Patung Garuda: Soeharto didampingi Menparpostel Joob Eve mendengarkan penjelasan Nyoman Nuarta tentang Garuda Wisnu Kencana di Bina Graha 8 Agustus 1994 (foto: rh/Monumen Pers Nasional)

Nyoman Nuarta: Soeharto Memberi Pendanaan Pertama Patung Garuda Wisnu Kencana

Share

Salah satu tonggak penting dalam hidup Nyoman Nuarta terjadi ketika Presiden Soeharto mengadakan sayembara desain baru Tugu Proklamasi di Jakarta pada 1972. Saat itu iia masih menjadi mahasiswa tingkat akhir ITB dan memberanikan diri mendaftar seorang diri, meski biasanya peserta datang bersama dosen atau mewakili sebuah perusahaan. Ia pun belum mengetahui gambaran lokasi tugu yang akan dibuat.

Perjalanan dari Bandung ke Jakarta diwarnai kendala. Setibanya di Jakarta, maket atau miniatur yang dibawanya tampak kotor karena dibungkus plastik bekas arang. Usaha membersihkannya dengan detergen di pinggir jalan tidak berhasil, sementara toko cat belum ada yang buka. Ia sempat putus asa dan berniat meninggalkan maket itu di tepi jalan, namun niat tersebut akhirnya diurungkan.

Menjelang siang, ia berhasil mendapatkan cat untuk merapikan maket. Sesampainya di lokasi sayembara, muncul rasa minder karena peserta lain berasal dari perusahaan besar dan kalangan arsitek profesional. Butuh waktu seharian baginya untuk menguatkan mental sebelum akhirnya membawa maket tersebut ke hadapan dewan juri.

Beberapa waktu kemudian, ia menerima telepon dari Menteri Sekretaris Negara Moerdiono yang saat itu masih menjadi sekretaris panitia. Dari panggilan tersebut, ia mendapat kabar bahwa karyanya terpilih sebagai pemenang.

“Akhirnya dipilihlah saya. Pemerintah bilang, Nyoman yang tetap mengerjakan Bung Karno, tidak boleh orang lain,” katanya.

Koleksi Patung

Perjumpaan Nyoman Nuarta dengan Presiden Soeharto kembali terjadi pada 1987, lebih dari sepuluh tahun sejak pertemuan sebelumnya. Saat itu ia menerima telepon dan diminta menghadap Presiden. Ia masih mengingat pertemuan terakhir mereka, ketika memberikan patung kecil dari kawat sebagai tanda terima kasih atas kesempatan membuat patung Bung Karno.

Saat memasuki ruang kerja Presiden Soeharto, suasana terasa penuh wibawa. Tidak lama kemudian Presiden datang dan menyapanya. Presiden menunjukkan patung kecil karyanya yang disimpan di atas meja. Nyoman merasa bangga melihat karyanya mendapat tempat khusus.

Presiden Soeharto kemudian bercerita tentang kunjungannya ke Turki dan kekagumannya pada berbagai monumen bersejarah di negara itu. Ia mempertanyakan apa yang dapat ditunjukkan kepada tamu negara ketika tiba di Indonesia, sebelum akhirnya menanyakan apakah Nyoman bersedia membuat sebuah patung. Permintaan itu tidak mungkin ditolak.

Nyoman pulang dengan berbagai kebingungan mengenai konsep yang harus dibuat. Setelah mempertimbangkan banyak hal, ia memilih kisah pewayangan agar Presiden Soeharto yang gemar wayang dapat menceritakannya dengan mudah kepada tamu negara

Filosofi Arjuna Wijaya

Untuk mewujudkan keinginan Presiden Soeharto memiliki monumen dengan cerita filsafatnya, Nyoman Nuarta memilih Arjuna Wijaya sebagai karya yang akan diwujudkan. Proyek Patung Arjuna Wijaya dikerjakan oleh sekitar 40 seniman di bawah arahannya. Material yang digunakan adalah tembaga dan kuningan, dengan panjang total sekitar 25,8 meter. Figur kuda memiliki tinggi 2,87 meter dan figur Arjuna setinggi 2 meter.

Patung ini diresmikan pada 1987, berada di persimpangan Jalan Medan Merdeka Barat dan Jalan MH Thamrin, tepat di seberang gedung Indosat, dan menghadap patung Selamat Datang di Bundaran HI.

Arjuna Wijaya menggambarkan adegan Mahabharata, ketika Arjuna bersama Batara Kresna menaiki kereta perang yang ditarik delapan kuda. Delapan kuda itu melambangkan filosofi

Asta Brata, yaitu nilai-nilai universal seperti bumi, matahari, api, samudra, angin, dan air sebagai simbol kepemimpinan dan keseimbangan alam.

Menurut Nyoman, Arjuna Wijaya mengisahkan kegundahan Arjuna ketika mewakili Pandawa namun harus menghadapi adiknya sendiri, Karna, yang membelot ke Kurawa. Pada momen itu Arjuna dihadapkan pada pilihan sulit antara negerinya atau saudara kandungnya. Kisah tersebut menunjukkan pergulatan batin saat seseorang mengambil keputusan penting demi kepentingan banyak orang.

“Kalau dalam filsafat itu menceritakan hati kita memutuskan sesuatu itu berani atau tidak,” katanya.

Pendanaan GWK

Sebagai pematung ternama, Nyoman Nuarta memiliki pengalaman berinteraksi dengan hampir seluruh presiden Indonesia kecuali Bung Karno. Keterlibatannya dalam berbagai proyek kenegaraan membuat namanya tak lepas dari perjalanan kepemimpinan bangsa.

Setelah merampungkan sejumlah karya patung penting, ia kemudian mengembangkan proyek-proyek monumental lainnya, salah satunya Garuda Wisnu Kencana (GWK). Gagasan GWK muncul pada 1989 dan mendapat restu Presiden Soeharto pada 1990.

“Pendanaan awal pun dimulai atas perintah Presiden Soeharto, hingga peletakan batu pertama dilakukan pada 8 Juni 1997,” katanya.

Krisis moneter 1997–1998 membuat pembangunan GWK terhenti. Harapan sempat tumbuh kembali ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meninjau langsung proyek tersebut pada 2006 dan menargetkan penyelesaian dalam dua tahun, namun keterbatasan anggaran kembali menjadi hambatan.

Dalam perjalanannya, Nyoman Nuarta berinisiatif menghibahkan seluruh aset GWK kepada negara. Namun pada waktu itu pemerintah belum sepenuhnya siap menerima tawaran tersebut, sehingga mayoritas saham GWK kemudian dilepas kepada PT Alam Sutera Realty.

Identitas Kebangsaan

Garuda Wisnu Kencana (GWK), patung setinggi 75 meter yang berdiri di atas pedestal 46 meter ini memiliki total ketinggian 121 meter. Dengan bentangan 65 meter dan berat sekitar 3.000 ton, GWK termasuk salah satu patung tertinggi dan terbesar di dunia.

Kedekatannya dengan simbol garuda terlihat dari banyak karya yang menggunakan burung mitologi tersebut. GWK dibangun dengan prinsip keselarasan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Wisnu digambarkan sebagai elemen air yang melambangkan kehidupan, sementara garuda sebagai simbol kesetiaan hadir sebagai penjaga kehidupan itu.

Pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo, sebagai pematung nasional dipercaya merancang elemen penting di Ibu Kota Nusantara (IKN), termasuk konsep garuda raksasa sebagai simbol pusat pemerintahan baru. Ia menjadi pemenang sayembara perancangan Kawasan Istana Negara di IKN, dengan sosok garuda dihadirkan sebagai lambang pemersatu bangsa.

“Bangsa Indonesia memiliki lebih dari 1.300 suku bangsa yang memiliki karakteristik masing-masing. Dari pakaian, rumah adat, ornamen, hingga ragam ritual. Memilih simbol Garuda merupakan kesadaran untuk mewakili keragaman tersebut,” katanya.

Simbol Pemersatu

Nyoman Nuarta mengatakan, simbol Garuda telah dikenal secara luas oleh masyarakat Indonesia. Garuda adalah burung mitologi yang digagas oleh Sultan Hamid II dari Pontianak sebagai lambang negara. Pada rancangan IKN, bentuk Garuda tidak diwujudkan secara harfiah seperti lambang negara, tetapi dihadirkan dalam bentuk abstrak yang berfungsi sebagai Istana.

Kekayaan suku bangsa di Indonesia menjadi pertimbangan penting dalam perancangan. Mengambil ciri khas satu kelompok tertentu berpotensi menimbulkan kecemburuan. Karena itu, bentuk Garuda dipilih sebagai simbol pemersatu. Istana Garuda dengan bentangan sayap sekitar 230 meter dan tinggi 70 meter dirancang seolah memeluk bukit. Di bawahnya terdapat Istana Negara yang mengikuti bayangan Garuda, terlihat dari plaza istana sebagai simbol perlindungan.

Ia juga menyampaikan bahwa bangunan tiga dimensi sebesar itu tidak dapat dirasakan sepenuhnya melalui foto atau video. Proporsinya hanya dapat dipahami ketika seseorang mendekat. Kantor Presiden dengan selubung Garuda berdiri bukan hanya sebagai karya seni, tetapi juga simbol arsitektur yang ikonik.

Dalam prosesnya, ia mengusulkan gagasan archsculpt untuk menyatukan prinsip estetika tiga dimensi dengan fungsi arsitektur. Pendekatan ini menghasilkan dua fungsi sekaligus, yang jarang dikerjakan baik oleh arsitek maupun pematung. Konsep green design juga diterapkan dengan skor Bangunan Gedung Hijau sebesar 94,5 persen.

Penilaian meliputi pengelolaan tapak, efisiensi energi, penggunaan air, kualitas udara, material ramah lingkungan, serta pengelolaan sampah dan air limbah. Pembangunan hutan kota turut dilakukan dengan mengembalikan tanaman endemik Kalimantan pada area lanskap, ruang terbuka, dan kedua bentangan sayap Istana Garuda.

“Semua pertimbangan ini dirancang agar simbol Garuda benar-benar mewakili persatuan, perlindungan, dan keberlanjutan,” tegasnya. 

Artikel Terkait