Banyak hal menarik dari tokoh yang tiga kali jadi anggota DPR RI, dan dua kali di DPD RI, yang saat ini menjabat wakil ketua. Misalnya ketika di sekolah dasar, langsung melompat ke kelas empat. Karier politiknya tanpa sengaja dimulai ketika diskorsing dari kampusnya, yang mendorongnya untuk mengadu nasib di Jakarta.
Yang menarik adalah basis idealisme yang mendasari perjalanan hidupnya, baik di bisnis, politik, maupun kegiatan sosial. Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI), kemudian juga berjuang melalui Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Tidak percaya pada praktek politik yang pragmatis, Tamsil bahkan mendorong dan memberi kesempatan tumbuhnya politisi muda baik di eksekutif maupun legislatif, yang meniti kariernya dengan tidak mengandalkan kekuatan uang.
Sayang sekali dengan bahan yang cukup banyak dan cukup menarik, hanya ditulis sebagai artikel biasa. Kami memutuskan untuk memuat di rubrik Mini Biografi yang alokasi halamannya cukup leluasa. Rubrik ini berusaha menampilkan sosok tokoh politik, bahan saja yang relatif berhasil, tetapi sekaligus juga memberi inspirasi dan edukasi pada publik, khususnya generasi muda. Pada edisi sebelumnya menampilkan tokoh Kalimantan, Teras Narang yang pernah menjadi anggota DPR RI, Gubernur Kalimantan Tengah, dan saat ini anggota DPD RI.
Di tengah gonjang-ganjing kontroversi citra dunia peradilan di tanah air, BS bisa bertemu dengan seorang hakim yang memegang teguh idealismenya. Kebetulan namanya Teguh Harianto, hakim tinggi di Jakarta. Reputasinya mungkin membuat orang berdecak kagum, tetapi mungkin tak kalah banyak yang menyesalinya, terutama mereka yang pernah terkena pukul palunya, dan peradialan korupsi. Bisa juga kejengkelan datang dari koleganya sendiri, yang sering meledeknya sok suci atau sok bersih.
Teguh pertama kali menghebohkan ketika memimpin persidangan dan memberi vonis berat pada Jaksa Urip Gunawan. Terakhir karena melipatkan pidana Harvie Muis dalam kasus korupsi PT Timah. Ia sadar tidak akan kaya, dan itu disadari sejak awal memilih profesi hakim. Keras terhadap pelanggar hukum, terutama dalam kasus korupsi, suap, dan sebagainya, juga keras dengan lingkungannya sendiri. Tidak hanya dengan kata-kata, tetapi contoh tindakan.
BS menemukan Teguh yang sudah terpisah puluhan tahun, saat pulang kampung di Semarang. Keduanya adalah sesama alumni Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) tahun 1978.
Terimakasih Pak Tamsil, terimakasih Pak Teguh, masih ada oase dalam dunia politik dan hukum yang makin pragmatis dan transaksional. Semoga bisa memotivasi dan menginspirasi pada para profesional Indonesia, apapun bidangnya, di manapun medna pengabdiannya, yang menjadikan idealisme menjadi mahkota kariernya.***







