Samaun Dahlan, S.Sos., M.AP - Bupati Fakfak

Bupati Fakfak – Bersemangat Fakfak Membara Perjuangkan RS dan Investasi

Share

Bupati Fakfak Papua Barat, Samaun Dahlan, S.Sos., M.AP, Samaun Dahlan menyampaikan komitmennya untuk membangun Fakfak dengan konsep “Fakfak Membara” (Membangun Bersama Rakyat). Pemerintahannya akan fokus pada peningkatan kualitas pelayanan publik, percepatan pembangunan infrastruktur, dan penguatan ekonomi lokal.

Setiap kebijakan yang diambil bertujuan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Untuk mewujudkan visi ini, pemerintah telah merancang sejumlah program prioritas yang akan dilaksanakan baik dalam jangka pendek maupun panjang.

Pemerintah juga akan bekerja sama dengan DPRD, tokoh adat, dan seluruh elemen masyarakat agar pembangunan berjalan transparan dan partisipatif. “Kita harus bekerja bersama, karena membangun Fakfak bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, ia menginstruksikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk segera mengevaluasi program-program yang ada dan menyusun strategi percepatan pembangunan.

Evaluasi ini akan menjadi dasar untuk menilai efektivitas kebijakan yang telah berjalan serta merancang solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi.

“Kami ingin Fakfak menjadi daerah yang maju, harmonis, dan sejahtera. Dengan semangat Fakfak Membara, bersama-sama kita bawa daerah ini ke arah yang lebih baik,” katanya.

Berobat Gratis
Di bawah kepemimpinannya, Pemkab Fakfak menunjukkan kepedulian besar terhadap kesejahteraan masyarakat dengan meluncurkan program berobat gratis untuk warga ber-KTP Fakfak, serta makan gratis bagi dua pendamping pasien.

Program ini awalnya diterapkan di RSUD Fakfak, namun cakupannya terus meluas hingga pelosok distrik melalui layanan di tingkat Puskesmas.

Ia menegaskan bahwa kesehatan masyarakat adalah hal fundamental yang wajib mendapat perhatian serius dari pemerintah. Program ini ditargetkan bagi masyarakat tanpa jaminan kesehatan BPJS, sehingga semua lapisan masyarakat bisa mendapatkan layanan kesehatan yang layak.

“Yang punya BPJS dilayani dengan baik, yang tidak punya pun kita bantu. Karena sehatnya masyarakat Fakfak adalah tanggung jawab kita bersama,” katanya.

Sebagai bagian dari peningkatan layanan, ia juga berencana menambah jumlah dokter spesialis, khususnya spesialis penyakit dalam. Ia memastikan tidak akan ada masalah terkait hak-hak dokter, karena semuanya akan diurus dengan baik.

Pelaporan program dilakukan langsung kepadanya untuk memastikan program berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi rakyat. “Saya ingin tahu langsung apakah program ini berjalan baik atau tidak. Ini penting sekali untuk rakyat kita,” tegasnya.

Pendidikan Gratis
Setelah program berobat dan makan gratis, ia meluncurkan program pendidikan gratis di Kabupaten Fakfak mulai tahun ajaran 2025. Ia menegaskan bahwa pendidikan dan kesehatan adalah dua sektor prioritas yang menjadi janji hatinya sejak sebelum menjabat.

“Setiap pagi selalu ada warga yang datang ke rumah saya, meminta bantuan untuk biaya pengobatan dan pendidikan anak. Dari situlah saya mulai bertekad,” ungkapnya.

Program pendidikan gratis ini mencakup pembebasan biaya sekolah serta pemberian perlengkapan sekolah seperti sepatu, kaos kaki, seragam (empat pasang), tas, dan atribut lainnya.

Menariknya, program ini berlaku untuk semua siswa di Fakfak, baik yang bersekolah di sekolah negeri maupun swasta, tanpa membedakan status ekonomi, asal daerah, maupun identitas sebagai Orang Asli Papua (OAP) atau non-OAP.

“Semua sama. Tidak ada perbedaan antara yang kaya dan miskin, OAP dan non-OAP, negeri atau swasta. Kita semua adalah saudara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

Program ini akan menjangkau sekitar 4.800 pelajar pada tahap awal dan menargetkan tahun 2026 sebagai momentum pembenahan total sektor pendidikan. Hal ini mencakup penyediaan rumah guru, pengisian formasi guru yang kosong, hingga memastikan ketersediaan sarana seperti meja dan kursi di seluruh pelosok kampung.

Perjuangan RS Baru
Perjuangan juga telah dilakukan di sektor kesehatan, dengan audiensi bersama Menteri Kesehatan RI di Kantor Kementerian Kesehatan. Dalam pertemuan tersebut,

Samaun Dahlan memaparkan sejumlah usulan program prioritas untuk tahun anggaran 2025 serta rencana jangka panjang yang membutuhkan dukungan pemerintah pusat. Salah satu usulan utama adalah pembangunan rumah sakit baru di lokasi eks Bandara Torea.

RSUD Fakfak yang saat ini berada di kawasan Wagom dianggap tidak layak digunakan karena keterbatasan ruang dan kondisi geografis berbukit, yang menyulitkan mobilitas pasien maupun tenaga kesehatan.

“Kondisi RSUD Fakfak saat ini bisa dikatakan tidak lagi memenuhi standar pelayanan. Mobilitas antar ruang menjadi sulit karena kontur berbukit. Kita butuh rumah sakit baru yang lebih baik, mudah-mudahan bisa berada di lahan yang datar,” ujarnya.

Selain rumah sakit baru, ia juga mengusulkan program penting lainnya, seperti pengadaan transportasi Puskesmas Keliling Laut (Pusling Laut), pembangunan laboratorium kesehatan masyarakat, renovasi Puskesmas Pembantu (Pustu), serta peningkatan sarana dan prasarana RSUD Fakfak.

Semua usulan tersebut diharapkan dapat dibiayai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Kementerian Kesehatan. Samaun Dahlan juga terus mendorong Fakfak menjadi daerah ramah investasi.

Ia berharap tidak ada perdebatan di hadapan investor, dan semua pihak menunjukkan sikap terbuka bahwa daerah ini siap menerima investasi. Masuknya investasi diyakini akan mempercepat pembangunan karena mampu menciptakan lapangan kerja yang luas.

Baginya, investasi adalah cara untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa terus bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat. “Investasi harus masuk. Saya bekerja tanpa mengenal hari libur.

Karena saya bergerak cepat dan gesit, maka yang tidak bisa mengikuti lebih baik mundur,” ujarnya. Salah satu langkah nyata adalah menggandeng investor asal Korea Selatan untuk mewujudkan Proyek Agroindustri Fakfak seluas 50.000 hektare, yang difokuskan pada perkebunan jagung, tebu, dan kelapa sawit.

Sejumlah pertemuan strategis telah dilakukan, termasuk pembahasan teknis mengenai peta sebaran lahan, zonasi budidaya, dan titik-titik prioritas. “Proyek ini akan menjadi embrio kawasan ekonomi baru berbasis pertanian terintegrasi di Tanah Papua,” katanya.

Proyek tersebut juga berperan dalam memperkuat ketahanan pangan regional dan mendukung pemerataan pembangunan ekonomi di wilayah Indonesia Timur.

Komoditas jagung, tebu, dan sawit dipilih berdasarkan kajian awal terhadap kesesuaian agroklimat dan daya dukung lahan di wilayah Distrik Tomage dan sekitarnya.

Selain itu, ia berencana mendatangkan investor di sektor perikanan dari China, dengan lokasi investasi di sekitar Pol Air dekat Pelabuhan Laut Fakfak, serta investasi perkebunan tebu dari India

. “Percepatan investasi juga harus diiringi dengan kesiapan daerah, terutama dalam penyediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompetitif dan profesional,” tambahnya.

Sentra Kuliner
Sektor kuliner menjadi salah satu bidang usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan di Fakfak. Karena itu, diperlukan dukungan nyata, salah satunya melalui rencana pembangunan sentra kuliner yang representatif.

“Kita harus bantu sungguh-sungguh UMKM yang benar-benar layak dan punya potensi. Jangan sampai salah sasaran,” ujarnya.

Dukungan Pemkab tidak hanya berupa penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga bantuan dana yang selektif dan berbasis kelayakan usaha. Dana Otonomi Khusus juga menjadi bagian dari upaya ini.

Sentra kuliner ini dirancang sebagai pusat aktivitas ekonomi kreatif di Fakfak. Selain menjadi tempat pemasaran produk lokal UMKM, juga diharapkan menjadi ikon baru kebangkitan ekonomi berbasis komunitas.

Banyak pelaku UMKM kuliner di Fakfak adalah perempuan tangguh yang telah mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Oleh karena itu, pendampingan dan pelatihan sangat penting agar produk yang dihasilkan memiliki standar mutu dan mampu bersaing di pasar regional maupun nasional.

“Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, UMKM di Fakfak diharapkan dapat berkembang pesat dan memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkasnya.

Jejak Panjang
Samaun Dahlan, S.Sos., M.AP. memiliki rekam jejak panjang di dunia birokrasi. Kariernya dimulai pada 1992 sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemerintah Kabupaten Biak Numfor.

Pada 2009, ia dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Biak Numfor, lalu menempati jabatan yang sama di Pemkab Fakfak pada 2011. Pada periode 2017 hingga 2020, ia menjabat sebagai Kepala Dinas PUPR Fakfak, posisi yang semakin mengangkat namanya di tengah masyarakat.

Ia turut berperan dalam pembangunan Bandara Udara Jacob Patipi atau Bandara Siboru di Distrik Wartutin, Kabupaten Fakfak. Selain kontribusinya dalam pembangunan, ia juga dikenal sebagai sosok pemimpin di lingkungan sosialnya.

Ia aktif mengupayakan bantuan sosial dari Kementerian Sosial bagi pedagang Pasar Thumburuni Fakfak yang terdampak kebakaran saat kerusuhan pada 21 Agustus 2019.

Dengan rekam jejak yang panjang, baik di birokrasi maupun kegiatan sosial, Samaun Dahlan maju dan terpilih sebagai Bupati Fakfak periode 2025-2030, berpasangan dengan Drs. Donatus Nimbitkendik, M.T.

 

***Dari Berbagai Sumber

Artikel Terkait