya.
Mahasiswa juga harus memiliki kesadaran sosial kebangsaan yang kuat, di samping menguasai keterampilan tertentu yang berbasis teknologi digital.
Disarankan untuk siap berkompetisi dengan generasi muda di tingkat global dan mampu tampil serta berkontribusi aktif di level internasional dengan berbagai kelebihan yang dimiliki.
Kepada seluruh civitas akademika UI, mulai dari pengajar, mahasiswa, sampai alumni, ia berpesan agar menjaga reputasi kampus. Pertama, baik yang berada di dalam maupun di luar kampus, atau di mana pun beraktivitas, harus menjaga marwah dan nama baik UI.
Kedua, menjaga soliditas secara internal maupun eksternal. Ketiga, tidak menyerah dalam taraf ide dan gagasan serta berupaya untuk selalu selangkah lebih maju.
“Menjaga nama baik UI, minimal dengan menjaga integritas dan reputasi, akan melahirkan ide dan gagasan besar,” katanya.
Penghargaan Tertinggi
Sebagai Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Sultan dinilai berjasa luar biasa dalam bidang politik dan kepemudaan, terutama melalui advokasi pemberdayaan pemuda, penguatan ekonomi daerah, serta kontribusi legislatif yang mendorong partisipasi generasi muda dan memperkuat pembangunan daerah.
Ia menerima Bintang Republik Indonesia Utama dari Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada 25 Agustus 2025, penghargaantertinggi dari negara yang secara resmi ditetapkan pada tahun 1959.
Sultan menyampaikan, penghargaan ini bukan sekadar apresiasi pribadi, tetapi juga pengakuan peran DPD RI sebagai representasi daerah. Didedikasikan untuk seluruh anggota DPD RI, rakyat di daerah, dan kaum muda yang menjadi tulang punggung negara.
Hal ini menunjukkan DPD sebagai rumah aspirasi daerah, rakyat, dan kaum muda dalam arus pembangunan nasional.Ia menilai peran DPD RI semakin penting untuk mempercepat pemerataan pembangunan.
Kebijakan nasional harus berpijak pada realitas di daerah agar pembangunan tidak hanya terpusat di kota besar. DPD RI memiliki komitmen untuk mengawal Asta Cita Presiden Prabowo, delapan program prioritas pembangunan nasional. Agenda besar ini hanya akan berhasil bila daerah dilibatkan secara aktif dalam perencanaan maupun implementasi.
“Sinergi antara pusat dan daerah menjadi kunci untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Kemampuan Merangkul
Pada pemilu 2024, H. Sultan Baktiar Najamudin, S.Sos., M.Si, kembali terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), dan akhirnya ditetapkan sebagai Ketua.
Dari 152 anggota DPD melakukan pemilihan pimpinan untuk periode 2024- 2029, Sultan meraih dukungan sebanyak 95 suara. Ia resmi menjabat sebagai Ketua DPD RI sejak 2 Oktober 2024.
Sultan dikenal memiliki kemampuan merangkul serta membangun kemitraan dan sinergitas yang baik. Ia juga dikenal sebagai sosok yang penyabar namun tegas.
Kedekatannya dengan pemerintahan lama dan baru akan meningkatkan peran DPD di masa depan, sehingga dapat berkontribusi lebih besar dalam pengambilan kebijakan.
Sultan mengungkapkan bahwa ia mendapat pesan dari presiden Joko Widodo dan presiden terpilih Prabowo Subianto. Setelah pelantikan sebagai Ketua DPD RI, Presiden Jokowi menghubunginya untuk menekankan pentingnya kebersamaan di antara para pimpinan yang mewakili masyarakat daerah di pusat ini.
“Di sela-sela pelantikan pimpinan MPR, kami tersanjung Presiden Jokowi hubungi kami,” katanya.
Penguatan DPD
Dalam pandangan Sultan, posisi DPD sebenarnya sangat strategis, bahkan secara konstitusi sekuat dan setara DPR, MPR, dan lembaga tinggi lain.
Tapi secara kewenangan dan otoritas, fungsinya dibatasi. Legitimasi DPD yang begitu kuat tidak sebanding dengan kewenangan yang diberikan.
“Ini bukan masalah Sultan, bukan masalah pimpinan, bukan masalah anggota per anggota. Tapi soal bagaimana menata sistem ketatanegaraan,” katanya.
Ia sadar proses perbaikan sistem melalui konstitusi tidak gampang. Secara kelembagaan DPD sudah melakukan banyak upaya untuk meyakinkan banyak pihak, seperti kampus, masyarakat daerah, kepala daerah, dan tokoh-tokoh masyarakat bahwa keberadaan DPD dalam sistem bikameral sangat ideal untuk menciptakan keseimbangan.
Tujuannya agar dunia politik, dunia keparlementeran, ada kontrol. Pintu yang paling ideal untuk penguatan lembaga adalah melalui amandemen.
Kalangan DPR pun diyakinkan bahwa penguatan DPD bukan untuk menyaingi mereka. DPD tidak pernah berpikir untuk menyaingi DPR, tidak pernah berpikir untuk mengurangi kewenangan, apalagi melucuti, tidak sama sekali.
Koperasi Merah Putih
Terkait program strategis pemerintah, Sultan sangat optimis kehadiran koperasi Merah Putih sebagai lembaga keuangan mikro dan BPI Danantara menjadi jawaban atas fenomena deindustrialisasi di Indonesia saat ini.
Ia mengungkapkan, kontribusi industri pengolahan Indonesia terhadap PDB mencapai 19,89 persen pada 2024. Capaian tersebut akan terus tumbuh jika programprogram pemerintah yang padat modal, seperti koperasi Merah Putih, dapat diterjemahkan menjadi koperasi produksi di setiap desa.
Fenomena deindustrialisasi serta ancaman praktik lintah darat dan pinjaman online saat ini sangat mengkhawatirkan. Oleh karena itu,kebijakan ekonomi Pemerintahan Presiden Prabowo dan Gibran yang menghadapi tantangan geopolitik dan geoekonomi dengan pendekatan yang tidak populis perlu didukung.
Kebijakan efisiensi anggaran dan pengalokasian anggaran pada sektor keuangan dan investasi, kata Sultan, menyebabkan terjadinya culture shock birokrasi sekaligus menjadi shock absorber secara ekonomi.
Penyesuaian kebijakan pemerintah dari sebelumnya yang sangat mengandalkan government spending pada barang konsumtif kini beralih ke kebijakan yang lebih sistematis dan produktif.
“Dampak dari kebijakan yang sistematis memang akan terasa lebih lama, namun sangat kuat secara fundamental dalam jangka panjang. Karena itu wajar jika terjadi perubahan mood sosial dan ekonomi masyarakat, juga keputusan investasi pasar,” ungkapnya.
Meski demikian, Sultan optimis bahwa di tengah tantangan ekonomi global dan keterbatasan ruang fiskal, pemerintah mampu melihat peluang dan keuntungan ekonomi. Karena selalu ada kemudahan di balik setiap kesulitan.
“Ke depan, kita akan menyaksikan koperasi pengolahan kelapa, koperasi pengolahan kopi, koperasi perikanan, dan berbagai koperasi produksi lainnya di desadesa kita,” katanya.
Tetap Berjuang untuk Bengkulu Walau Pernah Gagal Gubernur
Sultan Baktiar Najamudin, ada darah atau keturunan pendiri Provinsi Bengkulu. Karena itu setelah lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI sesudah dengan susah payah kuliah di Universitas Indonesia (UI) sambil bekerja apa saja sampai sukses, kembali ke Bengkulu menjadi pengusaha dan anggota DPD RI. Pernah jadi wakil gubernur, jadi pengusaha lagi, nyalon DPD RI, dan saat ini menjadi Ketua DPD RI untuk periode 2024–2029.
Lahir di kampung yang listrik saja belum ada, Sultan dibesarkan di tengah keluarga yang sangat terbatas secara ekonomi. Di balik semuaketerbatasan itu terselip kisah membanggakan pada Sultan.Orangtuanya ikut menorehkan sejarah kelahiran Provinsi Bengkulu.
“Kakek dari ibu turunan dari Pagaruyung, Minang Sumatra Barat,” katanya.
Sultan merasa bersyukur sejak kecil telah dibekali pendidikan mental dan akhlak. Tak ada kata cengeng atau mental meminta-minta dalam keluarganya.
Berkat didikan baik itu pulalah Sultan remaja bisa masuk kampus UI, kampus idamannya. Sudah biasa bagi Sultan kala itu harus on-off kuliah. Banyak peluang terbuka.
Rezeki bisnisnya berkembang, bahkan di luar ekspektasi. Sultan memiliki beberapa industri, kemudian bergerak di bidang ekspor-impor, bisnis bidang security, persenjataan, hingga bahan peledak. Berkah Tuhan, rezekinya mengalir sehingga ia bisa terus melanjutkan kuliah sampai lulus.
Pulang Kampung
Sultan adalah paket komplet untuk sukses. Ia merupakan kombinasi antara bakat, keuletan, kerja keras, kreatif, dan inovatif. Setelah berhasil menaklukkan Ibu Kota, Sultan justru memilih pulang kampung.
Sesuatu yang hampir tak pernah ia lakukan setelah merantau. Rupanya, kemudian ia tahu bahwa kakeknya adalah Ketua Presidium Pendiri Provinsi Bengkulu yang memisahkan diri dari Provinsi Sumatra Selatan.
Semua anak cucu yang sudah menghilang di perantauan diminta pulang untuk membangun Bengkulu. Mulailah saat itu ia bolak-balik.Kemudian di bidang kepemudaan, hingga menjadi Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan di Himpunan Pengusaha
Muda Indonesia (HIPMI). Bisnisnya bertambah dengan tambang minyak dan gas, perkebunan, sampai teknologi informasi.
“Sebagian memang by plan, tapi sebagian ya mengalir saja gitu. Jadi pada saat saya jadi aktivis sambil berbisnis,” ungkap dia.
Sultan kemudian mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI tahun 2009. Di luar dugaan, dukungan mengalir kencang. Ia bahkan mendapatkan suara terbanyak.
Tidak sampai selesai menjadi anggota DPD, Sultan kembali balik kampung karena diminta menjadi Wakil Gubernur Bengkulu 2013- 2015.
Gagal jadi Gubernur
Saat menjadi wakil gubernur, Sultan sadar betul bahwa dirinya mempunyai banyak gagasan dan ide. Hanya saja ia juga mengerti bahwa dunia birokrasi ada rule of the game, ada tupoksi wakil gubernur yang tidak mungkin dilanggar.
Karier politiknya terus melaju, ketika atas dukungan masyarakat, ia maju dalam pemilihan gubernur Bengkulu 2015-2020. Sayang, ia belum beruntung, padahal sejumlah survei menyebut bahwa ia tidak mungkin kalah.
Ia banyak belajar dari kekalahan itu dan kembali meneguhkan hati untuk mengurus bisnis-bisnisnya yang 4-5 tahun ditinggalkan. Sejatinya, jabatan gubernur tidak asing lagi bagi Sultan.
Hampir semua Gubernur Bengkulu adalah kerabatnya. Dari paman, kakak, hingga teman. Baginya tidak jadigubernur tak masalah. Ia akan mendukung siapa pun yang jadi. Sultan tetap memiliki semangat dan motivasi memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memajukan Bengkulu.
Tetapi lagi-lagi dunia politik menggodanya. Sultan yang sudah mantap kembali ke jalur bisnis, diminta masyarakat untuk maju dalam pemilihan DPD RI. Ia merasa belum saatnya come back di dunia politik.














