Komunikasi itu terjadi pada 22 Juli 2025. Tidak sampai seminggu kemudian, tepatnya pada Senin malam, 28 Juli 2025, saya mendengar kabar bahwa Pak Kwik telah meninggal.
Ekonom yang dikenal gigih dan konsisten menyuarakan nasionalisme ekonomi dalam kebijakan publik ini wafat pada usia 90 tahun (11 Januari 1935 – 28 Juli 2025).
Jasadnya dikremasi pada siang yang terasa sepi, setelah upacara kenegaraan singkat yang disaksikan oleh kerabat terdekat pada 31 Juli 2025. Sehari kemudian, saya kembali mengirimkan pesan WA kepada Ing Lan,
“Biasa ditelpon dan diWA Pak Kwik, biasa tukar pendapat, tak ada Pak Kwik membuat ada rutinitas atau bagian hidup saya yang kosong (suwung).”
Idola Kalangan Minoritas
Perkenalan saya dengan Pak Kwik difasilitasi oleh adiknya, Budi Dharmawan (Kwik Kian Djien), yang tinggal di Semarang. Sewaktu saya kembali dari studi lanjut di Belgia dan menjadi Dekan FE-UKSW, Salatiga,
Pak Budi membantu saya mengadakan serangkaian “business dinner” dengan mengundang para pengusaha terkemuka di Semarang untuk berbincang-bincang dengan para dosen muda FE-UKSW.
Tujuannya adalah agar kampus dan dunia usaha dapat saling berinteraksi untuk menghasilkan lulusan yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia usaha. Atas jasa Pak Budi,
akhirnya saya berhasil mengundang Pak Kwik—yang saat itu sudah sangat dikenal sebagai politisi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan kolumnis kritis—memberi ceramah di UKSW.
Pada saat yang sama, di UKSW sendiri telah tumbuh pemikiran kritis yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Arief Budiman dan Ariel Heryanto.
Awal dekade 1990-an merupakan masa di mana kontestasi gagasan alternatif tumbuh sebagai protes terhadap otoriterisme Orde Baru, yang diiringi oleh penyakit KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang parah, menghasilkan pembangunan ekonomi yang tidak berkeadilan.
Saya ingat, berkat Pak Budi, selain dengan Pak Kwik, kami juga bisa berdiskusi dengan tokoh-tokoh politik seperti Prof. Dimyati Hartono dan Aberson Marle Sihaloho, Nico Daryanto, dan politisi dari Jawa Tengah.
Waktu terus berlalu, Pak Kwik semakin berkibar. Sedemikian terkenalnya, sampai wartawan Kompas, Don Sabdono (Bre Redana) menulis artikel di Harian Kompas berjudul “Kwik Kian Gie, Presiden…”.
Popularitas Pak Kwik mencapai puncaknya saat ia menjabat sebagai Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin) dalam Kabinet Presiden Abdurrachman Wahid (1999-2001), lalu sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas di era Kabinet Megawati Sukarnoputri (2001-2004).
Sebagian besar masyarakat Tionghoa merasa bangga menyebut nama Pak Kwik karena keberpihakannya yang tegas dan konsisten pada masyarakat luas, yang sedikit banyak membantu menetralisir pandangan bahwa warga Tionghoa kurang nasionalis dan hanya memikirkan kepentingan bisnis semata.
Bekerja Di Kampus Pak Kwik
Saya berinteraksi lebih dekat dan intensif saat bekerja di kampus yang didirikannya bersama Djoenaedi Joesoef, Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII), pada 2004-2008.
Kampus ini awalnya bernama Institut Bisnis Indonesia yang didirikan oleh Kwik Kian Gie, Kaharudin Ongko, dan Djoenaedi Joesoef. Saya memimpin Program Pasca Sarjana IBII yang saat itu mendapatkan izin untuk membuka program doktor dalam ilmu manajemen.
Belakangan, kampus ini berganti nama menjadi Institut Bisnis Kwik Kian Gie. Saya melihat Pak Kwik sebagai sosok idealis. Untuk memperkuat aspek makro pada sekolah bisnis yang lebih berorientasi mikro,
Pak Kwik mendirikan Lembaga Penelitian Ekonomi (LPE) yang secara khusus mengembangkan model makroekonomi di bawah bimbingan Jimmy Tjan (ahli ekonometrika lulusan Erasmus University) dan Prof. Dr. M. Arsjad Anwar (ahli statistika dari Universitas Indonesia).
Secara rutin, IBII juga mengadakan seminar nasional yang terbuka dan gratis untuk mahasiswa maupun pelaku ekonomi. Dari berbagai diskusi di LPE ini, saya merasakan bagaimana Pak Kwik begitu “memusuhi” kelompok ekonom yang disebutnya sebagai “Mafia Berkeley.”
Menurutnya, kelompok ini adalah komprador yang bekerja untuk kepentingan asing. Saat menjabat sebagai Menteri, Pak Kwik pernah mendapati materi rapat yang dalam hitungan menit sudah bocor ke IMF.
Pak Kwik selalu mengingatkan bahwa Indonesia telah “digadaikan” kepada kekuatan asing, seperti yang ia baca dari buku-buku karya John Pilgers, John Perkins, dan Bradley Simpson.
Dalam menilai kurikulum pendidikan, Pak Kwik selalu menekankan pendekatan “back to basic” (kembali ke esensi dasar). Bahkan di tengah kesibukannya, Pak Kwik sempat menerjemahkan buku-buku akuntansi dasar yang diajarkan di Belanda.
Saya masih ingat bagaimana Pak Kwik menantang semua dosen IBII untuk menghitung harga pokok bahan bakar minyak (BBM). Topik ini pernah menjadi polemik seru di berbagai media massa.
Kembali ke esensi dasar, langkah ini memicu pro-kontra di kampus. Pak Kwik tidak setuju jika IBII mendiversifikasi program di luar tujuan awalnya, yaitu melatih mahasiswa untuk menjadi manajer menengah.
Program seperti kursus kewirausahaan, sertifikasi manajemen risiko, sertifikasi perpajakan, hingga program doktor dihentikan di tengah jalan. IBII, yang sempat menjadi perguruan tinggi pertama dengan izin program doktor ilmu manajemen, mengembalikan izinnya dan menghentikan penerimaan peserta pada akhir 2008.
Setelah meninggalkan jabatan publik dan kembali ke IBII, Pak Kwik sepenuhnya mengendalikan kegiatan kampus. IBII kembali menjadi konservatif, sehingga beberapa staf pengajar andal pun meninggalkan kampus.
Beberapa teman mengatakan Pak Kwik lebih percaya pada pendekatan “product oriented” (produk bermutu akan dicari) daripada “market oriented” (produk disesuaikan dengan kebutuhan pasar yang berubah-ubah). Pak Kwik sibuk di kampus, sementara saya sibuk di DPR-RI.
Alumnus Erasmus Yang Dihormati
Pada bulan September 2023, saya memimpin delegasi Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR-RI dalam kunjungan ke Belanda, termasuk ke Universitas Erasmus di Rotterdam.
Pak Kwik adalah salah satu lulusan Erasmus, kampus yang juga mencetak tokoh-tokoh besar Indonesia seperti Mohammad Hatta, Sumitro Djojohadikusumo, Radius Prawiro, Arifin Siregar, dan Ferry Sonneville. Saya masih ingat bagaimana Pak Kwik sibuk membantu agar kami diterima dengan baik di Erasmus.
Kami ditemani Dr. Charles Hermans berkeliling kampus, mengunjungi Hatta Building, melihat museum tokoh-tokoh Erasmus, serta Fakultas Ekonomi dan Ekonometrika yang melahirkan pemenang Nobel Ekonomi pertama, Prof. Jan Tinbergen, pada tahun 1969.
Kami juga berdiskusi dengan Rektor Erasmus University, Prof. Ed Brinksma, yang menghadiahkan buku “Jan Tinbergen and The Rise of Economic Expertise” karya Erwin Dekker (2021), masing-masing satu untuk saya dan Pak Kwik.
Pak Kwik sangat bangga dengan Erasmus. Pada tahun 2005, beliau pernah mengajak saya menemui beberapa profesor di sana untuk memberikan pelatihan di IBII. Sayangnya, program ini tidak bertahan lama karena dosen-dosen di Indonesia memiliki beban mengajar yang terlalu berat.
Tiga buku tebal “Bunga Rampai Pemikiran Kwik Kian Gie” yang diterbitkan Gramedia pada 2022 menjadi kumpulan artikel dan bahan ceramahnya, sebagai upaya terakhir beliau untuk menyusun benang merah dari pemikirannya di berbagai bidang.
Buku ini adalah ungkapan perpisahannya dengan Indonesia yang sangat dicintainya. Dalam acara penghormatan kepada Almarhum Kwik Kian Gie, Presiden Prabowo menyebut bahwa Pak Kwik telah berjasa besar mempertahankan Pasal 33 dalam UUD-1945, bersama Alm Mubyarto, Alm. Dawam Rahardjo dan Prof. Sri Edi Swasono.
Selamat jalan menuju kosmos keabadian, Pak Kwik.
Sabbe sankara anicca ***







