Hendry Ch Bangun adalah Ketua Umum PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat periode 2023-2028 hasil Kongres di Bandung, Jawa Barat. Sementara itu, Zulmansyah terpilih menjadi Ketua Umum PWI Pusat periode 2024-2028 melalui KLB di Jakarta.
Perpecahan di tubuh organisasi wartawan tertua di Indonesia ini benar-benar membuat PWI terbelah. Bagi yang berjiwa “petualang”, konflik ini dijadikan ajang caci maki, saling menjatuhkan, adu domba, dan fitnah.
Mereka yang memanfaatkan perpecahan tersebut tidak sadar bahwa tindakan mereka justru merusak wajah PWI, membuat organisasi tempat mereka bernaung tercoreng.
Meminjam pepatah Minangkabau (Sumbar), apa yang mereka lakukan adalah “Buruak muko camin di balah” yang berarti merusak muka cermin dibelah, sindiran bagi orang yang enggan introspeksi dan selalu menyalahkan orang lain.
Atau “Manapuak aia di dulang”, peribahasa yang berarti menepuk air di dulang, mengungkap keburukan keluarga atau orang lain yang akhirnya mempermalukan diri sendiri. Pesannya adalah menjaga rahasia dan kehormatan bersama.
Sejarah HPN
Pelaksanaan HPN berlandaskan Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985. Keputusan Presiden Soeharto pada 23 Januari 1985 menyebutkan bahwa pers nasional Indonesia memiliki sejarah perjuangan dan peranan penting dalam pembangunan sebagai wujud pengamalan Pancasila.
HPN menjadi ajang pesta bagi wartawan se-Indonesia, sekaligus arena pertemuan besar yang diisi berbagai acara menarik seperti diskusi, seminar, pameran, dan lainnya.
Saat HPN di Banten, PWI Pusat dipimpin oleh Akhmad Munir yang terpilih sebagai Ketua Umum PWI Pusat periode 2025-2030 dalam Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Jawa Barat, 30 Agustus 2025.
Hingga tahun 2026, HPN telah digelar 22 kali di berbagai provinsi, dengan beberapa provinsi menjadi tuan rumah lebih dari sekali. Provinsi yang pernah menjadi tuan rumah HPN antara lain:
1. Riau 2005
2. Jawa Barat 2006
3. Kalimantan Timur 2007
4. Jawa Tengah 2008
5. DKI Jakarta 2009
6. Sumatera Selatan 2010
7. Nusa Tenggara Timur 2011
8. Jambi 2012
9. Sulawesi Utara 2013
10. Bengkulu 2014
11. Kepulauan Riau 2015
12. Nusa Tengga Barat 2016
13. Maluku 2017
14. Sumatera Barat 2018
15. Jawa Timur 2019
16. Kalimantan Selatan 2020
17. DKI Jakarta 2021
18. Sulawesi Tenggara 2022
19. Sumatera Utara 2023
20. DKI Jakarta 2024
21. Kalimantan Selatan dan Riau 2025
22. Banten 2026
Mulai Di Jambi
Saya termasuk wartawan yang agak terlambat akrab dengan HPN. Beberapa kali kesempatan untuk merasakan kemeriahannya tidak saya manfaatkan. Saat itu saya masih menjadi wartawan olahraga yang merasa sangat sibuk, dengan tugas ke berbagai kota di dalam maupun luar negeri.
Saya mulai mengenal rangkaian perayaan Hari Pers Nasional sejak tahun 2012, ketika HPN ke-8 digelar di Jambi. Saat itu saya dipercaya menjadi bagian dari tim penerbitan buku oleh Panitia HPN Pusat/PWI Pusat.
Bersama dua pengurus teras PWI Pusat, Hendry Ch Bangun dan Atal S Depari, kami juga diberi kepercayaan menyempurnakan buku pedoman pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW).
Sejak itu, hampir setiap tahun saya diajak masuk kepanitiaan pusat, kecuali pada tiga pelaksanaan HPN, yaitu 2015 di Batam, 2021 di DKI Jakarta, dan tahun ini di Banten.
Pada tiga kesempatan itu, saya hanya bisa mengikuti perkembangan HPN dari rumah sakit. Tahun 2015, saat HPN di Batam, saya baru selesai menjalani operasi bypass jantung di RS Harapan Kita Jakarta.
Tahun 2021, ketika HPN di Jakarta, saya harus opname untuk isolasi virus Corona di RS Siloam Bekasi Timur. Dan tahun ini, 2026, saya pun kembali harus dirawat di rumah sakit.
Pengalaman Menarik
Sejak ikut terlibat dalam perayaan HPN sejak 2012, banyak pengalaman menarik yang saya alami. Pada HPN 2024 misalnya, saya mendapat tugas baru bergabung di Bidang Kebudayaan/Anugerah PWI 2024 yang mengurus penghargaan bagi Bupati/Walikota dan masyarakat terkait kebudayaan, BUMN, lingkungan hidup, dan pendidikan.
Saya juga pernah dua kali menjadi juri pembacaan puisi, selain tetap menjadi bagian dari tim buku. HPN mampu membangkitkan semangat banyak orang, tidak hanya dari kalangan pers, tetapi juga masyarakat umum yang merasakan manfaatnya.
Melalui HPN, saya berkesempatan berkenalan dengan banyak tokoh pers dan teman-teman dari seluruh Indonesia. HPN yang ditetapkan melalui Keppres No. 5
Tahun 1985 oleh Presiden Soeharto ini memiliki hubungan erat dengan sejarah pers nasional, yaitu berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Hari Pers Nasional lahir dari Kongres PWI ke-28 di Padang, Sumatera Barat, sebagai wujud keinginan tokoh-tokoh pers untuk menandai keberadaan dan peran pers Indonesia secara nasional.
Tanggal 9 Februari, hari lahir PWI, kemudian resmi ditetapkan sebagai Hari Pers Nasional, mengingat jasa dan perjuangan pers untuk Indonesia. Atas usulan para tokoh pers inilah, HPN akhirnya disahkan melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985 pada 23 Januari 1985.
Keppres tersebut menetapkan tanggal 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional. Hampir setiap pelaksanaan HPN dihadiri oleh Presiden atau Wakil Presiden. Setidaknya diwakili Menteri.
***







