GWS, Pak Poo. Kami berdoa untuk pemulihan kesehatan Pak Poo. Stay happy and blessed. Dapatkah kami peroleh info tentang rumah sakit yang di Boston? Teman-teman yang kebetulan ada di AS, termasuk teman-teman DPR yang kunker, ingin jenguk Pak Poo. Terima kasih (13 Mei 2024, pkl 11.52).
Pesan tersebut tidak dijawab. Beberapa hari kemudian, saya kirim pesan susulan, menyampaikan ucapan selamat merayakan Hari Waisak (23 Mei 2024). Tidak ada jawaban. Baru setelah beberapa waktu, saya menerima pesan dari Pak Poo: Saya sudah 2 minggu di SGH, terima kasih ya. Tq atas doanya (27 Juni 2024).
Komunikasi singkat itu ternyata komunikasi terakhir saya dengan tokoh yang ikut berjasa mengantar saya menjadi Anggota DPR-RI pada Pemilu 2009. Pak Poo wafat pada 7 April 2025 pada usia 84 tahun. Tanggal yang untuk saya pribadi mudah diingat, karena almarhumah istri saya, Juliana Kale Supratikno, meninggal pada tanggal yang sama, pada 2014.
Kiprah Pak Poo
Meski namanya sudah lama saya dengar, saya berkenalan langsung dengan Pak Poo pada sebuah acara Komunitas Warga Tionghoa di Jakarta. Yang membawa saya langsung berkenalan dengan Pak Poo adalah tokoh senior Tionghoa, Pak Hartono (Li Bo Qiao, Alm).
Pak Hartono sudah sejak 2004 aktif bersama saya dalam berbagai kegiatan PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) dan “organisasi sayap” yang didirikannya, yaitu FORDEKA (Forum Demokrasi Kebangsaan). Saya saat itu menjadi Direktur Pascasarjana Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII), lembaga pendidikan yang didirikan oleh Kwik Kian Gie dan Djoenaedi Joesoef.
Selain dikenal sebagai salah satu tokoh Alumni GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), pada saat itu Pak Poo merupakan salah satu Ketua Dewan PImpinan Pusat (DPP) PDI-Perjuangan. Pak Poo dikenal sebagai sahabat dekat Pak Taufiq Kiemas. Pada saat kami masuk Tim Kampanye Mega-Hasyim pada Pilpres 2004, saya cukup sering melihat Pak Poo keluar masuk kediaman Bu Megawati di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Rumah Pak Poo sendiri tidak berjarak jauh dari rumah Bu Mega.
Pada pencalonan anggota DPR 2009, saya kembali berdiskusi dengan Pak Poo. Saat itu suasana agak sedikit tegang, karena ada indikasi kuat Pak Poo memberi dukungan kepada Calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebagian teman menyebut, sebenarnya pada Pilpres 2004, secara diam-diam Pak Poo, terutama Ibu Hartati istrinya, sudah memberi dukungan kepada Pak SBY.
Seperti info yang beredar, Pak SBY, setelah berhenti dari Kabinet Ibu Mega, sempat berkantor di salah satu perusahaan milik Pak Poo. Pak Poo pada masa kampanye PIlpres 2009, bahkan sempat membacakan deklarasi dukungan kepada SBY. Seperti kita ketahui kemudian, sikap Pak Poo ini berujung pada pemecatan dirinya dari PDI- Perjuangan (awal Desember 2009), padahal Pak Poo terpilih sebagai anggota DPR dari Provinsi Banten pada Pemilu 2009.
Saya ingat, saat saya masuk dalam daftar calon legislatif (caleg), Pak Poo bertanya, apa tujuan saya mencalonkan diri, apa alasan ingin masuk menjadi anggota DPR. Belum sempat memberi alasan pergeseran pilihan saya dari akademisi menjadi politisi, Pak Poo sudah bercerita tentang perjuangannya mendorong pembentukan Undang Undang Kewarganegaraan Republik Indonesia (UU No. 12/2006) dan Undang Undang tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis (UU No. 40/2008).
Dua undang-undang ini memang memberi kontribusi besar terhadap persamaan hak, kesetaraan dan perlindungan kepada kelompok minoritas. Warga Tionghoa selalu mengacu kontribusi besar Pak Poo dalam soal ini.
Dalam Pemilu 2009, Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan penggunaan sistem proporsional terbuka, artinya calon yang terpilih bukan didasarkan pada nomor urut, melainkan berdasar suara terbanyak. Pak Poo bertanya kepada saya, apa konsekuensi dari perubahan tersebut.
Saya sampaikan, Pak Poo harus rajin turun kampanye, membentuk tim sukses, menyebar alat peraga kampanye, mengadakan pertemuan dengan calon pemilih, dan seterusnya. Pak Poo kemudian menunjuk salah satu staf untuk berkomunikasi dengan saya. Mungkin atas “jasa ini”, Pak Poo ikut membantu dana kampanye saya. Syukurlah, bantuan itu tidak sia-sia.
Membangun Terbaik
Semasa menjadi anggota DPR, cukup banyak interaksi saya dengan Pak Poo. Yang saya ingat baik ada tiga. Pertama, saat kami mengunjunginya di komplek Pekan Raya Jakarta. Pak Poo sempat mengajak kami keliling dengan mobil mini yang dikemudikannya sendiri. Dia bercerita tentang mimpinya agar Indonesia memiliki fasilitas pameran berkelas dunia. Saat itu, Pak Poo sedang merampungkan penyelesaian Gedung Teater untuk pertunjukan musik dengan investasi besar. Pak Poo menyampaikan keinginannya memiliki satu universitas yang diintegrasikan dengan rumah sakit berkelas dunia di komplek Kemayoran. Dosen- dosennya direkrut dari universitas-universitas terbaik di bidangnya. Dia sempat bertemu dengan Prof. Yohanes Surya, pendiri Surya University, tapi visinya belum cocok.
Saya bersama Darmadi Durianto dan Adinoto Nursiana, berusaha menawarkan gagasan pendidikan tinggi yang bermutu, tetapi direalisasikan secara bertahap, yaitu dengan mendirikan beberapa sekolah tinggi dulu, terus dilebur sebagai institut atau universitas. Pak Poo merenung jauh dan berjanji terus berkomunikasi.
Yang menarik, saat tahu Darmadi Durianto adalah anggota DPR, pertanyaan yang sama diajukan kepadanya, tentang apa tujuan menjadi anggota DPR, apa yang akan dikerjakan sebagai anggota DPR. Soal tujuan dan makna sebagai anggota dewan selalu ditanyakan berkali-kali setiap kali kami bertemu.
Kedua, pada puncak perayaan 80 tahun Pak Poo di Hotel Intercontinental Pondok Indah. Banyak tokoh berkumpul pada acara tersebut. Saya duduk semeja dengan Christianto Wibisono (pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia) dan David Herman Jaya (Ketum PSMTI saat itu). Kami menikmati pentas mosaik perjalanan hidup Murdaya Poo.
Dari situ kami tahu, pengusaha ini berangkat dari bawah, dan memanfaatkan momentum pembangunan infrastruktur di masa Orde Baru. Kita semua tahu, perusahaan-perusahaan milik keluarga Poo, merupakan perusahaan yang kuat, termasuk ketika Indonesia dihempas krisis moneter 1998 dan 2008. Beberapa kali Pak Poo menyampaikan, dia adalah konglomerat yang besar bukan karena utang atau ngemplang.
Kenangan ketiga terjadi di masa Covid-19. Pemerintah menyatakan Covid-19 masuk Indonesia pada 2 Maret 2020. Saat itu, akhir Februari 2020, saya mengirim foto kunjungan saya ke Sciences Po, sebuah lembaga pendidikan prestisius di Paris. Saya ingat Pak Poo masih memendam hasrat untuk mendirikan universitas.
Tak diduga, seminggu setelah saya kirim foto tersebut, Covid-19 melanda dunia, dan membekukan hampir semua aktivitas normal kehidupan. Pak Poo beberapa kali mengirim WA, menawarkan pemberian vaksin untuk keluarga dekat atau alumni UKSW yang ada di Jakarta.
Vita Brevis Dignitas Longa
Pak Poo adalah sosok yang cenderung tidak banyak bicara, Dari banyak obrolan yang saya lakukan, saya terkesan dia seorang yang reflektif. Pak Poo tidak segan-segan memperkenalkan lawan bicaranya dengan orang-orang yang kebetulan ada di sekitarnya. Tokoh yang hangat dan akrab.
Yang saya tahu, dia hanya bersedih ketika istri tercintanya tersandung masalah hukum, di Era KPK dipimpin Abraham Samad. Dia selalu meyakini, bahwa pengusaha sering menjadi korban dalam ekosistem bisnis yang korup. Jika sistem perizinan berjalan baik dan transparan, tidak ada pengusaha yang setiap saat diperas oleh penguasa.
Kegemarannya bermain golf membuat kesehatannya terjaga. Itu yang membuat kami kaget mendengar kabar dia dirawat intensif di rumah sakit terbaik untuk pemulihan kesehatannya. Namun, hukum alam, seperti yang diyakininya, cepat atau lambat harus dijemputnya.
Selamat jalan memasuki kosmos keabadian, Pak Poo. Mengutip dan memodifikasi sajak Sapardi Djoko Damono (1991), “pada suatu hari nanti/ suaramu tak terdengar lagi/ tapi diantara larik- larik tulisan ini/ kau akan tetap kusiasati”.***







