Dr. Friderica Widyasari Dewi, SE., MBA - Ketua Dewan Komisioner OJK

Dr. Friderica Widyasari Dewi, SE., MBA – Sektor Jasa Keuangan Dukung Prioritas Nasional

Share

Friderica Widyasari Dewi, S.E., M.B.A., yang akrab disapa Kiki, merupakan sosok langka yang memadukan pengalaman sebagai praktisi pasar modal, akademisi, dan birokrat, sekaligus vokal dalam perlindungan konsumen. Saat ini, ia dipercaya sebagai Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk periode 2026–2031, menjadi perempuan pertama yang menahkodai lembaga ini sejak berdiri pada 2012.

Meski sejumlah indikator menunjukkan ekonomi Indonesia relatif tangguh, berbagai tantangan strategis tetap perlu diantisipasi ke depan.

Dalam agenda penguatan sektor jasa keuangan, Kiki menyiapkan delapan kebijakan prioritas yang
mendukung pembangunan ekonomi nasional, sejalan dengan visi Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045.

Delapan kebijakan tersebut mencakup menjaga stabilitas sektor keuangan, memulihkan kepercayaan publik, mendorong kontribusi sektor jasa keuangan terhadap pembangunan ekonomi, memperkuat pengawasan terintegrasi, mempercepat pendalaman pasar, melindungi konsumen dan masyarakat, memperkuat kelembagaan serta internal OJK, dan meneguhkan sinergi dengan kementerian,lembaga, serta pemangku kepentingan terkait.

“Dengan kebijakan ini, kami ingin memastikan sektor jasa keuangan tidak hanya stabil, tetapi juga terpercaya, inklusif, dan berkontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi nasional,” ujarnya.

Arah Kebijakan
OJK telah menetapkan arah kebijakan 2026 yang bertumpu pada tiga pilar utama untuk membentengi sektor keuangan nasional dari ketidakpastian global, sekaligus mengakomodasi pengembangan instrumen baru seperti ekosistem emas (bullion) dan mendukung program strategis pemerintah.

Tiga pilar tersebut meliputi penguatan ketahanan sektor jasa keuangan, pengembangan ekosistem keuangan yang kontributif, serta pendalaman pasar dan keuangan berkelanjutan, dengan fokus menghadapi tantangan global dan mendukung target pertumbuhan ekonomi APBN 2026 melalui literasi dan inklusi.

Kiki menjelaskan, OJK secara spesifik mengarahkan sektor jasa keuangan untuk mendukung
program prioritas nasional, termasuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih)
dan ekosistem Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selain itu, pengembangan sistem kesehatan nasional dan instrumen berbasis emas menjadi prioritas baru untuk memperluas diversifikasi pasar keuangan.

Di sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), OJK tidak hanya mendorong akses permodalan tetapi juga pendampingan berkelanjutan.

Untuk wilayah Sumatera yang terdampak bencana, OJK mengambil langkah relaksasi dengan memberlakukan kelonggaran kredit atau pembiayaan selama tiga tahun ke depan.

“Kami meyakini outlook ekonomi tahun ini tetap positif. OJK akan terus meninjau kebijakan
secara berkala agar tetap selaras dengan dinamika nasional dan global,” katanya.

Perlindungan Konsumen
Sebelumnya Kiki menjabat sebagai Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan yang
membidangi Edukasi dan Perlindungan Konsumen periode 2022–2027, sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen.

Menurutnya, OJK memiliki peran penting dalam mengatur, mengawasi, serta melindungi masyarakat di sektor jasa keuangan.

Perlindungan konsumen mencakup beberapa aspek, mulai dari edukasi kepada masyarakat, pengawasan market conduct, hingga penanganan pengaduan konsumen.

Edukasi menjadi langkah awal dalam perlindungan konsumen. OJK secara aktif melaksanakan
berbagai kegiatan edukasi, termasuk melalui program inklusi keuangan dan peningkatan literasi
keuangan.

Antusiasme masyarakat dinilai sangat besar dan dampaknya dirasakan oleh berbagai kalangan.
Pengawasan market conduct juga menjadi aspek penting dalam melindungi konsumen.

“OJK juga memiliki mekanisme pengaduan bagi konsumen untuk melaporkan ketidaksesuaian atau ketidakpuasan terhadap produk atau layanan keuangan,” katanya.

Berbagai Penghargaan
Sepanjang tahun 2025, Kiki menerima sejumlah penghargaan prestisius yang menegaskan
posisinya sebagai pemimpin perempuan paling berpengaruh di sektor keuangan dan pengakuan
atas kiprahnya dalam memperkuat stabilitas serta inklusi sektor jasa keuangan di Indonesia.

Ia meraih Indonesia Outstanding Women Leader in Financial Services pada ajang Indonesia Leading Women Awards 2025, yang memberikan apresiasi kepada pemimpin perempuan dari berbagai sektor, mulai bisnis, industri, sektor publik, BUMN, hingga seni, budaya, sains, dan inovasi, sekaligus menegaskan dampak nyata kontribusinya bagi masyarakat dan sektor keuangan.

Kiki juga dinobatkan sebagai The Most Outstanding Woman 2025 oleh Infobank, penghargaan bagi eksekutif perempuan yang berhasil memberikan kontribusi positif dan prestasi terbaik di
bidangnya, sekaligus mengukuhkan reputasinya sebagai pemimpin yang inovatif dan berdedikasi tinggi.

Perjalanan Karier
Kiki mengaku menjadi seorang aktris merupakan impiannya ketika remaja. Namun, ia menyadari
bahwa berkarier sebagai artis tidak bisa dijalani selamanya.

Keputusan untuk berhenti dan memasuki dunia keuangan mengejutkan banyak orang pada saat itu, tetapi langkah ini sejalan dengan passion dan minatnya dalam bidang ekonomi dan pasar modal.

Sejak kecil, ia telah menunjukkan ketertarikan kuat untuk terus belajar. Saat menempuh S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), minatnya pada dunia finansial mulai terlihat, kemudian berlanjut ke studi S2 di California State University, Amerika Serikat, dengan fokus pada pasar modal.

Setelah kembali dari Amerika, sempat mengajar di beberapa universitas sebelum memutuskan sepenuhnya terjun ke pasar modal.

Kesempatan muncul ketika ada lowongan di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan karier dimulai dari posisi paling bawah sebagai Kepala Divisi Komunikasi, kemudian Sekretaris Perusahaan.

Memulai dari bawah dianggap sebagai langkah tepat untuk memahami seluk-beluk industri dan membangun karier secara kokoh.

Punya Pengalaman Atasi Turbulensi

Salah satu momen paling berkesan bagi Kiki terjadi ketika ia diangkat menjadi DirekturUtama BRI Danareksa Sekuritas pada 10 Februari 2020. Tak lama setelah  menjabat, perusahaan menghadapi kondisi bisnis yang menantang akibat dampak pandemi Covid-19, sementara pasar modal mengalami turbulensi yang signifikan.

Dalam menghadapi tantangan ini, ia memilih untuk mengoptimalkan platform digital. Memanfaatkan
meningkatnya minat investor ritel dan kebangkitan IHSG seiring redanya pandemi, BRI Danareksa
Sekuritas mempersiapkan infrastruktur yang solid, termasuk meluncurkan sistem online trading
bernama D’One.

Platform ini memberikan akses mudah dan aman bagi investor untuk melakukan transaksi saham
dan investasi secara online, sehingga memudahkan nasabah di tengah situasi yang membatasi kontak fisik.

Dengan adanya D’One, investor dapat tetap bertransaksi dengan nyaman dan aman, tanpa harus datang langsung ke kantor cabang, sekaligus menjaga kelangsungan operasional perusahaan di masa sulit.

Selain mengoptimalkan platform digital, perusahaan juga diuntungkan dari jaringan kantor cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Hal ini memungkinkan layanan menjangkau nasabah potensial di berbagai daerah dan memberikan dukungan penuh bagi investor di seluruh negeri, sehingga kehadiran fisik tetap menjadi penopang penting di samping layanan digital.

“Sebagai salah satu perusahaan sekuritas pionir di Indonesia, kami terus berupaya beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar,” kenangnya.

Kunci Sukses
Kiki menilai bahwa perempuan memiliki peran penting dan kekuatan nyata dalam menghadapi
berbagai tantangan.

Meskipun tampak lembut, perempuan menunjukkan ketahanan yang besar, mampu mengambil keputusan penting, dan menjalankan peran strategis di lingkungan profesional maupun sosial.

Ia menyatakan, kunci kesuksesannya terletak pada menjadi diri sendiri dan mengenali potensi yang dimiliki. Setiap individu memiliki keunikan dan bakat berbeda, sehingga penting untuk tidak terjebak mengikuti pola orang lain atau meniru kesuksesan orang lain.

Kesadaran akan keunikan diri membantu seseorang mengambil keputusan tepat, berkembang sesuai kapasitas, dan menjalani karier dengan keyakinan. Namun, sukses tanpa kebahagiaan tidaklah bermakna.

Oleh karena itu, seseorang harus berani keluar dari pakem dan mencari sesuatu yang sesuai dengan
minat dan passion. Mengejar minat membuat setiap langkah lebih bermakna, memacu motivasi, dan
membantu menghadapi tantangan dengan lebih kuat.

“Dengan tekun dan serius mengembangkan hal yang disukai, seseorang akan berhasil meraih
kesuksesan sekaligus membawa kebahagiaan,” tambahnya.

Siap Melawan Penggoreng Saham

Ketua Dewan Komisioner OJK. Dr. Friderica Widyasari Dewi, SE., MBA menyatakan siap berperang melawan para penggoreng saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perang melawan praktik manipulasi harga saham, yang biasa disebut goreng saham, terus dilakukan OJK.

Praktik ini merusak kredibilitas dan transparansi pasar modal, khususnya di BEI, dan sering berdampak langsung pada anjloknya harga saham sehingga merugikan investor.

Oleh karena itu, OJK mengambil langkah tegas. Sepanjang periode 2022 hingga Januari 2026, lembaga ini telah menjatuhkan denda senilai Rp240,65 miliar kepada 151 pihak yang terbukti melakukan manipulasi harga saham.

Kiki menyatakan, OJK juga tidak akan tinggal diam terhadap maraknya aktivitas influencer saham di ruang digital yang berpotensi merugikan masyarakat.

Regulator pasar modal juga siap menempuh jalur hukum bagi para pemompa saham (stock pompom)
jika terbukti menyesatkan investor.

Para pemengaruh ini tetap dapat dijerat melalui Undang- Undang Pasar Modal maupun aturan turunan terbaru. Selain itu, Peraturan OJK (POJK) khusus yang mengatur aktivitas di ruang digital juga telah diterbitkan, berfokus pada dampak dari aktivitas, bukan identitas pelakunya.

Beberapa praktik yang masuk dalam radar pengawasan OJK antara lain berpura-pura menjadi pengguna produk investasi padahal menerima komisi tersembunyi, menggiring opini untuk membeli saham tertentu sehingga memicu lonjakan harga tidak wajar (pump and dump), serta memberikan rekomendasi tanpa dasar yang valid yang berpotensi merugikan investor ritel.

Langkah tegas ini diambil seiring semakin kuatnya pengaruh media sosial dalam keputusan investasi masyarakat. OJK berharap penguatan pengawasan dapat menjaga integritas pasar modal Indonesia sekaligus memberikan perlindungan ekstra bagi investor, khususnya kaum milenial dan Gen Z yang mendominasi pasar.

“Itu semua bisa kita berikan sanksi yang cukup berat,” katanya.

Artikel Terkait

Scroll to Top