Saya seorang pendosa,” kata Uskup Agung Buenos Aires itu, menjawab pertanyaan, siapakan sesungguhnya dirinya, saat diwawancarai media, tiga hari sebelum terpilih sebagai Penguasa Tahta Suci Vatikan, Paus ke-266.
Pemimpin 1,4 miliar umat Katolik sedunia, 13 Maret 2013. Namun sesungguhnya, pengakuan itu telah berulang kali disampaikannya, jauh sebelumnya.
“Pendosa. Itu adalah definisi yang paling akurat. Ini bukan kiasan, bukan genre sastra. Saya seorang pendosa,” ujarnya, seperti dikutip CNN.
Cara Paus Fransiskus membawa diri, membawa serta kehangatan dan aksesibilitas pastoral ke Tahta Suci Vatikan dengan rendah hati dan sederhana inilah yang jelas membedakannya dengan para pendahulu,
baik Paus Benediktus XVI maupun Paus Paulus II. Natalia Imperatori Lee, Profesor Studi Agama dari Universitas Manhattan, New York City menduga, bahwa karakter hangat dan rendah hati Paus Fransiskus sebagian memang karena “bawaan” tanah asalnya: Amerika Latin yang hangat.
Pelindung Kaum Miskin
Jorge Mario Bergoglio memilih Fransiskus di belakang gelar Paus. Diakuinya, itu terinspirasi oleh Santo Fransiskus dari Assisi, dan menjadikannya teladan.
Santo Fransiskus dari Assisi dengan nama asli Francesco Bernardone adalah biarawan Italia pada abad ke-13.
Pendiri Ordo Fratrum Minorum yang berarti “saudara kaum dina” atau “saudara kaum kelas dua” — mereka yang hidup lebih rendah daripada kebanyakan warga. Ordo ini juga dikenal sebagai Ordo Fransiskan.
Ordo atau tarekat tersebut menekankan ajaran untuk hidup miskin, sederhana dan melakukan pelayanan kepada sesama. Sangat menarik, karena Francesco Bernardone sendiri berasal dari keluarga kaya yang bisa hidup mewah di Assisi, Italia.
Menyusul suatu pengalaman rohani, Francesco kemudian memilih jalan kemiskinan dan pelayanan kepada sesama, dan hidup di antara orang-orang yang dikucilkan. Ordo Fransiskan segera menginspirasi banyak orang dan merekrut lebih banyak pengikut.
Pengaruhnya segera berkembang pesat di seluruh dunia, di luar Eropa. Konon, nama kota San Francesco di Calfornia, AS, juga mengambil nama Sang Santo.
Santo Francesco juga dikenal karena kecintaannya kepada alam, dan semua mahluk hidup.
Bumi adalah saudara manusia. Dia menyapa matahari sebagai “saudara laki-laki” dan bulan sebagai “saudara perempuan”. Santo Fransiskus dari Assisi inilah yang secara konsisten diteladani oleh Paus Fransiskus.
Meneruskan ajarannya untuk mencintai dan melindungi kaum miskin, mereka yang terpinggirkan, terbuang dan dikucilkan, migran, para narapidana, terutama perempuan, kejahatan kecil karena masalah ekonomi (misalnya prostitusi jalanan), kaum perempuan dan anak-anak korban kekerasan seksual, hingga kaum LGBT (Lesbian, Gay, Bisexsual dan Transgender).
Kegaduhan kecil terjadi, saat Paus Fransiskus melakukan acara pembasuhan kaki, tradisi Vatikan di Hari Kamis Putih dalam rangkaian perayaan Paskah yang telah dijalankan berabad-abad.
Saat itu, Paus Fransiskus membasuh dan mencium kaki dua wanita muda di suatu Pusat Panahanan Remaja. Peristiwa tersebut sangat mengejutkan karena telah “melanggar larangan” sebagaimana yang dilakukan oleh 265 Paus sebelumnya,
yakni bahwa ritual Kamis Putih berupa pembasuhan kaki hanya boleh dilakukan kepada laki-laki – sebagaimana contoh Yesus Kristus yang membasuh kaki 12 orang muridnya yang semuanya laki-laki di hari Kamis Putih menjelang Perjamuan Terakhir. Sebelumnya, tidak ada seorang Paus pun yang membasuh kaki seorang wanita.
Ritual tersebut merupakan simbol kerendahan hati dan pelayanan. Yesus sebagai seorang guru, orang yang lebih berkuasa, seharusnya melayani, bukan dilayani. Pembasuhan kaki ini menadi teladan bagi umat Katolik untuk saling melayani dan mengasihi sesama dengan rendah hati.
Pembasuhan kaki, juga melambangkan kesetaraan, karena Yesus membasuh kaki 12 muridnya, tanpa kecuali. Tindakan Paus Fransiskus membasuh dan mencium kaki perempuan segera memicu perdebatan. Kaum konservatif, tradisionalis, dan penganut liturgi murni menyesalkan, dan menilai Paus Fransiskus telah “memberi contoh yang dipertanyakan”.
Sebaliknya, kaum progresif-liberal justru Santo Francesco menyambut baik tindakan tersebut sebagai tanda inklusivitas yang lebih besar dari Gereja Katolik. Juga menunjukkan adanya kesetaraan gender.
Pun, dasar dari tindakan Yesus membasuh kaki murid-muridnya adalah cinta kasih, yang meluputi semua manusia, bukan hanya laki-laki tetapi juga perempuan. Dari sinilah muncul kutipan terkenal dari Gereja Katolik: cinta adalah hukum tertinggi.
Inklusivitas Paus Fransiskus untuk “membuka jendela” Gereja Katolik kepada mereka yang terkucilkan, juga jelas katakannya dalam pesan menyentuh, antara lain kepada kaum LGBT, khususnya kaum gay atau Homoseksual.
“Jika seorang gay dan dia mencari Tuhan dan memiliki niat baik, siapakah saya, untuk menghakiminya?” “Kita tidak seharusnya meminggirkan orang
karena hal ini. Mereka harus diintegrasikan ke dalam masyarakat,” katanya.
Dalam pernyataannya yang lain, Paus Fransiskus berkisah, “Ada seseorang yang menanyakan kepadanya dengan cara provokatif, apakah saya menyetujui homoseksual.
Saya menjawab dengan pertanyaan lain. Katakan kepadaku, ketika Tuhan melihat seorang gay, apakah Dia mendukung keberadaan orang ini dengan cinta, atau menolak dan mengutuk orang ini? Kita harus selalu mempertimbangkan orang tersebut,” ujarnya
Gereja Katolik, dalam masa kepemimpinan Paus Fransiskus yang cukup panjang selama 12 tahun, juga lebih terbuka terhadap mereka yang terlempar sebelumnya, seperti pasangan yang telah bercerai. Gereja Katolik belum menerima perceraian.
Namun, menurut Paus Fransiskus, perceraian niscaya terjadi – dengan merujuk pada kasus-kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) pada pasangan Katolik. Keterbukaan dan aktivisme Gereja Katolik bersama Paus Fransiskus, secara jelas diungkapkan, bahwa Gereja Katolik tidak cukup hanya statis menerima tamu, umat yang beribadah.
“Daripada menjadi Gereja yang menyambut dan menerima (umat) dengan membiarkan pintupintu tetap terbuka, marilah kita juga berusaha menjadi Gereja yang menemukan jalan-jalan baru, yang mampu melangkah keluar dari dirinya sendiri dan pergi kepada mereka yang tidak menghadiri Misa, kepada mereka yang sudah berhenti atau bersikap acuh tak acuh,” kata Paus Fransiskus.
Merawat Bumi
Paus Fransiskus menunjukkan dirinya sebagai Fransiskan sejati saat menerbitkan Ensiklik Laudato Si’ pada tahun kedua kepausannya, 24 Mei 2015. Ensiklik adalah Surat Edaran resmi dari Paus kepada Gereja Katolik di seluruh dunia atau kepada Uskup yang berisi ajaran tentang iman dan moral.
Ensiklik juga bisa dianggap sebagai semacam “Dekrit” karena Paus adalah juga Kepala Negara Vatikan. Ensiklik Laudato Si’ berarti “Segala Puji bagiMu’”atau “Terpujilah Engkau Tuhanku” yang diambil dari lagu pujian Santo Fransiskus dari Assisi.
Insiklik ini membahas “Perawatan Rumah Kita Bersama” yaitu Bumi. Jadi merupakan seruan moral dan spiritual untuk merawat bumi. Dalam ensiklik ini Paus Fransiskus bilang, krisis iklim adalah cermin krisis moral dan spiritual manusia.
“Tidak akan ada pembaruan hubungan kita dengan alam, tanpa pembaruan kemanusiaan itu sendiri. Tidak akan ada ekologi tanpa antropologi yang layak.” Paus Fransiskus meningatan, bahwa dampak pemanasan global sudah semakin parah.
“Pemanasan global berdampak pada siklus karbon. Ini menciptakan lingkaran setan yang memperburuk keadaan, mempengaruhi ketersediaan sumber daya esensial seperti air bersih, energi dan produksi pertanian di wilayahwilayah yang lebih hangat serta menyebabkan punahnya sebagian keanekaragaman hayati di planet ini,” ujar Paus.
Pandangan Paus pada kemiskinan, cukup tajam, dan pahit. “Saat ini ada banyak kemiskinan di dunia. Dan itu merupaan skandal, saat kita memiliki begitu banyak ekayaan dan sumber daya untuk diberikan kepada semua orang. Kita semua harus memikirkan, bagaimana kita bisa menjadi lebih miskin.”
Satu lagi, tentang kemiskinan yang berimpitan dengan hak orang untuk hidup layak, yang terampas oleh keserakahan kapitalisme liberal, Paus Fransiskus punya pandangan yang menohok.
“Liberalisme yang tak terkendali hanya akan membuat yang kuat menjadi lebih kuat, dan yang lemah menjadi lebih lemah, dan mengecualikan yang paling terpinggirkan.” Juga, ini pandangan Paus Fransiskus tentang ketimpangan sosial ekonomi.
“Hak asasi manusia tidak hanya dilanggar oleh terorisme, penindasan atau pembunuhan, tetapi juga oleh struktur ekonomi yang tidak adil, yang menciptakan kesenjangan besar.”
Paus Fransiskus telah berpulang. Membawa banyak kenangan. Meninggalkan karya dan buah pemikirannya tentang bagaimana manusia mesti mengabdi kepada Tuhan, dengan bersyukur dan berserah. Merawat alam dan melayani sesama dengan cinta.
Menurut Paus Fransiskus, hidup adala sebuah perjalanan. Bila kita berhenti, segalanya tidak akan berjalan dengan baik. “Life is a journey. When we stop, things don’t go right”







