Koperasi Desa Merah Putih (Img: rri.co.id)

Membangun Heroisme Ekonomi, Belajar dari Tiga Negara Tetangga – Oleh Agus Pakpahan

Share

Delapan puluh tahun pasca kemerdekaan, Indonesia seperti masih berlari di tempat. Ekonomik tetap bertumpu pada pola warisan kolonial, mengekstraksi sumber daya alam, mengekspornya sebagai bahan mentah, dan mengimpor barang jadi.

Pada tahun 2025, seperti terperangkap dalam lingkaran kesulitan yang sama sejak 1945: bagaimana mengubah kekayaan alam menjadi kemakmuran yang mandiri dan berkelanjutan. Data Bappenas 2024 menyebutkan, 73% ekspor kita masih berupa bahan mentah atau setengah jadi.

Pola “cepat ke pelabuhan” warisan kolonial Belanda telah mengkristal menjadi kecanduan struktural (path dependency). Kita sibuk membangun banyak hal, tetapi jarang menyelesaikan satu rantai nilai hingga tuntas. Hasilnya adalah sindrom “seribu proyek setengah jadi”, yang menghabiskan energi tanpa pernah mencapai transformasi mendasar.

Tiga negara tetangga memberikan pelajaran berharga. Mereka adalah cermin yang memperlihatkan di mana letak kelemahan kita, sekaligus peta menuju jalan keluar. Heroisme korporasi Tata Tea dari India, kedalaman riset dan pengembangan (R&D) Malaysia, serta kesabaran strategis lompatan industri Vietnam, bisa menjadi contoh yang baik.

Pelajaran dari India

Heroisme yang Membalikkan Arus Kolonial. Kisah Tata Tea bukan sekadar kesuksesan bisnis, melainkan sebuah drama heroik tentang kemerdekaan ekonomi. Pada tahun 2000, grup Tata dari India mengakuisisi Tetley of Britain, perusahaan teh terbesar kedua di Inggris, dengan nilai sekitar US$450 juta. Aksi itu adalah puncak dari perencanaan strategis selama seperempat abad (1975-2000).

Di balik angka tersebut, terdapat filosofi yang dalam: India belum sepenuhnya merdeka selama perusahaan Inggris masih mengendalikan distribusi dan merek teh India di pasar global, termasuk di Inggris sendiri. Akuisisi Tetley adalah pembalikan hubungan kolonial—kini perusahaan India yang menguasai saluran distribusi di bekas negara penjajah.

Kunci suksesnya adalah fokus dan kedalaman. Tata Tea tidak tergoda melakukan diversifikasi prematur. Mereka menghabiskan puluhan tahun membangun “kata terpanjang” dalam industri teh, menguasai setiap mata rantai: dari perkebunan, pengolahan, pencampuran (blending), pembangunan merek, hingga distribusi global.

Indonesia memiliki perkebunan teh yang luas, tetapi tidak ada satu pun merek teh Indonesia yang menjadi pemain global. Lebih nyaman mengekspor teh dalam bentuk bulk ke perusahaan multinasional, yang kemudian menjualnya kembali ke kita dengan kemasan mewah dan harga premium. Mentalitas “yang penting laku diekspor” masih lebih kuat daripada ambisi untuk menguasai rantai nilai hingga ujung. 

Pelajaran dari Malaysia

Kedalaman kapabilitas yang diam-diam mengagumkan. Ketika harga komoditas pertanian dunia jatuh pada 1980-an,respons Malaysia tidak panik. Alih-alih mencari jalan pintas dengan melompat ke banyak sektor baru, mereka memilih investasi yang tampak “membosankan”: riset dan pengembangan (R&D) pertanian secara masif.

Data menunjukkan, pada 1995, Malaysia telah melampaui Amerika Serikat dalam pengeluaran R&D pertanian per kapita. Fokus mereka bukan hanya meningkatkan produktivitas kelapa sawit, tetapi menciptakan seluruh spektrum produk turunan bernilai tinggi, dari oleokimia hingga bahan farmasi. 

Hasilnya, saat ini, meskipun Indonesia adalah produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar dunia, Malaysia menguasai 34% pasar oleokimia global. Indonesia hanya berkutat di angka 15%. Malaysia membangun kedalaman kapabilitas, sementara kita sering kali hanya membangun luasan proyek tanpa kedalaman ilmu dan penguasaan teknologi. Mereka sabar membangun “kata terpanjang” dalam oleokimia selama 20 tahun, sementara kita kerap melompat dari satu proyek strategis ke proyek lain sebelum yang sebelumnya matang.

Pelajaran dari Vietnam

Kesabaran strategis yang akhirnya melesat. Pada 1990, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) per kapita Vietnam hanya sepertiga dari Indonesia. Kini, posisi itu telah terbalik. Vietnam bukan sekadar mengejar, tetapi telah melampaui kita di banyak bidang, khususnya manufaktur. Ekspor manufaktur Vietnam pada 2024 mencapai US$300 miliar, sementara Indonesia di angka US$145 miliar.

Rahasianya bukanlah keajaiban, melainkan kesabaran strategis dan penerapan logika bertahap yang cerdas. Vietnam tidak mencoba langsung membuat iPhone. Mereka memulai dari yang sederhana: merakit komponen elektronik dasar. Setelah kapabilitas dan infrastruktur pendukungnya kuat, mereka secara sistematis naik kelas, hingga akhirnya menjadi hub manufaktur elektronik global yang diperhitungkan.

Vietnam menghabiskan 15 tahun pertama (1995-2010) dengan sabar membangun fondasi: infrastruktur, pendidikan vokasi, dan reformasi birokrasi. Mereka menolak godaan pertumbuhan cepat yang instan namun rapuh. Baru di dekade berikutnya, fondasi kokoh itu menghasilkan lompatan ekonomi spektakuler.

Tiga Defisit Kronis

Dari ketiga guru itu, bisa mengidentifikasi tiga defisit utama yang menghambat Indonesia.

Pertama, Defisit Heroisme Ekonomi. Kekurangan visi dan keberanian kolektif untuk membalikkan hubungan ekonomi kolonial, seperti yang dilakukan Tata Tea.

Kedua, Defisit Kedalaman Kapabilitas. Seperti ditunjukkan Malaysia, Indonesia kaya sumber daya tetapi enggan berinvestasi serius dan konsisten pada R&D serta penguasaan teknologi jangka panjang.

Ketiga, Defisit Kesabaran Strategis. Seperti Vietnam, membutuhkan visi 20-30 tahun, namun kebijakan kita sering terjebak dalam siklus politik 5-tahunan dan proyek-proyek mercusuar yang tidak berkelanjutan.

Laporan BPK yang kerap menemukan proyek strategis mangkrak atau beroperasi di bawah kapasitas karena integrasi hulu-hilirnya tidak dipersiapkan dengan matang. Ini adalah warisan mentalitas kolonial yang akut: bangun fisiknya dulu, pikirkan kapabilitas dan kelanjutannya nanti.

Solusi BUMA-NKRI

Untuk memecah kebuntuan ini, gagasan BUMA- NKRI (Badan Usaha Milik Anggota-Negara Koperasi Republik Indonesia) hadir sebagai terobosan kelembagaan. Sebuah koperasi raksasa yang dimiliki oleh 199 juta anggota (seluruh penduduk dewasa Indonesia), dengan simpanan pokok @Rp1 juta. BUMA-NKRI bukan sekadar mesin pengumpul modal (Rp 199 triliun), melainkan alat untuk mengatasi ketiga defisit tadi.

Mengatasi Defisit Heroisme: BUMA-NKRI menciptakan “heroisme kolektif”. Setiap keputusan bisnisnya akan selalu diuji oleh pertanyaan: “Apakah ini membangun kedaulatan dan kemandirian ekonomi rakyat, atau justru melanjutkan ketergantungan?”

Mengatasi Defisit Kedalaman Kapabilitas: Dengan skala modal yang besar, BUMA-NKRI dapat mengalokasikan dana R&D secara masif (misalnya, Rp10 triliun per tahun jika 5% dialokasikan untuk R&D). Ini setara dengan menggabungkan anggaran seluruh lembaga riset negara. Dana ini dapat difokuskan untuk mendalami teknologi kunci di sektor- sektor strategis.

Mengatasi Defisit Kesabaran Strategis: Sebagai badan usaha berbasis koperasi, BUMA-NKRI dirancang untuk melampaui siklus politik dan kepentingan jangka pendek. Ia dapat merancang dan menjalankan masterplan industri dengan kerangka waktu 20-30 tahun, persis seperti yang dilakukan Vietnam.

Tiga Rantai Nilai Prioritas

Agar efektif, BUMA-NKRI tidak boleh mencoba mengerjakan segalanya sekaligus. Dalam 10 tahun pertama, fokus harus diberikan pada tiga rantai nilai yang memiliki dampak luas.

Pertama, Baterai Kendaraan Listrik dan Ekosistemnya: Mengolah nikel hingga menjadi baterai dan kendaraan listrik, menguasai rantai nilai dari hulu ke hilir.

Kedua, Oleokimia dan Biofarmasi: Meniru kedalaman Malaysia, mengubah minyak sawit menjadi ratusan produk turunan bernilai tinggi, termasuk bahan baku farmasi.

Ketiga, Ekonomi Digital dan Infrastruktur Data: Membangun kedaulatan digital Indonesia, dari infrastruktur data hingga platform yang dimiliki bangsa sendiri.

Prinsipnya adalah prinsip “pohon” dari Hausmann: kuasai dan dalami satu pohon industri (rantai nilai) sepenuhnya sebelum melompat ke pohon yang lain.

BUMA-NKRI bukan obat ajaib yang menyelesaikan semua masalah dalam semalam. Ia membutuhkan revisi regulasi, tata kelola yang transparan dan modern, serta—yang paling sulit—perubahan mentalitas dari “cepat ke pelabuhan” menjadi “sabar membangun kapabilitas dan kedalaman”.

Pada akhirnya, seperti disampaikan Ratan Tata, kemerdekaan sejati adalah ketika kita mengontrol nasib ekonomi sendiri. Indonesia telah terlalu lama terjebak dalam pola pikir kolonial. Dengan belajar dari guru-guru di sekitar kita dan merancang kelembagaan yang tepat seperti BUMA-NKRI, kita dapat mulai menulis babak baru: babak kemerdekaan ekonomi yang sesungguhnya.***

Artikel Terkait

Scroll to Top