Dorong Kolaborasi Riset dan Inovasi Antara Industri dan Perguruan Tinggi - Ir. Sigit Puji Santosa, MSME, Sc.D, IPU Chief Technology Officer (CTO) Danantara

Dorong Kolaborasi Riset dan Inovasi Antara Industri dan Perguruan Tinggi – Ir. Sigit Puji Santosa, MSME, Sc.D, IPU

Share

Penunjukan Sigit Puji Santosa sebagai Chief,Technology Officer (CTO) Danantara pada 25,Oktober 2025 menjadi momentum penting yang,mempertemukan pengalaman global dengan kebutuhan domestik Indonesia. Rekam jejak panjangnya di industri internasional kini bertemu langsung dengan tantangan pembangunan teknologi nasional yang menuntut ketepatan arah, keberanian inovasi, dan pemahaman konteks lokal.

Sebagai CTO Danantara, ia memasuki ruang kebijakan dan strategi teknologi nasional yang bersifat lintas sektor.

Danantara diposisikan sebagai entitas yang menjembatani kepentingan industri, inovasi teknologi, serta arah pembangunan jangka panjang negara.

Dalam konteks ini, peran CTO menjadi krusial untuk memastikan bahwa teknologi tidak sekadar diadopsi, tetapi juga dikembangkan, dikuasai, dan disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik Indonesia.

Selain aspek profesional, terdapat pula dorongan tanggung jawab moral dan intelektual yang kerap muncul di kalangan diaspora profesional Indonesia.

Setelah mencapai puncak karier di luar negeri, muncul kesadaran bahwa dampak terbesar justru dapat diciptakan di dalam negeri, tempat tantangan masih besar dan ruang perbaikan terbuka luas.

“Saya ingin memberikan kontribusi kepada negara setelah bertahun-tahun bekerja di negeri orang,” ujarnya.

Penunjukan tersebut menempatkannya pada simpul strategis baru. Danantara tidak hanya berfungsi sebagai superholding BUMN, tetapi juga sebagai instrumen negara untuk mengonsolidasikan investasi teknologi di sektor industri pertahanan, energi, dan manufaktur maju.

Mesin Penggerak
Menurutnya, Danantara bukan sekadar pengelola aset, melainkanmesin penggerak industrialisasi teknologi Indonesia.

Karena itu, sebagai CTO Danantara, program-program yang disiapkan akan lebih menekankan pada
penguatan kapabilitas teknologi BUMN, terutama di sektor manufaktur, transportasi, energi, dan pertahanan sebagai tulang punggung industri nasional.

Program lainnya mencakup integrasi riset dan industri dengan memanfaatkan kampus sebagai inkubator inovasi, mendorong investasi berbasis teknologi strategis dan proyek jangka panjang, mengembangkan produk nasional bernilai tambah tinggi, serta mempercepat substitusi impor melalui inovasi lokal.

Ia melihat tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan terletak pada kekurangan sumber daya, melainkan pada kesenjangan teknologi dan lemahnya tata kelola inovasi.

Indonesia memiliki kekayaan mineral, pasar yang besar, serta bonus demografi, namun belum sepenuhnya mampu mengonversi keunggulan tersebut menjadi produk industri yang berdaya saing global.

“Di sinilah Danantara harus mengambil peran sebagai arsitek ekosistem teknologi, bukan sekadar investor pasif,” ujarnya.

Kolaborasi Riset
Dalam hal program, Sigit Puji Santosa menekankan pentingnya Danantara terlibat aktif dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional, termasuk baterai, power electronics, dan sistem manufaktur cerdas.

Namun, fokusnya bukan sekadar pada produk akhir, melainkan pada penguasaan teknologi kunci di seluruh rantai nilai.

“ Tanpa penguasaan teknologi, kita selamanya hanya akan menjadi pasar,” tegasnya.

Selain itu, dengan arah teknologi yang dirancangnya, Danantara akan mendorong kolaborasi riset dan
inovasi antara industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset.

Ia menilai Indonesia membutuhkan jembatan yang mempertemukan dunia akademik dengan kebutuhan industri nyata.

Danantara, menurutnya, dapat berperan sebagai katalis yang memastikan riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi berujung pada komersialisasi dan dampak ekonomi.

Di sisi tata kelola, ia menaruh perhatian besar pada standar, keselamatan, dan keberlanjutan. Pengalaman panjangnya di industri global membuatnya menilai bahwa keunggulan teknologi tidak hanya soal kecanggihan, tetapi juga disiplin dalam proses, kualitas, dan manajemen risiko.

Prinsip ini ingin ia tanamkan dalam setiap program teknologi Danantara. Ia melihat ke depannya Danantara sebagai pemain strategis yang mampu memimpin transformasi industri Indonesia, bukan sekadar mengikuti arus global.

Dengan teknologi sebagai poros utama, Danantara diharapkan menjadi kendaraan negara untuk melompat dari ekonomi berbasis sumber daya menuju ekonomi berbasis inovasi dan nilai tambah
tinggi.

Kiprah Global
Selama 15 tahun, Sigit Puji Santosa berkarier di General Motors (GM), Amerika Serikat, salah satu raksasa otomotif dunia.

Ia terlibat langsung dalam pengembangan kendaraan ikonik seperti Chevrolet Corvette Z06, Cadillac DTS, dan Buick Lucerne.

Perannya tidak berada di lini produksi, melainkan pada desain keselamatan struktural. Tanggung jawab ini menuntut ketelitian tinggi untuk memastikan kendaraan mampu melindungi penumpang dalam berbagai skenario ekstrem.

Di GM, ia dikenal sebagai insinyur yang mampu memadukan ketajaman akademik dengan tuntutan industri otomotif massal.

Atas kontribusinya, ia dua kali meraih Chairman’s Honor Award, penghargaan tertinggi internal GM di bidang inovasi teknik.

Ia juga mengantongi sertifikasi Six Sigma Green Belt dan Black Belt, yang memperkuat reputasinya sebagai teknolog dengan pemahaman kuat terhadap efisiensi, kualitas, dan manajemen industri.

Tahun 2014 menjadi titik balik ketika ia memutuskan kembali ke Indonesia, meninggalkan karier global yang telah mapan.

Kepulangan tersebut bukan keputusan spontan. Orientasi kariernya bergeser dari pencapaian profesional individual menuju kontribusi nyata bagi pembangunan industri nasional.

“Alasannya sebenarnya sederhana. Ini saatnya kembali dan berkontribusi untuk negara, dalam hal ini melalui riset yang selama ini menjadi bidang saya,” ujarnya.

Pimpin Pusat Riset Transportasi Dan Pengembangan Wirausaha

Sekembali ke Tanah Air, Sigit Puji Santosa kembali bergabung dengan ITB sebagai peneliti di Light Weight Structure Laboratory sekaligus dosen di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD). Kiprahnya tidak berhenti di ruang kelas.

Ia dipercaya memimpin sejumlah pusat strategis, mulai dari National Railway Center pada 2016, National Center for Sustainable Transportation Technology pada 2017, hingga menjabat Direktur Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB pada 2018.

Pada fase ini, orientasi pemikirannya mulai mengalami pergeseran. Ia tidak lagi semata berfokus pada solusi rekayasa teknis di tingkat desain dan produksi, tetapi mulai memandang teknologi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kebijakan publik dan arah pembangunan.

“ Teknologi harus hadir dalam sistem transportasi publik, kebijakan energi, dan pembangunan kota masa depan,” katanya.

Indonesia, menurutnya, dalam satu dekade terakhir berada pada fase krusial transformasi industri nasional. Pemerintah mendorong hilirisasi sumber daya alam, penguatan industri manufaktur,
serta pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan teknologi energi baru sebagai fondasi daya
saing jangka panjang.

Tantangan tersebut tidak hanya menuntut ketersediaan investasi modal dan infrastruktur, tetapi
juga kepemimpinan teknologi yang mampu membaca standar global sekaligus memahami realitas dan kebutuhan industri di dalam negeri.

Lahirnya Garuda Limousine
Pada 2023, ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Direktur Utama PT Pindad sekaligus Direktur Teknologi dan Pengembangan.

Pada posisi ini, ia berhadapan langsung dengan tantangan industrialisasi teknologi pertahanan nasional, mulai dari penguatan riset hingga kesiapan produksi dalam skala industri.

Di bawah kepemimpinannya, Pindad meluncurkan 48 produk Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) dalam periode 2021–2024, mencakup kendaraan tempur, senjata, amunisi, hingga kendaraan taktis.

Salah satu capaian penting adalah lahirnya MV3 Garuda Limousine, mobil kepresidenan yang dirancang khusus atas arahan Presiden Prabowo Subianto sejak menjabat Menteri Pertahanan.

Garuda Limousine bukan sekadar kendaraan, melainkan penegasan bahwa industri nasional memiliki kapasitas untuk merancang, menguji, dan memproduksi kendaraan dengan standar keamanan tinggi secara mandiri, melalui proses rekayasa dan manufaktur yang terukur.

Dengan bobot hampir tiga ton, proteksi balistik level B5/B6, desain long wheelbase, serta identitas visual yang mengadopsi motif batik parang dan simbol Garuda, kendaraan ini memadukan teknologi modern dengan identitas kebangsaan.

Mobil Nasional
Keberhasilan Garuda Limousine membuka wacana lebih luas mengenai pengembangan mobil nasional. Menurut Sigit Puji Santosa, Indonesia memiliki modal dasar yang kuat, mulai dari sumber daya manusia teknik, pasar domestik yang besar, hingga pengalaman di bidang manufaktur.

Namun, pengembangan mobil nasional perlu dilakukan secara bertahap dan realistis. Langkah awal dapat dimulai dari kendaraan khusus, seperti kendaraan taktis, operasional, dan fleet, dengan pendekatan platform modular serta dukungan kebijakan jangka panjang yang konsisten.

Indonesia juga memiliki peluang besar di segmen kendaraan listrik dan special purpose vehicle. Kekuatan Indonesia bukan terletak pada meniru model Jepang atau Korea secara utuh, melainkan pada kemampuan membangun rantai nilai sendiri, mulai dari material, desain struktur, hingga integrasi sistem.

Dalam lanskap geopolitik global yang ditandai perang dagang dan transisi energi, kendaraan listrik menjadi arena strategis.

Dengan cadangan nikel dan pasar domestik yang besar, Indonesia memiliki modal geopolitik industri yang kuat apabila dikelola dengan teknologi yang tepat dan kebijakan yang terarah.

“Mobil nasional itu bukan sekadar merek, melainkan ekosistem teknologi, mulai dari desain, rantai pasok, produksi, hingga keberlanjutan bisnis,” tegasnya.

Artikel Terkait

Scroll to Top