Bahwa almarhum orang kaya, semua orang tahu. Tetapi bahwa Pak Poo, sederhana dan tulus, mungkin banyak yang belum mengerti.
Saya bertemu dan bergaul dengan pak Murdaya Poo, ketika sama sama menjadi anggota Komisi III DPR RI, 2004-2009. Almarhum mewakili PDI Perjuangan, saya dari Partai Golkar.
Ketika pembentukan Panitia Khusus (Pansus) yang akan membahas RUU Anti Diskriminasi Ras dan Etnik, saya ditunjuk oleh fraksi untuk menjadi ketua yang menjadi jatah Golkar. Wakil ketua dari PDIP Pak Poo, dan dari PKB Bu Anna Muawanah.
Sebelum mulai bersidang, pak Poo melobi saya.
“Ketuanya saya saja,” katanya.
Saya tidak keberatan. Tetapi karena saya ditugasi Fraksi, pak Poo saya minta untuk berkoordinasi agar ada kesepakatan antar pimpinan fraksi. Saya melapor ke pimpinan fraksi, prinsipnya terserah saya saja.
Jadilah Pak poo ketua Panja RUU Anti Diskriminasi Ras dan Etnik, saya jadi wakil. Namun praktis dalam rapat-rapat dengan pemerintah yang diwakili Dirjen Perundang-undangan, Kementerian Hukum, Prof. Harkristuti Harkrisnowo, saya yang memimpin, dan Pak Poo mendampingi.
Untuk studi banding, kami dibawa Pak Poo ke Cina. Antara lain diajak ke ke kota yang yang banyak penduduk muslimnya.
Sederhana
Persahabatan personal saya dengan pak Poo berjalan terus, setelah UU Antidiskriminasi Ras dan Etnik disahkan. Suatu saat saya diajak Pak Poo makan ke Senayan City. Mampir di oulet sepatu Nike.
“Pak Bambang pilih saja,” katanya.
Ketika saya belum memutuskan, langsung pak Poo yang memilihkan. Dipilihkan yang ada warna kuning, karena saya Golkar, katanya.
Saat yang lain, saya diajak ke ATM di depan Bank Mandiri DPR.
“Kita coba, ATM saya bisa mengeluarkan berapa ?” katanya.
Semua uang yang bisa dikeluarkan sesuai maksimal ATM-nya diberikan kepada saya.
Itulah Pak Poo. Ketika kunjungan kerja Komisi III ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Bulu Semarang, justru yang ditanyakan kurang fasilitas apa. Kalau tidak salah waktu itu disampaikan kekurangan fasilitas olahraga, dan perbaikan taman. Spontan Pak Poo membantu.
Ketika, saya mantu dan mengundangnya, ia bertanya pengantinnya mau kado apa. Anak saya mengatakan ingin kamera. Pak Poo benar benar hadir di acara, sambil mengacungkan kamera sebagai kado yang di bawanya.
Saat Komisi III diajak Kapolri Dai Bachtiar menengok korban tsunami Aceh, Pak Poo sangat bersemangat. Rupanya Ibu Hartati Murdaya, sebagai ketua Walubi sudah berada di sana, membuka dapur umum. Keluarga Pak Poo bukan hanya kaya tetapi juga sangat sosial.
Tulus
Ketika saya nyalon Gubernur Jawa Tengah, tahun 2008, Pak Poo menyarankan agar saya mengambil wakil saja, gubernurnya PDIP. Pak Poo bersedia membantu untuk merundingkannya. Karena berbagai alasan, saya tetap nyalon gubernur, dan Pak Poo tetap membantu.
Saat Pilgub sudah dekat, saya dipanggil ke rumahnya di Menteng, almarhum akan terbang ke Amerika, kemungkinan besar untuk kepentingan cek kesehatan. Saya terlambat datang, dan pak Poo tidak bisa menunggu, agak kecewa.
“Saya sudah minta pesawatnya menunggu, tetapi terpaksa tidak bisa bertemu, titipan saya tinggal di rumah, kamu ambil saja,” katanya.
Saya ambil titipan Pak Poo, saya membawanya agak berat. Begitulah ketulusannya membantu teman.
Ketika Pak Poo harus berhenti dari DPR RI, walaupun belum berakhir masa jabatannya, ada cerita yang bagi saya cukup menarik. Saat itu Pak Poo sangat dekat dengan Ketua Umum PDIP Megawati, sementara Bu Hartati sangat dekat dengan Presiden SBY yang ketua umum Partai Demokrat.
Singkatnya, Pak Poo diminta isterinya untuk mundur saja dari DPR RI. Kemungkinan tidak nyaman dengan Bu Mega kalau mundur. Pak Poo menolak mundur, atau paling tidak mengulur waktu.
“Wah saya terpaksa harus berhenti. Semua barang-barang saya di ruangan kantor DPR RI, diambil semua oleh isteri saya,” katanya.
Itulah Pak Murdaya Poo, pengusaha kaya, hidup sederhana apalagi sebagai seorang Budha, tulus berteman dengan siapa saja. Saya lihat setiap Imlek, selalu membawa banyak amplop merah dibagi-bagikan pada Satpam, dan petugas kebersihan di DPR RI.
Selamat Jalan Pak Poo. Kami semua akan mengenangmu.







