Bank Dunia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI 5 Persen pada 2026 - Img: Ekonomi Bisnis Indonesia

Bank Dunia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI 5 Persen pada 2026

Share

BANK Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025-2026 bakal mencapai 5 persen, sebelum berikutnya naik ke level 5,2 persen pada 2027. Hal ini disampaikan dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Desember 2025. 

Bank Dunia menyoroti upah riil cenderung menurun sejak 2018, sementara jumlah pekerjaan dengan keterampilan menengah menyusut. BANK Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025-2026 bakal mencapai 5 persen, sebelum berikutnya naik ke level 5,2 persen pada 2027. Hal ini disampaikan dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Desember 2025.

“Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, ekonomi Indonesia masih cukup tangguh. Pertumbuhan PDB bertahan di kisaran 5 persen per tahun, setara dengan tahun-tahun sebelumnya dan lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara berpendapatan menengah,” kata Direktur Bank Dunia.

Proyeksi terbaru World Bank tersebut melampaui estimasi dalam laporan IEP per Juni 2025 lalu yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,7 persen pada 2025. Sementara pada tahun 2026 dan 2027, Bank Dunia memperkirakan perekonomian nasional tumbuh masing-masing 4,8 persen dan 5 persen.

Dari laporan terbarunya tersebut, menurut Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi Indonesia didorong oleh peningkatan investasi dan ekspor yang mampu mengimbangi tren konsumsi swasta yang sedikit melemah.

Proyeksi Pertumbuhan
Selain itu, Bank Dunia juga mencatat bahwa kenaikan proyeksi pertumbuhan didukung oleh peningkatan investasi secara bertahap, termasuk melalui investasi negara lewat Danantara, pelonggaran kebijakan moneter untuk mendorong kredit sektor swasta, serta arus Penanaman Modal Asing (PMA). Sedangkan inflasi yang rendah dan stimulus fiskal diperkirakan akan menopang konsumsi swasta.

Namun Carolyn juga mengungkap adanya tantangan pasar tenaga kerja yang masih membebani kesejahteraan rumah tangga di Indonesia. Hal ini terlihat dari indikator pasar tenaga kerja yang menunjukkan masih adanya masalah terkait kualitas pekerjaan, khususnya bagi generasi muda.

Pada periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025, tingkat penyerapan tenaga kerja naik 1,3 persen. Meski begitu, seluruh tambahan lapangan kerja tersebut berasal dari sektor-sektor dengan upah lebih rendah.

Bank Dunia pun menyoroti upah riil cenderung menurun sejak 2018, sementara jumlah pekerjaan dengan keterampilan menengah menyusut dibandingkan pekerjaan berupah rendah maupun berupah tinggi. Kondisi ini turut menekan konsumsi rumah tangga.

Stabilitas Makroekonomi
Oleh sebab itu, menurut Carolyn, saat ini jadi momen krusial untuk memadukan stabilitas makroekonomi Indonesia, sebagai salah satu kekuatan utamanya, dengan reformasi struktural yang lebih mendalam.

“Tujuannya cukup jelas, yakni meningkatkan kapasitas perekonomian serta memungkinkan sektor swasta menciptakan lapangan kerja dengan upah yang lebih baik bagi generasi muda Indonesia,” kata Carolyn.

Bank Dunia juga menekankan pentingnya reformasi dalam penguatan fondasi digital nasional yang mencakup jaringan pita lebar (broadband), infrastruktur pusat data (data center), serta kerangka regulasi pengembangan digital.

Fondasi ini yang akan menentukan kecepatan dan keandalan akses internet masyarakat, efektivitas operasional bisnis berbasis komputasi awan, serta kualitas layanan modern di sektor pendidikan dan kesehatan.

Indonesia, menurut Bank Dunia, bisa mendorong pertumbuhan produktivitas yang lebih cepat dan memperluas peluang ekonomi dengan memperkuat kualitas serta jangkauan infrastruktur digital.

“Infrastruktur digital yang lebih kuat akan menciptakan peluang kerja baru, baik di sektor digital maupun melalui efek pengganda ke seluruh perekonomian, khususnya bagi generasi muda dan perempuan, terutama di wilayah yang kurang beruntung dan paling terdampak oleh keterbatasan konektivitas,” kata Carolyn.

Target 5,4 persen
Adapun pemerintah sebelumnya menargetkan ekonomi Indonesia pada 2026 tumbuh sebesar 5,4 persen. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yakin pertumbuhan ekonomi tahun depan lebih tinggi dari target tersebut.

“Saya perkirakan akan tumbuh lebih cepat lagi, mungkin di kisaran enam persen,” kata Purbaya.

Optimisme itu muncul karena pemerintah menjalankan sejumlah kebijakan yang mampu mendorong kemajuan ekonomi. Ia pun memastikan ekonomi Indonesia akan terus tumbuh dengan menjaga defisit fiskal di bawah tiga persen. Sementara Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen.

Sementara Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan berada di kisaran 5,1–5,2 persen.

“Dalam konteks ekonomi domestik, kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional 2025 berada di kisaran 5,0–5,1 persen dan meningkat pada 2026 di kisaran 5,1–5,2 persen,” ujar Chief Economist Permata Bank Josua Pardede.

Sumber: Tempo.co

Artikel Terkait

Scroll to Top