Saya sangat setuju” tegasnya. Ia mengenang masa kepemimpinan Soeharto bukan hanya sebagai era politik, melainkan perubahan besar dalam perjalanan ekonomi bangsa.
Berdasar ingatannya, kondisi ekonomi saat itu jauh lebih baik ketimbang masa Orde Lama. Ia menyebut, pada masa itu Indonesia yang awalnya digambarkan sebagai negara miskin berubah menjadi negara berkembang, bahkan kini masuk dalam jajaran 20 ekonomi terkuat dunia.
Meski sebagian masa awal Orde Baru justru ia berada di Jerman, tetapi tak dapat menyangkal realitas yang dirasakan saat kembali ke tanah air yaitu pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.
Selain itu, ditandai pula kebijakan-kebijakan strategis seperti penghapusan uang pangkal kuliah, yang memungkinkan generasi seperti dirinya menempuh pendidikan tinggi tanpa beban keuangan.
“Enggak pakai uang pangkal maupun uang ujung,” kenangnya.
Jaya Suprana juga memuji tiga tokoh penting yang menjadi tulang punggung kebijakan Soeharto yaitu Suparjo Rustam, Sudomo, dan Surono, “tiga Su” yang menurutnya membentuk “dream team” kabinet terbaik dalam masa itu. Termasuk gerakan anti korupsi dan anti pungli yang diinisiasi waktu itu yang merupakan suatu langkah yang kini terasa sangat relevan. Bagi Jaya Suprana, mengenang Soeharto bukan sekadar nostalgia, tapi pengakuan atas kontribusi nyata atas pembangunan ekonomi bangsa yang masih dirasakan hingga kini.
Berkharisma
Namun, ketika pembicaraan menyentuh masa kelam pasca G30S, Jaya mengakui ada luka dalam yang tidak pernah benar-benar pulih. Ayah kandungnya yang tinggal di Bali, hilang tanpa jejak dan masuk dalam daftar orang hilang.
“Saya enggak bisa dendam kepada siapapun, karena saya enggak tahu,” katanya.
Ia berbagi pengalaman mengejutkan dengan seorang tokoh di Bali yang ternyata juga pernah mendukung gerakan anti- PKI, terkejut mendengar kabar ayahnya hilang. Meski demikian, Jaya tidak menyalahkan Soeharto secara langsung.
Mendapatkan kesempatan pertama dan satu-satunya bertemu langsung dengan Soeharto, saat dilantik sebagai Duta PMI. Dalam momen itu, Soeharto digambarkan sebagai “the smiling general” dengan senyum yang berwibawa, tidak seperti senyum biasa, melainkan senyuman yang memancarkan kharisma tak terbantahkan.
“Waktu itu saya masih kurang ajar, ingin membantah, tapi begitu saya membantah, dia diam, senyumnya tidak hilang. Tapi matanya melirik,” katanya.
Lirikan mata Soeharto itu, menurut Jaya, membuatnya “mengkeret langsung” dan tak berani bersuara lagi selama satu jam. Pikirnya bukan berhadapan dengan manusia biasa. Meski kisah ini disindir oleh para pembenci Soeharto sebagai “tahayul”, Jaya menegaskan bahwa itu kenyataan.
Falsafah Jawa
Jaya menyatakan bahwa Soeharto bukan hanya pemimpin teknokrasi, tetapi juga seorang pemimpin budaya yang luar biasa, khususnya dalam memahami dan melestarikan kearifan Jawa. Dari dulu ia merasa berguru kepada Pak Harto walaupun jarak jauh tanpa ketemu, menyamakan dirinya dengan Bambang Ekalaya yang berguru kepada Durna, tak bersentuhan secara fisik tetapi membentuk kedekatan rohani.
Baginya, Soeharto adalah sumber filosofi praktis yang mendalam misalnya hastabrata, manunggal kawula gusti, dan khususnya nilai ojo dumeh, atau jangan sombong, yang menurutnya memiliki kedalaman filsafat yang tak kalah dibandingkan dengan pikiran Shakespeare, Sartre, maupun Goethe.
Lebih dari sekadar kearifan lokal, Jaya menggambarkan mikul duwur mendem jero yaitu mengangkat yang tinggi dan merasakan yang dalam sebagai transformasi spiritual dalam kepemimpinan.
“Wah itu kalau bukan orang Jawa itu mumet, saya terharu kok kalau ingat itu,” ungkapnya.
Ia tidak menutup mata terhadap kekurangan Soeharto sebagai manusia biasa, mengakui bahwa semua pemimpin punya kelebihan dan kelemahan.
“Abraham, Lincoln juga enggak sempurna. Benjamin Franklin, Gandhi, kemudian apalagi yang namanya Donald Trump malah saya bingung mencari sisi baiknya,” katanya.
Tokoh Lain
Di tengah penghormatan terhadap Soeharto, Jaya Suprana mengajak masyarakat untuk tidak melupakan tokoh-tokoh lain yang juga berjasa besar bagi bangsa.
“Selain Pak Harto, tolong ya Presiden Habibie juga, Gus Dur, Mega, SBY, Jokowi termasuk Prabowo yang masih harus membuktikan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa sejarah bukanlah tentang idealisasi, melainkan tentang keberanian untuk mengakui kelebihan dan kekurangan seorang pemimpin, terutama dalam konteks kebanggaan nasional yang masih lemah di masyarakat Indonesia saat ini.
“Kita itu pemuja asing, ya. Kalau barang buatan Cina itu wah,” tuturnya.
Kebanggaan Nasional
Bagi Jaya, penghormatan terhadap Soeharto bukan soal membela rekam jejak pribadi, tetapi soal menumbuhkan semangat kebanggaan terhadap diri sendiri secara nasional.
“Bangga itu beda dengan sombong,” tegasnya.
Jaya tetap kritis, ia mengakui bahwa Soeharto, seperti semua manusia, bukanlah tokoh sempurna. Tetapi dia menekankan bahwa sejatinya, kebanggaan nasional harus diciptakan bersama, bukan diberikan oleh keputusan formal, tetapi dipelihara oleh perasaan dan nilai kolektif.
“Jadi pahlawan atau kebanggaan nasional itu memang dalam tanda petik harus kita ciptakan,” ujarnya.
Kebanggaan nasional bukan soal siapa yang diberi gelar, melainkan tentang siapa yang terus bergerak, berjuang, dan tetap merasa bahwa bangsa ini milik kita semua.
Tulisan ini diambil dariwawancara Bambang Sadono di kanal Inspirasi untuk Bangsa yang tayang pada 28 April 2025.




