Duo Hartono konsisten ada puncak daftar orang terkaya Indonesia. Antara lain melalui kepemilikan saham 54,94% di BCA .
Per Maret 2026, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan nilai mencapai sekitar Rp 833,4 triliun.
Dikutip dari Bloomberg Technoz data Maret 2026 menunjukkan kekayaan Hartono bersaudara tetap
berada di jajaran teratas.
Michael Bambang Hartono memiliki kekayaan sekitar US 17,5 – 18,9 miliar (sekitar Rp 297 – 319 triliun) serta R. Budi Hartono dengan kekayaan sekitar US 17,8 – 19,6 miliar (sekitar Rp 299 – 330 triliun).
Mulai dengan Petasan
Cikal bakal Grup Djarum dibangun oleh ayahanda Hartono bersaudara mendiang Oei Wie Gwan, pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah yang memulai usahanya pertama kali dengan memproduksi mercon atau petasan tahun 1927.
Usaha petasan Oei jatuh bangun. Pabriknya pernah meledak pada 1939 dan 1942. Tak patah semangat, Oei mengubah haluan dengan berbisnis rokok.
Oei membeli perusahaan kecil Djarum Gramophon dan kemudian mengubah namanya menjadi Pabrik Rokok Djarum (PR Djarum) pada 21 April 1951 di Kudus, Jawa Tengah.
Sama seperti saat berbisnis petasan, Oei juga jatuh bangun dalam bisnis rokok. Pabrik rokoknya
nyaris musnah akibat kebakaran pada 1963.
Pada tahun yang sama Oei wafat dan meninggalkan bisnis Djarum kepada putranya, Michael
Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono.
Mewarisi ketekunan dan kegigihan sang ayah, duo Hartono membangun kembali pabrik rokok peninggalan ayah mereka.
Djarum bertransformasi menjadi salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Beberapa produk Djarum terkenal dan menjadi menjadi produk yang laris di pasar seperti Djarum Coklat, Djarum 76, Djarum Super, LA Lights, dan Djarum Black.
Konglomerat Terbesar
Di bawah komando duo Hartono, bisnis Djarum mulai merambah ke sektor lain. Bisnis Djarum mulai
masuk ke sektor elektronik melalui PT Hartono Istana Teknologi (Polytron), keuangan melalui Bank BCA hingga property.
BCA (Bank Central Asia) yang menjadi salah satu perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia Selain itu bisnis Djarum juga berkembang di sektor properti, agribisnis (HPI Argo), dan teknologi/digital (Blibli, Tiket.com).
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar Grup Djarum sebagai konglomerasi melalui berbagai
saham yang dimiliki di BEI merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia.
Salah satu lini bisnis Djarum adalah sektor properti dengan kepemilikan paling terkenal adalah PT Cipta Karya Bumi Indah sebagai swasta yang memenangkan pengelolaan kawasan Grand Indonesia pada 2004.
Perusahaan itu pula yang membangun pusat perbelanjaan Grand Indonesia dan renovasi Hotel Indonesia menjadi hotel bintang 5 dengan nama Hotel Indonesia Kempinski.
Perusahaan Grup Djarum lain yakni Fajar Surya Perkasa membangun Mall Daan Mogot, sedangkan Nagaraja Lestari membangun pusat grosir Pulogadung Trade Center.
Tidak berhenti di situ, Djarum rupanya juga menggenjot bisnisnya di sector property dengan membangun WTC Mangga Dua melalui PT Inti Karya Bumi Indah.
Ketiga pusat perbelanjaan itu berlokasi di Ibu Kota Jakarta. Masih di sektor properti, Grup Djarum juga membangun bisnis perumahan dan perhotelan yang tersebar di wilayah, misalnya saja Bali Padma Hotel di Bali, Perumahan Karasang Resinda di Karawang, Perumahan Graha Padma dan Bukit Muria di Semarang.
Grup Djarum juga dikenal memiliki perusahaan yang bergerak di sektor elektronik, yaitu PT Hartono Istana Teknologi dengan merek Polytron.
Mengutip buku The Indonesian Economy: Trade and Industrial Policies, perusahaan ini didirikan pada 1975 dengan nama PT Indonesian Electronics & Engineering, sebagai anak usaha PT Djarum Kudus.
Perusahaan ini memiliki produk utama berupa televisi, kulkas, perangkat audio, hingga telepon genggam. Bisnis Polytron terus berkembang pesat.
Saat ini inovasi bisnis Polytron bahkan merambah pada motor dan mobil listrik. Fokus pada transisi ke teknologi ramah lingkungan dan mobilitas cerdas, peluncuran motor listrik (FOX-R, FOX-S) dengan fitur battery swap dan mobil listrik G3 series menandai kesiapan Polytron dalam persaingan bisnis.
Polytron juga menerapkan industri 4.0 di lini produksinya dan berinovasi pada peralatan rumah tangga pintar (kulkas inverter, Smart TV).
Berdasarkan data Asosiasi Industri Perangkat Telematika Indonesia (AIPTI), Hartono Istana Teknologi memiliki luas area pabrik 399.000 m2 dengan jumlah karyawan 6.000- 10.000 orang di seluruh Indonesia.
Di bawah Polytron, Grup Jarum mengoperasikan Mola TV, perusahaan yang menyediakan layanan streaming mulai 2019. Model bisnis Mola TV mencakup tv kabel, IPTV, dan video on-demand.
Merambah Hutan
Bisnis keluarga Hartono merambah sektor kehutanan. Setidaknya, ada tiga perusahaan di bidang kehutanan yang diketahui terafiliasi dengan keluarga Hartono yaitu PT Fajar Surya Swadaya, PT
Silva Rimba Lestari, dan PT Bukit Muria Jaya.
Hartono memiliki konsesi lahan hutan di Kalimantan. Salah satunya, PT Fajar Surya Swadaya yang
berdasarkan profil perusahaannya, bergerak di bidang pengusahaan hutan akasia, hutan eukaliptus, industri pengasapan dan remilling karet, industri karet remah, dan jasa penunjang kehutanan lainnya.
Perusahaan ini juga bergerak di bidang aktivitas telekomunikasi satelit dan jasa sistem komunikasi.
Kemudian, PT Silva Rimba Lestari bergerak di bidang pengusahaan hutan sengon, albasia, jeunjing,
alkasian, eukaliptus.
Tidak hanya itu, Silva Rimba turut bergerak di usaha penggalian kerikil dan penggergajian kayu. Kedua perusahaan tersebut sama-sama dimiliki oleh Grup Djarum melalui PT Dwimuria Utama Andalan, yang bergerak sebagai perusahaan holding (holding companies).
Duo Hartono tercatat sebagai pemegang saham dari PT Dwimuria Utama Andalan. Kedua adik-kakak itu juga tercantum sebagai pemilik dari perusahaan sektor kehutanan lain yakni PT Bukit Muria Jaya.
Perusahaan itu bergerak di usaha perdagangan serta sejumlah industri seperti kemasan dan kotak dari kertas maupun karton, kertas tisu, barang dari kertas serta papan kertas lainnya.
Juga memiliki bidang usaha pada komoditas sawit yaitu PT Hartono Plantation Indonesia (HPI-Agro). Berdiri pada 2008, perusahaan agrobisnis kelapa sawit tersebut beroperasi di DKI Jakarta, Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tidak hanya fokus pada komoditas sawit, melainkan sudah berkembang juga ke cengkeh, tembakau, tebu, jarak kepyar, dan minyak atsiri.
Pada 2016, Djarum Grup diberitakan memperluas sayap bisnisnya di Pulau Sumba dengan investasi lebih dari Rp9 triliun melalui PT Muria Sumba Manis dengan luas lahan 50.000 hektare dengan sistem hak guna pakai (HGP) selama 30 tahun.
Di sisi lain, Grup Djarum juga memiliki afiliasi dengan PT Sumber Kopi Prima, perusahaan yang
meluncurkan dua brand kopi instan yakni Caffino dan Kopi Gadjah.
Masih terkait dengan produk minuman, perusahaan afiliasi lain Grup Djarum juga memproduksi minuman ringan berkemasan yakni Yuzu melalui PT Savoria Kreasi Rasa.
Melantai di Bursa
Beberapa perusahaan di bawah naungan Grup Djarum tercatat melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti PT Bank Central Asia Tbk.
(BBCA), PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR), PT Solusi Tunas Pratama Tbk. (SUPR), PT Global Digital Niaga (BELI), dan PT Supra Boga Lestari Tbk. (RANC).
BCA merupakan bisnis utama Grup Djarum di sektor keuangan, yang merupakan hasil akuisisi pada 2007 melalui Farallon Capital.
Grup Djarum tercatat telah mengubah akta kepemilikan BCA dari Farallon Capital, menjadi PT Dwimuria Investama Andalan.
Bank swasta terbesar di Indonesia itu tercatat memiliki kapitalisasi pasar senilai Rp1.090,98 triliun per Sebanyak 9 entitas anak usaha dimiliki secara langsung dan tidak langsung oleh BCA.
Kesembilan perusahaan anak tersebut yaitu BCA Finance, BCA Finance Limited, Bank BCA Syariah, BCA Sekuritas, Asuransi Umum BCA, BCA Multi Finance, Asuransi Jiwa BCA, Central Capital Ventura, dan Bank Digital BCA.
Gurita Grup Djarum di sektor keuangan semakin besar dengan menjadi pemegang saham mayoritas di perusahaan pengelola jaringan ATM Alto, PT Daya Network Lestari.
Djarum masuk ke perusahaan switching ini melalui Central Capital Ventura sebesar 2% dan Dwimuria Investama Andalan sebesar 18%.
Sebanyak 51 persen atau 107 juta saham Dwimuria digenggam Robert Budi Hartono dan 49 persen
atau 103 juta saham digenggam oleh Bambang Hartono.
Dwimuria tercatat menjadi kendaraan duo Hartono untuk bergerak di pasar modal. Melalui Dwimuria, duo Hartono juga memiliki saham mayoritas di PT Sarana Menara Nusantara Tbk.
(TOWR), Duo Hartono memang tidak menggenggam secara langsung saham TOWR. Penerima
manfaat akhir TOWR merupakan anak-anak dan cucu Hartono bersaudara.
TOWR melalui PT Profesional Telekomunikasi Indonesia atau Protelindo resmi mengakuisisi 94,03 persen saham PT Solusi Tunas Pratama Tbk. (SUPR) senilai Rp16,72 triliun.
Dengan aksi ini, Protelindo ingin memperluas jaringan usaha dan memperkuat posisi perusahaan sebagai pemilik dan operator tower independen.
Pada kuartal akhir 2021, emiten milik Grup Djarum bertambah dengan aksi akuisisi saham PT Supra Boga Lestari Tbk.
(RANC)oleh PT Global Digital Niaga atau Blibli, yang mengakusisi 51% saham atau sebanyak 797,88 juta saham perusahaan pengelola Ranch Market tersebut.
Blibli menjadi perusahaan terbuka paling anyar di bawah Grup Djarum dengan kode emiten BELI.
Anak-anak Sudah Siap Teruskan Estafet Bisnis
Ekspansi bisnis Grup Djarum tak berhenti di generasi kedua. Beberapa nama anak-anak duo Hartono kini melanjutkan ekspansi dan bisnis Grup Djarum dalam berbagai sektor seperti Roberto Setiabudi Hartono, Tessa Natalia Hartono, Armand Wahyudi Hartono, Victor Rachmat Hartono, hingga Martin Basuki Hartono.
Victor, Martin, dan Armand merupakan anak dari Robert Budi Hartono. Ketiga anak Robert ini tercatat menempati berbagai posisi dalam bisnis Grup Djarum.
Victor misalnya, saat ini merupakan Chief Operating Officer (COO) PT Djarum dan Presiden Direktur Djarum Foundation.
Victor pernah mengenyam Pendidikan di Santa Barbara City College (1989- 1991), Bcahelor of Science Teknik Mesin University California-San Diego (1991-1994), dan Master of Business Administration Northwestern University (1996- 1998). Istri Victor adalah Amelia Santoso, anak dari Benny Setiawan Santoso.
Benny merupakan salah satu orang penting di Grup Salim. Martin merupakan Chief Executive Officer (CEO) GDP Venture, perusahaan investasi startup digital dengan fokus di sektor perdagangan, produk consumer, media & hiburan, serta solusi.
Martin pernah mengenyam pendidikan ekonomi di San Diego Mesa College (1992-1994), dan Master of Business Administration Drucker School of Management (1996-1998). Istri Martin adalah
Grace L.
Katuari, anak dari pemilik Wings Group, Eddy William Katuari. GDP Ventures tercatat melakukan investasi di beragam startup dan perusahaan teknologi, seperti Blibli, Halodoc, Tiket.com,
Cermati.com, dan masih banyak lainnya.
Adapun, di sektor hiburan, terdapat portfolio GDP Venture di 88rising, sebuah perusahaan musik
yang berbasis di Amerika Serikat.
Beberapa penyanyi Indonesia yang berada di bawah naungan 88rising di antaranya Rich Brian, Niki,
Warren Hue, dan Stephanie Poetri.
Armand saat ini merupakan Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Armand
pernah mengenyam pendidikan di University of California – San Diego (1996) dan Master of Science Sistem Ekonomi dan Riset Operasi Stanford University (1997).
Sebelum memegang posisi penting di BCA, Armand pernah bekerja sebagai analis riset kredit global dan perbankan investasi J.P. Morgan dan Direktur HRD PT Djarum.
Kiat Sukses
Mengapa bisnis Djarum selalu sukses di setiap lini bisnis yang dia rambah. Soal itu Victor Hartono
pemimpin Grup Djarum saat ini dan sekaligus pewaris Bambang dan Budi Hartono menyebut kisah perjalanan panjang Djarum yang jatuh bangun sejak tahun 1927 menjadi bekal pengalaman berharga untuk menjalankan bisnis.
Orang mungkin saat ini hanya melihat sukses jarum saat ini. Padahal bisnis keluarga ini belasan kali jatuh bangun dengan pengalaman pahit yang sangat panjang.
Namun pengalaman ini menjadi menjadi pelajaran penting untuk terus berubah dan berinovasi.
Industri lama yang digeluti hilang berganti yang baru, industri saat ini belum tentu relevan dan bisa terus berjalan di masa mendatang.
Kondisi politik dan gejolak internasional biasanya menjadi faktor yang menentukan jatuh dan bangun dunia usaha atau secara khusus keberlangsungan grup ini.
Victor menjelaskan bahwa bisnis awal berdagang mercon habis sama sekali karena faktor politik labil
pada masa peralihan Belanda ke Jepang dan masa kemerdekaan.
Praktis bisnis keluarga pada masa awal tahun 1930-an dan 1940-an hancur karena perubahan politik.
Sang kakek, Oei Wie Gwan yang merintis usaha pabrik mercon dengan merek dagang Cap Leo bangkrut berkali-kali karena kecelakaan ledakan, perampokan hingga larangan produksi saat
pendudukan Jepang pada 1942.
Setelah itu bisnis keluarga Hartono beralih masuk perdagangan minyak kacang. Namun, dengan hadirnya kelapa sawit yang lebih efisien, usaha itu pun bangkrut juga oleh dinamika pasar sawit yang efisien dan berkembang pesat.
Selain tantangan eksternal, bisnis keluarga juga memiliki tantangan internal, yakni keluarga. Munculnya anggota keluarga baru menjadi hambatan tersendiri.
Beragam perselisihan mulai dari masalah arus kas, kepemimpinan, hingga pembagian dividen yang
tidak adil menjadi bom waktu yang bisa menggoyahkan bisnis keluarga.
Untuk mengatasi itu, Victor Hartono menyebut membentuk semacam “dewan syuro” di dalam
Grup Djarum untuk memilih pemimpin secara selektif sehingga menemukan pemimpin bisnis yang
bagus dan cakap menjalankan bisnis.
Di fase krusial itulah yang kemudian menjadikan bisnis warisan Bambang Hartono dan Budi Hartono terus berjalan dan berkembang.
Untuk menjaga keberlanjutan bisnis keluarga, Victor menjelaskan fungsi “dewan Syuro” tersebut. Bambang Hartono tidak boleh mengajukan anaknya untuk memimpin, begitu juga Budi Hartono.
Anggota Dewan Syuro yang lain yang harus mengajukan agar obyektif si calon benar-benar bisa memimpin. Selain itu dalam grup ada struktur kepemimpinan yang jelas, bahwa pemimpin utama
sebaiknya hanya satu agar arah bisnis tetap terjaga dan konflik dapat diminimalisir.
Dengan cara itu, pembagian peran antar anggota keluarga terbagi secara adil. Kekompakan internal terjaga dengan semangat keterbukaan bersama.
Rupanya strategi itulah yang akhirnya memperkuat daya saing jangka panjang dari grup ini. Meskipun Bambang Hartono wafat tetapi generasi selanjutnya siap meneruskan.
Regenerasi yang solid adalah kunci sukses dalam bisnis keluarga. Menurut Victor, regenerasi tidak boleh berhenti pada pewarisan nama, tetapi harus menghasilkan pelaku bisnis sejati yang mampu membaca zaman dan terus berjalan ke generasi berikutnya.
Sejarah bisnis yang berlangsung sejak 1927 melahirkan konglomerasi, dan banyak menyerap tenaga kerja dan jaringan bisnis yang sangat luas menjadi bukti nyata.
Tenaga kerja langsung dari grup ini paling tidak mencapai ratusan ribu (100 ribu-120 ribu tenaga kerja). Di Bank BCA terserap tenaga kerja tidak kurang dari 25 ribu-30 ribu karyawan.
Industri rokok bisa mencapai 70 ribu tenaga kerja. Yang lain seperti industri elektronik, jasa-jasa, e-commerce bisa mencapai 10 ribu karyawan.
Sementara itu, tenaga kerja tidak langsung bisa mencapai jutaan tenaga kerja mulai dari rantai pasok tembakau dan cengkeh (petani tembakau, petani cengkeh, pengepul dan distributor bahan
baku dan lainnya.
Selain menyerap banyak tenaga kerja, PT Djarum merupakan salah satu pembayar pajak dan
cukai terbesar di Indonesia.
Jika digabungkan dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan pajak rokok, total kontribusi Djarum
diperkirakan mencapai Rp35 triliun per tahun, menegaskan posisinya sebagai grup perusahaan pembayar pajak terbesar Djarum telah mengajarkan, kerja keras, ketekunan dan inovasi
dalam bisnis nyata memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.











