Pendidikan di ITB, dengan segala tantangan dan kesulitannya, menjadi pengalaman yang membentuk ketekunan, kedisiplinan, serta daya juang, modal penting yang kemudian sangat berperan dalam perjalanan kariernya.
“Banyak orang mengatakan, di ITB itu masuknya susah keluarnya juga susah,” katanya.
Untuk itu, ia harus mengikuti kuliah dan mengerjakan tugas dengan tekun agar proses pendidikannya lancar. Meskipun belajar siang dan malam, ada saja mata kuliah yang sulit lulus, bahkan ada yang sudah lima kali mengulang namun tetap tidak berhasil, sehinggamembuatnya sedih hingga meneteskan air mata.
“Akhirnya semua yang tidak lulus itu digabungkan menjadi satu kelas dan diganti dosennya,” kenangnya.
Rata-rata mahasiswa ITB membutuhkan waktu studi tujuh tahun, namun ia berhasil lulus dalam waktu lima setengah tahun, meski sangat aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan.
Ia adalah salah satu aktivis mahasiswa yang turut mengkonsepkan Senat Mahasiswa di ITB, yang kini diterapkan di seluruh kampus di Indonesia.
“Kala itu, tahun 80-an, sangat sulit untuk berkuliah, bahkan sampai harus menjual ayam dan berani merantau dari Bali ke Bandung,” ujarnya.
Bekal dari ITB
Wayan Koster menyatakan, cara pandangnya dalam membangun Bali banyak dipengaruhi oleh pendidikan yang ia terima di ITB. Selama kuliah, ia terbiasa dengan latihan berpikir yang terstruktur, mulai dari kalkulus hingga logika dasar matematika.
Pengalaman ini membentuk kemampuan berpikir kritis, analitis, dan sistematis yang kemudian ia gunakan dalam memecahkan masalah dan mengambil keputusan.
Ia mencontohkan beberapa kebijakan yang ia hasilkan ketika memasuki dunia politik berangkat dari pengalaman semasa perkuliahan. Salah satunya saat ia menjadi anggota DPR RI dan terlibat dalam penyusunan 14 undang-undang, termasuk regulasi tunjangan profesi guru dan tunjangan guru besar yang berhasil memberikan peningkatan tunjangan hingga tiga kali gaji pokok.
Selain bekal akademis, pengalaman organisasi turut membentuk cara kerjanya. Saat diberi kepercayaan menjadi Gubernur Bali, langkah pertama yang ia lakukan adalah mempelajari kondisi Bali secara menyeluruh, meliputi aspek alam, manusia, dan kebudayaan, untuk merancang kebijakan yang sesuai dengankondisi nyata di lapangan.
Ia melihat meskipun Bali dianugerahi sumber daya alam yang besar, pulau ini menghadapi sejumlah masalah, seperti tingginya alih fungsi lahan pertanian, menurunnya jumlah subak (sistem irigasi sawah tradisional), persoalan ketersediaan air, dan meningkatnyamasalah lingkungan.
Soliditas Alumni
Saat ini Wayan Koster jugamenjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat Alumni ITB Bali. Ia berharap ikatan alumni dapat bersatu mendukung program pemerintah sesuai kompetensi dan keahlian masing-masing.
Kebersamaan dan rasa kekeluargaan dalam komunitas alumni ITB, menurutnya, harus menjadi kontribusi nyata bagi Bali, mengingat setiap alumni memiliki keahlian yang beragam sesuai bidang studinya.
“kami berharap sektor di Bali bisa didorong sesuai kompetensi dan keahlian mereka,” katanya.
Ia juga mendorong Ikatan Alumni ITB, baik di Bali maupun luar Bali, untuk memberikan dukungan kepada para kepala daerah lulusan ITB, termasuk tokoh yang kini memimpin Daerah Khusus Jakarta.
Menurutnya, kuliah di ITB sudah melalui proses seleksi dengan standar tinggi sehingga para alumninya merupakan komunitas di atas rata-rata. Secara akademis, lulusan ITB memiliki fondasi profesionalisme yang menjadi modal kuat untuk berkarier di berbagai bidang, baik di pemerintahan maupun swasta.
Namun, untuk menjadi yang terbaik di bidang masing-masing, tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi, akademik, dan profesionalisme. Dibutuhkan kemampuan adaptasi, komunikasi, koordinasi, sinergi, dan kolaborasi yang baik.
“Dari pengalaman saya, pada umumnya lulusan ITB itu sangat egois, merasa dirinya pintar, bisa lebih dari yang lain, terlalu percaya diri,” ujarnya.
Visi Besar Bali
Dengan pengalaman luas di bidang legislatif dan eksekutif, serta rekam jejak keberhasilannya di periode pertama, membawa visi besar untuk menjadikan Bali sebagai model pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan budaya lokal, teknologi modern, dan ekonomi hijau.
Selama masa kepemimpinan periode pertama, fokus pada pelestarian budaya dan lingkungan Bali. Salah satu kebijakan signifikan yang diterapkannya adalah larangan penggunaan plastik sekali pakai melalui Peraturan Gubernur No. 97 Tahun 2018, dengan harapanmengurangi sampah plastik di laut hingga 70% dalam setahun.
Pencapaian besar lainnya, yaitu pengesahan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2023 tentang Provinsi Bali. Undang-undang ini memberikan landasan hukum yang kuat bagi Baliuntuk mengelola potensi alam, sumber daya manusia, dan kebudayaan dengan lebih mandiri dan efektif, menjadi tonggak penting dalam sejarah provinsi ini.
“Hampir 75 tahun sejak Indonesia Merdeka, Bali baru memiliki Undang-Undang tersendiri,” katanya.
Bali Ke Depan
Untuk periode keduanya, Wayan Koster, menetapkan arah pembangunan Bali yang mencakup beberapa strategi utama sebagai pelaksanaan haluan pembangunan Bali 100 Tahun Bali Era Baru 2025-2125 untuk menjaga alam, manusia, dan kebudayaan Bali agar Bali tetap lestari dan harmoni.
Pertama, pariwisata berbasis budaya, berkualitas, dan bermartabat. Melalui Eco-tourism, dengan mengedepankan konsep pariwisata ramah lingkungan untuk menarik wisatawan yang peduli pada keberlanjutan.
Kedua, Bali mandiri energi dengan energi bersih, dengan memanfaatkan sumber daya lokal seperti energi surya dan mikrohidro untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Ketiga, Penguatan Infrastruktur Pariwisata, melalui Bali Smart Island, ia mengintegrasikan teknologi digital dalam layanan pariwisata untuk meningkatkan pengalaman wisatawan.
Pembangunan kereta cepat Bali yang menghubungkan destinasi wisata utama untuk mempermudah mobilitas wisatawan dan
masyarakat lokal.
Keempat, Pelestarian Adat Budaya dan Lingkungan dengan memperkuat regulasi berbasis kearifan lokal, seperti mendorong adat Bali dalam menjaga ekosistem. Rehabilitasi lahan kritis dan perlindungan ekosistem pesisir untuk melawan dampak perubahan iklim.
Kelima, Transformasi ekonomi dengan ekonomi kerthi Bali yaitu mengurangi ketergantungan pada sektor pariwisata dengan mendorong sektor kreatif, pertanian organik, dan perikanan berkelanjutan dan meningkatkan daya saing produk budaya lokal di pasar internasional.
Harmoni Visi Modern Dengan Tradisi Bali
Dalam berbagai kebijakan sebagai Gubernur Bali, Wayan Koster memadukan visi modern dengan kewajiban menjaga tradisi dan lingkungan. Tantangan terbesar Bali memang berada di titik persimpangan, bagaimana menyeimbangkanpariwisata dan investasi dengan kelestarian alam serta budaya.
Koster mengeluarkan sejumlah kebijakan yang mengakar kuat. Salah satunya adalah Pergub tentang penggunaan busana adat di ruang publik pada setiap hari kamis, purnama, dan hari jadi pemerintah daerah.
Meski sempat menuai beragam komentar, kebijakan ini justru menciptakan suasana khas Bali yang lebih menonjol dalam kehidupansehari-hari.
Selain itu, Perda tentang Desa Adat memperkuat posisi kelembagaan adat sebagai mitra resmi pemerintah dalam pembangunan sosial, budaya, dan ekonomi.
Ekonomi kreatif juga mendapat perhatian khusus. Koster menyadari bahwa pariwisata tidak hanya bertumpu pada pantai atau pura, tetapi juga pada produk budaya yang hidup. Ia aktif mendorong desainer dan perajin lokal untuk menggunakan kain tenun khas Bali.
Ekonomi kreatif juga mendapat perhatian khusus. Koster menyadari bahwa pariwisata tidak hanya bertumpu pada pantai atau pura, tetapi juga pada produk budaya yang hidup. Ia aktif mendorong desainer dan perajin lokal untuk menggunakan kain tenun khas Bali.
Kesadaran Kolektif
Sumber utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bali berasal dari pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor.Namun, Wayan Koster, melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang bertujuan menjaga harmoni dan kesucian alam Bali, menilai bahwa ketergantungan pada pajak kendaraan bermotor tidaklah berkelanjutan.
Pengendalian jumlah kendaraan bermotor perlu dilakukan secara bertahap agar masyarakat memiliki waktu untuk beradaptasi. Saat ini,kepemilikan kendaraan pribadi, seperti sepeda motor dan mobil, masih dianggap sebagai simbol prestise oleh masyarakat.
Pola pikir ini cukup kuat, sehingga langkah pengendalian kendaraan tidak dapat dilakukan secara drastis. Dalam jangka panjang, Kosteroptimis bahwa masyarakat Bali akan mulai menyadari pentingnya pola hidup yang lebih efisien, sehat, dan ramah lingkungan.
Ia meyakini bahwa kesadaran ini akan mendorong masyarakat untuk beralih menggunakan moda transportasi umum, berjalan kaki, atau bersepeda sebagai alternatif yang lebih baik.
“Seperti di negara-negara maju seperti Jepang dan Eropa, masyarakat sudah lebih memilih transportasi publik dibandingkan kendaraan pribadi,” katanya.
Membangun MRT
Bali telah memulai proyek Mass Rapid Transport (MRT) sebagai langkah untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di Pulau Dewata. Proyek kereta bawah tanah ini dirancang agar tetap menjaga keasrian lingkungan sekaligus mendukung mobilitas yang lebih baik, terutama di kawasan wisata.
MRT Bali diharapkan tidak hanya memberikan solusi transportasi modern, tetapi juga menjadi bagian dari daya tarik pariwisata. MRT ini lebih ditujukan untuk wisatawan, dengan skema bundling tiket MRT bersama tiket pesawat.
Hal ini diharapkan mampu mendorong peningkatan jumlah pengguna MRT di kalangan wisatawan. Proyek MRT Bali dirintis melalui kolaborasi antara pemerintah Bali, Bappenas, dan Menteri Perhubungan.
Pendanaan proyek ini menggunakan skema business to business (B2B) dengan melibatkan investasi swasta untuk memastikan tidak membebani APBD Bali.
Peletakan batu pertama telah dilaksanakan pada September 2024. MRT Bali akan dibangun dalam empat fase, dimulai dari Bandara I Gusti Ngurah Rai menuju Central Parkir Kuta, Seminyak, Berawa, hingga Cemagi pada fase pertama.
Fase kedua akan menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan Jimbaran, Universitas Udayana, hingga Nusa Dua. Fase ketiga melanjutkan jalur dari Central Parkir Kuta menuju Sesetan, Renon, hingga Sanur, sedangkan fase keempat akan mencakup jalur dari Renon ke Sukawati hingga Ubud. Jalur pertama dan kedua diperkirakan mulai beroperasi pada tahun 2031.
Peluang dan Tantangan
Wayan Koster memiliki peluang besar untuk menjadikan Bali sebagai model pembangunan hijau dunia. Prospek lima tahun ke depan memberikan harapan bahwa Bali akan tetap mempertahankan keunggulannya sebagai destinasi wisata global, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pelopor ekonomi hijau yang berbasis pada budaya lokal.
Peluang lima tahun ke depan antara lain Daya Tarik Global, Bali tetap menjadi destinasi wisata unggulan dunia, untuk menarik investasi hijau. Inovasi Teknologi dengan digitalisasi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dapat meningkatkan daya saing Bali.
Pertama, tantangan yang akan di dihadapi antara lain, Overtourism. Terjadinya lonjakan wisatawan dapat memicu kerusakan lingkungan dan tekanan sosial.
Kedua, Ketimpangan Wilayah, keuntungan ekonomi masih terpusat di daerah tertentu seperti Kuta dan Ubud, sementara wilayah lain membutuhkan perhatian lebih.
Ketiga, Persaingan Global, Negara seperti Thailand dan Vietnam terus meningkatkan pariwisata mereka, menambah tekanan pada Bali untuk berinovasi.
Karier Awal
Sebelum dikenal sebagai politisi, Wayan Koster lebih dulu menapaki jalur akademik dan profesi. Setelah lulus dari Matematika ITB pada 1987, ia sempat menekuni dunia pendidikan.
Ia menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi di Jakarta, antara lain di Universitas Tarumanagara, Universitas Pelita Harapan (UPH), dan STIE Perbanas, serta sempat aktif sebagai peneliti dan penulis sejumlah karya akademis.
Karier akademiknya juga disertai dengan kiprah profesional. Ia terlibat dalam penyusunan berbagai program pendidikan dan riset, sembari melanjutkan studi hingga meraih gelar S2 Manajemen (1997) dan Doktor Pendidikan di UNJ (1999).
Awal karier politik tak lepas dari kedekatannya dengan PDI Perjuangan. Ia resmi bergabung sejak era 1990-an, dan mulai dikenal publik ketika terpilih sebagai anggota DPR RI dari dapil Bali pada 2004.
Dari situ, ia meniti karier politik yang cukup panjang di Senayan selama tiga periode (2004–2019). Sebagai legislator, Koster dikenal vokal memperjuangkan isu-isu strategis untuk Bali: pendidikan, kebudayaan, serta pembangunan berkelanjutan.
Ia juga terlibat dalam pembahasan berbagai undang-undang besar, dan membangun jejaring politik luas, baik di internal PDI Perjuangan maupun dengan tokoh-tokoh nasional.














