Wahyu Muryadi - Ketua Umum SWSI

Wahyu Muryadi – Butuh Dana Abadi Rp 100 Milyar Untuk Aktivitas Wartawan Senior

Share

Wahyu Muryadi merupakan jurnalis senior dan tokoh penggerak pers Indonesia. Salah satu kontribusi besarnya adalah menjadi inisiator sekaligus Ketua Forum Pemimpin Redaksi (Forum Pemred) Indonesia pada 2013. Saat ini, ia aktif berkontribusi di sektor publik dan korporasi, termasuk menjabat sebagai Komisaris Independen PT Hutama Karya (Persero) serta menjadi sslah satu pendiri Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI) atau SW60+ yang dideklarasikan pada 17 April 2026.

SWSI dibentuk sebagai wadah bagi wartawan berusia 60 tahun ke atas yang masih bersemangat berkarya. Organisasi ini dideklarasikan di Jakarta sebagai ruang kreatif sekaligus ajang silaturahmi bagi insan pers nasional.

Didukung kesepakatan para pendiri yang mengusung semangat kolaborasi lintas media, SWSI hadir untuk menjaga eksistensi dan integritas jurnalis senior di tengah disrupsi industri.

Wahyu memimpin arah strategis organisasi dalam memperjuangkan kesejahteraan dan ruang kreasi bagi jurnalis senior yang tetap produktif. Tugasnya mencakup pengembangan ekosistem jurnalisme sehat melalui platform digital sw60.com serta penguatan jaringan antaranggota.

“Lebih baik menyalakan lilin daripada terus menggerutu di kegelapan malam,” ujarnya.

Inisiatif SW60+
Sebagai Ketua Umum SWSI, Wahyu memimpin pembentukan wadah silaturahmi bagi jurnalis senior. Fokus utama organisasi adalah memanfaatkan platform digital sw60.com sebagai ruang publikasi bagi pemikiran para saksi sejarah pers, dengan tagline Beyond News, Strategic Insight untuk menyajikan kolom opini dan analisis mendalam.

SWSI dikelola dengan semangat gotong royong melalui iuran wajib anggota, sementara pendanaan awal berasal dari kontribusi pendiri demi menjaga independensi operasional. Iuran tahunan ditetapkan sebesar Rp 1,2 juta untuk memastikan kas tetap sehat dan program kerja berjalan lancar.

Hingga kini, lebih dari 140 wartawan dari berbagai daerah telah bergabung, dengan pengelolaan yang menekankan transparansi dalam AD/ART.

Struktur organisasi melibatkan tokoh pers sebagai dewan redaksi dan bendahara untuk menjaga akuntabilitas, sementara keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka bagi yang memenuhi kriteria.

Integrasi antara misi sosial dan produktivitas karya menjadi pilar utama. SWSI tidak hanya menjadi tempat menulis, tetapi juga untuk memantau keberlanjutan profesi jurnalisme di Indonesia.

Fokus organisasi tetap pada pemberian nilai tambah bagi publik melalui informasi yang akurat. Wahyu memastikan bahwa setiap langkah SWSI sejalan dengan regulasi pers yang berlaku di tanah air.

“Kami ingin menjadikan organisasi ini sebagai rumah bersama untuk menampung karya dan kepedulian antar-rekan
sejawat,” ujarnya.

Dana Abadi
Wahyu punya visi strategis jangka panjang dengan menggagas pembentukan Dana Abadi Wartawan Indonesia (DAWAI) untuk menghimpun dana kelolaan demi mendukung keberlanjutan program edukasi dan kesejahteraan jurnalis.

Targetnya, dana abadi ini bisa terkumpul hingga Rp 100 miliar lewat kolaborasi dengan pihak swasta maupun pemerintah. Dana tersebut akan digunakan secara transparan untuk membiayai pelatihan dan jaminan kesehatan bagi wartawan senior.

Pengelolaannya direncanakan memakai model endowment fund, mirip sistem wakaf, yang menjaga dana pokok tetap utuh sementara hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan anggota. Wahyu ingin DAWAI jadi sumber pendanaan stabil bagi operasional jangka panjang SWSI tanpa hanya mengandalkan iuran rutin.

Selain bantuan sosial, dana ini juga akan membiayai program transfer pengetahuan lewat pelatihan jurnalistik, simposium, dan lokakarya bersama mentor dari kalangan wartawan senior agar pengalaman mereka terdokumentasi dan tersalurkan ke generasi berikutnya.

Transparansi dan akuntabilitas jadi prioritas, dengan rencana melibatkan auditor eksternal dan memisahkan struktur kepengurusan secara profesional demi objektivitas penyaluran dana. “Saya punya cita-cita mengumpulkan dana abadi untuk menggerakkan roda organisasi,” ujarnya.

Misi Kemanusiaan
Dalam pengelolaan SWSI, kesejahteraan sosial anggota menjadi prioritas utama. Banyak jurnalis senior yang menghadapi masalah kesehatan dan finansial setelah pensiun. SWSI hadir memberi bantuan medis serta kunjungan silaturahmi secara rutin.

Kondisi anggota dipantau lewat grup komunikasi intensif dan pertemuan tatap muka berkala, sambil mencatat berbagai kasus kesehatan. Bantuan disalurkan melalui koordinasi pengurus dengan memanfaatkan dana sosial dari iuran anggota.

Program bantuan juga mencakup edukasi kesehatan, seperti pelatihan terapis mandiri bagi anggota. Wahyu percaya stamina fisik yang terjaga adalah kunci agar jurnalis senior tetap produktif di usia senja. Pelatihan ini melibatkan tenaga profesional untuk memberi panduan menjaga kebugaran di tengah keterbatasan usia.

Keseimbangan antara kesehatan fisik dan aktivitas mental menjadi fokus menjaga kualitas hidup para jurnalis. Sinergi dengan korporasi dan pemerintah diupayakan untuk memperluas manfaat bagi jurnalis senior yang kurang beruntung.

Kunjungan Menteri Komunikasi dan Digital saat deklarasi menjadi sinyal positif adanya dukungan kebijakan. Wahyu berkomitmen terus menyuarakan nasib rekan seprofesinya di berbagai forum nasional.

“Alangkah indahnya kalau kita saling mengetahui nasib teman dan ikut membantu sebisa mungkin,” ujarnya.

Edukasi Jurnalistik
Wahyu Muryadi merancang program edukasi lewat Coaching Clinic untuk menjembatani kesenjangan kemampuan antara jurnalis senior dan wartawan muda. Fokusnya ada pada penguatan keterampilan investigasi dan penulisan narasi yang berkualitas.

Dengan melibatkan mentor-mentor berpengalaman, ia berharap standar karya jurnalistik nasional tetap terjaga di tengah disrupsi informasi digital. Wahyu juga mendorong penggunaan format multimedia seperti podcast untuk menjangkau audiens yang lebih luas, khususnya generasi muda.

Lewat podcast bertema “Saksi Sejarah” yang mengangkat pengalaman para wartawan senior, ia ingin menghadirkan wawasan mendalam tentang fakta di balik layar yang jarang terungkap. Baginya, ingatan kolektif para jurnalis senior penting untuk dilestarikan sebagai bahan pembelajaran publik.

Visi besarnya adalah menggelar Konvensi Nasional Jurnalis yang melibatkan seluruh ekosistem media untuk memberi masukan kepada pemerintah.

SWSI diharapkan menjadi think tank yang menghasilkan kajian strategis soal kesehatan industri media dan kedaulatan informasi nasional. Bagi Wahyu, jurnalisme adalah pengabdian seumur hidup yang tak mengenal kata lelah atau mati.

“Bagi kami journalism never dies, never sleep,” ujarnya.

Menjadi Kepala Biro Protokol Kenangan Bersama Gus Dur

Karier Wahyu mengalami pergeseran unik ketika ditarik ke dalam sistem pemerintahan sebagai Kepala Biro Protokol Istana Kepresidenan periode 1999–2001. Hubungan ini bermula dari intensitas Wahyu mewawancarai Gus Dur sebagai jurnalis Tempo.

Awalnya, Gus Dur memintanya menjadi Juru Bicara (Spokesperson), namun posisi itu akhirnya diisi oleh Darmawan Ronodipuro. Wahyu kemudian ditawari posisi General Affairs yang secara administratif diterjemahkan menjadi jabatan protokoler strategis.

Sebagai Kepala Biro Protokol, Wahyu bertanggung jawab mengatur jadwal, kunjungan, dan interaksi resmi kepala negara, menjadi penghubung antara Istana dengan berbagai kalangan, termasuk ulama dan masyarakat sipil.

Meski berada dalam struktur birokrasi, Wahyu tetap menjalankan peran informatif dengan membantu menjelaskan agenda presiden kepada rekan-rekan pers.

Selama menjabat, ia kerap mendampingi presiden dalam kunjungan luar negeri yang padat, mulai dari pertemuan di Yordania hingga agenda diplomatik lainnya. Keberhasilannya membuktikan bahwa kemampuan jurnalis bisa diadaptasi dengan baik ke dalam peran manajerial pemerintahan.

“Saya masuk ke posisi itu untuk membantu Gus Dur dengan mengisi slot yang tersedia,” ujarnya.

Forum Pemimpin Redaksi
Pada 2013, Wahyu Muryadi menggagas Forum Pemimpin Redaksi yang menghimpun puluhan pemimpin redaksi media nasional. Tujuannya adalah membangun ruang komunikasi antarredaksi sekaligus menjadi wadah berbagi pengalaman.

Kegiatan utamanya berupa pertemuan dan diskusi nasional, salah satunya pertemuan besar di Bali yang melibatkan ratusan peserta dan menunjukkan kemampuan koordinasi lintas media. Forum ini dibentuk sebagai perkumpulan dengan struktur organisasi formal, fokus pada penguatan praktik jurnalistik.

Namun, Wahyu kemudian mengundurkan diri dari posisi ketua untuk menghindari potensi konflik kepentingan, menunjukkan sikap hati-hati dalam berorganisasi.

Meski begitu, forum tetap berjalan dengan kepemimpinan baru, dan peran awalnya tetap menjadi bagian penting dalam pembentukannya. “Saya ajak para pemimpin redaksi untuk mendirikan forum supaya menghasilkan sesuatu yang produktif,” ujarnya.

Akar Jurnalistik
Karier Wahyu Muryadi dimulai pada 15 Agustus 1987, saat ia masih berstatus mahasiswa Universitas Airlangga. Awalnya ia hanya mengantar rekannya melakukan riset skripsi di kantor Biro Tempo Jawa Timur, namun ketertarikannya pada dunia jurnalistik menarik perhatian kepala biro saat itu, Zaim Uchrowi.

Ia pun ditawari menjadi koresponden daerah dan langsung menerima. Tugas pertamanya adalah meliput kasus kriminal di Bojonegoro, mewawancarai keluarga korban, pelaku, dan aparat dalam waktu singkat.

Liputan ini menjadi laporan perdananya sebagai wartawan. Pada 1989, ia mengikuti seleksi di Jakarta dan diterima sebagai reporter tetap. Kariernya terus berkembang, dari reporter hingga menduduki posisi struktural, termasuk menjabat Pemimpin Redaksi Majalah Tempo pada 2010–2013.

Selain media cetak, ia juga terlibat dalam pengembangan media televisi dengan menjabat Chief Editor Tempo TV dan Tempo Channel pada 2013–2016, yang memperluas pengalamannya ke media audiovisual, mencakup pengelolaan konten dan produksi program.

Wahyu juga dikenal dengan identitas populer “Om Why,” yang lahir dari panggung hiburan televisi nasional ketika ia diajak Karni Ilyas menjadi pembawa acara e-Talkshow tvOne. Nama tersebut dipilih sebagai karakter host dengan rasa ingin tahu tinggi, sesuai dengan kata tanya “Why” dalam bahasa Inggris.

“Nama Om Why itu sengaja dibuat agar kelihatannya seperti sosok paman yang selalu bertanya,” ujarnya.

 

Artikel Terkait