Presiden Prabowo Subianto & Joko Widodo (img: haluan.co)

Matahari Kembar

Share

Saat saya masih di Sekolah Dasar, sering ada pemain sulap datang, dan murid-murid dikumpulkan untuk menonton permainannya.

Salah satu permainan sulap yang lama menjadi pertanyaan saya adalah, gayung dari batok kelapa, yang seolah mempunyai kekuatan gaib.

Pak Tukang Sulap, meminta sekitar 5 orang anak untuk memegang tangkai gayung, dan mempertahankan, ketika diberi aba-aba.

Jadilah, setelah dikomando semua anak menarik tangkai gayung, seakan benda tersebut akan terbang. Semakin kuat dipertahankan, seakan semakin kuat pula tenaga si gayung.

Akhirnya saya tahu, bahwa yang membuat gayung seakan punya kekuatan, tenaga anak- anak itu sendiri, yang saling tarik menarik.

Fenomena Jokowi

Kelihatannya fenomena mantan presiden Jokowi mirip dengan sulap gayung tersebut.

Gayung itu sendiri tidak mempunyai kekuatan gaib, hanya karena pemegangnya saling tarik segala arah, sehingga seakan akan mempunyai kekuatan untuk terbang.

Seperti fenomena penjual obat di pasar, makin banyak yang bergerombol menontonnya, makin banyak yang ingin tahu. Bukan soal obat yang dijual, karena tertarik mengapa banyak orang berkumpul.

Pasti sebagai mantan presiden 10 tahun ada hal hal yang menarik yang orang ingin tahu. Kesempatan itu lebih mudah terjadi, ketika presiden sudah pensiun, dan kembali tinggal di perkampungan biasa. Di Solo lagi, yang lebih memudahkan dari segi jarak bagi pengagumnya yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dibanding ketika masih tinggal di Jakarta atau Bogor

Waktu Jokowi juga lebih longgar. Memang kreativitasnya, setidaknya tim yang mengelilinginya juga ada. Antara lain dengan mengunggah di media sosial sebagai fenomena baru, 10 tahun terakhir ini

Jumlah yang akan mengunjungi Jokowi akan terus bergulir, seperti orang nyekar di makam Bung Karno atau Gus Dur. Wajar saja.

Tafsir Politik

Fenomena Jokowi, yang sebenarnya biasa saja seperti yang terjadi pada mantan presiden Megawati, atau bahkan Habibie yang sampai dibuatkan film, ditafsir juga secara politik. 

Namun ternyata yang datang ke Solo, bukan hanya orang kebanyakan. Banyak tokoh politik, bahkan Presiden Prabowo dan mantan perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad. Banyak para Menteri dan petinggi partai yang juga datang. Ada apa?

Muncullah istilah matahari kembar. Kalau tidak salah hal tersebut juga pernah dikhawatirkan oleh mantan Presiden SBY. Methapora yang agak berlebihan, mungkin matahari dan bulan yang menerima pantulan cahayanya. Kalaupun seandainya jadi kembar, apa saja yang salah.

Dan siapa yang menjadikan kembar. Prabowo ingin mendapatkan kembaran, atau Jokowi yang masih ingin jadi matahari. Atau publik, terutama netizen, yang menjadikan semua itu bisa terjadi.

Sejak dulu mantan presiden punya kharisma dan auranya sendiri. Bung Karno bahkan sering dimitoskan, dikaitkan dengan keris, dan fiksi harta warisan yang dititipkan di bank luar negeri, jadi wacana sampai saat ini.

Apalagi Pak Harto, yang 32 tahun memerintah. Sampai dikejar siapa leluhurnya yang melahirkan seorang tokoh yang bisa memerintah begitu lama. Bahkan Gus Dur yang hanya menjadi presiden sekitar dua tahun, ceritanya tak habis-habis,

Mantan presiden Amerika Serikat, biasa jadi utusan khusus untuk diplomasi internasional, bagi negaranya.

Copot Gibran

Sebenarnya apa yang melambungkan isu matahari kembar ini, selain tema tema lain yang menyudutkan atau menyalahkan Jokowi. Apakah ada kekhawatiran karena posisinya sebagai matahari, akan mempengaruhi matahari yang lain. Apa yang dicemaskan kalau Prabowo terpengaruh oleh Jokowi. Apakah karena akan dilaksanakan atau diteruskan program-program pemerintah sebelumnya. Bukankah ini janji Prabowo-Gibran sendiri yang akan melanjutkan kebijakan Jokowi, walaupun pasti tidak seluruhnya.

Apakah khawatir karena Jokowi akan menyusupkan gagasan, ide, atau programnya melalui anaknya, Gibran Rakabuming Raka yang menjabat Wakil Presiden. Kalau ini cara berfikirnya agaknya gayut dengan gerakan yang ingin mencopot Gibran sebagai Wapres. Sebuah pemikiran, apalagi kalau menjadi tindakan, sebenarnya tidak masuk akal.

Presiden dan wakil presiden, bukan tidak bisa dicopot. Namun ada tata caranya, bahkan prosedur konstitusionalnya. Kalau tahapan ini tidak dilalui dan terlalu bersemangat karena emosi atau rasa benci, bisa terjatuh pada perbuatan makar, menggulingkan pemerintah yang sah menurut konstitusi.

Atau ada alasan lain mengelembungkan wacana matahari kembar ini.

Hukum dan Politik

Matahari kembar, kalaupun seandainya ada, tak perlu banyak dirisaukan. Kalau masalahnya tidak suka dengan Jokowi dan dinastinya, ada jalan yang lebih terhormat, dan pasti membutuhkan perjuangan yang tidak mudah.

Pertama jalan hukum. Inilah jalan terhormat, untuk menyelesaikan segala praduga, kecurigaan, kecemburuan, kekhawatiran, kecemasan, dan sebagainya. Perkuat fakta dan, bukan penggalangan opininya.

Namun jangan lupa, kalau jalan hukum tidak berhasil, bukan akan memperlemah, bisa berdampak sebaliknya, memperkuat posisi target yang ingin dijatuhkan.

Kedua, jalan politik. Bagaimanapun cara dan triknya, kekuasaan di Indonesia harus dicapai melalui cara demokratis, dengan segala kecacatannya. Kalahkan pengaruh Jokowi, dengan memperkuat dukungan melalui segala pemilihan, baik pemilihan legislatif, presiden, maupun kepala daerah.

Dalam lomba lari, kalau ingin menang, larilah lebih cepat. Jangan dengan menarik kolor lawan, biar kedodoran.

Karenanya, biarlah ada atau tidak ada matahari kembar, sebagai fenomena politik dan budaya, biasa saja.

 

Artikel Terkait